MasukSelama aku hidup, aku belum pernah melihat uang sebesar lima juta.
Jangankan lima juta, lima ratus ribu saja belum pernah.
"Gimana, Ri? Apa masih kurang?" Pertanyaan juragan Ginanjar membuatku sedikit terkejut.
Aku lekas menggeleng.
Mana mungkin aku berani meminta lebih!
"Sudah sangat cukup, Juragan. InsyaAllah saya nggak akan mengecewakan dan berusaha melakukan pekerjaan ini sebaik mungkin," ujarku kemudian.
Juragan Ginanjar kembali manggut-manggut lalu tersenyum lebar ke arahku.
"Oh ya. Hari ini saya kasih gaji kamu di depan supaya makin semangat. Bonus sepuluh lembar karena kamu sudah tepat waktu. Anggap saja secuil tanda terima kasih karena kamu sudah menolong saya kemarin malam."
Juragan Ginanjar kembali menjelaskan sembari menyerahkan amplop coklat itu untukku. Sementara sepuluh lembar uang seratus ribuan itu sengaja dia taruh di atasnya.
"Tapi juragan, saya 'kan belum kerja. Masa udah dibayar dan dikasih bonus pula. Soal kemarin, saya ikhlas melakukannya, Juragan. Nggak minta balasan apa-apa," protesku lirih. Juragan Ginanjar kembali tersenyum.
"Nggak apa-apa, Ri. Saya pun tahu kamu ikhlas menolong, tapi saya juga ikhlas memberi kamu bonus. Yg di amplop itu kan memang hak kamu. Jadi, tak perlu merasa tak enak begitu. Saya sudah suruh orang untuk cari tahu siapa kamu. InsyaAllah uang itu bisa kamu gunakan lebih dulu mungkin untuk tambah modal usaha bapak kamu atau yang lainnya." Aku semakin terharu dengan kebaikan lelaki di hadapanku itu.
"Terima kasih banyak, Juragan. Saya ambil bonusnya dulu, soal gaji biar saya ambil setelah menyelesaikan kewajiban ya, Juragan. Tiap akhir bulan atau awal bulan depan saja supaya saya tak merasa punya hutang." Juragan Ginanjar kembali menghela napas lalu menatapku dengan pandangan berbeda. Entah karena apa.
"Kamu anak yang polos dan jujur. Saya suka dengan cara berpikirmu itu, Ri. Semoga Rama pun cocok denganmu dan nggak neko-neko lagi."
"Semoga ya, Juragan. Kalau begitu, apa saya bisa bertemu dengan Den Rama sekarang?" tanyaku kemudian sebab dari tadi tak kudengar suara anak di rumah ini. Apa iya dia masih tidur jam segini?
"Jangan panggil Den. Dia nggak suka. Panggil saja Mas Rama."
Aku pun kembali mengangguk.
"Rama baru keluar, katanya pengin beli soto di warung langganan. Sebentar lagi paling pulang." Lagi-lagi aku mengangguk.
Dalam hati harap-harap cemas bagaimana kalau nanti tiba-tiba anak itu menolakku? Duh, jurus apa yang akan kugunakan untuk merayunya? Apa aku ajak dia menggambar saja? Atau mewarnai? Atau–
Deru mobil di luar rumah membuatku semakin berdebar. Jurus-jurus andalan untuk menaklukkan kenakalan anak yang tadi sempat kususun pun mendadak buyar.
Tak selang lama suara anak lelaki keluar dari mobil.
Aku yakin jika anak itulah yang bernama Rama. Sepertinya memang cukup aktif. Anak itu lari ke sana sini tanpa kendali. Di belakangnya ada seorang wanita dengan gamis panjangnya, dia hanya geleng-geleng kepala melihat aksi anak lelaki di hadapannya yang super aktif dan lincah.
