Share

2. Calon Kakak tiri?

Author: Qingcheng
last update Huling Na-update: 2025-10-13 21:23:34

Cassandra meneguk ludah, jemarinya mencengkeram gaunnya makin erat, napasnya tertahan kala hembusan napas hangat Rexandra menyapa tengkuknya.

Kepala gadis itu tersentak ke belakang, refleks menjauhkan wajahnya, membuat Rexandra tertawa kecil melihatnya.

“Nice to meet you, Cassandra. Atau harus aku panggil Cassie?” Rexandra mengulurkan tangan, berdiri tegap di depannya.

Cassandra diam seribu bahasa. Lidahnya tiba-tiba saja kelu.

“Cassie, sapa kakakmu.” Ujar Alex, memandang putrinya yang masih diam mematung tanpa berkata apapun.

Cassandra pun mengangkat tangannya ragu, menjabat tangan kakak tirinya itu.

“Cassandra.” Sapanya singkat tanpa menatap mata pria itu. Buru-buru dia menarik tangannya, tapi Rexandra justru menahannya membuat gadis itu mengangkat pandangan.

“Lepas!”

“Kenapa buru-buru sekali, Cassie.” Goda Rexandra tersenyum jahil.

“Lepasin tangannya.”

“Tidak ingin menyapa kakak lebih lama?”

Cassandra hanya menatapnya tak suka tanpa menjawab, membuat Rexandra melonggarkan genggamannya saat melihat wajah merah padam gadis itu.

“Ayo, masuk. Jangan terlalu lama di luar. Di luar dingin.” Ajak Alex, dia melingkarkan tangannya di pinggang Lilian, menoleh ke arah Rexandra dan Cassandra.

Cassandra segera menurunkan tangannya, berjalan cepat menghindari Rexandra.

Mereka berjalan ke ruang makan dimana berbagai hidangan lezat sudah tersaji disana, termasuk Bouillabaisse—Sup ikan Perancis kesukaan Cassandra.

Alex sudah duduk berhadapan dengan Lilian dan Rexandra terduduk tegak di sebelah Lilian. Sementara Cassandra masih berdiri kaku di ambang pintu ruang tamu.

“Sayang, ayo duduk.” Titah Alex, menepuk kursi di sebelahnya.

Cassandra melirik sekilas ke arah Rexandra, lalu mengangguk patuh, berjalan pelan ke sisi kursi sebelah Alex dan berhadapan dengan Rexandra.

“Bagaimana? Tadi kamu sudah berkenalan dengan Rexa?” Tanya Alex, menatap putrinya lekat.

“Hm. Sudah, Pa.” Jawab Cassandra singkat, mengangkat pandangan, menatap sebentar pria itu sebelum kembali menunduk, fokus pada hal lain.

Rexandra terkekeh melihat ekspresi gadis itu. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya, senyum yang dulu bisa membuat dada Cassandra berdebar, tapi kini justru membuat napasnya tercekat.

“Bagus.” Suara Alex menggema ringan. “Jadi yang duduk di hadapan kamu ini namanya Rexandra. Dia putra tunggalnya Lilian. Dan Rexa ini, baru saja kembali dari Amerika beberapa minggu lalu, setelah menyelesaikan studi magisternya.”

“Oh. Emm.” Cassandra hanya mengangguk, tersenyum canggung. “Selamat datang, Kak Rexa.” Ucapnya nyaris tak terdengar, menatap piring porselen di depannya dan beberapa hidangan utama yang sudah tersaji rapi di meja makan. Aroma rempah langsung menguar menusuk hidungnya.

Rexandra menahan tawa pelan. “Kak, ya?” suaranya berat, rendah, namun terdengar menggoda. “Dulu kamu sering panggil sa— “

“Uhuk.” Cassandra terbatuk, ekspresinya panik setengah mati. Alex segera menuangkan air minum, memberikannya cepat ke Cassandra.

