หน้าหลัก / Romansa / SEDIKIT LAGI, SAYANG! / 2. POKOKNYA AKU MAU TINGGAL SAMA KAMU

แชร์

2. POKOKNYA AKU MAU TINGGAL SAMA KAMU

ผู้เขียน: Dara Tresna Anjasmara
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-26 13:19:46

Brak!

Pintu segera ditutup saat pemilik rumah menatapnya garang.

“Mas! Mas! Buka pintunya! Aku teriak nih!” serunya panik, memukul-mukul pintu dengan keras.

Beberapa penghuni penthouse lain keluar unit, menatap Cindy dengan tatapan aneh, beberapa berbisik-bisik. Cindy makin panik.

Tak lama, Nathan membuka pintu sedikit—hanya cukup untuk menampakkan wajahnya.

“Ada apa?” tanyanya datar, berusaha tetap dingin, meski jelas terlihat ia terkejut setengah mati. Cindy menatapnya dengan mata memerah, penuh amarah, malu, dan keputusasaan yang ia tahan mati-matian.

“Aku gak dibolehin masuk dulu?” tegas Cindy.

Nathan hanya membeku.

Matanya mengerjap masih memproses tamu yang datang malam ini.

Tanpa menunggu jawaban, Cindy menerobos masuk begitu saja, meninggalkan koper dan

tas-tasnya di depan pintu. Napasnya masih tersengal karena panik, detak jantungnya tak aman, dan sisa emosi yang belum mereda.

Nathan refleks menahan pintu dengan lengannya. “Cindy, kamu tuh—”

“Aku boleh tinggal disini gak mas untuk sementara?”

Cindy berbalik menatapnya dengan mata berkaca-kaca, suaranya pecah

namun tetap keras. “Aku… aku nggak punya tempat lagi buat pulang. Jadi tolong… jangan usir

aku.”

Nathan terdiam. Tatapan tajamnya meredup seketika, tapi rahangnya masih mengeras menahan sesuatu—kaget, marah, atau simpati, Cindy tidak tahu.

“Atau setidaknya untuk malam ini.”

Buru-buru Nathan meraih koper Cindy beserta tas-tas lainnya dari depan pintu. Begitu semuanya sudah ia tarik masuk, Nathan menutup pintu penthouse dengan cepat.

Ia berdiri mematung di depan pintu, napasnya naik turun, rambutnya sedikit berantakan. Sorot matanya langsung tertuju pada Cindy.

Cindy, yang kini duduk santai di sofa ruang TV seakan rumah itu miliknya sendiri, menoleh dengan dagu terangkat sedikit. Tatapannya menantang, meski matanya masih menyimpan sisa kecemasan.

“Kenapa Mas? Mas udah punya wanita lagi ya?” tanya Cindy, suaranya tajam namun terdengar jelas ada luka yang ia sembunyikan.

Nathan menyilangkan tangannya seraya menyender dinding. Matanya dipejamkan sebentar bersamaan hela nafasnya yang besar.

“Cindy, jangan mulai.”

Kini pintu sudah tertutup dan kini mereka berdua berdiri berhadapan di ruang tamu yang sunyi, tegang, dan penuh kenangan pahit.

“Lain kali, kamu tuh konfirmasi dulu,” ucap Nathan sambil mematikan game di ruang TV, suara kesalnya masih menggantung.

“Aku gak tau nomor mas.” ucap Cindy sambil memelototkan mata, seolah menantang. “Mungkin aja nomor mas berubah?”

“Nomor saya gak pernah berubah.”

Cindy menyela, “Kan aku juga gatau kalau mas masih disini atau gak?”

“Bukan masalah…” Nathan menarik napas, suaranya merendah lalu terhenti sejenak. “Bukan masalah aku masih sendiri atau lagi sama wanita lain.”

“Terus?” Cindy menyipitkan mata. “Lagian kode rumah kamu aku juga gatau.” Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, jelas ingin memancing reaksi.

“Gak pernah saya ubah.”

Nathan merendah. “Masalahnya gini deh–”

“Masalahnya kalau aku lagi ke luar negeri? Gimana?” suara Nathan naik satu oktaf, nadanya menahan emosi, kedua alisnya mengernyit tajam.

Cindy mendengus pelan. “Lagian kalau aku bilang, nanti yang ada kamu nggak bolehin.”

Nathan berdiri, berkacak pinggang, menatap Cindy yang sama sekali tidak terlihat menyesal. “Kamu tuh nggak punya tempat lain?”

Cindy menghela napas panjang sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. “Kalau ada, ngapain aku ke sini?” Tatapannya lurus ke layar TV, wajahnya cemberut seperti anak kecil yang sedang dihukum.

Nathan mengerutkan alis. “Berapa lama?” tanyanya tegas sambil menyilangkan tangan di dada.

“Mungkin… beberapa hari,” jawab Cindy pelan.

