Share

BAB 3

"Mas, kamu sudah lihat foto terbaru Mbak Fika di facebooknya?" tanyaku saat Mas Eris baru saja menyelesaikan makan malam. Kusiapkan segelas air putih untuknya.

"Sudah. Kenapa memangnya?" 

 

Aku cukup kaget saat mendengar jawaban santai Mas Eris. Ekspresinya benar-benar biasa saja seolah tak ada hal negatif yang ditunjukkan mantan istrinya. 

 

"Slide terakhir sudah kamu lihat juga?" 

 

"Sudah. Sama seperti foto yang kamu lihat kemarin kan? Apa salahnya? Mau bahas soal foto berdekatan, nggak pantas, bukan mahram, sudah mantan blablablaa lagi?" ucap Mas Eris menatapku lekat seolah tak suka jika aku membahas hal yang sama seperti kemarin.

 

"Bukan begitu, Mas. Fotonya berbeda. Nggak sama kaya di status WhatsAppnya kemarin. Mbak Fika bilang dia sudah dapat izin dari kamu buat posting foto ciumannya di medsos, apa benar begitu? Itu loh, foto saat dia mencium pipi kamu," tukasku cepat.

 

Mas Eris mendelik. Dia bahkan hampir tersedak air putih saking kagetnya. 

 

"Apa-apaan sih kamu, Nin. Jangan ngawur apalagi tukang fitnah!" bentaknya membuatku ternganga. Kenapa malah dia yang marah? Terbalik. 

 

"Aku nggak fitnah, Mas. Lihat aja kalau nggak percaya. Banyak yang komen di sana kok bahkan Mbak Desy juga komen."

 

Mas Eris mendengkus kesal lalu melangkah tergesa ke kamar.Sepertinya dia tak terima tuduhanku. Dengan wajah kesal dia kembali dengan handphonenya lalu menyodorkannya padaku. Terlihat jelas di layar handphonenya akun Mbak Fika di aplikasi biru itu. 

 

"Kalau cemburu jangan kelewatan, Nin. Lihat, nggak ada foto ciuman di situ. Komen Mbak Desy juga nggak ada. Ngawur kamu! Halu!" bentaknya lagi. 

 

Kubuka foto terbaru di aplikasi biru Mbak Fika hingga slide terakhir. Benar, fotonya memang nggak ada. Komentar Mbak Desy pun nggak ada. Apa jangan-jangan aku hanya bermimpi? Kurasa nggak. Sayangnya nggak aku screenshoot dulu tadi pagi sebagai bukti. 

 

"Gimana? Ada fotonya? Nggak, kan? Lagipula Fika nggak mungkin asal posting foto seperti itu. Aku tahu karakternya gimana," ucap Mas Eris begitu yakin. Tanpa kata, dia meninggalkanku begitu saja di meja makan. 

 

Terdengar suara ibu dan Mas Eris di ruang keluarga. Lelaki yang menikahiku enam bulan lalu itu memperlihatkan video kesabaran Mbak Fika yang sedang mengajari Edo naik sepeda. Ibu pun tersenyum bangga melihat cucunya yang konon berhasil naik sepeda tanpa bantuan roda dua di belakang. 

 

"Fika memang sabar ngurus Edo, Bu. Dia juga makin cantik sekarang. Andai waktu itu dia nggak selingkuh ...."

 

Aku benar-benar kaget mendengar ucapan Mas Eris kali ini. Ternyata dugaanku benar. Laki-laki itu belum move on dari masa lalunya. 

 

"Maksudnya gimana, Ris? Kalau dia nggak selingkuh, kamu juga nggak bakal talak dia?" tanya ibu menatap heran. 

 

Aku buru-buru masuk kamar dan mendengarkan obrolan mereka dari ambang pintu agar lebih leluasa. Penasaran apa yang akan diceritakan Mas Eris tentang mantan istrinya itu pada sang ibu. 

 

Mas Eris memang begitu. Jika ingin memuji sang mantan, aku ada di sampingnya ataupun tidak, tak terlalu berpengaruh baginya. Dia tak peka, melakukan apapun sesuai kehendaknya. Seolah menganggapku sebagai perempuan yang mati rasa. 

 

"Entahlah, Bu. Yang pasti dia memang tipe istri idamanku. Kini aku mulai sadar jika waktu itu dia selingkuh karena ketidakbecusanku sebagai suami. Ibu tahu 'kan saat itu aku nganggur dan nggak bisa memberikan nafkah yang layak untuknya? Kemarin dia menangis dan minta maaf atas pengkhianatannya, Bu. Dia benar-benar berharap bisa kembali untuk memperbaiki semua kesalahannya yang telah lalu." 

 

"Jadi, intinya sekarang kamu menyesal sudah menalak dia?" tanya ibu lagi.

 

Aku masih tetap berdiri di samping pintu kamar sembari mendengarkan obrolan mereka. Rasanya dadaku mulai memanas lagi dan lagi. Belum kelar urusan foto, kini Mas Eris justru terang-terangan menyesal sudah menjatuhkan talak pada mantan istrinya. Ya Allah, pernikahan seperti apa yang kujalani detik ini.

 

Kini aku pun mulai menyesal kenapa dulu buru-buru mengiyakan perjodohan itu. Aku memang salah sebab tujuan menikahku saat itu memang bukan karena cinta melainkan sekadar tak mau dianggap perawan tua.

 

"Nggak tahulah, Bu. Dulu aku sudah berusaha meyakinkan Fika agar mau bersamaku. Aku yakinkan dia akan bekerja dengan giat untuk membuatnya bahagia, tapi dia justru menolak bahkan terang-terangan memilih laki-laki itu. Ibu tentu tahu jika aku terpaksa menalak dia, meski jujur sampai saat ini pun aku belum sepenuhnya melupakan dia." 