“Sayang, kamu kenapa udah tersedak? Padahal kita belum makan.”

“Pedas, Pa. Bumbunya pedas.” Dalih Cassandra, menatap hidangan di meja makan, dan buru-buru meneguk minumannya hingga tandas.

Rexandra hanya diam memperhatikan dengan senyum yang tak luntur.

“Cassie ini … apakah tidak suka makan pedas? Sampai dia terbatuk?” Tanya Lilian, menatap ke arah Cassandra dengan khawatir.

“Justru Cassie paling suka makan pedas.” Jawab Rexandra santai, sambil menatap ke arah gadis itu dengan senyum tipis yang nyaris tak kentara.

Cassandra langsung terbatuk pelan, buru-buru meneguk airnya lagi. “Uhuk—uhuk!”

Lilian yang duduk di seberang meja spontan menoleh cepat, alisnya naik. “Kamu tahu dari mana Cassie suka pedas?” tanyanya dengan nada penuh heran, pandangannya berpindah dari Cassandra ke putranya.

Alex, yang sejak tadi menatap putrinya khawatir kini beralih menatap Rexandra dengan ekspresi nyaris sama. “Iya, itu benar, tapi … bagaimana kamu tahu, Rexa?”

Cassandra langsung panik, wajahnya memucat, dan kedua tangannya meremas gaunnya di bawah meja. Rexandra yang melihat ekspresi itu tersenyum, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, jemarinya mengetuk lembut meja kayu. “Karena …”

Keringat dingin membasahi pelipis Cassandra, tubuhnya menegang.

“Hanya menebak saja.” Ucap Rexandra, membuat Cassandra menghela napas lega, menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Oh begitu. Om kira kamu sama Cassie sudah saling mengenal.” Alex tersenyum, lalu menatap Cassandra lekat. “Sayang, apakah selera kamu sudah berubah? Bukannya suka makan pedas?”

Cassandra menggeleng. “Aku udah gak suka makan pedas, Pa.”

“Ya sudah, sekarang makan yang tidak pedas. Untung saja Bouillabaisse-nya dibuat tidak pedas. Cobain sayang.”

“Iya, Pa.” Cassandra tergugup, mengalihkan pandangan pada makanan.

“Oh, sekarang Cassie sudah tidak suka makan pedas, ya?” Tanya Rexandra, tatapannya begitu lekat. “Kalau begitu, nanti kakak buatkan makanan yang gak pedas buat kamu.”

“Kamu bisa masak, Rexa?” Tanya Alex antusias, matanya berbinar hangat.

“Tentu. Rexa ini sangat jago memasak, Mas.” Lilian menimpali dengan senyum tulus. “Nanti kamu harus cobain masakannya Rexa, termasuk juga Cassie. Ya, sayang?” Ucapnya menoleh pada Cassandra.

“Iya, tante.” Jawab Cassandra pendek.

“Baguslah.” Alex tersenyum kecil. “Mas sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan Rexa.”

“Nanti aku buatkan Om, sekalian buat Cassie.” Tatapan Rexandra terarah pada Alex, tersenyum ramah, lalu mengalihkannya pada Cassandra yang hanya diam menunduk.

“Jadi, Rexa,” ujar Alex sambil menyendok makanan. “Kamu ini ambil jurusan apa di MIT?”

“Master of Science in Computer Science ditambah proyek riset di MIT Game Lab.”

“Oh. Berarti nanti prospek kerjanya apa?” Tanya Alex, mengerutkan kening penasaran.

“Game Developer, Om.”

“Oh mengembangkan game, ya?”

“Rexa ini sudah memenangkan beberapa kontes develop game loh mas.” Sahut Lilian dengan nada penuh bangga.

“Benarkah?” Alex menatap Rexandra dengan berbinar. “Kamu benar-benar hebat, Rexa.”

“Biasa aja, Om.” Suara Rexa tenang, senyumnya tetap tak pernah luntur. Tatapannya terus terarah pada Cassandra.

