Mag-log in"Kalian lama sekali," desis Kael dengan suara rendah yang mengiris udara. Matanya yang keabuan menatap tajam ke arah komandan tim keamanan yang baru saja melompat turun dari mobil taktis. "Satu menit lebih lambat, dan kalian hanya akan menemukan tumpukan abu di gedung ini."
"Mohon maaf, Pak O'Shea. Jalur belakang tertutup kecelakaan truk, kami harus memutar melalui.."
"Aku tidak butuh alasan. Aku butuh hasil," potong Kael dingin. Ia be
Keheningan yang menyergap ruang makan itu terasa begitu padat. Namun entah bagaimana, tidak lagi terasa mengancam seperti sebelumnya. Sabrina terus menyibukkan diri dengan serbet di tangannya, mengelap permukaan meja kayu yang sebenarnya sudah bersih mengkilap. Ia bisa merasakan tatapan Kael yang tidak lepas darinya. Tatapan yang berat, intens, dan seolah sedang mencoba membaca setiap baris luka yang ia simpan selama tiga tahun ini. Kael akhirnya berdiri. Suara gesekan kaki kursinya di lantai marmer membuat Sabrina sedikit tersentak, memecah kesunyian yang mencekam. Pria itu tidak berjalan menuju pintu keluar, melainkan melangkah perlahan mendekat ke sisi meja tempat Sabrina berada. Langkah Sabrina terhenti. Ia meremas serbet di tangannya saat menyadari jarak di antara me
"Sayang, apa kau keberatan kalau Kael ada di sini?" tanya Adrian pelaan. Suara sang ayah terdengar tenang, namun tetap membawa otoritas kebapakan yang tidak memberi ruang bagi bantahan kasar. Sabrina mengerjapkan mata, menyadari bahwa semua pasang mata kini tertuju padanya, menanti reaksi. Ia mencuri pandang ke arah Kael. Pria itu tampak sangat serba salah, bahunya kaku dengan sorot mata yang gelisah. Sabrina akhirnya mengulas senyum singkat yang tipis, nyaris transparan, namun tetap terasa tulus sebagai bentuk sopan santun."Tidak masalah," jawab Sabrina pelan seraya melangkah maju untuk meletakkan nampan ke meja. Kael tidak bisa melepaskan pandangannya dari setiap gerak-gerik Sabrina. Malam ini, wanita itu melepaskan topeng profesionalnya. Tak ada setelan kantor yang kaku atau gaun mewah yang membatasi gerak. Sabrina hanya mengenakan kaus oversized berwarna krem dan celana legging hitam yang membalut kaki jenjangnya. Rambut panjangnya dicepol asal
Lampu kristal di ruang makan kediaman utama keluarga O'Shea berpijar mewah, namun sinarnya terasa dingin. Nyonya Maureen duduk di kursi kebesarannya, menatap deretan hidangan yang masih mengepulkan uap, namun seleranya seolah menguap bersama udara malam. Ia mengerutkan dahi dalam-dalam saat kepala pelayan membungkuk hormat di sampingnya."Tuan Muda Kael mengirim pesan, Nyonya. Beliau mengatakan tidak bisa pulang malam ini karena ada urusan mendesak di apartemennya," lapor kepala pelayan itu dengan suara rendah.Nyonya Maureen terdiam sejenak, jemarinya yang mulai keriput mengetuk permukaan meja kayu jati yang dipoles mengkilap. "Ke mana dia? Tidak biasanya begini," gumamnya dengan nada yang sulit diartikan. Wanita usia lanjut itu menghela napas panjang, lalu mengibaskan tangannya pelan. "Ya sudahlah. Antarkan makananku ke kamar saja. Percuma juga makan sendirian di meja sepanjang ini." Dengan bantuan tongkat penyangganya yang berkepala perak, Nyonya
