LOGINAruna merasa nyeri pada sisi kanan samping perutnya. Aruna berjalan ke arah batu besar lalu duduk disana. Kebetulan dia hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan ujung selutut dan baju itu juga milik Satria yang di ambil di kamar pria itu.
Di sisi lain, Satria tadi pergi dengan terburu-buru karena Elara melaporkan sesuatu padanya. Di dalam ruang bawah tanah, mereka membahas masalah penyelidikan di luar. Satria tidak akan keluar dari kamarnya jika bukan karena sinyal dari Elara tersebut. Padahal, Satria memiliki bawahan di setiap kantor polisi, sehingga perkembangan kasus apa pun selalu ia ketahui terlebih dahulu. “Polisi mulai menyelidiki penyebab ledakan itu. Aku sudah meninggalkan jejak agar kasus ini tidak mengarah pada anggota kita.” Satria melipat tangannya, mengenakan setelan kemeja lengan panjang hitam dengan warna celana senada. “Ya, aku tahu. Saat aku pergi, ada seorang wanita di sana dengan remot kontrol bom di tubuhnya. Awalnya aku pikir dia dijebak oleh anggota geng, ternyata dia memang memiliki misi untuk mati bersama dengan rekan-rekannya.” “Ya, sementara ini hanya itu yang ingin aku katakan.” Semua orang yang berkumpul di sana mengangkat bahu, tidak mengerti mengapa Elara menyalakan sinyal untuk informasi yang tidak terlalu penting. Karena Satria ditahan Elara dan terus sibuk di ruangan tersebut, Aruna hampir menemukan sebuah tuas yang berupa ranting pohon di antara bebatuan kecil. Bentuknya sangat mirip dengan tanaman kering dan mati. Aruna mengukir senyum di bibirnya. Ada banyak tanaman di sana, dan semuanya dibiarkan layu dan mati, sehingga benda itu tidak terlihat mencolok. Dia sangat senang, namun ia lupa dengan kondisi perut kanannya. Aruna menggenggam dan menekan jahitannya, dan darah terus mengucur. Wanita itu langsung jatuh ke rumput lantaran hampir kehabisan darah dan pingsan di taman. Pelayan yang berganti sif untuk menjaga Dion melihat Aruna terkapar di atas rerumputan. Dia segera menghampirinya dengan khawatir dan menelfon Satria untuk memberitahu kejadian tersebut. Satria masih di ruangan, semua orang di sana sudah muak dengan celotehan Elara yang tidak masuk akal. Ponsel Satria berdering. Sinyal ruangan di bawah tanah tidak stabil, sehingga ia segera meninggalkan ruangan tanpa berdiskusi lebih lanjut dengan Elara dan rekan bawahannya yang lain. “Apakah sudah selesai?” Tanya Mela pada Elara. “Ya, kalian boleh pergi! Pertemuan hari ini sudah selesai!” Begitu semua orang pergi, Elara merasa ada suatu hal yang tidak beres. Ia menatap layar monitor kamera pengawas yang terhubung dengan seluruh area kediaman, dan di sana dia melihat Satria sedang berlari menghampiri Aruna yang tergeletak di rumput taman. Elara mengepal tangannya. “Aku rasa hanya aku yang bisa menyingkirkan wanita itu dari sisi bos! Gara-gara dia, bos hampir kehilangan nyawa! Aku tidak akan membiarkannya terus tinggal di sini! Wanita itu harus dibuang jauh-jauh!” Satria menggendong Aruna dan membawanya ke ruangan medis di kediaman. Lukanya sendiri masih belum pulih, dan sekarang ia harus membopong Aruna. Satria meletakkan tubuh Aruna di atas ranjang pasien lalu meminta Zidan untuk memeriksanya. Zidan melihatnya, luka Aruna terbuka kembali, jahitan di pinggangnya sudah rusak total. “Aku sudah memberi tahu Aruna, dia tidak boleh banyak bergerak. Entah dia yang tidak bisa diberitahu dan bebal atau