Mag-log inLangit sore di atas Hotel Aurelline berwarna keemasan. Dari kejauhan, gedung kaca bertingkat itu berkilau seperti istana.
Cahaya matahari memantul di permukaan dindingnya, sementara mobil-mobil tamu berhenti satu per satu di pelataran marmer. Cassandra berdiri di depan cermin besar di kamar ganti, menatap refleksi dirinya yang sudah mengenakan gaun peach lembut yang menempel anggun di tubuhnya. Gadis itu menarik napas panjang, berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdebar. Hari ini ayahnya menikah lagi. Dan lelaki yang dulu dia cintai kini berdiri sebagai “kakak tirinya”. “Cassie, kamu sudah siap?” suara lembut Lilian yang kini menjadi ibu tirinya, terdengar dari balik pintu. Cassandra menoleh cepat, menegakkan bahunya. “Iya, tante.” Lilian tersenyum lembut saat masuk. Perempuan itu tampak sangat cantik dalam balutan gaun pengantin putih. “Cantik sekali.” “Makasih, tante. Tante juga sangat cantik dan begitu cocok mengenakan gaun pengantin.” Puji Cassandra, tersenyum tipis. “Jangan panggil tante. Panggil mama.” Lilian berucap dengan nada lembut, menatap teduh gadis di hadapannya. “Iya, tan—eh, mama.” Ucap Cassandra tergagap membuat Lilian terkekeh pelan. “Ayo, sayang.” “Iya, tante.” Cassandra mengangguk, mengikuti langkah wanita itu dengan berat menuju ballroom, tempat pernikahan Alex dan Lilian yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Para tamu undangan sudah hadir, beberapa dari mereka tertawa, menyesap anggur, bahkan ada yang duduk tenang di kursinya. Musik lembut dari orkestra mengalun di udara, menambah momen khidmat di acara besar itu. Cassandra menyapu sekeliling, matanya bergerak liar, terlihat seperti sedang mencari seseorang, sampai detik berikutnya pandangannya terkunci pada sosok pria yang baru saja keluar dari ruang ganti, berjalan tegap penuh kharisma bersama ayahnya. Rexandra begitu gagah dan rupawan dalam balutan jas hitam, rambutnya disisir rapi ke belakang menonjolkan rahang tegasnya yang kokoh. Cassandra refleks memalingkan wajah kala tatapannya bertemu dengan netra gelap milik Rexandra. “Cassie, mama tiba-tiba saja gugup.” Genggaman tangan Lilian semakin erat di tangan Cassandra. Wanita itu terlihat gugup dan tegang. “Mama tidak usah tegang. Sebentar lagi, hanya sebentar lagi mama dan papa menikah.” Cassandra mengusap lembut punggung tangan Lilian, tersenyum hangat meski hatinya jelas gelisah saat masa lalunya—Rexandra, kini akan menjadi kakak tirinya. “Makasih, sayang. Mama sekarang lebih tenang.” “Iya, Ma. Ayo, Ma. Semua orang sudah menunggu.” Lilian mengangguk, melanjutkan langkah dengan Cassandra di sampingnya. Mereka berjalan pelan menuju altar, begitu juga dengan Rexandra dan Alex. Mereka mengantarkan pasangan itu ke altar. Pandangan keduanya kembali bertemu, kali ini lebih intens. Rexandra menatap Cassandra dengan senyum khasnya. “Hallo, adik.” Sapanya ramah, memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah, tampak sangat cantik. “Adik sangat cantik.” “Hm, makasih.” Jawab Cassandra pendek, memalingkan wajah, sambil membantu meletakkan tangan Lilian di lengan Alex. Rexandra yang melihatnya terkekeh pelan, dan dengan jahil menahan gadis itu. “Rexa, jangan jahil sama adik kamu.” Tegur Lilian kala melihat wajah Cassandra memerah kesal. “Kapan aku jahil, Ma?” Elak Rexandra, segera melonggarkan tangan, membuat Cassandra bergerak mundur di belakang Lilian. “Cassie … maaf, ya? Rexa ini memang seperti itu, suka jahil.” “Iya, Ma. Enggak