LOGINPagi hari, berita mengenai Nathan yang secara sepihak mengundurkan diri sebagai CEO di perusahaan ayahnya menjadi pembahasan utama di berbagai media bisnis. Banyak klien yang menyatakan kekecewaan mereka atas keputusan mendadak tersebut. Efek domino pun terjadi; sebagian pemegang saham mulai menarik modal mereka, sementara beberapa mitra besar memilih untuk membatalkan perjanjian baru.Di tengah kekacauan itu, ponsel Nathan berdering tanpa henti. Panggilan dari klien-klien loyal tampak mendesak, menuntut penjelasan langsung darinya.“Sayang, telepon kamu bunyi terus... jawab dulu,” ucap Cindy lembut. Pagi itu, ia tampak sibuk menyiapkan sarapan di dapur meski masih mengenakan lingerie seksi yang membalut tubuh indahnya.“Aku capek dari tadi terus menjawab 'halo' dan harus menjelaskan alasan ini itu,” keluh Nathan. Ia tampak tenang meski badai karier sedang menerjangnya. Hanya dengan mengenakan boxer tanpa atasan, ia duduk di meja makan, lalu akhirnya meraih ponselnya untuk menjawab pa
“Janda? Um… kayaknya menarik juga tuh janda,” ucap Morgan sembari duduk santai bersandar pada sofa. Ia meraih sebatang rokok dari meja, menyalakannya, lalu menghisapnya dalam-dalam sebelum mengembuskan asapnya ke udara dengan gestur yang sangat tenang.“Biasalah… jandanya itu… kebetulan mantan istrinya sendiri,” sahut Shella ketus. Ia mulai memunguti dan mengenakan kembali pakaian dalamnya yang tercecer di lantai, mencoba menutupi tubuhnya yang masih terasa panas.“Maksudnya?” tanya Morgan sembari tertawa pelan, merasa ada komedi di balik drama tersebut.“Pacar aku itu udah pernah menikah satu kali sama perempuan itu. Ternyata, setelah dia menjalin hubungan sama aku dan keluarga kami udah saling mengenal dengan sangat baik, si janda itu datang lagi. Dia rebut pacar aku lagi tepat di depan mata aku,” ucap Shella dengan suara bergetar. Ia terdiam sejenak saat bayangan wajah Cindy dan Nathan melintas di benaknya, memicu kobaran amarah yang sulit dipadamkan.“Hahaha!” Morgan tertawa lepas
“Ah… enak… terus, Mas… aah… ya… terus! Aaah… ini lebih enak, Mas… ouh… yes… lebih keras, Mas! Lebih kuat… aaaaah… terus!”Shella menjerit histeris, suaranya bersaing dengan dentum musik bervolume tinggi yang meredam segalanya. Morgan seolah kesetanan; ia terus mengocok miliknya dengan ritme yang kian brutal. Tubuh Shella terguncang hebat hingga sofa besar itu bergeser dan membentur dinding kedap suara. Di dalam ruangan remang yang hanya diterangi lampu tembak berwarna-warni yang memantul ke plafon, gairah mereka memuncak tanpa batas.“Kamu mau yang lebih… huh?” bisik Morgan terengah, napasnya terasa panas di ceruk leher Shella sementara ia terus memacu ritme.“Lakuin, Mas! Aku mau… ya… aku mau… aaah… cepatan, Mas!” Shella sudah kehilangan akal sehatnya, ia hanya ingin merasakan sensasi yang lebih gila lagi.Morgan tiba-tiba menarik miliknya hingga keluar, memamerkan pemandangan batang yang berkilat basah berlumuran lendir gairah. Dengan gerakan tangkas, Shella membalikkan tubuhnya. Ia
Shella dan Morgan segera memesan sebuah ruangan VIP. Setelah mendapatkan kunci di tangan, keduanya berjalan menuju lift dengan tubuh yang saling berpelukan erat, sesekali berhenti untuk saling memagut bibir dengan panas.“Um…,” Shella melenguh pelan, menikmati ciuman itu sambil berjinjit demi mengimbangi tinggi tubuh Morgan. Hasrat mereka kian memuncak hingga pintu lift berdenting terbuka. Keduanya melangkah keluar dengan terburu-buru, tak sabar untuk segera memasuki ruangan privat tersebut.Begitu pintu ruangan VIP terbuka, Shella berlari kecil ke dalam. Ia melemparkan tasnya ke sembarang arah sembari menendang sepatunya hingga terlepas. Dengan gerakan menggoda, ia menjatuhkan tubuhnya, berbaring manja di atas sofa besar yang empuk.“Ayo… makan aku, Mas…,” ucapnya dengan nada serak yang menantang. Ia menatap Morgan penuh gairah sambil perlahan menarik tali gaun di bahunya, membiarkan kain itu merosot hingga bagian dadanya nyaris terekspos sepenuhnya di bawah lampu ruangan yang remang
“Sayang, habis ini aku mau jajan banyak-banyak!” seru Cindy dengan riang, meski mulutnya masih sibuk mengunyah makanan. “Nanti kamu gendut, lho,” goda Nathan, juga sambil menikmati hidangannya. “Kira-kira kalau aku gendut, kamu masih sayang nggak?” tanya Cindy, matanya berbinar menuntut jawaban. “Pertanyaan macam apa ini, Sayang?” sahut Nathan. Wajahnya dibuat sedatar mungkin, namun nada bicaranya yang jenaka membuat pertahanan mereka runtuh. Keduanya terkekeh bersama, menciptakan harmoni kecil di tengah riuhnya restoran. “Tapi kalau aku hamil, aku jadi gendut, kamu masih sayang nggak?” tanya Cindy lagi, kali ini dengan sorot mata jahil yang semakin berani. “Lama-lama kamu yang aku makan,” bisik Nathan gemas. “Hahaha!” Tawa Cindy pecah hingga ia nyaris terbatuk. Melihat hal itu, Nathan dengan sigap meraih botol air mineral dan membukakannya untuk Cindy, menunjukkan perhatian yang begitu tulus. Pemandangan manis itu tak lepas dari tatapan Morgan di kejauhan. Matanya tak b
Morgan baru saja hendak melangkah mendekati Cindy, namun seruan teman-temannya yang riuh seketika mengubah arah langkahnya. Ia pun mengurungkan niat dan justru berbelok menuju kerumunan mereka. “Belum datang makanannya, Sayang?” tanya Nathan yang baru saja kembali dari toilet restoran itu sembari menarik kursi di depan Cindy. “Baru minuman aja, nih. Kopi hitam pesanan kamu, teh hangat punya aku, dan… jus mangga pesanan aku, sama…,” ucap Cindy sengaja menggantung kalimatnya. Ia menyebutkan deretan menu itu sembari menatap Nathan dengan mata yang berkilat jahil. “Punya kamu semua itu?” sahut Nathan dengan wajah datar yang dipaksakan, namun nada suaranya justru mengkhianati ekspresinya sendiri. “Hahaha!” Tawa Nathan akhirnya pecah juga, bersahutan dengan tawa renyah Cindy. Keduanya tertawa riang malam itu, menciptakan gelembung kebahagiaan kecil di tengah riuhnya suasana restoran. Di sudut lain, Morgan hanya terdiam mematung, menyaksikan keakraban mereka dengan perasaan yang