“Kalau begitu, kita makan dulu, keburu dingin.” Ajak Alex, menoleh pada Cassandra yang terus diam. “Sayang, kenapa diam terus?”

“Enggak apa-apa, Pa.”

“Ayo makan.”

Cassandra mengangguk, mengambil sup ikan di hadapannya. Karena posisinya lebih dekat ke Rexandra, gadis itu sedikit kesusahan.

Rexandra pun dengan cepat meletakkan sup itu di depan Cassandra. “Bilang kalau kesusahan Cassie. Kakak bisa bantu.”

“Makasih.” Cassandra menyendok sup itu, berusaha fokus pada makanannya, tapi pandangan Rexa tampak menelanjangi membuatnya gugup.

Tangan gadis itu pun gemetar ketika mengambil sendok. Dia mencoba menghindari tatapan itu dengan menatap ke arah mangkuk sup, tapi gerakannya justru tergesa.

Cairan panas tiba-tiba tumpah dari sendok, menetes di punggung tangannya.

“Akh!” Cassandra tersentak pelan, sup panas itu menciprati kulitnya.

Lilian langsung panik. “Sayang! Tangan kamu!”

Alex ikut berdiri, tapi sebelum siapa pun bergerak lebih jauh, Rexandra sudah lebih dulu mendekat. Gerakannya cepat, refleks, dan tergesa.

Tangannya menangkap pergelangan tangan Cassandra, lembut namun kuat.

“Sini,” katanya dengan nada rendah. Pria itu menatap luka merah di kulit halus gadis itu, lalu menatap matanya. “Masih panas?”

Cassandra menatapnya balik, jantungnya tiba-tiba melonjak. “A-aku baik-baik saja,”

Rexa masih tak melepaskan tangannya, ibu jarinya menyentuh sisi kulit yang memerah. Gerakan itu membuat Cassandra tersentak kecil dengan napas memburu.

“Rexa,” panggil Lilian panik, “Biar tante ambil salep—”

Cassandra buru-buru menarik tangannya. “Enggak perlu, tante. Aku cuma perlu air dingin.”

Gadis itu berdiri cepat. “Aku ke dapur sebentar,”

“Biar tante temani—”

“Enggak usah, aku baik-baik aja,” potong Cassandra cepat, tersenyum tipis, dan berjalan tergesa menuju dapur sebelum Lilian sempat menahan.

“Om, Ma.” Rexandra mendorong kursinya hingga menimbulkan suara decit yang cukup nyaring. “Biar aku liat luka Cassandra dulu.”

“Iya, Sayang.”

Pria itu berjalan cepat, menyusul langkah Cassandra yang kini sudah berdiri di depan wastafel, memegangi pergelangan tangannya dan membasuhnya di bawah air keran yang mengalir.

Tatapannya terarah pada kemerahan di punggung tangannya. Napasnya masih berat.

Baru saja gadis itu hendak mengambil tisu dari samping, suara langkah perlahan terdengar dari belakang. Rexandra tiba-tiba berdiri tepat di belakang tubuh Cassandra dalam jarak yang nyaris tanpa celah membuat gadis itu menegang.

“K-kamu kenapa kesini?” Tanyanya berusaha tenang meski tergagap.

“Sakit?” suara Rexa rendah, dalam, mengalihkan topik.

Cassandra menunduk, masih membasuh tangannya. “Udah mendingan.”

Tiba-tiba, tangan Rexa menyentuh pergelangan tangannya, membuat gadis itu menoleh, tatapan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.

“Kalau kamu buru-buru, malah bisa melepuh,” bisiknya tepat di telinga gadis itu.

Cassandra sempat mematung, jantungnya berdebar tak karuan. Buru-buru gadis itu memalingkan wajah, menatap air yang terus mengalir, tak berani menatap wajah pria itu. “Aku udah bilang, aku bisa sendiri.”