apa-apa.” Suara pendeta memanggil. Lilian dan Alex berjalan pelan ke arahnya. Momen sakral pun dimulai. Alex dan Lilian mengikrarkan janji suci mereka. Semua tamu undangan bertepuk tangan, termasuk Cassandra yang kini duduk di meja keluarga. Gadis itu menunduk kala semua orang terlarut dalam momen bahagia itu. Dia hanya menatap kosong ke arah minuman di depannya, lalu meneguknya sekali. Dari kejauhan Rexandra terus mengamati dengan tatapan yang membuat Cassandra kikuk. “Dia kenapa ngeliatin aku terus?” Gumamnya kesal, merubah posisinya jadi miring ke kanan, memunggungi pria itu. “Cassie.” Tiba-tiba suara familiar itu menyapa. Cassandra menoleh cepat, menatap pria yang kini berdiri di hadapannya. “Ervan?” “Kenapa sendirian?” Tanyanya lembut. “Enggak apa-apa.” “Kenapa murung gitu?” Ervan duduk di sebelah Cassandra, menatap lekat gadis itu. “Apa kamu tidak suka punya mama baru?” “Bukan begitu.” Jawab Cassandra, melirik sekilas pada pria yang berdiri di kejauhan, Rexandra, yang menatapnya tajam. “Terus kenapa?” “Enggak apa-apa. Aku mungkin belum terbiasa aja.” “Nanti juga terbiasa. Sekarang kamu punya mama baru, kamu gak bakal kesepian lagi.” Ervan tersenyum, lalu tangannya terangkat, merapikan helaian rambut Cassandra yang terjatuh di bahu. Dari kejauhan, Rexandra mencengkeram gelas wine di tangannya, nyaris remuk. Urat-urat lengannya menonjol, buku jarinya memutih, bahkan sorot matanya gelap, dingin, dan tajam. Pria itu memperhatikan setiap gerakan tangan Ervan pada Cassandra. “Sialan!” Desisnya tajam. Saat Cassandra berjalan meninggalkan pria itu, Rexandra pun dengan cepat meletakkan gelas wine nya di atas meja, mengikuti langkah gadis itu. Cassandra berjalan pelan di lorong panjang kamar kecil dekat ballroom. Sepatu haknya mengetuk lantai dengan irama ritmis. Gadis itu segera masuk ke dalam, menatap pantulan dirinya di cermin. “Sekarang papa sudah menikah. Dan wanita yang dinikahinya itu mamanya Rexa.” Gumamnya pelan, menatap wajahnya sendiri. “ Rileks, Cassie. Rexa itu cuma masa lalu dan sekarang dia jadi kakak tiri kamu. Kamu juga udah punya pacar.” Gadis itu menunduk, menyalakan keran air, membasuh tangannya, lalu kembali menatap dirinya. “Oke, Cassie. Semangat!” Cassandra mematikan keran air, lalu berjalan membuka pintu kamar mandi dengan pandangan menunduk. Saat kakinya baru saja akan keluar, tiba-tiba sebuah tangan menarik pergelangan tangannya, membuatnya tersentak, mengangkat pandangan dengan mata terbelalak. “Rexa—” Cassandra terkejut, hampir kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya terbentur lembut ke dinding. Bruk! “Rexa, kamu apa-apaan! Lepaskan aku!” Rexandra tak menjawab. Sebaliknya pria itu menempelkan kedua tangan di samping wajah Cassandra, mengungkung tubuh gadis itu. Tatapannya dingin, menyorot tajam ke arahnya. “Siapa pria itu?” Tanyanya tanpa basa-basi, suaranya rendah, namun jelas menahan emosi. “Apa-apaan sih kamu, aku gak ngerti. Sekarang lepaskan, Rexa!” “Jawab dulu. Siapa pria yang menyentuhmu tadi?” “Tidak ada pria yang menyentuhku.” “Pria tadi? Yang memakai jas abu-abu. Kamu diam saja saat dia menyentuh rambutmu. Siapa pria itu?” "Kenapa kamu penasaran?" "Jawab aja, apa susahnya, huh?" "Kenapa aku harus jawab? Apa untungnya buat kamu? Kamu tanya itu dalam posisi sebagai kakak, atau ... hal lain?" Rexa terdiam sejenak, ketika Cassandra melontarkan pertanyaan tersebut. Lalu Cassandra kembali melanjutkan. "Kalau sebagai posisi kakak, kamu gak perlu khawatir—dia