Beranda / Romansa / SENTUHAN YANG SALAH / BAB I : PERMULAAN

Share

SENTUHAN YANG SALAH
SENTUHAN YANG SALAH
Penulis: Rara

BAB I : PERMULAAN

Penulis: Rara
last update Tanggal publikasi: 2026-06-29 11:27:41

Anya Redisa adalah seorang perempuan muda yang memiliki bakat dalam mendesain sebuah karya, namun latar belakang yang dimilikinya sangat menyedihkan. Anya hidup tanpa kedua orang tua yang telah lama hilang, meninggalkan ia dan seorang adiknya, Arka Rahendra. Arka adalah satu-satunya kerabat yang Anya miliki.

Sayangnya, Arka tidak dapat tumbuh seperti anak laki-laki pada umumnya. Ia harus bergantung pada obat-obatan yang menunjang hidupnya. Namun lambat laun, Anya mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan obat tersebut.

"Huft... Obat adek hanya cukup untuk satu bulan. Bagaimana untuk bulan berikutnya? Aku harus mencari pekerjaan yang bergaji tinggi supaya bisa beli obat buat adek. Mana stok makanan sudah mulai menipis. Jangan-jangan beras juga habis, astaga!" Anya menggerutu pelan, lalu bergegas menuju tempat penyimpanan beras.

Setelah mengecek persediaan, Anya dapat bernapas sedikit lega karena persediaan beras yang ia miliki setidaknya cukup untuk menopang kehidupan mereka beberapa waktu ke depan. Anya bergegas menyiapkan nasi dan lauk untuk makan malam bersama sang adik. Setelah semuanya siap, ia berjalan menuju kamar Arka untuk mengajaknya makan.

"Adekkk, ayo makan. Kakak udah beres nih masaknya. Kalau lama, kakak habisin, ya!" ucap Anya dengan nada mengejek.

Arka yang mendengar ucapan sang kakak bergegas turun dari kasur dan segera membuka pintu. Anya yang melihat muka cemberut sang adik refleks tertawa kencang.

"Hahaha... Lucu sekali adiknya kakak ini. Bibirnya sampai melengkung ke bawah gitu. Kakak jadi gemas," ucap Anya sembari mencubit kedua pipi sang adik.

Arka yang merasa kesal pun menjawab dengan nada sewot, "Huh... adek kesal ya sama kakak. Untung aja adek nggak jatuh dari kasur. LEPASIN! Pipi adek sakit!" teriak Arka.

Setelah keributan kecil itu, kedua kakak beradik ini segera menuju meja makan untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan. Anya dan Arka menikmati makan malam mereka dalam keheningan malam yang sudah terbiasa mereka rasakan.

Setelah selesai makan, Arka bergegas menuju wastafel untuk membantu sang kakak membersihkan sisa-sisa perabotan. Anya yang melihatnya pun refleks berdiri dan menghampiri sang adik untuk menghentikannya. Namun, bukan Arka namanya jika ia akan langsung menurut pada sang kakak.

"Eits... ini tugas adek. Kakak kan sudah masak sama nyiapin bahan-bahan, sekarang giliran adek yang bersih-bersih ya. Ini nggak bikin adek capek kok. Ya, ya, please, Kakak sayang," ucap Arka sembari merengek.

Anya yang mendengar rengekan sang adik hanya dapat menghela napas panjang. Sebenarnya, Anya memiliki alasan mengapa ia tidak pernah memperbolehkan Arka membantunya melakukan pekerjaan rumah. Bukan karena ia takut hasil cucian adiknya tidak bersih, ia hanya takut jika Arka akan kelelahan.

"Yaudah, adek yang cuci semuanya ya. Kalau nanti capek bilang ke kakak, nanti kakak yang lanjutin. Kakak mau siapin obat kamu dulu, biar nanti kamu tinggal minum sebelum tidur," ucap Anya sembari menyimpan sisa makanan ke dalam kulkas.

Arka yang mendengar ucapan sang kakak refleks memberikan hormat. "Aye, aye, Kapten! Udah sana, Kakak ke kamar," ucapnya sembari mendorong sang kakak perlahan.

Anya yang didorong pun hanya pasrah dan segera masuk ke dalam kamar. Ia mengambil kotak obat Arka untuk menyiapkan dosis yang harus diminum. Ia meletakkan seluruh obat di atas piring kecil dan menaruhnya di kasur sang adik.

Setelah menyiapkan obat, Anya kembali berpikir keras tentang bagaimana cara mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi. Ia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi sahabat terbaiknya, Radira Rembulan, atau biasa ia panggil Bul.

"Halo, Bul. Lo ada kerjaan nggak buat gue? Apa aja deh gue kerjain. Butuh banget nih buat nebus obat si Arka, soalnya obatnya udah habis, mentok juga sampai bulan ini doang. Gue stres banget mikirin cari duitnya," curhat Anya melalui telepon.