Rexa mendekat sedikit. Jarak mereka nyaris tak ada. Aroma sabun dari tangannya bercampur dengan wangi parfum maskulin pria itu. Wangi yang dulu begitu dia kenal.

“Bisa sendiri?” Rexa berbisik pelan. “Bukannya paling suka ngandelin aku?”

Cassandra memejamkan mata. “Tolong, jangan mulai.”

Rexandra tertawa kecil. “Aku cuma nanya.”

Sebelah tangan Cassandra mengepal di samping tubuh, wajahnya memanas, tubuhnya kaku.

“Setelah selesai dibasuh, nanti olesin salep.”

“Gak usah peduli. Aku bisa sendiri.”

“Harus dikasih salep.” Kata Rexandra, meraih tangan Cassandra yang terluka, meniup-niup pelan.

Cassandra menoleh lagi, menatap pria yang begitu fokus meniup tangannya.

“Kenapa bisa tumpah?” Tanya Rexandra di sela mengoles salepnya. “Gugup karena aku liatin?”

Pria itu mengangkat pandangan, menatap wajah cantik Cassandra, wajah yang begitu dia kenal.

Tatapannya lalu turun ke bibir, memandangnya cukup lama, membuat Cassandra terkejut, lalu mundur satu langkah. “Aku harus ganti baju,” katanya terburu-buru, lalu berjalan cepat keluar.

Rexandra hanya berdiri di sana, menatap punggung gadis itu dengan senyum tipis yang muncul di wajahnya.

Beberapa saat kemudian setelah makan malam selesai, Cassandra turun dengan pakaian baru.

Alex dan Lilian sedang duduk di sofa, tampak berbincang hangat.

“Cassie, bagaimana? Masih sakit?” tanya Lilian panik, segera berdiri dan menghampiri gadis itu, menatap punggung tangannya yang terluka.

“Enggak kok, Tante. Sudah mendingan.” Jawab Cassandra sopan. “Maaf udah bikin panik.”

Drttt!

Tiba-tiba ponsel milik Lilian bergetar. Wanita itu menunduk, melirik layar ponselnya yang menyala terang. Lilian mengangkat pandangan, menatap Cassandra lembut. “Sayang, tante angkat telepon dulu.”

“Iya, tante.”

“Mas. Aku angkat telepon dulu.”

“Iya.” Alex mengangguk, masih duduk dengan secangkir kopi di tangannya.

Kini di ruangan itu hanya ada Alex dan Cassandra. Alex menatap putrinya lekat, tersenyum penuh makna. “Bagaimana, sayang? Tante Lilian bukankah sangat baik? Dia akan menjadi ibu yang baik untuk kamu. Dan Rexa, dia akan menjadi kakak kamu. Bukankah keluarga kita akan sangat lengkap sekarang?”

Cassandra terdiam sejenak, tak langsung menjawab pertanyaan ayahnya. Sebaliknya, dia memejamkan mata, terlihat menahan sesuatu. Lalu perlahan matanya kembali terbuka.

“Papa, aku … aku enggak setuju,” ucapnya spontan.

Ekspresi Alex langsung berubah. Rexandra yang baru selesai menyesap rokoknya dan hendak kembali ke dalam menghentikan langkah kala mendengar perkataan gadis itu.

“Cassie,” Alex terkejut bukan main, matanya membulat. “Kenapa tiba-tiba tidak setuju?”

“Aku hanya tidak setuju papa menikah dengan tante Lilian.” Suara Cassandra mulai bergetar.

Alex tiba-tiba menunduk. Tangannya meraih dadanya dengan ekspresi kesakitan.

“Ah—”

“Pa!” Cassandra langsung berlari, menahan tubuh ayahnya yang hampir jatuh dari sofa.

“Sayang …,” katanya pelan, “Papa cuma … ingin punya keluarga utuh lagi.” Alex menatap Cassandra dengan napas tersengal.

Cassandra memegang tangan dingin Alex dengan erat. “Jangan ngomong dulu, Pa.”