"Wah, Tuan O'Shea..." Ganda memulai, suaranya terdengar sangat ringan, nyaris menyerupai senandung, namun setiap katanya sarat akan provokasi yang mematikan. Pria itu melangkah maju, memperkecil ruang gerak Kael hingga sang CEO kini merasa seolah tembok lobi sedang menghimpitnya."Aku tidak tahu kalau CEO sesibuk dirimu punya hobi baru sebagai pengamat pertumbuhan anak di waktu senggang. Apa kau sedang melakukan riset pasar untuk fasilitas ramah anak, atau kau baru saja menemukan bakat baru sebagai penguntit amatiran, hmm?" Kael meradang. Ujung jari-jarinya dingin karena malu yang luar biasa, namun ia berusaha sekuat tenaga menahan suaranya agar tetap rendah dan tajam. Jantungnya masih berpacu akibat adrenalin saat tertangkap basah tadi. Baginya martabat adalah segalanya, dan di depan Ganda martabat itu baru saja hancur berkeping-
Denting halus pintu lift yang terbuka di lantai lobi tidak sanggup menarik Kael dari zona transnya. Ia tetap terpaku di pojok lift, mematung dengan tatapan kosong yang menghujam lantai marmer. Pintu lift sempat menutup kembali sebelum sensornya mendeteksi keberadaan Kael, memaksanya terbuka lagi dengan bunyi mekanis yang seolah menertawakan kebodohan pria itu. Kael butuh waktu beberapa detik hanya untuk sekadar memerintah kakinya agar melangkah keluar. Kepalanya terasa berdenyut, sibuk mengabsen ulang silsilah keluarga Pratama yang sudah ia hafal di luar kepala sejak bertahun-tahun lalu.‘Ganda itu kakaknya. Saudara kandung. Satu ayah, satu ibu. Tapi kenapa anak itu memanggilnya Papa? Apa aku salah dengar? Atau telingaku yang benar-benar sudah rusak karen
Koridor lantai tiga yang biasanya sunyi dan beraroma kayu cendana itu mendadak terasa sempit. Sabrina berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan, sementara jemarinya meremas kartu akses berwarna emas di balik telapak tangannya. Di hadapannya, seorang Kael Mahendra O’Shea masih berdiri mematung di depan pintu unitnya sendiri. Pria itu menatap Sabrina seolah wanita itu baru saja turun dari piring terbang, sebuah pemandangan yang mustahil namun nyata ada di depan matanya. Kael berdehem pelan, sebuah usaha yang gagal untuk memulihkan harga dirinya yang sempat runtuh selama beberapa detik. Ia menegakkan punggungnya, menatap Sabrina dengan tatapan dingin yang dipaksakan."Aku tidak tahu Pratama Group punya koneksi sekuat itu dengan pemilik gedung ini," sindir
"Kael!!" Jeritan Gladis melengking di antara desing peluru yang menghantam pilar beton koridor lantai dua. Namun, suaranya yang parau segera tenggelam oleh dentuman granat yang meledak di ujung lorong, menciptakan gelombang
Suara sirine keamanan kediaman O’Shea menderu rendah, menyatu dengan gemuruh guntur yang mulai pecah di langit Jakarta. Di dalam ruang monitor yang kedap suara, Kael berdiri tegak, membelakangi kegelapan. Cahaya biru dari pu
Sabrina duduk mematung di tepi ranjang. Jemarinya masih meremas syal biru tua yang kotor, satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan sisa-sisa kewarasan yang ada. Hingga kemudian..Brak! Pintu kamar terbanting keras ke dinding. Gladis berdiri di sana, napasnya memburu, wajahnya yang
Udara di ruang tengah kediaman O’Shea mendadak membeku, seolah seluruh oksigen telah dihisap keluar oleh kemurkaan yang meledak dalam kesunyian. Kael menyentakkan tangannya dari rahang Sabrina dengan gerakan kasar, seolah-olah kulit halus gadis itu baru saja menyengatnya dengan tegangan







