Home / Romansa / SENTUHAN YANG SALAH / BAB II : MAJU atau MUNDUR?

Share

BAB II : MAJU atau MUNDUR?

Author: Rara
last update publish date: 2026-06-30 09:53:50

Keesokan paginya, Anya yang tengah sibuk menyiapkan sarapan dan bekal sang adik dikejutkan oleh usapan kecil dari belakang. Ia pun refleks berteriak.

"Astaga! Dek, jangan ngagetin Kakak ih. Kalau Kakak jantungan gimana? Nakal banget sih. Udah sana kamu sarapan dulu, ini bekalnya udah Kakak siapin. Kakak mau siap-siap dulu," ucap Anya sambil memegang dada yang berdebar.

Arka yang mendengar ucapan sang kakak pun mengerutkan keningnya.

"Kakak mau siap-siap ke mana? Seneng banget kayaknya," tanya Arka sembari menghabiskan sarapannya.

Anya yang mendengar ucapan sang adik pun membalikkan badannya, menatap Arka dengan tatapan mengejek. "Kakak bakal kerja di tempat yang bagus. Bentar lagi si Bul nganterin seragamnya. Habis ini tiap Kakak gajian, kita bakal makan enak," jawab Anya bangga.

Setelah mendengar ucapan sang kakak, Arka pun berdiri dan bersiap pergi ke sekolah. Ia menghampiri Anya sembari membawa bekal di tangannya, kemudian memeluk sang kakak dengan erat.

"Maafin adek ya, Kak. Maaf adek cuman nyusahin Kakak," ucap Arka perlahan.

Anya yang mendengar ucapan adiknya pun segera melepaskan pelukan dan menangkup kedua pipi Arka. "Dengerin Kakak ya. Kakak sama sekali nggak pernah ngerasa disusahin sama adek. Kakak kerja supaya kita bisa happy-happy, bukan sedih gini. Okey? Sekarang udah sana berangkat sekolah, tukang ojeknya udah nunggu," ucap Anya sembari mendorong sang adik ke halaman rumah.

Setelah memastikan Arka pergi ke sekolah, Anya bergegas bersiap diri menunggu kedatangan sahabatnya.

Menunggu cukup lama, terdengar suara mobil yang menandakan Bulan telah datang. Bulan mematikan mesin mobilnya dan mengambil sebuah kotak eksklusif berisi seragam Anya, lalu bergegas turun. Anya yang mendengar suara dari luar pun segera membuka pintu.

"Masuk, Bul. Udah gue tungguin dari tadi," ucap Anya sembari mempersilakan Bulan masuk.

"Coba dulu, An. Setelah lo coba, nanti baru lo kasih tau gue keputusan lo. Apa lo mau lanjut atau berhenti di sini," ucap Bulan serius.

Anya yang kebingungan pun hanya menerima kotak tersebut dan berjalan ke arah kamarnya. Setelah menutup pintu, Anya membuka kotak itu dan mengeluarkan seragamnya. Ia terkejut melihat seragam yang terlihat sangat minim dan terbuka. Namun, ia berusaha tetap memakainya.

"Ini seragam bahkan nggak nutupin dada gue semua. Roknya juga pendek banget. Ini kalau gue nunduk, otomatis daleman gue keliatan. Huft... ayo Anya, demi adek, kita harus berkorban," gumam Anya pada dirinya sendiri.

Anya pun keluar dari kamar menggunakan seragam yang diberikan sahabatnya itu. Bulan menatap takjub melihat penampilan Anya yang sangat berbeda di matanya.

"Gila, An. Pak Tama pasti langsung naksir. Gue nggak nyangka bentuk badan lo sebagus itu," puji Bulan.

Anya yang mendengar pujian tersebut merasa sedikit tidak nyaman. Ia pun menanyakan pekerjaan apa yang sebenarnya akan ia kerjakan.

"Nanti kerja gue ngapain, Bul? Bayarannya gede kan?" tanya Anya.

Bulan tersenyum tipis. "Selagi lo bisa manfaatin badan lo dengan baik, percaya sama gue. Berapapun uang yang lo mau, pasti ada. Yaudah, ayo sekarang kita ke tempat kerja lo yang baru."

Anya hanya bisa mengikuti Bulan menuju mobil. Sepanjang perjalanan, mereka hanya berdiam diri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sampai akhirnya, Bulan memberikan nasihat.

"Anya, terlepas dari nantinya pekerjaan lo mengharuskan lo ngrelain diri, gue harap lo nggak nyerah. Karena ini semua buat Arka. Mungkin rasanya kita jijik atau ngerasa kotor, tapi percayalah, perasaan itu bakal keganti di saat lo udah dapet bayaran sesuai apa yang lo mau," ucap Bulan sembari menggenggam tangan Anya.

"Apa aja bakal aku lakuin. Ini semua buat adek," ucap Anya pelan sembari menghembuskan napas dengan berat. Setelah itu, Anya mengikuti Bulan memasuki gedung utama Aditama Group.