“Yang jelas berapa hari?” Nathan menaikkan nada suaranya, kesulitan menahan emosi.

Cindy memalingkan wajah, suaranya melemah. “Ya… nggak tahu juga. Aku belum bisa mikir. Aku lapar… belum makan dari sore.”

Nathan mendengus pelan lalu ia berbalik dan melangkah ke kamar tidur. “Masak sendiri.” Ucapannya singkat, dingin, dan tajam sebelum pintu kamarnya tertutup ia menyelipkan dirinya di pintu.

“Kamu tidur di kamar tamu. Jangan ganggu.”

Cindy memandangi pintu kamar Nathan yang kini tertutup rapat. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.

Lalu berlari ke arah ruang makan—meninggalkan koper dan tas-tasnya berserakan di dekat rak sepatu tanpa peduli sedikit pun.

Cindy memasak makanan kesukaannya. Ia sempat melihat sebuah memo kecil menempel di lemari es. “Masih sama,” gumam Cindy sambil tertawa kecil, jarinya menyentuh kertas itu dengan perasaan hangat.

Matanya lalu menyapu ruang makan, memperhatikan tiap detail—kursi makan yang disusun berdampingan, lengkap dengan bantal kecil di atasnya.

“Jadi… bangkunya satu?” bisiknya, alisnya terangkat tidak percaya. “Nggak percaya deh. Masa dia nggak pernah bawa seseorang gitu?”

Ia menyiapkan makanannya di atas meja dan duduk seorang diri. Sesekali ia melirik pintu kamar Nathan.

Perut kenyang membuat kantuknya semakin berat. Cindy melangkah menuju kamar tidurnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk—bantal bertumpuk, selimut tebal terlipat rapi, seolah ruangan itu menyambutnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   117. TAKUT SAMA MORGAN, CINDY MINTA PINDAH KE RUKO?

    “Soal apa, Tante?” tanya Nathan penasaran. Di sampingnya, Cindy tampak menegang. Jari-jarinya saling bertaut, napasnya sedikit tertahan, seolah tak siap mendengar lanjutan kalimat itu. “Soal…,” bibinya menggantungkan ucapan, tatapannya meredup sejenak. “Ma, jangan deh,” sela pamannya cepat sambil menggeleng pelan. “Nggak enak sama Cindy…,” lanjutnya, lalu kembali mengunyah makanannya, berusaha mengalihkan suasana. Namun diam yang tersisa justru terasa lebih berat, membuat Cindy semakin gelisah. “Iya sih… maaf ya, Nathan, Cindy,” ucap bibinya pelan. Nada suaranya melunak. “Tante seharusnya mendinginkan suasana, bukan malah membuka hal-hal yang bikin nggak nyaman. Maaf ya…” Ia tersenyum kecil, mencoba menepis sisa kegelisahan yang sempat menggantung di udara. “Ah, sudahlah. Pokoknya fokus aja sama perjalanan kalian ini. Tante doain ke depannya nggak ada lagi masalah yang nggak bisa kalian selesaikan bersama, ya.” Cindy dan Nathan mengangguk pelan. Nathan meremas tangan Cin

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   116. LUKA LAMA YANG AKAN DIBUKA OLEH OM DAN TANTE NATHAN MENGENAI CINDY?

    “Iya, Om, Tante. Jadi… aku ke sini mau minta tolong sama Om dan Tante,” ucap Nathan pelan, namun terdengar mantap. Tangannya masih menggenggam tangan Cindy, seolah memberi kekuatan. “Kami mau menikah lagi dan butuh saksi sekaligus wali. Karena… Papa sama Mama sudah tidak akan memberi respons apa pun.” Senyum tipis masih bertahan di wajah Nathan, meski matanya menyiratkan lelah yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. “Um…” Paman dan bibinya bersuara hampir bersamaan. Keduanya saling pandang sejenak, lalu mengangguk pelan. Ada jeda sunyi di antara mereka—hening yang sarat makna, seolah masing-masing tengah menimbang beban keputusan yang akan diambil, sekaligus memahami luka yang dibawa Nathan dan Cindy ke hadapan mereka. “Ya sudah, kapan kalian nikah? Di gedung mana? Atau di apartemen?” tanya pamannya sambil tersenyum hangat, menatap Nathan dan Cindy bergantian. “Jadi… Om mau?” tanya Nathan lirih, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sorot matanya bergetar,