pria baik, gak akan nyakitin aku. Kalau karena sebaliknya, kamu tidak perlu tahu urusan aku ... karena kita udah gak ada hubungan apa-apa. Sekarang lepaskan aku.” Tapi Rexandra tetap masih di posisinya, justru makin mengungkung tubuh mungil itu dan menekan kedua tangan kecilnya. “Rexa, lepaskan aku! Jangan berlebihan.” “Aku tidak suka pria lain menyentuhmu.” “Atas dasar apa? Kamu tidak punya hak mencampuri urusan aku.” Cassandra menatapnya tajam, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Rexandra. “Tidak punya hak?” Rexandra menyeringai miring, mendekat sedikit. Tatapan mereka bertabrakan—panas, dekat, dan menegangkan. “Benarkah?” Napas Rexandra terdengar pelan tapi berat, dan Cassandra bisa merasakan detaknya berpacu cepat. “Lepas, Rexa!” ucap Cassandra tegas, menatap nyalang. “Jangan melewati batas dan jangan ikut campur urusanku. Kamu hanya kakak tiriku sekarang.” Kata itu menusuk, membuat Rexandra terdiam dengan ekspresi yang sulit diartikan. Satu tangannya turun dari dinding hingga Cassandra bisa melepaskan diri darinya.Liora masih terpaku.Pandangan matanya turun perlahan ke arah perut Cassandra yang kini tak lagi bisa disangkal, sedikit membuncit di balik kaos longgarnya. Dadanya terasa mengempis, seperti baru saja dipukul kenyataan yang terlalu besar untuk diterima dalam satu tarikan napas.Perkataan Cassandra barusan berputar-putar di kepalanya, saling bertabrakan, menolak untuk dirangkai menjadi satu makna yang utuh. Hamil. Kata itu terlalu berat. Terlalu tiba-tiba. Terlalu sulit untuk dicerna. Liora menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha mengumpulkan ketenangan yang tersisa. Setelah detak jantungnya sedikit lebih stabil, dia mengangkat wajahnya lagi, menatap Cassandra dengan ekspresi yang jauh lebih serius.“Kak Rexa tahu?” Tanyanya pelan, tapi nadanya tajam karena menahan gemetar.Cassandra menunduk. Kepalanya menggeleng kecil.“Kak Rexa nggak tahu?” Ulangnya, suaranya naik tanpa sadar. “Cassie, kamu nggak kasih tahu dia?”Ca
Liora keluar dari mobil begitu mesin dimatikan. Pintu dibanting tanpa sadar, dan dia langsung berjalan cepat, nyaris berlari, ke arah Cassandra yang berdiri kaku di teras rumah. Begitu jarak mereka habis, Liora langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. “Cassie …,” Tak ada kalimat lanjutan. Hanya panggilan nama itu, lirih namun penuh rasa bersalah, cemas, dan rindu yang tertahan sebulan penuh. Cassandra tak lagi mampu menahan dirinya. Tubuhnya melemas di dalam dekapan Liora. Isaknya pecah, bahunya bergetar hebat, jemarinya mencengkram jaket Liora seolah takut jika dia akan ambruk jika tak menggenggam apapun. “Udah … udah, Cassie,” bisik Liora berulang-ulang sambil mengusap punggung Cassandra pelan, lembut. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.” Pelukannya mengencang. Liora menundukkan kepala, menyandarkan dagunya di puncak rambut Cassandra. Sementara tangannya bergerak lembut, menepuk-nepuk punggung gadis itu berusaha menenangkan badai dalam diri Cassandra yang
