Masuk
Rasa hangat dan getaran konstan dari benda yang tertanam di dalam dirinya akhirnya mencapai batas yang bisa ditanggung oleh kesadaran Anya. Di atas pangkuan Tama, dengan kedua putingnya yang terus dipelintir dan diremas secara ritmis dari belakang, Anya merasa seluruh tubuhnya seperti dialiri arus listrik yang membakar. Napasnya memburu, putus-putus, dan bibirnya digigit begitu erat hingga memucat demi menahan suara yang terus mendesak ingin keluar. Tama, yang bisa merasakan bagaimana otot-otot tubuh Anya mulai menegang hebat di atas pangkuannya, tahu bahwa sekretaris pribadinya ini sudah berada di tepi jurang pelepasan untuk kedua kalinya hari ini. Dengan seringai tipis yang penuh kepuasan, Tama menekan tombol pada kendali nirkabel di tangannya, menaikkan intensitas getaran ke tingkat maksimal tepat saat jemarinya memberikan remasan kuat yang serempak pada kedua dada Anya. "Ahhh... P-Pak Tama...!" Anya tidak bisa lagi menahannya. Pekikan pasrah itu lolos begitu saja dari tenggorok
Sepuluh menit waktu istirahat yang diberikan terasa berjalan begitu cepat. Berkat sisa-sisa fokus yang dipaksakan di tengah debaran jantung yang belum sepenuhnya mereda, Anya berhasil memulihkan folder dokumen yang rusak tepat waktu. Sesi kedua rapat koordinasi berjalan tanpa gangguan teknis berarti. Selama sisa presentasi tersebut, Tama kembali menjadi sosok CEO yang dingin dan berwibawa, sementara Anya hanya menunduk, memfokuskan seluruh perhatiannya pada papan ketik demi menyembunyikan sisa rona merah di wajahnya.Ketika panggilan video akhirnya diputuskan secara permanen oleh operator pusat, keheningan yang mencekam kembali menguasai ruang kerja yang luas itu.Anya perlahan menutup laptopnya. Ia berniat untuk segera berdiri dan kembali ke kubikalnya di luar, namun suara berat Tama memecah kesunyian sebelum ia sempat beranjak dari kursinya."Pekerjaanmu merapikan data di sesi kedua cukup baik," ucap Tama datar seraya menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya. "Tapi itu hanya memp
Sebagai seorang yang memiliki latar belakang di dunia desain, tumpukan laporan keuangan, jadwal investasi, dan penyusunan agenda korporat adalah labirin rumit yang kerap membuatnya pusing tujuh keliling. Namun, demi Arka dan pasokan obat-obatannya yang mahal, Anya memaksakan otaknya untuk bekerja dua kali lebih keras.Pagi itu, suasana di lantai tiga puluh terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Pak Tama dijadwalkan untuk memimpin rapat koordinasi tahunan bersama para investor asing melalui video conference skala besar. Semua berkas materi presentasi dan data analitik seharusnya sudah selesai diperiksa dan diunggah ke sistem utama oleh Anya sejak tiga puluh menit yang lalu."Kenapa file-nya bisa rusak? Sial, kenapa data yang ini belum masuk?!" gumam Anya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi. Ia baru menyadari bahwa ada satu folder berisi grafik audit eksternal yang salah ia format, membuat seluruh sistem presentasi tidak bisa membaca data tersebut.Sebelum Anya sempat memperbaiki
Anya masih bisa merasakan bagaimana dadanya berdesir hebat. Di balik pintu ruang kerja Pak Tama yang baru saja ia tutup dengan rapat, ia bersandar pada dinding lorong lantai tiga puluh yang sepi. Ia memejamkan mata erat-erat, dan berharap dalam hati agar diberikan kekuatan untuk melewati hari pertama ini.Hari itu pun berlalu seperti mimpi buruk yang panjang. Jam demi jam ia habiskan dengan mengabaikan pandangan-pandangan penuh arti dari staf lain, membiarkan dirinya tenggelam dalam tumpukan berkas komersial hingga matahari terbenam dan digantikan oleh pekatnya malam.Malam telah larut ketika Anya akhirnya melangkah masuk ke dalam rumahnya sendiri. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ada beban berton-ton yang menggelayuti kedua pergelangan kakinya. Bayangan tatapan predator Pak Tama dan sentuhan berani pria itu di ruang kerjanya terus berputar-putar di kepala, menyisakan rasa bersalah dan kehampaan yang mendalam.Ia merasa kotor. Ia merasa menandatangani kontrak tak tertulis u
Aroma kopi hitam yang pekat menguar dari cangkir porselen putih yang dibawa Anya. Tangannya masih sedikit gemetar, membuat cairan hitam di dalamnya bergoyang-goyang kecil, menciptakan riak yang seolah mencerminkan isi kepalanya saat ini. Lima menit yang diberikan Tama terasa seperti hitungan mundur menuju ruang eksekusi.Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, Anya mendekati pintu kayu jati besar bertuliskan CEO Office. Setelah menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya, ia mengetuk pintu tersebut tiga kali."Masuk," terdengar suara berat dari dalam.Anya memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Ruangan kerja Tama sangat luas, didominasi oleh warna-warna gelap seperti abu-abu arang dan hitam, dengan dinding kaca besar di satu sisi yang menampilkan panorama gedung pencakar langit kota. Di tengah ruangan, duduk Aditama Saputra di balik meja kerjanya yang megah, tampak fokus menatap layar laptop.Anya berjalan mendekat, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman akiba
Lobi utama Aditama Group tampak seperti sebuah kuil kemegahan yang dingin. Tangan Anya yang menggenggam tumpukan berkas sedikit gemetar. Ia terus menarik bagian bawah roknya yang sangat pendek, mencoba menutupi pangkal pahanya yang terpampang jelas. Namun, setiap gerakannya hanya membuatnya semakin sadar betapa tidak nyamannya pakaian ini. Kainnya tipis, transparan di beberapa bagian, dan didesain bukan untuk bekerja, melainkan untuk dipajang.“Jangan ditarik terus, An. Nanti malah kelihatan aneh,” bisik Bulan yang berdiri di sampingnya. Nada suaranya datar, namun ada peringatan keras di sana.Anya menoleh, menatap sahabatnya itu dengan mata yang memohon pengertian. “Gue merasa telanjang, Bul. Ini kantor, bukan tempat tidur.”Bulan mendesah pelan, ia melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar. “Dengar, Anya. Di sini, cara pandang orang tentang ‘pakaian kerja’ berbeda. Kalau lu mau bayaran yang cukup untuk rumah sakit Arka, lu harus berhenti berpikir sebagai de







