Home / Romansa / SEDIKIT LAGI, SAYANG! / 3. MAS, HATI-HATI YA!

Share

3. MAS, HATI-HATI YA!

last update Last Updated: 2025-11-26 13:19:52

Pagi menjelang. Cindy terbangun dengan rambut acak dan selimut yang berantakan.

“Jam lima pagi…” gumamnya dengan mata setengah terpejam sambil melirik jam di tangannya—yang bahkan belum sempat ia lepas tadi malam.

“Um…” Cindy memfokuskan pandangannya. Ia melihat jelas tas-tas miliknya kini ada di dekat lemari pakaian.

“Kapan masuknya ya?” bisiknya, suara itu menggantung, nyaris seperti ketakutan—atau penasaran. Cindy menelan ludah. Ia yakin tidak menyentuh tas-tas itu sama sekali. Dan hanya ada satu orang yang bisa melakukannya tanpa ia sadari.

“Ah, mungkin aku aja yang lupa,” ucap Cindy sambil tersenyum kecil menatap langit-langit kamar tidur. Ia merenggangkan tubuhnya, menguap, lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.

Usai mandi, tubuhnya hanya tertutup handuk. Cindy membuka tas koper, mencari pakaian.

“Astaga… baju aku gini semua lagi…” keluhnya sambil menarik napas panjang.

Isinya hanya baju kekurangan bahan—semua gaya khasnya.

Mau tidak mau, ia mengambil rok mini dan kaos oblong, memakainya, lalu mengeringkan rambut sambil merapikan diri.

Saat keluar kamar, suasana apartemen terasa hening. Matanya menangkap sosok Nathan yang sedang berolahraga di sudut ruangan.

“Oh… Hai?” Cindy langsung menutup mulutnya dengan tangan, terpana melihat tubuh mantan suaminya yang kini jauh lebih menggairahkan dibanding dulu.

“Pagi, Mas…” sapanya akhirnya. Suaranya pelan tapi cukup jelas, sambil ia cepat-cepat menuju ruang makan tanpa berani menatap utuh pria itu.

Nathan baru sadar kehadirannya. Ia langsung menghentikan olahraga dan, tanpa pikir panjang, berlari kecil kembali ke kamar—dalam keadaan tanpa pakaian.

“Kayak aku gapernah liat aja?!”

Seru Cindy dari ruang makan sambil mengambil roti. Nadanya sebal tapi pipinya merona.

“Lagian…” gumam Cindy sambil cemberut, mengoleskan krim kacang di roti, sama sekali tidak sadar apa yang baru ia bayangkan. “Eh?” Cindy membeku. Mata membesar. Roti hampir jatuh dari tangannya.

Ia menutup mulut sendiri, panik dan malu bukan main.

Usai mandi sehabis olahraga dan bersiap kerja, Ia menuju ruang makan untuk mengambil tumbler-nya yang tergeletak di meja makan. Begitu mengangkatnya, alis Nathan langsung bertaut.

“Eh?” gumamnya pelan. Ada sedikit beban di dalamnya—jelas tidak kosong seperti tadi malam.

Ia membuka tutup tumbler dan menatap isinya. Aroma kopi ringan langsung tercium.

Tatapannya kemudian beralih perlahan ke arah pintu kamar Cindy. Lalu melengang ke pintu.

“Mas?” ucap Cindy. Suaranya terdengar dari belakang tapi cukup untuk membuat Nathan menghentikan langkahnya di depan pintu.

Nathan sempat terpaku. Ada dorongan kecil untuk menoleh, tapi lehernya malah terasa kaku. Ia memilih melanjutkan langkah, membuka pintu, lalu keluar tanpa menanggapi.

“Hati-hati ya!” seru Cindy sambil berlari kecil menuju pintu. Ia berdiri di depan ambang, memandangi Nathan yang sudah memasuki lift.

Nathan menatap balik—tatapan datar, tanpa ekspresi, sambil menekan tombol penutup pintu lift. Pintu itu perlahan tertutup, menyisakan tatapan mereka sesaat sebelum akhirnya menghilang.

Cindy mulai merapikan seluruh rumah, dari ruang tamu hingga ruang TV. Ia menyusun buku-buku di rak—sesekali berhenti dan membuka salah satu buku yang menarik perhatiannya.

Setelah beberapa menit, tatapannya beralih ke pintu kamar tidur Nathan, pintu kamar yang mendadak terasa seperti pintu menuju zona terlarang.

Pintu itu tidak bergerak, tapi entah kenapa atmosfer di sekitarnya jadi lebih sunyi dan menegangkan namun memberanikan diri. Ia berjalan mendekati pintu kamar Nathan dan meraih gagangnya.

“Eh… nggak dikunci?” gumam Cindy, terkekeh kecil dengan senyum nakal sebelum mendorong pintu dan masuk ke kamar mewah milik duda tanpa anak itu.

