LOGINOh ya ampun! Sabrina merasa pusing tujuh keliling menghadapi pria di dekatnya ini. Gadis itu menarik napas lalu mengembuskannya dengan kasar.
“Sudah ya. Jangan cari gara-gara!”
“Aku tidak cari gara-gara,” bantah Kael dengan nada datar namun menuntut, tangannya sudah bersidekap di depan dada. “Sekarang jawab pertanyaanku saja. Lagipula apa tadi?
"Ceknya, Mbak. Saya permisi sekarang juga," ucap Sabrina dengan nada ketus yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.Sret! Suara derit kursi yang bergesekan dengan lantai marmer restoran itu terdengar begitu nyaring, membelah kebisingan area lounge yang eksklusif. Sabrina berdiri secara mendadak, membuat beberapa pelayan dan tamu menoleh ke arahnya, termasuk sepasang manusia di meja sudut yang sejak tadi menjadi pusat badai di hatinya. Kael tidak menoleh sedikit pun. Pria itu tetap bersikap acuh tak acuh, justru sengaja tertawa rendah menanggapi candaan manja dari wanita berpakaian minim di hadapannya. Tawa itu terdengar begitu menyakitkan di telinga Sabrina, seperti sembilu yang menyayat tepat di atas luka rasa bersalahnya pagi tadi. Rasa sesak di dadanya memuncak, perpaduan antara cemburu yang membakar dan amarah me
Oh ya ampun! Sabrina merasa pusing tujuh keliling menghadapi pria di dekatnya ini. Gadis itu menarik napas lalu mengembuskannya dengan kasar.“Sudah ya. Jangan cari gara-gara!”“Aku tidak cari gara-gara,” bantah Kael dengan nada datar namun menuntut, tangannya sudah bersidekap di depan dada. “Sekarang jawab pertanyaanku saja. Lagipula apa tadi? Kau ingin bilang apa?”Sabrina memalingkan wajah, enggan menatap manik mata abu-abu pria itu. “Tidak jadi.”“Jawab saja, Sabrina. Kau tahu aku benci kalimat yang menggantung.” Sabrina hendak melenggang pergi menuju pintu keluar untuk menghindari konfrontasi lebih lanjut. Namun, dengan gerakan yang lebih cepat, Kae
“Kalau kau tidak mau menjawab, aku akan tanya pada Mas Teguh.” Sabrina lantas menoleh pada Teguh yang baru saja mengangkat kepala setelah mendengar pernyataan menohok barusan. Orang kepercayaan Kael itu mematung di tempat. Bingung dengan situasi yang menjadikannya terjepit saat ini.“Tanyakan saja padanya!” ujar Kael dengan suara ketus. Matanya menatap Teguh acuh tak acuh.“Mas, tolong jawab pertanyaanku. Si Tua ini tidak punya mulut sepertinya,” desak Sabrina. Teguh jelas terkejut bukan main. Sementara Kael berusaha menahan suaranya agar tak meledak marah.“Maaf, Nona. Saya tidak punya hak untuk ini,” ucap Teguh sembari meringis pelan. Dia menatap Kael dengan wajah yang sudah merah padam. “Tuan, saya permisi dulu.”“Mas Teguh takut ya sama dia?” Teguh hanya tersenyum kecut lalu buru-buru berjalan meninggalkan apartemen itu. Kini yang tersisa hanya Sabrina dan Kael yang saling menatap sinis satu sama lain.“Kau? Beraninya kau berkata tentangku di de
Kael baru saja bangkit untuk mendekati monitor interkom ketika rahangnya mendadak mengeras. Di layar digital yang berpendar itu, sosok Teguh berdiri dengan raut wajah tenang sekaligus misterius."Tuan Kael," suara Teguh terdengar tertahan dan sedikit parau melalui speaker interkom. "Maaf mengganggu Anda sepagi ini, tapi ini benar-benar darurat. Saya baru saja mendapat kabar krusial dari Berlin dan ada dokumen fisik yang harus Anda lihat sekarang juga secara langsung. Ini terlalu berisiko untuk dibicarakan melalui sambungan telepon." Sabrina yang masih berdiri mematung di dekat meja makan dengan sisa sandwich di tangannya, merasakan bulu kuduknya meremang. Ia melihat perubahan drastis pada Kael. Binar jahil y
Dalam hitungan detik Kael membalikkan posisi. Kini tubuhnya berada di atas Sabrina. Gadis itu pun mendengus kesal, mencoba menggerakkan bahunya yang terhimpit."Kael, lepas! Ini tidak lucu. Aku bisa mati sesak napas kalau kau terus begini!" Namun, bukannya menjauh, Kael justru semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sabrina, menggunakan berat tubuhnya untuk mengunci pergerakan gadis itu di atas ranjang. "Diamlah sebentar, Sab. Kau sendiri yang menerobos masuk ke kamarku dan menjatuhkan diri di sini," bisik Kael dengan suara serak khas orang bangun tidur yang terdengar begitu provokatif."Aku tidak menjatuhkan diri! Aku tersandung karpetmu yang berantakan itu!" protes Sabrina, meski fokusnya mulai buyar. Aroma parfum cedarwood yang maskulin bercampur dengan hangatnya aroma tubuh Kael benar-benar mengacaukan sistem sarafnya.Kael terkekeh rendah, getaran di dadanya terasa jel
"Benar-benar tidak sopan! Kau pikir aku ini pelayan yang bisa kau suruh pergi begitu saja?" Sabrina mengomel tanpa henti di depan pintu unit apartemen Kael. Suaranya melengking di koridor yang sepi, menunjukkan betapa dongkol perasaannya sejak panggilan telepon tadi diputus sepihak. Setelah beberapa detik penuh keheningan yang menyebalkan, pintu di hadapannya terbuka sedikit. Namun, hanya menampakkan kepala Kael dengan rambut acak-acakan dan mata yang tampak enggan terbuka sempurna."Kau mengganggu saja," gumamnya parau.“Dasar tidak tahu diri!!”Brak! Tanpa aba-aba, Sabrina refleks menendang pintu itu hingga terbuka sempurna, membuat Kael nyaris terjungkal ke belakang. Dengan langkah penuh amarah, Sabrina masuk dan meletak
Malam Minggu di kediaman mewah keluarga O’Shea tidaklah diisi dengan pesta pora atau dentuman musik yang memekakkan telinga. Sebaliknya, suasana tenang yang elegan menyelimuti ruang tengah. Di sana, di atas sofa beledu yang
Hujan badai yang menghantam Jakarta sore itu seolah menjadi tirai sempurna untuk sebuah pertemuan yang tidak semestinya terjadi. Gladis memilih sebuah kafe tua di pinggiran kota yang sudah hampir tutup, tempat yang jauh dari jangk
"Saya hanya membela diri. Permisi," Sabrina melangkah melewati Gladis dengan bahu tegak, membiarkan aroma detergen dari seragamnya beradu dengan parfum mahal Gladis yang terasa menyesakkan. Sabrina terus berjalan menuju rua
Ruang kerja CEO O’Shea Group itu terasa begitu mencekam. Kael tidak langsung bicara. Ia duduk tenang di kursi kebesarannya, menyesap kopi hitam yang uapnya masih mengepul tipis, sembari matanya yang tajam menelusuri sosok di