Tapi Alex hanya tersenyum lemah, matanya basah. “Kamu setuju, ya? Setuju dengan pernikahan ini?”

Cassandra menahan air mata, menggenggam tangan ayahnya lebih kuat, lalu detik berikutnya gadis itu pun mengangguk.

“Iya, Pa. Aku setuju. Papa boleh nikah sama tante Lilian.” Ucapnya sambil memandang khawatir sang ayah.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
SayaNi
nah gitu dong, kalau papanya mau kawin, bagilah kawin.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   120.

    Liora keluar dari mobil begitu mesin dimatikan. Pintu dibanting tanpa sadar, dan dia langsung berjalan cepat, nyaris berlari, ke arah Cassandra yang berdiri kaku di teras rumah. Begitu jarak mereka habis, Liora langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. “Cassie …,” Tak ada kalimat lanjutan. Hanya panggilan nama itu, lirih namun penuh rasa bersalah, cemas, dan rindu yang tertahan sebulan penuh. Cassandra tak lagi mampu menahan dirinya. Tubuhnya melemas di dalam dekapan Liora. Isaknya pecah, bahunya bergetar hebat, jemarinya mencengkram jaket Liora seolah takut jika dia akan ambruk jika tak menggenggam apapun. “Udah … udah, Cassie,” bisik Liora berulang-ulang sambil mengusap punggung Cassandra pelan, lembut. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.” Pelukannya mengencang. Liora menundukkan kepala, menyandarkan dagunya di puncak rambut Cassandra. Sementara tangannya bergerak lembut, menepuk-nepuk punggung gadis itu berusaha menenangkan badai dalam diri Cassandra yang

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   119.

    “Kamu benar-benar nggak tahu Cassie ada di mana?” Pertanyaan itu kembali terucap dari bibir Rexandra—pertanyaan yang sama, dengan nada yang nyaris tak berubah, yang dia ulangi hampir setiap hari selama sebulan penuh. Liora, yang berdiri di hadapannya dengan piyama tidurnya, sudah terlalu terbiasa mendengarnya. Bahkan sebelum Rexa menyelesaikan kalimatnya, dadanya sudah terasa berat. Dengan raut penuh penyesalan, gadis itu menggeleng pelan. “Aku juga belum bisa menghubungi Cassie, Kak Rexa,” ucapnya lirih. “Kalau aku tahu dia di mana, aku pasti langsung kasih tahu Kak Rexa.” Rexandra menahan napas. Lagi-lagi jawaban yang sama. Rahangnya mengeras, matanya tampak redup karena lelah yang tak bisa dia sembunyikan. “Menurut kamu selama ini Cassie kenapa?” Tanyanya lagi, suaranya lebih rendah. “Dua bulan terakhir ini.” Liora terdiam sejenak, lalu mengangkat pandangannya, menatap Rexandra dengan sorot yang dalam dan hati-hati. “Yang aku tahu, kondisi Om Alex makin kritis,”

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   118

    | 1 bulan kemudian Cassandra berdiri membungkuk di depan closet dengan napas tersengal. Wajahnya pucat, bahunya naik-turun pelan, dan tangan kecilnya yang berkeringat dingin memegangi pinggiran closet itu agar tidak terjatuh. Baru saja dia makan sesuap nasi, tapi langsung dimuntahkan lagi. Begitulah yang terjadi sebulan ini. Sehari-harinya, setiap makanan yang masuk ke mulutnya selalu dikeluarkan begitu saja, bukan karena keinginannya, tapi karena perutnya memang menolak itu. Cassandra menunduk dalam, mengelus perutnya yang sudah terlihat lebih buncit dari terakhir kali. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu berbarengan dengan suara lembut seseorang. “Non Cassie, boleh saya masuk?” Tanya bi Marni, berdiri tegak di depan kamar yang tidak tertutup rapat itu dengan nampan di tangan. Cassandra yang mendengar suara pembantunya itu perlahan menoleh sambil menegakkan tubuh. “Masuk aja, Bi.” Sahutnya sembari melangkahkan kaki lemahnya keluar kamar mandi. Bi M

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   117.