 

Mas Eris menghela napas lagi sembari memandang ibu dengan tatapan sendu.

 

"Kamu benar, Ris. Fika juga rajin masak. Masakannya enak, lidah ibu sebenarnya cocok dengan masakannya. Nggak seperti istri keduamu itu yang sibuk dengan handphonenya. Masak pun rasanya hambar. Herannya, Eros doyan banget masakan Hanin."

 

Benarkah Mas Eros suka masakanku? Selama ini aku memang merasa jika Mas Eros jauh lebih perhatian padaku dibandingkan Mas Eris. Bahkan saat aku memakai high heels di kondangan sepupu waktu itu, Mas Eros terang-terangan bilang kalau nggak perlu memaksakan diri tampil sempurna jika memang nggak terbiasa memakai sepatu hak tinggi. Kalimat yang benar-benar membuatku terharu dan kagum akan sosoknya.

 

Bukannya mendukung ucapan Mas Eros, Mas Eris justru mengolok dan membandingkanku dengan mantan istrinya lagi. Dia bahkan menyebutku terlalu kampungan karena sekadar memakai sepatu hak tinggi saja nggak becus. 

 

"Bukannya Eros memang begitu, Bu? Makanan apa saja dia bilang enak," balas Mas Eris lagi.

 

"Ibu tahu, cuma masakan Hanin itu benar-benar nggak ada rasa. Anehnya tetap dibilang enak. Kadang ibu curiga kalau lidah saudara kembarmu itu mati rasa. Ngomongin anak ibu yang satu itu memang bikin sakit kepala. Apapun yang dilakukannya selalu di luar logika. Entah sampai kapan dia selalu aneh begitu." 

 

"Sudahlah, Bu. Ngapain dipikir pusing. Eros sudah lebih dari dewasa." 

 

"Gimana nggak pusing kalau dia makin lama makin aneh. Umur sudah kepala tiga, tapi nggak dewasa juga. Ibu capek. Berulang kali minta dia segera menikah, tapi jawabannya cuma ketawa. Usianya sudah kepala tiga, tapi belum pernah sekali pun memperkenalkan perempuan pada ibu. Jangan-jangan kembaranmu itu nggak normal, Ris?" tebak ibu kembali menatap Mas Eris yang sedikit terkejut.

 

"Normal dong, Bu. Masa nggak normal sih? Usiaku baru menginjak 30 tahun. Urusan nikah nanti dulu, setelah aku bisa beli rumah buat calon istri." 

 

Suara bariton itu tiba-tiba terdengar. Mas Eros datang dengan senyum lebarnya. Iparku yang satu itu memang agak pendiam dan cukup kaku, makanya aku jarang ngobrol dengannya. Meski begitu, dia termasuk orang yang perhatian dan detail.  

 

"Duitmu 'kan banyak, Ros. Kalau cuma buat beli rumah pasti lebihdari cukup. Benar kata ibu, nunggu apalagi sih? Tabungan banyak, mobil ada, usaha mapan, umur juga sudah lebih dari cukup. Please, jangan jadi bujang lapuk."

 

Lagi-lagi Mas Eros menjawabnya dengan tawa. Dia terlihat santai mendengar sindiran saudara kembarnya itu ataupun omelan dari ibu.

 

"Semua memang sudah ada, tapi kalau calonnya belum ada mau gimana?"

 

Apa lelaki memang sesantai itu perihal jodoh meski usianya sudah kepala tiga? Nggak seperti perempuan yang baru seperempat abad saja sudah dijuluki perawan tua. Julukan-julukan tak mengenakkan itulah yang akhirnya membuatku terjebak dalam perjodohan yang hanya menyesakkan dada ini. 

 

"Nyari yang kaya apa? Cantik, seksi dan pintar masak kaya Fika?" tanya Mas Eris lagi.

 

Entah mengapa ada rasa sesak yang menyelinap dalam hati tiap kali mendengar pujian Mas Eris tentang kecantikan mantan istrinya. Kenapa sih harus Fika lagi? Memangnya hanya dia yang cantik?

 

Aku juga cantik. Kata sebagian orang, perempuan berkulit bersih dengan lesung pipit itu cantik, tapi kenapa Mas Eris seolah tak mau mengakui kalau aku memang cantik? Selalu saja Mbak Fika yang dia puji. Seolah di dunia ini hanya dia saja perempuan tercantik dan terhebat. Cantik saja percuma kalau nggak setia.

 

"Siapa, Ris? Fika mantan istrimu itu?"

 

"Iya, Fika. Bukannya dia tipe istri idaman banyak lelaki, Ros?" tanya Mas Eris lagi, tapi Mas Eros terlihat mencebik.

 

"Nggaklah. Dia sekadar cantik parasnya, tapi nol besar akhlaknya. Sorry, perempuan idaman kita berbeda. Kalau perempuan idamanku justru yang seperti Hanin. Lembut, penyayang, setia dan bisa menjaga harga dirinya sendiri. Bukan perempuan yang senang bermesraan dengan lelaki lain." 

 

Ibu dan Mas Eris tersedak seketika. Aku pun tak kalah kaget, sementara Mas Eros kembali tertawa menatap ibu dan saudara kembarnya yang ternganga. 

 

💕💕💕

Komen (3)
goodnovel comment avatar
Adriana Epa Hoy
jangan lama2 pacaran,nnt di ambil orang
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
si hanin juga ngapain kadi pengangguran gitu. kayak orang tolol aja
goodnovel comment avatar
Bunda Wina
bagus Eros bila perlu nikahin Hanin
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status