“Kebiasaan, handuknya ditaruh di kasur…” ucap Cindy sambil mengambil handuk itu dan meletakkannya di bahunya.

Ia membuka sedikit lemari Nathan. “Baju dan warnanya masih sama. Abu, hitam, putih—itu-itu aja.”

Cindy kemudian merapikan meja kerja yang sebenarnya tidak terlalu berantakan. Ia menahan diri untuk tidak menyentuh terlalu banyak karena ingat betul Nathan tidak suka ada yang mengusik meja kerjanya tanpa izin. Ia hanya menata pulpen pada tempatnya, lalu menyusun bantal sofa.

Sambil memandang keluar jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota pagi itu, Cindy menghela napas panjang.

“Aku harus ngerjain apa lagi nih…” gumam Cindy, lalu beralih menuju ruang laundry. Di sana, beberapa pakaian kotor milik Nathan menunggu.

Tanpa pikir panjang, Cindy memutuskan mencuci semuanya. Ia memisahkan pakaian dalam mantan suaminya sambil terkekeh pelan, lalu mencucinya, mengangkat jemuran yang sudah kering.

Di meja ruang TV, Cindy duduk di atas bantal bulat sambil menyeruput kopi hangat. Ia membuka beberapa situs lowongan pekerjaan. Sejak akhirnya memutuskan resign kemarin, ia makin bingung. Pasalnya, sejak izin terus menerus untuk mengurus mamanya, dirinya terancam pemutusan kerja. Dengan begitu, kenapa tidak sekalian saja?

Kopi masih setengah, matanya mulai berat. Nathan belum juga pulang.

“Mungkin kalau tiduran sebentar, nggak apa-apa...” gumam Cindy sebelum berbaring di sofa.

Awalnya hanya ingin istirahat sejenak—tapi matanya menangkap lipstick merah di atas nakas meja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   117. TAKUT SAMA MORGAN, CINDY MINTA PINDAH KE RUKO?

    “Soal apa, Tante?” tanya Nathan penasaran. Di sampingnya, Cindy tampak menegang. Jari-jarinya saling bertaut, napasnya sedikit tertahan, seolah tak siap mendengar lanjutan kalimat itu. “Soal…,” bibinya menggantungkan ucapan, tatapannya meredup sejenak. “Ma, jangan deh,” sela pamannya cepat sambil menggeleng pelan. “Nggak enak sama Cindy…,” lanjutnya, lalu kembali mengunyah makanannya, berusaha mengalihkan suasana. Namun diam yang tersisa justru terasa lebih berat, membuat Cindy semakin gelisah. “Iya sih… maaf ya, Nathan, Cindy,” ucap bibinya pelan. Nada suaranya melunak. “Tante seharusnya mendinginkan suasana, bukan malah membuka hal-hal yang bikin nggak nyaman. Maaf ya…” Ia tersenyum kecil, mencoba menepis sisa kegelisahan yang sempat menggantung di udara. “Ah, sudahlah. Pokoknya fokus aja sama perjalanan kalian ini. Tante doain ke depannya nggak ada lagi masalah yang nggak bisa kalian selesaikan bersama, ya.” Cindy dan Nathan mengangguk pelan. Nathan meremas tangan Cin

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   116. LUKA LAMA YANG AKAN DIBUKA OLEH OM DAN TANTE NATHAN MENGENAI CINDY?

    “Iya, Om, Tante. Jadi… aku ke sini mau minta tolong sama Om dan Tante,” ucap Nathan pelan, namun terdengar mantap. Tangannya masih menggenggam tangan Cindy, seolah memberi kekuatan. “Kami mau menikah lagi dan butuh saksi sekaligus wali. Karena… Papa sama Mama sudah tidak akan memberi respons apa pun.” Senyum tipis masih bertahan di wajah Nathan, meski matanya menyiratkan lelah yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. “Um…” Paman dan bibinya bersuara hampir bersamaan. Keduanya saling pandang sejenak, lalu mengangguk pelan. Ada jeda sunyi di antara mereka—hening yang sarat makna, seolah masing-masing tengah menimbang beban keputusan yang akan diambil, sekaligus memahami luka yang dibawa Nathan dan Cindy ke hadapan mereka. “Ya sudah, kapan kalian nikah? Di gedung mana? Atau di apartemen?” tanya pamannya sambil tersenyum hangat, menatap Nathan dan Cindy bergantian. “Jadi… Om mau?” tanya Nathan lirih, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sorot matanya bergetar,

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   115.