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   115. MINTA TOLONG

    “Iya, Bude… masih ingat sama aku?” tanya Cindy sambil tersenyum, nada suaranya sopan namun hangat. “Oalah… ternyata bener toh,” sahut sang Bude sambil menatap Cindy dari ujung kepala hingga kaki. Senyum lebarnya mengembang. “Sekarang makin cantik aja.” Ia lalu bertepuk tangan kecil. “Ayo, ayo… anu… Om sama Tante ada di lantai atas. Ayo.” Tanpa menunggu lama, Bude itu segera memimpin jalan. Tangga melingkar yang elegan mereka naiki bersama hingga tiba di lantai dua. Setibanya di atas, pembantu rumah tangga itu mengetuk pintu ruang keluarga. “Permisi… ada tamu,” ucapnya sopan. “Siapa, Bude?” tanya Anggi—Tante Nathan—dari dalam ruangan. “Mas Nathan sama…” Pembantu itu tersenyum lebar, lalu mengangkat ibu jarinya ke arah mereka berdua. “...mantan istrinya.” “Oh?” Anggi menoleh, lalu matanya membesar saat melihat keduanya. “Nathan? Cindy?” Nada suaranya terdengar campur aduk—terkejut, senang, sekaligus seolah memastikan apa yang dilihatnya nyata. Nathan dan Cindy segera

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   114. NATHAN MENGAJAK CINDY MENEMUI SESEORANG.

    “Kalau kamu masih belum siap buat cerita, seenggaknya jangan buat aku terus penasaran, Sayang,” ucap Nathan pelan sambil berlutut di hadapan Cindy, menatap wajahnya yang basah oleh air mata. “Aku cuma nggak tahu harus cerita apa, Sayang. Aku bingung…” sahut Cindy lirih. Tangannya terangkat mengusap sisa air mata yang jatuh, napasnya terdengar tak beraturan. “Aku minta maaf kalau sudah bikin kamu khawatir,” lanjut Cindy, suaranya nyaris hilang, seolah rasa bersalah menekan dadanya lebih kuat dari yang bisa ia tahan. Nathan terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Ya udah. Kalau kamu belum mau cerita, nggak apa-apa. Aku ngerti, kok. Mungkin kamu memang butuh waktu,” ucapnya lembut, namun matanya menyimpan kecemasan yang tak ia sembunyikan. “Tapi… jangan buat aku terus nunggu tanpa kepastian, Sayang.” “Um…” sahut Cindy sambil mengangguk pelan. Ia tak sempat berkata apa-apa lagi ketika Nathan sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan yang erat, seolah tak i

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   113. APA YANG TERJADI DENGAN CINDY?

    “Kamu telepon aku?” tanya Cindy sambil tersenyum canggung, matanya sempat menghindar sebelum kembali menatap Nathan. “Iya, sayang. Aku telepon kamu, tapi kamu nggak jawab,” jawab Nathan sambil terus mengunyah, sorot matanya tak lepas dari wajah Cindy. “Biasanya kamu paling semangat kalau aku telepon,” lanjut Nathan dengan senyum kecil. “Telat dikit aja, kamu udah ngomel.” Tangannya terangkat, mengusap pipi Cindy dengan ibu jari secara lembut—gerakan sederhana, tapi cukup membuat Cindy terdiam sesaat. “Mungkin aku tadi ketiduran, ya, sayang,” ucap Cindy pelan sambil tersenyum. “Maaf ya, aku nggak tahu kamu telepon.” Ia langsung memeluk Nathan, seolah ingin menutup rasa bersalahnya dengan kehangatan itu. Nathan menghela napas kecil, lalu tersenyum pasrah. “Pengen marah,” katanya lirih sambil mengusap wajah Cindy dengan lembut, “tapi ini kamu. Aku nggak bisa.” “Makasih, sayang… maaf ya,” balas Cindy pelan. Senyumnya mengembang tipis saat ia menyandarkan pipinya di lengan Na

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   112. SESUATU YANG DITUTUPI OLEH CINDY.

    “Paling dia tiduran habis nonton drakor,” ucap Bayu santai sambil menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil. “Cewek-cewek kan gitu, Nath.” “Mungkin juga, ya,” jawab Nathan akhirnya. Ia menghela napas pelan, lalu menyimpan ponselnya ke saku celana. Nada suaranya terdengar berusaha meyakinkan diri sendiri. Ia mengangkat kantong belanjaan sedikit, lalu melangkah mundur setengah langkah. “Gue mau balik. Lo mau ke mana?” tanyanya. “Gue mau ke rumah Mama,” jawab Bayu. “Tadi mampir sebentar, liat lo jalan kaki.” Nathan tersenyum tipis. “Oh.” Bayu tertawa kecil, membuka pintu mobilnya. “Ya udah, gue cabut dulu.” Ia melirik Nathan sambil terkekeh. “Lo mau gue anterin, nggak?” “Halah…” ucap Nathan sambil tertawa singkat, matanya melirik ke arah gedung apartemen yang kini sudah di depan mata. “Nggak usah. Deket.” “Ya udah, gue balik ya,” kata Bayu sambil melangkah menuju mobilnya. “Salam buat Cindy. Oh iya… kapan nikah? Undang gue dong.” “Pasti gue kabarin, lo,” jawab Nathan s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status