ada orang lain yang sengaja membuatnya begini.” Zidan melirik Satria yang kini berkacak pinggang di sampingnya. Satria sendiri memiliki luka di beberapa bagian tubuhnya yang memburuk karena digunakan untuk menggendong Aruna. “Ya, mungkin itu salahku! Kamu urus dia sampai sembuh, katakan pada penjaga di luar kalau kamu butuh sesuatu.” “Sepertinya aku butuh kantong darah, kalian harus mencarikannya untukku. Darah Aruna sedikit istimewa dan sangat jarang yang memiliki darah seperti ini!” Perintahnya pada Satria. “Kebetulannya darahku sama dengannya! Kamu ambil saja darahku!” Ujarnya sambil mengulurkan lengan kanannya. Zidan tertawa, dia mengatur selang dan menghubungkannya dengan lengan Aruna. “Sungguh pasangan sejati!” Guraunya seraya memasang jarum di lengan Aruna.“Kita akan periksa ke dokter kandungan. Kamu belum datang bulan, mungkin saja kamu hamil. Jika benar, aku akan lebih berhati-hati lagi melakukannya,” ucap Bayu dengan lembut pada Aruna. Aruna mengangguk setuju. Ia segera mandi, dan setelah selesai, Bayu langsung membawanya ke dokter untuk pemeriksaan. Di rumah sakit, Bayu setia menemaninya masuk ke ruang periksa. Meski Aruna sudah terlambat datang bulan beberapa minggu, dokter menyatakan belum ada tanda-tanda kehamilan yang pasti walaupun sudah dilakukan tes. “Aku akan melakukannya lebih keras! Aruna, hari ini aku tidak akan ke kantor. Kita akan menghabiskan waktu di villa,” ujar Bayu penuh ambisi. Aruna meremas ujung roknya. Tubuhnya terasa sangat lelah, bahkan ia hampir tidak sanggup berjalan. “Malam saja, ya? Aku lelah, aku sungguh lelah, oke?” bujuknya. “Aruna, lusa kamu sudah harus pergi ke kediaman pria itu!” keluh Bayu. “Bayu, aku sungguh lelah. Aku janji nanti malam kamu bisa melakukannya beberapa kali. Aku akan membiarka
“Aruna, kamu tidak apa-apa?” Tanya Bayu.Aruna menggelengkan kepalanya.“Bagaimana kondisimu belakangan ini?” Tanyanya.“Aku baik-baik saja, hanya kakek yang selalu mendesakku untuk cepat-cepat membuatmu hamil, dia tidak sabar ingin cucu darimu,” jawabnya.Aruna mengingat masalah itu, tujuan Bayu mengikat kontrak memang untuk pendapatkan keturunan. Aruna sangat lelah, tapi kerja sama yang sudah disepakati tidak mungkin dia lupakan begitu saja.Aruna melepaskan seluruh bajunya lalu rebah di meja. Dia membuka kedua pahanya sambil berkata pada Bayu.Bayu sangat merindukannya. Dia melihat tubuh Aruna yang sangat dia inginkan; sudah tidak sabar ingin menjamahnya. Bayu mendekatinya, dia juga melepaskan piyamanya. Pertama-tama dia menyentuh sisi intim Aruna sambil mengelusnya dengan lembut.“Aruna, aku sangat merindukanmu….Hmh,”“Bayu, kamu tahu sebenarnya aku muak dengan semua ini? Keluargamu menganggapku seperti sebuah mesin yang tidak punya hati. Lakukan sekarang, jangan menundanya,” bisi
Keesokan paginya Aruna merasa tulang belulangnya hancur. Baru beberapa hari tinggal dengan Satria, Aruna hanya diberi waktu untuk melayaninya.Pelayan masuk ke dalam kamar untuk mengantarkan sarapan. Melihat kamar Satria berantakan lagi, mereka tidak terkejut. Semua orang di kediaman itu tahu Aruna sangat dicintai oleh Satria, dan hampir setiap kali mereka mendengar suara desahan serta pekikan di balik pintu kamar tersebut.“Nona Runa, ini sarapan Anda,”Aruna bangun sambil menutup tubuhnya yang telanjang dengan selimut, lalu mengangguk dengan lemah.“Ya terimakasih, taruh saja di meja,”Pelayan menaruh nampan di meja. Aruna melihat segelas susu hangat, dia mengambil gelas itu dan meminumnya. Seketika energinya kembali terisi dan tubuhnya tidak terlalu lemah lagi.Aruna teringat dengan momennya dengan pria itu dan dia merasa tidak nyaman. Wajahnya masam dan berkeringat. Tadinya dia ingin menyuap makanan, tapi dia berhenti dan meletakkan kembali sendoknya.Pelayan pikir ada yang sala