Wanita itu pun tersenyum ke arahku lalu mencium tangan Juragan Ginanjar. Aku tahu itu adalah Bu Farida yang tak lain adalah istri sang juragan. Biasanya hanya melihat dari kejauhan, kini aku bisa melihatnya secara langsung. Begitu anggun dan cantik. Cocok sebagai pendamping juragan yang memang masih terlihat gagah dan tampan sekalipun sudah berumur.
Setelah ibu Farida dan anak lelaki tadi masuk, muncul seorang lelaki di belakangnya. Wajahnya tampan dengan jambang tipis, hidung bangir dan sedikit lesung pipit.
"Eh, ada tamu, Pa," ucapnya pendek saat tak sengaja bersirobok denganku. Aku pun tersenyum sembari mengangguk pelan sebagai tanda penghormatan.
"Iya, Nif. Ini Riana yang akan jadi asisten Rama." Juragan Ginanjar menjelaskan. Laki-laki itu pun manggut-manggut.
"Semoga betah menghadapi sikap Rama ya, Mbak. Asisten sebelumnya semua angkat tangan dalam hitungan hari saja." Laki-laki bernama Hanif itu pun terkekeh.
"Nanti kalau dia keterlaluan, bilang sama saya ya, Ri. Kalau masih dalam batas normal dan kamu kuat menjalani pekerjaan ini, lanjut saja. Saya yakin kamu sabar dan telaten menghadapi dia. Sebenarnya dia nggak seurakan itu kok, dia baik hati dan lembut seperti mamanya dulu asalkan kamu bisa mengambil hatinya." Entah mengapa, hati mulai tak enak saat mendengarkan penjelasan Mas Hanif dan juragan Ginanjar kali ini.
"Maaf juragan, bisa ngobrol dengan Nak Rama?" tanyaku kemudian. Tak ingin disesaki beragam pertanyaan, aku ingin langsung mengenal anak itu saja.
"Nak Rama?" Lirih Bu Farida sembari menoleh ke kanan dan kiri di mana anak dan suaminya duduk. Mereka bertiga pun saling tatap lalu tersenyum tipis.
"Bukannya itu Nak Rama ya, Juragan? Anak lelaki yang akan jadi bos kecil saya?" Ketiga orang di hadapanku justru terkekeh mendengar pertanyaan yang kuajukan.
"Ya Allah, Pa. Gimana sih kamu, belum jelasin siapa Rama itu?" Bu Farida kembali protes setelah tawa mereka mereda.
"Maafkan suami saya, Ri. Sebenarnya bukan anak kecil itu yang harus kamu asuh. Kalau dia sudah adap pengasuhnya sendiri. Hanya saja saat ini masih cuti pulang kampung, sementara ibu yang asuh sendiri." Penjelasan Bu Farida semakin membuatku bingung. Kalau bukan anak itu, lantas laki-laki mana yang bakal jadi bosku?
Di tengah kebingunganku, terdengar deru mobil berhenti di garasi. Tak lama kemudian suara derap langkah kaki mulai mendekati pintu. Tanpa salam, laki-laki itu masuk begitu saja. Penampilannya jauh berbeda dengan Mas Hanif yang kalem, berwibawa dan tenang.
Laki-laki itu justru sebaliknya. Tubuhnya tinggi, tegap dan kekar. Jambangnya lebat, tapi dicukur cukup rapi, rambut setengah gondrong, berhidung bangir dan beralis tebal dengan bahu yang lebar. Benar-benar kriteria cowok macho yang diidamkan banyak perempuan, andai dia tak seangkuh itu.
"Nah, itu dia Rama," ucap juragan Ginanjar membuatku mendelik seketika.
"I-itu Mas Rama, Juragan?" tanyaku terbata sembari menunjuk laki-laki itu yang tak menoleh sedikit pun. Dia melenggang begitu saja tanpa peduli ke arah kami yang masih membicarakannya.
"Iya, Ri. Itu Rama. Anak sulung saya dengan istri kedua yang telah tiada. Ibu Farida ini adalah istri pertama saya."
