Beranda / Romansa / SEDIKIT LAGI, SAYANG! / 38. PELAN-PELAN BISA KAN, SAYANG?

Share

38. PELAN-PELAN BISA KAN, SAYANG?

last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-15 15:32:24

“Apa? Lo di rumah mantan suami lo lagi?”

Malam itu, Cindy berbicara pelan dengan temannya lewat telepon. Di belakangnya, Nathan terlelap sambil memeluk bantal milik Cindy.

“Aku terpaksa. Aku nggak tahu harus ke mana lagi… Uang aku semuanya habis. Semua habis sejak aku pisah dari dia dan bangkrut, semua aku alokasikan ke Mama aku yang lagi sakit. Semua aku kasih ke Mama, supaya dia bisa sembuh,” ucap Cindy lirih. Ia melirik Nathan sekilas, tersenyum kecil, lalu kembali fokus pada obrolan.

“Tapi… dia mau? Dia terima lo?”

“Iya. Dia terima aku di sini. Dan… dia juga kasih aku kerjaan,” jawab Cindy sambil tersenyum, menatap Nathan yang masih terlelap.

“Gila. Dia baik banget. Tapi… dia nggak punya pacar? Atau nggak ada yang lagi dekat sama dia?”

“Kayaknya nggak ada, sih,” jawab Cindy singkat.

“Terus gimana sama mantan mertua lo? Kalau mereka tahu, nanti bisa jadi masalah,” ucap temannya mengingatkan.

“Aku harap… aku bisa atasi itu. Aku tahu mereka nggak suka sama aku, tapi l
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Wak Leh
lanjutkan torrr
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   92. MORGAN MENAGIH JANJI PADA NATHAN? JANJI APA?

    ​“Sayang? Itu kakak kamu, kan? Jawab saja, siapa tahu ada hal penting,” ucap Cindy lembut, mencoba memberikan dukungan pada Nathan. ​“Um...” Nathan bergumam pendek. ​Tepat saat pintu lift berdenting terbuka di lantai restoran, Nathan menggeser layar ponselnya dan menerima panggilan tersebut. “Halo,” sahutnya pelan. Tangannya menggenggam jemari Cindy dengan sangat erat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia fokus pada pembicaraan telepon tersebut. ​“Nathan, um... apa lo lagi sibuk?” tanya Morgan di seberang sana. Suaranya terdengar kaku, sarat akan beban rasa bersalah. ​“Ya, nggak juga,” jawab Nathan singkat. Ia menatap wajah Cindy yang kini tengah sibuk membuka buku menu dengan antusias di bawah bimbingan seorang pelayan restoran. ​Nathan hendak menanyakan sesuatu, namun kalimatnya tertahan. Matanya tanpa sengaja menangkap sebuah X-banner berukuran besar yang terpampang di pintu masuk restoran. Di sana tertulis pengumuman mengenai pertemuan besar perusahaan keluarg

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   91. MORGAN MENGHUBUNGI NATHAN?

    Suasana ballroom hotel mewah itu begitu gemerlap, namun terasa mencekik bagi Morgan. Aroma hidangan mahal dan denting gelas kristal tidak mampu menenangkan hatinya yang gundah. ​“Morgan, ini Pak Frans dan Pak Nico. Mereka mau berfoto sama kamu,” bisik ibunya dengan nada memerintah, menarik Morgan kembali ke realitas di tengah hiruk pikuk pertemuan besar itu. ​“Oh... iya, Ma,” sahut Morgan patuh. ​Ia memaksakan sebuah senyum formal, melayani para klien raksasa yang masih memilih setia pada perusahaan keluarganya. Meskipun ia kini menduduki kursi CEO, Morgan sadar betul bahwa kestabilan ini sangat rapuh. Kabar mundurnya Nathan telah mengguncang kepercayaan pasar; sebagian besar kolega lama mulai menarik kerja sama mereka karena tidak yakin pada kemampuan Morgan menggantikan posisi adiknya yang telah memimpin selama delapan tahun dengan tangan dingin. ​“Semoga kerja sama kita bisa berlangsung lebih awet dan keuntungannya melimpah di bawah kepemimpinanmu,” ucap salah seorang tamu

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   90. TERIAK LAGI, SAYANG. LEBIH KERAS.