Saat berjalan di koridor, Satria sedang berbicara dengan tamunya seketika melihat bayangan Aruna. Pikir Satria, Aruna kabur lagi, Satria berdiri lalu mengikutinya. Sementara itu, Elara juga mengikuti Aruna, langkahnya langsung terhenti lantaran melihat Satria menyusul Aruna di kediaman Dion. Dari kejauhan Elara melihat Satria memeluk Aruna dari belakang, dan menciuminya dengan rakus. Pemandangan di gelap kolidor itu membuat Elara menangis. Elara memalingkan wajah lalu pergi. Aruna di setubuhi lagi di koridor. Gaunnya diangkat, CD-nya dirobek lalu didorong sambil dipeluk dari belakang. Aruna meremas tiang koridor sambil menungging. Buah dadanya diremas dari belakang. “Aah, aahh, Satria, lepaskan aku, ssh, aah, kamu sudah gila, oukh!” “Aruna sayang, ssh, aku selalu menginginkan tubuh ini, ouh, oh, oh, lubangmu lembut dan nikmat, sayang! Aku ingin terus siang dan malam, aahh, aah, ah.” “Satria, mmhh, oooukh, sshh, aaakh!” Cairan Aruna makin banyak dan membuat Satria makin ge
Di pintu Raka melihat pelayan sedang menemani bayi di kereta. Raka tidak sengaja melihat wajah anak itu. “Bayu kecil?” Gumamnya lalu buru-buru menutup mulutnya kembali. “Ti-tidak mungkin bukan? Apa Aruna sudah menipu semua orang? Bayi itu sangat mirip dengan Bayu Adiwangsa!” Raka masuk ke mobilnya, dan berusaha melupakan wajah bayi itu. Tidak lama setelah Raka pergi, Satria keluar dan melihat Dion. Elara juga berdiri disana sambil melipat tangannya. “Kenapa tidak menikah dengan wanita lain saja? Aruna tidak akan memiliki keturunan jika kalian menikah!” Tanyannya. Satria sangat marah mendegarnya. “Elara! Sejak kapan kamu berani ikut campur urusan pribadiku?! Siapapun wanita yang aku pilih itu sama sekali bukan urusanmu!” Tegasnya. *** Disisi lain, Raka langsung menuju kediaman Bayu dan langsung mengajaknya berunding. “Apa Kamu sudah bertemu dengan Aruna? Apa katanya?” Tanya Bayu dengan wajah tidak sabar. Raka menghela nafas lalu menjelaskannya. “Maaf, aku tidak bisa
Tubuh Aruna sudah di bawa ke kediaman Satria, Aruna sadar dia merasa dingin karena tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun, di bawahnya dia merasakan tekanan cepat dari seseorang yang dia kenal. “Okh, ouh, ouh Satria, ouh!” “Aruna, aku sudah bilang kamu adalah milikku!” Aruna sudah tidak tahan lalu mengangkat bokongnya ke atas. “Aaaahhh, aaahhh, aaahhh!” Cairannya langsung keluar membasahi seprei. Satria menatap penuh kepuasan lalu melumat bibirnya. “Aruna, kamu harus setuju untuk bersamaku!”Bisik Satria di telinga Aruna. Aruna menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa, mengertilah dengan keputusanku,” Aruna menatap dengan wajah memohon. Satria melumat kembali bibirnya dan buah dadanya, Aruna sudah terbiasa di perlakukan dengan liar oleh mafia itu jadi dia juga tidak melawan. “Ah, ah, ah, aku tidak mungkin membiarkanmu pergi Aruna, ah, akh!” Desahnya sambil terus mengayun bokongnya. Aruna menatap bayangan ya di cermin, Satria terus mendorong dengan sangat cepat. “Oooouh