Anya melihat sekelilingnya dan terkesima dengan kemewahan perusahaan tersebut. Namun, ia juga cukup terkejut melihat banyak sekali pegawai perempuan yang menggunakan seragam yang sama dengannya, bahkan beberapa terlihat lebih kecil dan transparan.

Bulan pun menghampiri Anya dan memberitahukan bahwa ia akan ditugaskan menjadi sekretaris pribadi Pak Tama. Benar, Aditama Saputra merupakan CEO dari Aditama Group yang tentunya semua orang mengenalnya sebagai pengusaha muda paling sukses di negeri ini.

Anya yang mendengar apa yang disampaikan Bulan pun terkejut. Pasalnya, Tama memiliki citra yang buruk di mata para wanita. Tama terkenal dengan panggilan "Penggila Seks". Ia sangat menyukai wanita-wanita polos yang masih perawan, bahkan ia tidak ragu membayar mahal sebuah club hanya untuk dapat tidur dengan seorang perawan.

Namun di balik citra buruknya, Tama juga dikenal sebagai bos yang perfeksionis dan menyeramkan. Ia tidak akan segan-segan memecat pegawainya jika dirasa tidak kompeten. Hal inilah yang membuat Tama selalu berganti-ganti sekretaris.

Dengan kesadaran penuh, Anya pun mencengkeram tangan Bulan.

"Bul, serius gue jadi sekretaris Pak Tama? Anjir, kita balik aja yuk," ucap Anya sembari menarik tangan Bulan perlahan, panik.

Bulan yang tangannya ditarik pun menatap Anya lembut. "Yakin, An? Obat Arka mau gimana? Inget pesan gue di mobil tadi. Semua demi Arka. Dan selama lo kerja, gue yang bakal jagain Arka. Baik atau buruknya pekerjaan lo nanti, gue tetep bakal bilang ke Arka kalau kerjaan lo di gedung besar."

Anya yang mendengar ucapan Bulan pun refleks menghentikan tarikan tangannya. Ia berusaha menenangkan diri dan menerima pekerjaannya. Tanpa disadari, seorang pegawai senior menghampiri dan menginstruksikan Anya untuk bersiap, mengingat Pak Tama akan segera tiba di kantor.

Pegawai tersebut membantu Anya menyiapkan berkas-berkas dan keperluan yang dibutuhkan Pak Tama untuk rapat hari ini. Tentunya ini adalah hal baru bagi Anya. Dengan latar belakang sebagai desainer, sekarang ia harus berkutat dengan tumpukan berkas yang harus disiapkan untuk sang bos.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB XI : PASRAH I

    Pertahanan Anya akhirnya runtuh berkeping-keping. Di bawah siksaan, tubuhnya tidak lagi mampu mematuhi perintah otaknya untuk bertahan. Dengan satu hentakan kaku yang membuat seluruh tubuhnya melengkung menempel pada dinginnya dinding kaca, Anya mencapai puncak pelepasan yang teramat hebat. Air mata kepasrahan mengalir deras, membasahi kaca di depannya saat desahan panjang yang tersengal-sengal akhirnya lolos dari bibirnya yang terluka. Ia telah gagal dalam ujian yang diberikan Tama.Napas Anya memburu pendek-pendek, tubuhnya melosot lemas dan hampir jatuh ke lantai jika tangan kekar Tama tidak segera menahan pinggangnya dari belakang. Tama mematikan alat di tangannya, lalu membalikkan tubuh lemas Anya agar menghadap ke arahnya. Tatapan mata pria itu tidak lagi sekadar dingin ada kilat gairah dan kepuasan yang pekat terpancar dari manik matanya melihat sekretarisnya tak berdaya."Kamu gagal dalam ujian pertamamu, Anya," bisik Tama dengan nada rendah yang berbahaya. "Dan kegagalan di h

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB X : UJIAN NAFSU

    Matahari pagi menembus celah gorden kamar Anya, membawa realitas yang enggan ia hadapi setelah malam yang panjang. Di atas tempat tidur, tubuhnya terasa jauh lebih lelah daripada hari-hari sebelumnya. Efek dari ritual rahasia semalam masih menyisakan debaran halus di dadanya, sekaligus rasa bersalah yang teramat sangat. Ketika ia melihat kotak beludru hitam di atas meja rias, Anya cepat-cepat memalingkan wajah. Ia benci fakta bahwa ia mulai menikmati apa yang seharusnya ia anggap sebagai kehinaan. Namun, tidak ada waktu untuk menyesali diri karena kehidupan nyata segera memanggil dengan keras.Setelah memastikan Arka sarapan dan berangkat sekolah dengan bekal yang cukup, Anya kembali mengenakan seragam mini yang kini terasa semakin mengikat kulitnya. Setiap kali kain tipis itu bergesekan dengan dadanya yang masih sensitif akibat sisa gairah semalam, Anya harus menahan napas. Ia merasa seolah-olah sidik jari Pak Tama telah tercetak permanen di atas kulitnya, mengklaim kepemilikannya ba