    “Iya, Bude… masih ingat sama aku?” tanya Cindy sambil tersenyum, nada suaranya sopan namun hangat. “Oalah… ternyata bener toh,” sahut sang Bude sambil menatap Cindy dari ujung kepala hingga kaki. Senyum lebarnya mengembang. “Sekarang makin cantik aja.” Ia lalu bertepuk tangan kecil. “Ayo, ayo… anu… Om sama Tante ada di lantai atas. Ayo.” Tanpa menunggu lama, Bude itu segera memimpin jalan. Tangga melingkar yang elegan mereka naiki bersama hingga tiba di lantai dua. Setibanya di atas, pembantu rumah tangga itu mengetuk pintu ruang keluarga. “Permisi… ada tamu,” ucapnya sopan. “Siapa, Bude?” tanya Anggi—Tante Nathan—dari dalam ruangan. “Mas Nathan sama…” Pembantu itu tersenyum lebar, lalu mengangkat ibu jarinya ke arah mereka berdua. “...mantan istrinya.” “Oh?” Anggi menoleh, lalu matanya membesar saat melihat keduanya. “Nathan? Cindy?” Nada suaranya terdengar campur aduk—terkejut, senang, sekaligus seolah memastikan apa yang dilihatnya nyata. Nathan dan Cindy segera

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   114. NATHAN MENGAJAK CINDY MENEMUI SESEORANG.

    “Kalau kamu masih belum siap buat cerita, seenggaknya jangan buat aku terus penasaran, Sayang,” ucap Nathan pelan sambil berlutut di hadapan Cindy, menatap wajahnya yang basah oleh air mata. “Aku cuma nggak tahu harus cerita apa, Sayang. Aku bingung…” sahut Cindy lirih. Tangannya terangkat mengusap sisa air mata yang jatuh, napasnya terdengar tak beraturan. “Aku minta maaf kalau sudah bikin kamu khawatir,” lanjut Cindy, suaranya nyaris hilang, seolah rasa bersalah menekan dadanya lebih kuat dari yang bisa ia tahan. Nathan terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Ya udah. Kalau kamu belum mau cerita, nggak apa-apa. Aku ngerti, kok. Mungkin kamu memang butuh waktu,” ucapnya lembut, namun matanya menyimpan kecemasan yang tak ia sembunyikan. “Tapi… jangan buat aku terus nunggu tanpa kepastian, Sayang.” “Um…” sahut Cindy sambil mengangguk pelan. Ia tak sempat berkata apa-apa lagi ketika Nathan sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan yang erat, seolah tak i

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   113. APA YANG TERJADI DENGAN CINDY?

    “Kamu telepon aku?” tanya Cindy sambil tersenyum canggung, matanya sempat menghindar sebelum kembali menatap Nathan. “Iya, sayang. Aku telepon kamu, tapi kamu nggak jawab,” jawab Nathan sambil terus mengunyah, sorot matanya tak lepas dari wajah Cindy. “Biasanya kamu paling semangat kalau aku telepon,” lanjut Nathan dengan senyum kecil. “Telat dikit aja, kamu udah ngomel.” Tangannya terangkat, mengusap pipi Cindy dengan ibu jari secara lembut—gerakan sederhana, tapi cukup membuat Cindy terdiam sesaat. “Mungkin aku tadi ketiduran, ya, sayang,” ucap Cindy pelan sambil tersenyum. “Maaf ya, aku nggak tahu kamu telepon.” Ia langsung memeluk Nathan, seolah ingin menutup rasa bersalahnya dengan kehangatan itu. Nathan menghela napas kecil, lalu tersenyum pasrah. “Pengen marah,” katanya lirih sambil mengusap wajah Cindy dengan lembut, “tapi ini kamu. Aku nggak bisa.” “Makasih, sayang… maaf ya,” balas Cindy pelan. Senyumnya mengembang tipis saat ia menyandarkan pipinya di lengan Na

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   112. SESUATU YANG DITUTUPI OLEH CINDY.

    “Paling dia tiduran habis nonton drakor,” ucap Bayu santai sambil menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil. “Cewek-cewek kan gitu, Nath.” “Mungkin juga, ya,” jawab Nathan akhirnya. Ia menghela napas pelan, lalu menyimpan ponselnya ke saku celana. Nada suaranya terdengar berusaha meyakinkan diri sendiri. Ia mengangkat kantong belanjaan sedikit, lalu melangkah mundur setengah langkah. “Gue mau balik. Lo mau ke mana?” tanyanya. “Gue mau ke rumah Mama,” jawab Bayu. “Tadi mampir sebentar, liat lo jalan kaki.” Nathan tersenyum tipis. “Oh.” Bayu tertawa kecil, membuka pintu mobilnya. “Ya udah, gue cabut dulu.” Ia melirik Nathan sambil terkekeh. “Lo mau gue anterin, nggak?” “Halah…” ucap Nathan sambil tertawa singkat, matanya melirik ke arah gedung apartemen yang kini sudah di depan mata. “Nggak usah. Deket.” “Ya udah, gue balik ya,” kata Bayu sambil melangkah menuju mobilnya. “Salam buat Cindy. Oh iya… kapan nikah? Undang gue dong.” “Pasti gue kabarin, lo,” jawab Nathan s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status