Jawaban juragan Ginanjar benar-benar membuatku tersedak seketika.
Pantas saja semua asistennya nggak ada yang betah.
Pantas saja gaji orang kecil sepertiku lima juta per bulan, belum bonus.
Jelas yang akan kuhadapi ini bukan bukan manusia biasa, tapi setengah monster.
"Permisi, Pak," sapa Naura. "Bapak Candra?""Oh, beliau sedang keluar." Pria paruh baya di dalam ruangan tersebut menyahut. "Kamu mahasiswa bimbingan beliau?""Beliau pembimbing akademik saya, Pak." Naura menjelaskan, khawatir dikira mahasiswi semester tua.Pria paruh baya itu mengangguk. "Nanti ke sini lagi saja. Beliau mendadak harus menghadiri rapat senat.""Oh, begitu. Baik, Pak. Terima kasih banyak atas informasinya," jawab Naura seraya mengangguk sopan.Ia kembali menarik pintu kayu itu hingga tertutup rapat dengan bunyi klik yang pelan. Sembari membalikkan badan, Naura mengembuskan napas panjang. Ada secuil rasa lega sekaligus canggung yang bercampur di dalam dadanya; lega karena ia memiliki waktu lebih untuk menyiapkan mental, namun juga canggung karena rencana di hari pertamanya ini tidak berjalan mulus sesuai jadwal. Dengan langkah kaki yang santai, Naura berjalan menyusuri koridor lantai dua yang sejuk oleh hembusan pendingin ruangan, meninggalkan area gedung dosen menuju tangga
## Bab: Titik Mula BaruPengumuman hasil seleksi masuk universitas hari itu menjadi salah satu momen paling krusial di kediaman Ginanjar. Di tengah ketegangan yang menyelimuti ruang tengah, dua buah layar laptop terbuka bersisian. Ketika tombol *refresh* ditekan secara bersamaan, warna hijau yang melambangkan kelulusan seketika memenuhi layar.Naura dan Dimas dinyatakan lolos di universitas negeri yang sama. Sebuah pencapaian besar yang membuat Bu Farida menangis haru dan Mas Hanif tersenyum penuh kebanggaan.Meskipun mereka berdua sama-sama berhasil menembus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), jalur yang mereka ambil sepenuhnya berbeda. Dimas, dengan segala kalkulasi logis dan ambisi korporatnya, mutlak memilih jurusan Manajemen Bisnis. Sementara Naura, setelah melewati pergolakan batin yang panjang di sudut kafe Kak Riana, akhirnya menjatuhkan pilihan pada jurusan Akuntansi. Baginya, barisan angka dan laporan keuangan adalah representasi dari kepastian—sebuah ilmu pasti yang bisa ia kend
Naura menyesap es cokelatnya perlahan, merasakan sensasi manis dan dingin yang membasahi tenggorokannya yang kering. Ia menggeleng pelan. "Bukan soal itu juga sih spesifiknya. Cuma kayaknya perlu ubah suasana dulu aja.""Karena?""Bingung...." Riana diam, menunggu Naura melanjutkan.Sementara gadis itu memikirkan ucapan Dimas soal bantuan keluarga Ginanjar dan omongan Devan soal cita-cita tadi."Kak ... Kak Riana kuliah? Maaf kalau aku tanya begini."Riana tertawa kecil. "Nggak apa, Ra. Tapi jawabannya enggak. Aku langsung coba cari kerja sehabis lulus SMA kemarin.""Oh? Terus kenapa buka kafe? Awalnya kerja di kafe?""Enggak juga." Riana menyodorkan camilan pada Naura. "Awalnya aku jadi babysitter Mas Rama."Naura berkedip. Ia diam cukup lama sebelum kemudian bertanya, "Gimana, Kak?""Pokoknya, pekerjaan pertamaku waktu itu adalah bekerja buat keluarga Ginanjar. Eh ternyata jodoh, sama Mas Rama.""Terus kenapa jadinya punya kafe?""Coba makanannya, Ra. Masakanku enak nggak?"Naura
