تسجيل الدخولMesin jet pribadi klan O’Shea menderu rendah, membelah kegelapan malam dan menembus lapisan awan di ketinggian puluhan ribu kaki. Di dalam kabin yang mewah namun terasa mencekam, atmosfer dipenuhi ketegangan yang pekat.
Tidak ada kehangatan domestik di sini; hanya ada tumpukan dokumen taktis, pancaran layar gawai yang terang, dan tiga pasang mata y
Mesin jet pribadi klan O’Shea menderu rendah, membelah kegelapan malam dan menembus lapisan awan di ketinggian puluhan ribu kaki. Di dalam kabin yang mewah namun terasa mencekam, atmosfer dipenuhi ketegangan yang pekat. Tidak ada kehangatan domestik di sini; hanya ada tumpukan dokumen taktis, pancaran layar gawai yang terang, dan tiga pasang mata yang menatap lurus penuh kewaspadaan. Kael duduk bersandar di kursi penumpang utama, melonggarkan sedikit kerah kemeja taktisnya. Di sisi kiri, Teguh fokus mengetik sesuatu di laptop miliknya. Sementara di seberang meja bundar, Rosaleen menyilangkan kaki anggunnya, sesekali memeriksa senjata api laras pendek yang sengaja ia simpan di balik blazer gelapnya."Sinyal enkripsi sudah aman, Tuan O'Shea," lapor Teguh memeca
"Kita pulang sekarang.”"Pulang? Sekarang?" Sabrina membelalakkan matanya, menahan lengan Kael saat pria itu sudah menariknya pelan menuju pintu keluar. "Lalu bagaimana dengan rencana kita ke bandara”"Batalkan kunjungan ke bandara, Sabrina. Kita harus kembali ke rumah sekarang juga," perintah Kael mutlak, tanpa memberikan ruang untuk bantahan."Tapi kenapa? Katakan padaku ada apa sebenarnya! Jangan membuatku bingung seperti ini, Kael!" protes Sabrina tertahan di tenggorokan karena Kael sudah merangkul pinggangnya dengan sangat erat, menuntunnya setengah menyeret menuju mobil mewah mereka yang sudah bersiap di lobi. Di dalam mobil, atmosfer mendadak menjadi begitu mencekam. Kael langsung memberi instruksi pada sopir dengan nada rendah yang kaku."Jalan sekarang. Lewat jalur cepat dan pastikan tim pengawal di belakang tetap merapat."Sabrina mengepalkan tangan di a
Empat bulan telah berlalu sejak kepergian Adrian, Aliz dan Ganda yang dipenuhi teka-teki. Waktu bergulir membawa perubahan besar pada fisik Sabrina. Kini, di usia kehamilannya yang telah menginjak dua puluh satu minggu, perutnya sudah tampak membuncit dengan sangat kentara di balik gaun hamil berwarna pastel yang longgar. Perasaan cemas yang dulu sempat membayangi, perlahan terkikis oleh perhatian Kael yang luar biasa protektif dan memanjakannya setiap hari. Sore ini, atmosfer di kediaman mewah milik Victor dan Anna terasa begitu hangat dan dipenuhi aroma khas bayi. Pasangan itu tengah menggelar acara syukuran atas kelahiran putri pertama mereka. Rumah yang didekorasi dengan balon-balon berwarna merah muda itu tampak ramai oleh beberapa kerabat dekat. Sabrina berdiri agak jauh dari kerumunan, jemarinya mengusap lembut permukaan perutnya sendiri yang sesekali memberikan kedutan pelan, yakni tendangan kecil dari buah hatinya. Sepasang mata