Bulan yang mendengar keluhan sahabatnya pun seketika teringat dengan tawaran pekerjaan dari salah satu kenalannya. Namun, ia ragu untuk menawarkannya kepada Anya karena ia sangat mengenal sahabatnya yang anti dengan pekerjaan berbau dewasa.

"Ada sih, Beb. Cuman aku takut kamu nolak kerjaannya. Soalnya ini kerjaan cukup berbau dewasa," jawab Bulan hati-hati.

Anya yang merasa terdesak pun tanpa pikir panjang mengiyakan tawaran tersebut.

"Nggak apa-apa, Bul. Apapun gue kerjain asal gajinya gede. Gue butuh buat obat adek gue bulan depan," tegas Anya.

Mendengar persetujuan dari sahabatnya, Bulan cukup terkejut. Ia pun memberikan arahan mengenai apa saja yang harus disiapkan.

"Oke kalau gitu. Besok lo pergi ke Aditama Group, bilang aja nama gue, mereka kenal kok. Cuman besok lo harus dandan cantik ya, Beb. Seragam nanti gue siapin, tapi jangan kaget pas coba ya," pesan Bulan.

Anya yang mendengar ucapan sahabatnya pun merasa sangat lega. Setidaknya, uang untuk obat sang adik sudah di depan mata. Masalah ke depannya akan ia hadapi perlahan.

"Makasih banyak ya, Bul. Gue nggak tau kalau nggak ada lo, harus gimana," ucap Anya tulus.

"Aman, Beb. Cuman kerjaan ini nggak sebersih yang lo pikirin. Setelah lihat seragamnya nanti, lo boleh putusin mau lanjut atau batal," balas Bulan.

"Oke, Bul. Gue bakal lakuin apa aja buat kesembuhan adek gue, sekalipun gue harus jual diri gue sendiri. Kalau gitu gue tutup ya teleponnya. Good night."

Bulan yang mendengar ucapan sahabatnya hanya tersenyum tipis. "Good night, Beb."

Setelah mendengar bunyi telepon terputus, Bulan hanya dapat menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk. Pekerjaan yang ia tawarkan kemungkinan besar akan mengubah hidup sahabatnya ke depannya.

"Kerjaan ini secara nggak langsung bikin lo ngejual diri lo sendiri, An. Tapi gue pastiin Pak Tama orang yang tepat buat pengalaman pertama lo. Semoga lo nggak nyesel setelah tau semuanya," gumam Bulan sembari menyiapkan seragam yang akan ia berikan kepada Anya besok hari.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB VIII : PERASAAN ANEH

    Rasa hangat dan getaran konstan dari benda yang tertanam di dalam dirinya akhirnya mencapai batas yang bisa ditanggung oleh kesadaran Anya. Di atas pangkuan Tama, dengan kedua putingnya yang terus dipelintir dan diremas secara ritmis dari belakang, Anya merasa seluruh tubuhnya seperti dialiri arus listrik yang membakar. Napasnya memburu, putus-putus, dan bibirnya digigit begitu erat hingga memucat demi menahan suara yang terus mendesak ingin keluar. Tama, yang bisa merasakan bagaimana otot-otot tubuh Anya mulai menegang hebat di atas pangkuannya, tahu bahwa sekretaris pribadinya ini sudah berada di tepi jurang pelepasan untuk kedua kalinya hari ini. Dengan seringai tipis yang penuh kepuasan, Tama menekan tombol pada kendali nirkabel di tangannya, menaikkan intensitas getaran ke tingkat maksimal tepat saat jemarinya memberikan remasan kuat yang serempak pada kedua dada Anya. "Ahhh... P-Pak Tama...!" Anya tidak bisa lagi menahannya. Pekikan pasrah itu lolos begitu saja dari tenggorok

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB VII : PELAJARAN PERTAMA

    Sepuluh menit waktu istirahat yang diberikan terasa berjalan begitu cepat. Berkat sisa-sisa fokus yang dipaksakan di tengah debaran jantung yang belum sepenuhnya mereda, Anya berhasil memulihkan folder dokumen yang rusak tepat waktu. Sesi kedua rapat koordinasi berjalan tanpa gangguan teknis berarti. Selama sisa presentasi tersebut, Tama kembali menjadi sosok CEO yang dingin dan berwibawa, sementara Anya hanya menunduk, memfokuskan seluruh perhatiannya pada papan ketik demi menyembunyikan sisa rona merah di wajahnya.Ketika panggilan video akhirnya diputuskan secara permanen oleh operator pusat, keheningan yang mencekam kembali menguasai ruang kerja yang luas itu.Anya perlahan menutup laptopnya. Ia berniat untuk segera berdiri dan kembali ke kubikalnya di luar, namun suara berat Tama memecah kesunyian sebelum ia sempat beranjak dari kursinya."Pekerjaanmu merapikan data di sesi kedua cukup baik," ucap Tama datar seraya menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya. "Tapi itu hanya memp