Jemari Naura bergerak cepat di atas papan ketik, buru-buru mengetik balasan."Maaf, Mas. Tadi aku memang sempat ke perpus daerah. Tapi sekarang sudah selesai semua dan aku sudah di dalam angkot."[Oh, oke, aman. Bukti kalau kamu bisa balas pesanku berarti transaksi ponselnya lancar ya?]"Aman kok."[Lain kali titip pesan atau kabari. Waspada sedikit kalau jalan sendiri.]Naura diam. Benar juga, kali ini dia juga bergerak sendiri.Otaknya sepintas teringat saat ia pergi ke kontrakan lamanya dan bertemu dengan Bowo. Niatnya cuma ambil barang, tapi endingnya justru demikian.Sontak, Naura bergidik.Ia kenal Bowo, sampai tahu kalau pria itu sifatnya buruk. Kalau sekarang bedanya, ia tidak kenal Devan sekalipun sikap pria itu ramah dan terbuka. Meski begitu, keduanya tetap punya potensi untuk berbuat jahat dan Naura baru menyadari hal itu.Yah, dia sekarang tidak apa-apa dan masib berpikir Devan baik saja. Tapi ia paham maksud Dimas."Siap, Mas. Maaf kalau sempat bikin khawatir."Selama beberapa saat
Berikut adalah pengembangan cerita menjadi sekitar 600 kata, dengan memperdalam dinamika psikologis antarkarakter dan ketegangan suasana tanpa mengubah inti cerita maupun menjadikannya terlalu mendayu-dayu.“Maaf, Kak,” ucapnya kemudian. “Selain teman kuliah, apa Kak Devan punya hubungan lain dengan Mbak Dea?”Devan terdiam sejenak. Sorot matanya mendadak berubah intens, mengunci pandangan Naura. “Memangnya kenapa, Ra? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?”“Nggak, Kak…”Naura sedikit kebingungan, merutuki bibirnya yang bergerak lebih cepat daripada otaknya. Pertanyaan tadi terlontar secara spontan begitu saja. Sembari meremas jemarinya di bawah meja, ia memutar otak untuk mencari alasan yang logis. Ia jelas tidak bisa mengatakan kalau dia tidak sengaja melihat foto tersembunyi di galeri ponsel Devan saat pria itu sempat meminjamkan ponselnya tadi.“Soalnya Kakak kedengaran dekat sekali dengan Mbak Dea,” lanjut Naura, mencoba melempar senyum senormal mungkin. “Sahabat kah?”“Iya, tema
Naura tidak langsung menjawab. Dalam hati menimbang ajakan tersebut dengan memikirkan motivasi Devan. Apakah itu murni untuk makan dan kompensasi, atau ada niat lain.Tapi, seperti biasa. Rasa tidak enakan yang menjadi kelemahan terbesar Naura akhirnya kembali mengambil alih."Boleh, Kak," jawab Naura singkat.Mereka berdua berjalan kaki menyeberang jalan raya menuju sebuah kedai soto ayam yang cukup ramai. Devan mencarikan meja yang agak teduh di dekat pilar, menarikkan kursi untuk Naura, dan memesankan dua porsi makanan tanpa membuat Naura merasa canggung. Sikap dewasanya yang tenang sempat membuat Naura sedikit melonggarkan pertahanannya. Naura membatin dalam hati, mungkin prasangkanya semalam terlalu berlebihan."Kamu masih kuliah?" Devan membuka obrolan setelah dua mangkuk soto hangat dihidangkan di atas meja mereka. “Oh ya. Namamu siapa? Aku Devan.”"Naura, Kak. Aku lagi bersiap buat ujian penyetaraan, Kak. Kemarin sempat putus sekolah karena harus mengurus Ibu yang sakit," ja