    Cassandra berjongkok di hadapan makam Alex yang baru saja dikebumikan. Aroma tanah basah sisa hujan bercampur bunga menyeruak, memenuhi rongga hidungnya. Gadis itu menatap nisan bertuliskan Alex Harrison tanpa berkedip. Jemari gemetarnya mengusap papan itu dengan lembut, begitu hati-hati. Tak ada tangis. Tak ada air mata. Hanya isak lirih yang tertahan di tenggorokannya yang terasa kering itu. Di samping gadis itu, bi Marni setia menemani, memberi usapan pelan di punggungnya. “Non,” ucap perempuan tua itu pelan, menatap majikannya dengan penuh iba. “Ini sudah satu jam non Cassie berada disini. Sepertinya sudah mau hujan, Non.” Lanjutnya sembari mendongak, menatap langit gelap yang diselimuti awan pekat. “Sebaiknya kita segera pulang ya, Non.” Cassandra hanya diam, dengan tatapan yang tak beralih sedetikpun dari nama di papan nisan itu. Pandangannya kosong, wajahnya sudah sangat pucat, bahkan bibir merahnya sekarang tak berwarna. Dia menyandarkan kepalanya ke

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   116.

    Cassandra berdiri kaku di depan ranjang jenazah, menatap ayahnya yang kini terbaring tak bergerak, dengan tubuh yang tertutup seprai putih sampai dada, dan tangan yang terkulai dingin di sisi tubuh. Gadis itu menatapnya tanpa berkedip. Dadanya terasa kosong, seperti ada lubang besar yang menganga. Sakitnya bukan lagi menusuk tapi menghancurkan. Perlahan, kejam, dan tanpa ampun. Perlahan kakinya mendekat. Tangan gemetarnya menyentuh punggung tangan ayahnya yang dingin. “Pa …,” suaranya nyaris tak keluar, hanya hembusan rapuh dari bibir keringnya. “Kenapa Papa dingin banget?” Tak ada jawaban. Tenggorokannya menegang. Matanya perih, tapi air mata justru tak langsung jatuh, seolah tubuhnya menahan tangis agar tak benar-benar runtuh. Drttt! Ponsel di genggamanya bergetar. Cassandra menunduk pelan, sempat melirik layar dengan pandangan kosong. Namun begitu melihat siapa nama penelepon, sorot matanya berubah tajam. Bi Marni, yang berdiri di sampingnya, ikut melirik sekilas.

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   115.

    Mendengar pertanyaan putranya, Lilian terdiam, cukup lama sampai membuat Rexandra mengerutkan keningnya heran, dadanya mulai terasa tak nyaman. Lalu detik berikutnya, bahu wanita itu bergetar pelan. Dari bibirnya lolos suara isak tertahan—lemah, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat hati Rexandra mencelos. “Ma …,” Rexandra melangkah mendekat, membungkukkan tubuhnya sedikit, menatap wajah ibunya lekat, berusaha menangkap sorot mata yang kini mulai berkaca-kaca. “Kenapa? Ada masalah?” Lilian masih tak menjawab. Sebaliknya isaknya semakin keras, dan air matanya mengalir tanpa bisa dikendalikan, membuat Rexandra semakin khawatir. “Ada apa, Ma? Cerita sama aku? Apa ada masalah sama Papa sama Cassie?” Desaknya lembut, mencecar wanita itu dengan pertanyaan beruntun. “Mama …,” suara Lilian bergetar. Bibirnya tremor, seolah kalimat berikutnya terlalu berat untuk dikeluarkan. “Kenapa, Ma?” Rexandra makin gelisah. Tangannya terangkat, mengguncang lembut bahu ibunya. “Papa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status