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB IX : CANDU

    Dengung halus dari benda silinder di genggaman Anya terasa seirama dengan detak jantungnya yang kian berpacu cepat. Di dalam kesunyian kamarnya, di hadapan cermin besar yang memantulkan setiap jengkal tubuh polosnya, Anya merasa seolah sedang melihat sosok asing. Gadis di dalam cermin itu tampak begitu rapuh, hancur, namun sepasang matanya yang sayu menyiratkan dahaga yang amat dalam akan sensasi yang baru saja dikenalkan padanya siang tadi. Logikanya berteriak bahwa ini adalah kesalahan besar, bahwa benda di tangannya adalah simbol kehinaan dan kendali mutlak Pak Tama atas dirinya. Namun, dirinya menolak untuk patuh pada moralitas yang selama ini ia agungkan.Anya menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam yang dingin menembus pori-pori kulitnya, memenuhi dadanya yang naik-turun tak beraturan. Perlahan, dengan jemari yang masih sedikit gemetar akibat sisa ketakutan, ia menaikkan intensitas getaran pada alat tersebut melalui tombol di pangkalnya. Dengung rendah yang tadinya sam

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB VIII : PERASAAN ANEH

    Rasa hangat dan getaran konstan dari benda yang tertanam di dalam dirinya akhirnya mencapai batas yang bisa ditanggung oleh kesadaran Anya. Di atas pangkuan Tama, dengan kedua putingnya yang terus dipelintir dan diremas secara ritmis dari belakang, Anya merasa seluruh tubuhnya seperti dialiri arus listrik yang membakar. Napasnya memburu, putus-putus, dan bibirnya digigit begitu erat hingga memucat demi menahan suara yang terus mendesak ingin keluar. Tama, yang bisa merasakan bagaimana otot-otot tubuh Anya mulai menegang hebat di atas pangkuannya, tahu bahwa sekretaris pribadinya ini sudah berada di tepi jurang pelepasan untuk kedua kalinya hari ini. Dengan seringai tipis yang penuh kepuasan, Tama menekan tombol pada kendali nirkabel di tangannya, menaikkan intensitas getaran ke tingkat maksimal tepat saat jemarinya memberikan remasan kuat yang serempak pada kedua dada Anya. "Ahhh... P-Pak Tama...!" Anya tidak bisa lagi menahannya. Pekikan pasrah itu lolos begitu saja dari tenggorok

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB VII : PELAJARAN PERTAMA

    Sepuluh menit waktu istirahat yang diberikan terasa berjalan begitu cepat. Berkat sisa-sisa fokus yang dipaksakan di tengah debaran jantung yang belum sepenuhnya mereda, Anya berhasil memulihkan folder dokumen yang rusak tepat waktu. Sesi kedua rapat koordinasi berjalan tanpa gangguan teknis berarti. Selama sisa presentasi tersebut, Tama kembali menjadi sosok CEO yang dingin dan berwibawa, sementara Anya hanya menunduk, memfokuskan seluruh perhatiannya pada papan ketik demi menyembunyikan sisa rona merah di wajahnya.Ketika panggilan video akhirnya diputuskan secara permanen oleh operator pusat, keheningan yang mencekam kembali menguasai ruang kerja yang luas itu.Anya perlahan menutup laptopnya. Ia berniat untuk segera berdiri dan kembali ke kubikalnya di luar, namun suara berat Tama memecah kesunyian sebelum ia sempat beranjak dari kursinya."Pekerjaanmu merapikan data di sesi kedua cukup baik," ucap Tama datar seraya menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya. "Tapi itu hanya memp

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB VI : KESALAHAN FATAL

    Sebagai seorang yang memiliki latar belakang di dunia desain, tumpukan laporan keuangan, jadwal investasi, dan penyusunan agenda korporat adalah labirin rumit yang kerap membuatnya pusing tujuh keliling. Namun, demi Arka dan pasokan obat-obatannya yang mahal, Anya memaksakan otaknya untuk bekerja dua kali lebih keras.Pagi itu, suasana di lantai tiga puluh terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Pak Tama dijadwalkan untuk memimpin rapat koordinasi tahunan bersama para investor asing melalui video conference skala besar. Semua berkas materi presentasi dan data analitik seharusnya sudah selesai diperiksa dan diunggah ke sistem utama oleh Anya sejak tiga puluh menit yang lalu."Kenapa file-nya bisa rusak? Sial, kenapa data yang ini belum masuk?!" gumam Anya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi. Ia baru menyadari bahwa ada satu folder berisi grafik audit eksternal yang salah ia format, membuat seluruh sistem presentasi tidak bisa membaca data tersebut.Sebelum Anya sempat memperbaiki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status