Share

Bab 5. Apa Karina Sudah Tahu?

Plukk!

Karina melempar tepat mengenai wajahku, surat keterangan kepolisian yang diremasnya. "Semua ini karena elo, Bang!" ucapnya lantang seraya berdiri.

Aku yang tersulut emosi, juga berdiri. "Apa-apaan kamu hah?" tanyaku geram.

"Kak Risma selingkuh itu, gara-gara elo, Bang! Elo gak bisa jadi suami idaman! Elo gak bisa bahagiain kakak gue! Elo itu lemah di atas ranjang! Bukan Kakak gue yang murahan. Tapi elo yang nggak bisa puasin dia! Makanya dia selingkuh dari elo!" pungkas Karina menyudutkanku.

Tanganku mengepal mendengar ucapan Karina barusan.

Apa Karina sudah tahu kalau Kharisma itu selingkuh? Sialan!

"Elo itu payah dalam urusan ranjang, Bang! Jadi bukan salah Kharisma, kalau dia cari kepuasan dari pria lain!" hardik Karina kembali.

PLAKKK!

Amarah yang sudah di ubun-ubun, membuatku akhirnya menampar adik ipar tidak punya etika seperti Karina ini.

"Kamu anak kecil, nggak usah sok tahu dengan urusan rumah tangga orang!" ucapku seraya menunjuk wajah Karina.

Karina memegangi pipinya yang terkena tamparanku. Karina mendecih dan tersenyum sinis padaku.

"Duduk Dewa, duduk! Sudah, kita bicarakan baik-baik!" titah Ibu seraya menarik-narik lenganku.

Sedangkan Papa dan Mama mertua terlihat menenangkan Karina.

Aku menepis tangan Ibu. "Nggak, Bu! Orang seperti Karina nggak bisa diajak bicara baik-baik. Dia harus diajari sopan santun. Bagaimana seharusnya bicara yang benar dengan yang lebih tua!"

"Nggak salah lo, Bang? Ngajari gue sopan santun? Harusnya elo yang diajari, gimana supaya jadi suami yang bisa bahagiain istri!" hardik Karina lagi.

"Tahu apa kamu tentang kebahagiaan Kharisma? Semua sudah aku lakukan, agar bisa memenuhi tuntutan hidup Kharisma! Semua aku berikan untuknya! Tapi kamu lihat sendiri 'kan, balasan apa yang Kakak kamu beri hah? Dia justru mengkhiantiku. Dia dengan mudahnya tidur dengan lelaki lain! Dan seenaknya, kamu menuduh aku tidak bisa membahagiakan kakakmu? Mikir Karina! Mikir!" bentakku pada Karina.

"Tapi elo nggak bisa membahagiakan batinnya, Bang! Elo itu sibuk dengan bisnis! Sampai lo lupa memperhatikan kebahagiaan batin istri lo! Lo lemah syahwat! Makanya Kharisma selingkuh dari lo!"

"Kurang ajar!"

Brangggg

"DEWAAA!" Ibu berteriak.

Refleks kulempar vas bunga yang ada di atas meja ke arah Karina.

"Dewa! Keterlaluan kamu!" sungut Papa mertua.

Karina benar-benar sudah menghinaku. Kulihat pelipis Karina berdarah. Tapi itu tidak seberapa, dibanding luka hatiku.

"Jaga mulutmu, Karina! Seenaknya kamu menuduhku lemah syahwat! Aku normal, Karina! Aku lelaki sehat! Aku sanggup memuaskan Kharisma!" teriakku pada Karina.

Mama mertua nampak beranjak dari ruangan yang terasa sesak ini. "Bi Imaaa … ambilkan kotak P3K, Biii!" teriak Mama mertua.

Papa mertua menatapku dengan nyalang. Sedangkan Karina, membiarkan darah yang keluar dari pelipis dan dahinya.

Karina justru menyeringai. "Kenapa lo marah, Bang? Kalau bener, lo sanggup memuaskan istri lo! Kenapa sampai ada foto seperti ini, Bang? KENAPA?!" bentaknya, seraya melempar foto tak senonoh itu tepat di wajahku.

"Kalau elo sanggup memenuhi kebutuhan batinnya. Kalau elo mengaku sehat! Terus kenapa Kharisma sampai khianati, lo? Sadewa Arthayuda?!" teriak Karina seperti orang tidak waras.

Aku mengepalkan tangan dan rahang yang semakin mengeras. Mama mertua sudah kembali. Mengobati luka yang dialami Karina.

"Itu karena Kakak kamu terlalu murahan Karina! Bukan aku yang tidak bisa memuaskannya. Tapi Kakak kamu yang ternyata tidak lebih dari jalang!" Aku berteriak ke arah Karina.

"Cukup, Dewa! Cukup! Hentikan! Berhenti menjelekkan putri Papa!" jawab Papa mertua.

"Seharusnya Karina, yang Papa suruh berhenti menuduhku yang tidak-tidak, Pah! Aku tidak terima dia menuduhku seperti itu! Atas dasar apa dia menuduhku sekeji itu, Pah?" ujarku tidak terima.

"Sudah, Dewa! Sudah! Kita bicarakan lagi nanti saja, Dewa! Tidak bisa kita bicara jika sedang emosi begini!" ucap Ibu.

"Aakhhh!" Aku mengibaskan tangan di udara. Kemudian berlalu dari hadapan mereka.

"Bi Imaaaa kopiiiii!" teriakku, gegas aku menaiki tangga. Lalu keluar menuju balkon.

***

Aku kembali menyesap rokok di teras balkon. Menyesapnya kuat lalu menyemburkan kepulan asapnya di udara. Lantas, ku seruput kopi susu yang mulai menghangat.

Kusimpan batang rokok di pinggiran asbak. Lantas merebahkan punggung pada sandaran kursi. Kupijat pelipis dengan teratur. Kuredam gemuruh dalam dada.

Aku mendesah.

Karina Benar-benar kurang ajar. Atas dasar apa dia menuduhku lemah syahwat? Sehingga membenarkan tindakan Kakaknya yang jelas-jelas telah mengkhianatiku.

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Ibu Sigit
adik sarap
goodnovel comment avatar
Yati Syahira
keluarga gila kakaknya od ama laki"lain malah nyalain suaminya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status