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB VI : KESALAHAN FATAL

    Sebagai seorang yang memiliki latar belakang di dunia desain, tumpukan laporan keuangan, jadwal investasi, dan penyusunan agenda korporat adalah labirin rumit yang kerap membuatnya pusing tujuh keliling. Namun, demi Arka dan pasokan obat-obatannya yang mahal, Anya memaksakan otaknya untuk bekerja dua kali lebih keras.Pagi itu, suasana di lantai tiga puluh terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Pak Tama dijadwalkan untuk memimpin rapat koordinasi tahunan bersama para investor asing melalui video conference skala besar. Semua berkas materi presentasi dan data analitik seharusnya sudah selesai diperiksa dan diunggah ke sistem utama oleh Anya sejak tiga puluh menit yang lalu."Kenapa file-nya bisa rusak? Sial, kenapa data yang ini belum masuk?!" gumam Anya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi. Ia baru menyadari bahwa ada satu folder berisi grafik audit eksternal yang salah ia format, membuat seluruh sistem presentasi tidak bisa membaca data tersebut.Sebelum Anya sempat memperbaiki

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB V : KEJUJURAN atau KEBOHONGAN?

    Anya masih bisa merasakan bagaimana dadanya berdesir hebat. Di balik pintu ruang kerja Pak Tama yang baru saja ia tutup dengan rapat, ia bersandar pada dinding lorong lantai tiga puluh yang sepi. Ia memejamkan mata erat-erat, dan berharap dalam hati agar diberikan kekuatan untuk melewati hari pertama ini.Hari itu pun berlalu seperti mimpi buruk yang panjang. Jam demi jam ia habiskan dengan mengabaikan pandangan-pandangan penuh arti dari staf lain, membiarkan dirinya tenggelam dalam tumpukan berkas komersial hingga matahari terbenam dan digantikan oleh pekatnya malam.Malam telah larut ketika Anya akhirnya melangkah masuk ke dalam rumahnya sendiri. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ada beban berton-ton yang menggelayuti kedua pergelangan kakinya. Bayangan tatapan predator Pak Tama dan sentuhan berani pria itu di ruang kerjanya terus berputar-putar di kepala, menyisakan rasa bersalah dan kehampaan yang mendalam.Ia merasa kotor. Ia merasa menandatangani kontrak tak tertulis u

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB IV : SENTUHAN PERTAMA

    Aroma kopi hitam yang pekat menguar dari cangkir porselen putih yang dibawa Anya. Tangannya masih sedikit gemetar, membuat cairan hitam di dalamnya bergoyang-goyang kecil, menciptakan riak yang seolah mencerminkan isi kepalanya saat ini. Lima menit yang diberikan Tama terasa seperti hitungan mundur menuju ruang eksekusi.Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, Anya mendekati pintu kayu jati besar bertuliskan CEO Office. Setelah menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya, ia mengetuk pintu tersebut tiga kali."Masuk," terdengar suara berat dari dalam.Anya memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Ruangan kerja Tama sangat luas, didominasi oleh warna-warna gelap seperti abu-abu arang dan hitam, dengan dinding kaca besar di satu sisi yang menampilkan panorama gedung pencakar langit kota. Di tengah ruangan, duduk Aditama Saputra di balik meja kerjanya yang megah, tampak fokus menatap layar laptop.Anya berjalan mendekat, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman akiba

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB III : PERTEMUAN PERTAMA

    Lobi utama Aditama Group tampak seperti sebuah kuil kemegahan yang dingin. Tangan Anya yang menggenggam tumpukan berkas sedikit gemetar. Ia terus menarik bagian bawah roknya yang sangat pendek, mencoba menutupi pangkal pahanya yang terpampang jelas. Namun, setiap gerakannya hanya membuatnya semakin sadar betapa tidak nyamannya pakaian ini. Kainnya tipis, transparan di beberapa bagian, dan didesain bukan untuk bekerja, melainkan untuk dipajang.“Jangan ditarik terus, An. Nanti malah kelihatan aneh,” bisik Bulan yang berdiri di sampingnya. Nada suaranya datar, namun ada peringatan keras di sana.Anya menoleh, menatap sahabatnya itu dengan mata yang memohon pengertian. “Gue merasa telanjang, Bul. Ini kantor, bukan tempat tidur.”Bulan mendesah pelan, ia melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar. “Dengar, Anya. Di sini, cara pandang orang tentang ‘pakaian kerja’ berbeda. Kalau lu mau bayaran yang cukup untuk rumah sakit Arka, lu harus berhenti berpikir sebagai de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status