“Begitulah.”"Wah, trik sulap macam apa itu? Luar biasa sekali pesonamu sampai bisa bersekongkol dengan anak kecil!" goda Ganda. Adrian dan Nyonya Maureen ikut terkekeh melihat Kael yang biasanya tak tergoyahkan kini mati kutu di depan seluruh keluarga. Wajah tegas pria itu memerah tipis, sementara Sabrina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan tawa melihat pemandangan langka tersebut. Untuk menghindari godaan Ganda yang makin menjadi-jadi, Kael langsung menyusun strategi. Tepat setelah makan malam keluarga yang hangat selesai, Kael merangkul pundak Sabrina dengan protektif. Begitu pintu kamar utama ditutup rapat, Sabrina tidak melepaskan Kael begitu saja. Sambil mendudukkan diri di tepi ranjang king size mereka, dia melipat kedua tangan di dada, menatap suaminya dengan pandangan menuntut penjelasan."Ayo mengakulah, Hubby. Kapan tepatnya kau merencanakan misi sulap ini, hmm?" tanya Sabrina dengan senyum penuh selidik. Kael
"Hei??" Di seberang jalan area parkir, seorang pria berpenampilan rapi dengan kemeja kasual yang dilapisi blazer gelap tengah melangkah terburu-buru memangkas jarak. Napasnya agak terengah-engah, namun seulas senyum lega terbit di wajahnya begitu memastikan bahwa tebakannya tidak salah. Melihat ada pria lain yang mendekat dengan tatapan yang sepenuhnya tertuju pada istrinya, aura protektif Kael langsung bangkit seketika. Dengan gerakan sigap dia menggeser tubuh tingginya, berdiri kokoh layaknya benteng di depan Sabrina. Sorot mata elang Kael mendadak berubah sedingin es, mengunci pergerakan pria yang baru saja tiba di hadapan mereka itu."Sabi, astaga... ternyata benar ini kau," ujar Daniel, menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Kael setelah merasakan intimidasi yang luar biasa dari pria di hadapannya. Daniel menelan ludah canggung, lalu beralih menatap Kael dengan sopan. "Maaf, Tuan O'Shea. Saya tidak bermaksud lancang mengejutkan istri Anda.""Ada
Pikiran Sabrina melayang jauh, menembus dinding-dinding masa lalunya yang kelabu. Berdiri di lobi kantor yang megah ini, ia mendadak disergap oleh sekelumit kesadaran yang getir. Selama ini, dia tidak benar-benar memiliki banyak teman. Hidup yang keras dan penuh perjuangan di masa lalu telah memaksa Sabrina untuk mengunci fokusnya hanya pada dua hal. Bekerja membanting tulang dan mengejar beasiswa demi bertahan hidup. Di saat gadis-gadis seusianya sibuk berkumpul, berbelanja, atau sekadar bergosip di kafe, Sabrina harus berlari dari satu tempat kerja paruh waktu ke tempat kerja lainnya. Pilihan hidup yang kaku itu membentuk tameng tak kasatmata di sekelilingnya. Jadilah tidak ada yang mau mendekat. Orang-orang menganggapnya terlalu sibuk, terlalu tertutup, atau mungkin terlalu membosankan untuk d
Sabrina masih mematung di atas tempat tidur mewah itu, bahkan setelah suara langkah kaki Kael menjauh menuju balkon. Matanya tertuju pada sebuah paper bag putih dengan logo brand ternama yang diletakkan sang bos
"Kael! Kenapa diam sih? Mau jadi patung ya? Hehe. Atau loyo?” Suara Sabrina meluncur pelan, serak, namun memiliki daya hancur yang luar biasa bagi pertahanan Kael. Ia tidak lagi tampak seperti gadis miskin yang selalu
Kalimat itu meluncur dari bibir Nyonya Maureen dengan ketenangan yang menghina akal sehat sang cucu. Kael menggeram frustrasi, ia melempar kunci mobilnya ke atas meja marmer hingga menimbulkan suara denting yang nyaring."G
"Jangan berharap banyak. Aku jarang berada di sini," gumam Kael datar. Sabrina bangkit dari lantai, merapikan gaun sutra hitamnya yang kini sudah tidak berbentuk. Ia mendekat dengan langkah ragu, mengi