“Kamu benar-benar nggak tahu Cassie ada di mana?” Pertanyaan itu kembali terucap dari bibir Rexandra—pertanyaan yang sama, dengan nada yang nyaris tak berubah, yang dia ulangi hampir setiap hari selama sebulan penuh. Liora, yang berdiri di hadapannya dengan piyama tidurnya, sudah terlalu terbiasa mendengarnya. Bahkan sebelum Rexa menyelesaikan kalimatnya, dadanya sudah terasa berat. Dengan raut penuh penyesalan, gadis itu menggeleng pelan. “Aku juga belum bisa menghubungi Cassie, Kak Rexa,” ucapnya lirih. “Kalau aku tahu dia di mana, aku pasti langsung kasih tahu Kak Rexa.” Rexandra menahan napas. Lagi-lagi jawaban yang sama. Rahangnya mengeras, matanya tampak redup karena lelah yang tak bisa dia sembunyikan. “Menurut kamu selama ini Cassie kenapa?” Tanyanya lagi, suaranya lebih rendah. “Dua bulan terakhir ini.” Liora terdiam sejenak, lalu mengangkat pandangannya, menatap Rexandra dengan sorot yang dalam dan hati-hati. “Yang aku tahu, kondisi Om Alex makin kritis,”
| 1 bulan kemudian Cassandra berdiri membungkuk di depan closet dengan napas tersengal. Wajahnya pucat, bahunya naik-turun pelan, dan tangan kecilnya yang berkeringat dingin memegangi pinggiran closet itu agar tidak terjatuh. Baru saja dia makan sesuap nasi, tapi langsung dimuntahkan lagi. Begitulah yang terjadi sebulan ini. Sehari-harinya, setiap makanan yang masuk ke mulutnya selalu dikeluarkan begitu saja, bukan karena keinginannya, tapi karena perutnya memang menolak itu. Cassandra menunduk dalam, mengelus perutnya yang sudah terlihat lebih buncit dari terakhir kali. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu berbarengan dengan suara lembut seseorang. “Non Cassie, boleh saya masuk?” Tanya bi Marni, berdiri tegak di depan kamar yang tidak tertutup rapat itu dengan nampan di tangan. Cassandra yang mendengar suara pembantunya itu perlahan menoleh sambil menegakkan tubuh. “Masuk aja, Bi.” Sahutnya sembari melangkahkan kaki lemahnya keluar kamar mandi. Bi M
Cassandra berjongkok di hadapan makam Alex yang baru saja dikebumikan. Aroma tanah basah sisa hujan bercampur bunga menyeruak, memenuhi rongga hidungnya. Gadis itu menatap nisan bertuliskan Alex Harrison tanpa berkedip. Jemari gemetarnya mengusap papan itu dengan lembut, begitu hati-hati. Tak ada tangis. Tak ada air mata. Hanya isak lirih yang tertahan di tenggorokannya yang terasa kering itu. Di samping gadis itu, bi Marni setia menemani, memberi usapan pelan di punggungnya. “Non,” ucap perempuan tua itu pelan, menatap majikannya dengan penuh iba. “Ini sudah satu jam non Cassie berada disini. Sepertinya sudah mau hujan, Non.” Lanjutnya sembari mendongak, menatap langit gelap yang diselimuti awan pekat. “Sebaiknya kita segera pulang ya, Non.” Cassandra hanya diam, dengan tatapan yang tak beralih sedetikpun dari nama di papan nisan itu. Pandangannya kosong, wajahnya sudah sangat pucat, bahkan bibir merahnya sekarang tak berwarna. Dia menyandarkan kepalanya ke
Cassandra berdiri kaku di depan ranjang jenazah, menatap ayahnya yang kini terbaring tak bergerak, dengan tubuh yang tertutup seprai putih sampai dada, dan tangan yang terkulai dingin di sisi tubuh. Gadis itu menatapnya tanpa berkedip. Dadanya terasa kosong, seperti ada lubang besar yang menganga. Sakitnya bukan lagi menusuk tapi menghancurkan. Perlahan, kejam, dan tanpa ampun. Perlahan kakinya mendekat. Tangan gemetarnya menyentuh punggung tangan ayahnya yang dingin. “Pa …,” suaranya nyaris tak keluar, hanya hembusan rapuh dari bibir keringnya. “Kenapa Papa dingin banget?” Tak ada jawaban. Tenggorokannya menegang. Matanya perih, tapi air mata justru tak langsung jatuh, seolah tubuhnya menahan tangis agar tak benar-benar runtuh. Drttt! Ponsel di genggamanya bergetar. Cassandra menunduk pelan, sempat melirik layar dengan pandangan kosong. Namun begitu melihat siapa nama penelepon, sorot matanya berubah tajam. Bi Marni, yang berdiri di sampingnya, ikut melirik sekilas.