    ​Kedua tangannya kini mencengkeram sprei dengan kuat hingga kain itu kusut dalam genggamannya. Kenikmatan yang diberikan Cindy kali ini terasa begitu luar biasa dan langka, membuat seluruh saraf di tubuh Nathan bergetar hebat. Setiap sedotan dan lilitan lidah Cindy seakan menarik seluruh kesadarannya menuju puncak yang memabukkan. ​“Ngggh... sedikit lagi, Sayang... jangan berhenti...” rintih Nathan dengan suara serak yang nyaris habis, membiarkan dirinya hanyut dalam permainan panas yang diciptakan oleh wanita di ​“Teriak lagi, Sayang... lebih keras lagi!” perintah Nathan dengan suara serak yang penuh kuasa, sembari terus menghantam tubuh Cindy dengan gerak pinggul yang cepat dan bertenaga. ​“Aaah... Nathan... Aaah... Sayang... iya... terus! Ah... ah... Sayang!” Cindy menjerit histeris. Nathan seolah kehilangan kendali, semakin kuat menghajar titik terdalam Cindy di atas ranjang yang kini berderit mengikuti irama mereka. ​Napas Nathan memburu hebat. Ia tiba-tiba menarik miliknya

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   89. HOTEL YANG SAMA DENGAN PERKENALAN MORGAN SEBAGAI CEO

    Setelah transaksi pembelian ruko mewah itu selesai, ketegangan di antara Nathan dan Cindy justru semakin memuncak. Di dalam mobil yang melaju membelah lalu lintas pagi, suasana terasa begitu panas dan menyesakkan oleh gairah yang tertahan. ​“Hotel mana, Sayang?” tanya Nathan dengan suara serak. Sesekali ia melirik Cindy yang duduk di sampingnya, tampak begitu menggoda dengan pakaian yang sedikit berantakan. ​Cindy tidak menjawab dengan kata-kata biasa. Ia justru menggeser duduknya mendekat, lalu memeluk lengan kiri Nathan dengan manja. Kepalanya bersandar di bahu pria itu, sementara jemarinya mulai menari nakal di atas paha Nathan. ​“Um... hotel yang paling dekat aja. Sakura Hotel, Sayang. Ke sana aja, ya? Aku... aku udah nggak tahan lagi,” bisik Cindy dengan nada manja yang sangat provokatif, sengaja memberikan hembusan napas hangat di leher Nathan. ​Nathan menggeram rendah, tangannya yang memegang kemudi semakin erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Sentuhan

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   88. MENDADAK KE HOTEL?

    Usai melakukan transaksi dan mendapatkan surat jual beli serta bukti kepemilikan tunggal, kini keduanya resmi memiliki ruko mewah tersebut. Kepemilikan itu menjadi tonggak awal kebangkitan mereka setelah badai besar yang sempat menghantam.“Sayang... aku nggak sabar melihat ruko ini penuh dengan barang-barang yang mau aku jual nanti,” ucap Cindy sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.Keduanya duduk berdampingan di atas sofa yang merupakan bonus eksklusif dari pembelian ruko tersebut. Nathan merangkul bahu Cindy, membiarkan wanita itu menikmati kemenangannya sejenak.“Iya, Sayang. Kita pasti bakal punya kesibukan luar biasa setiap hari habis ini. Tapi... oh iya, kamu juga harus janji untuk nggak salah memilih supplier lagi. Kamu ingat, kan, dulu kamu pernah ditipu oleh teman kamu sendiri?” ucap Nathan, mengingatkan dengan nada yang lembut namun sarat akan ketegasan.Cindy mengangguk pelan, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Nathan, mencari kenyamanan di sana. “Iya,

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   87. CINDY DAPAT RUKO BARU DARI NATHAN

    Pukul delapan pagi, Nathan dan Cindy sudah berada di dalam mobil sport hitam milik Nathan yang membelah jalanan kota. Mereka sedang dalam perjalanan untuk meninjau sebuah ruko strategis yang akan dibeli Nathan sebagai hadiah sekaligus tempat usaha kecil untuk Cindy.“Supplier udah kamu hubungi, Sayang?” tanya Nathan sembari fokus mengendalikan kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap lembut jemari Cindy.“Udah, dong. Aku udah kirim surel semalam ke supplier pakaian yang bekerja sama dengan butik aku dulu. Dan... aku boleh nambah item lain nggak?” tanya Cindy ragu-ragu. Matanya sesekali melirik deretan katalog tas mewah di layar tabletnya.“Boleh aja, Sayang. Apa pun yang kamu butuh,” ucap Nathan tanpa ragu sedikit pun.“Yes! Aku mau menambah koleksi tas, sepatu, dan sandal. Tapi masalahnya... modalnya gimana, Sayang? Rata-rata supplier baru untuk aksesori meminta pembayaran di muka sebesar tujuh puluh persen karena aku belum punya rekam jejak kerja sama de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status