เข้าสู่ระบบ"Ceknya, Mbak. Saya permisi sekarang juga," ucap Sabrina dengan nada ketus yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Sret!
Suara derit kursi yang bergesekan dengan lantai marmer restoran itu terdengar begitu nyaring, membelah kebisingan area lounge yang eksklusif. Sabrina berdiri secara mendadak, membuat beberapa pelayan dan tamu menoleh ke arahnya, termasuk sepasang manusia di meja sudut yang sejak
Terkejut mendengar tawa Kael di telepon, Sabrina langsung turun dari ranjang tanpa alas kaki. Ia mengendap-endap keluar dari kamar Aliz, berjalan cepat menuju pintu depan apartemennya, lalu menempelkan wajahnya pada peephole, yakni lubang intip pintu di sana. Sabrina menahan napas. Di luar sana, di koridor yang sepi dan temaram, Kael benar-benar berdiri bersandar di bingkai pintu unit apartemennya yang terbuka sedikit. Pria itu masih menempelkan ponsel di telinga, menatap lurus ke arah pintu Sabrina dengan senyum jahil yang jarang sekali ia tunjukkan."Aku tahu kau sedang mengintipku," bisik Kael lewat telepon, suaranya terdengar sangat dekat sekaligus seksi. "Buka pintunya sebentar, atau aku yang akan mengetuknya sampai Aliz dan Ganda terbangun?" Sabrina
"Ayolah, Kael. Kita bisa minum di lounge sana sebentar saja," bujuk Rosaleen sembari mempererat gelayutan tangannya di lengan Kael, menunjuk ke arah bar mewah hotel dengan dagunya. Kael tidak goyah sedikit pun. Dengan gerakan kasar dan tak bersahabat, ia menyentak tangannya hingga tautan Rosaleen terlepas sepenuhnya. Tatapannya menatap wanita itu dengan kilat kemarahan yang mematikan."Aku lelah. Aku ingin pulang," tolak Kael tegas. Namun, Rosaleen tidak menyerah begitu saja. Di bawah pendar lampu koridor yang temaram, ia justru sengaja melangkah maju, memangkas jarak hingga tubuh mereka hampir tak berjarak. Dengan berani, jemari lenturnya bergerak naik, menyentuh dada bidang Kael dan merapikan kerah kemeja pria
“Kau membuntuti kami?” tuding Kael langsung, suaranya sedingin es dengan tatapan penuh intimidasi.Rosaleen menggeleng cepat lalu menjawab, “Aku hanya sedang berusaha mengingatkan jadwalmu saja. Seharusnya kau berterima kasih karena ini. Aku bahkan tidak menyelonong masuk seperti sebelumnya ‘kan?”"Sialan," umpat Kael lirih di dalam hati. Rahangnya mengeras sempurna saat menyadari bahwa pernyataan Rosaleen kali ini memang benar. Idenya yang menyuruh Victor pulang cepat sore tadi demi memberikan asistennya itu waktu bersama sang istri, kini berbalik menjadi bumerang. Kael benar-benar merutuki dirinya sendiri karena telah melupakan jadwal krusial perusahaan akibat terlalu terbuai asmara dan rasa bahagianya bersama Sabrina sejak dar
Sabrina buru-buru membekap mulut Kael dengan telapak tangan sambil melirik panik ke meja-meja sebelah yang mulai berbisik. Wajahnya dipastikan sudah semerah stroberi di atas piringnya. Tatapan beberapa pengunjung restoran yang sempat tertuju ke arah mereka membuat Sabrina ingin rasanya menghilang dari bumi detik itu juga."Kael! Kecilkan suaramu! Bisa-bisanya kau mengatakan hal memalukan seperti itu di tempat umum?!" bisik Sabrina dengan nada mendesis, menuntut penjelasan atas kelancangan ucapan kekasihnya. Kael menurunkan tangan Sabrina dari mulutnya dengan santai, tetapi tatapannya masih merajuk. Wajah tegas yang biasanya memancarkan aura mengintimidasi itu kini melunak menjadi ekspresi defensif yang teramat konyol. Pria itu menolak memakan apa pun lagi, menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu bersedekap dada dengan rahang yang mengeras tanda tersinggung."Aku hanya mengatakan fakta," ketus Kael rendah, memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca besar yang men
Jarak yang mengikis habis di antara mereka membuat kabin laboratorium steril itu mendadak terasa begitu hangat. Sabrina bisa merasakan deru napas Kael yang menyapu permukaan kulit wajahnya, menghantarkan sengatan listrik halus yang membuat bulu kuduknya meremang."A-aku tidak bohong," elak Sabrina, mencoba menegakkan punggungnya yang bersandar pasrah pada kursi kerja. "Tanya saja pada Stella kalau tidak percaya.” Kael tidak menjawab dengan kata-kata. Seulas senyum tipis yang teramat tampan terukir di wajahnya. Sebelum Sabrina sempat membuka mulut untuk kembali membela diri, Kael menundukkan kepala dan mengecup singkat bibir ranum gadis itu.Cup."Kael!" protes Sabrina setengah berbisik, matanya membelalak sempurna lantaran terkejut dengan serangan manis yang begitu tiba-tiba. "Ini di laboratorium! Bagaimana k
Apa tadi? Sabrina merindukannya? Apa ini hanya mimpi atau bagaimana? Kael masih sibuk dengan isi pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar hebat di dalam kepala, melumpuhkan seluruh logika bisnis yang biasanya beroperasi dengan kecepatan tinggi. Seorang Sabrina yang biasanya menutup diri di balik dinding pertahanan yang tebal, barusan merengek manja dan mengaku merindukannya di depan layar ponsel. Hingga suara deheman dari Teguh dan decakan pelan Sabrina di seberang panggilan membuat pria berwajah tegas itu berkedip cepat, tersadar dari lamunan instannya."Kalau kau sibuk ya sudah. Aku pulang saja," kata Sabrina kemudian, nada suaranya mendadak berubah gengsi karena menyadari atmosfer canggung di ruangan Kael."Tunggu aku di sana." Itulah balasan Kael yang lekas mengakhiri pembicaraan secara sepihak. Dalam hitungan detik, pipinya terasa panas. Jangan tanyakan bagaimana penampilan atau ekspresi sang Direktur Utama O'Shea
Kael melangkah mendekat. Bukannya bertanya siapa yang baru saja keluar dari sana, ia justru melakukan hal yang tak terduga. Ia melepas jas navy mahalnya, lalu dengan gerakan kaku namun tegas, menyampirkannya ke bahu Sabrina yang masih bergetar hebat."Tuan... tidak perlu," bisik Sabrina
"Kael, kau dengar aku tidak sih?" Gladis akhirnya meledak. Bahasa formalnya menguap, digantikan nada merajuk yang biasa ia gunakan saat mereka hanya berdua. "Keputusanmu memindahkan si OB itu ke ruanganmu benar-benar konyol. Semua orang di kantor membicarakannya. Mereka akan mengira aku tidak bec
Kael yang memiliki pendengaran tajam seketika menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard. Ia mendongak, matanya yang abu-abu menatap Sabrina dengan penuh selidik.
Kael menyentil layar laptopnya. Bunyi benturan benda elektronik itu terdengar jelas di ruangan yang mendadak terasa sempit. Ia memutar ulang rekaman CCTV di kepalanya untuk kesekian kali.&







