Home / Mafia / SIMPANAN MAFIA GANAS / Bab 5. Gadis Kecil Itu

Share

Bab 5. Gadis Kecil Itu

Author: Ananda FJ
last update Last Updated: 2025-09-08 22:20:00

“Kamu mungkin sudah melupakannya, tapi alasan kenapa aku masih mengingat gadis ini karena dia adalah gadis kecil itu! Gadis ini sudah memberikan darahnya untukku.”

“Aku masih ingat saat jatuh dari pohon di panti, kepalaku dan kakiku terluka, aku hampir kehabisan darah. Gadis itu datang seperti peri yang baru saja turun dari surga, dia memberikan darahnya untuk membantuku.”

“Antara sadar dan tidak sadar, aku ingat gelang di tangan kanannya, dan masih terukir jelas di benakku, serta luka kecil di punggungnya.”

Satria mengamatinya ketika mereka kembali dipertemukan dalam pesta tiga tahun Dion. Saat itu, Aruna berdiri di depan foto dirinya dengan Dion di rumah yang ia bangun. Gaun yang dikenakannya memiliki punggung terbuka, dan luka kecil itu terasa sangat akrab bagi Satria.

Satria belum pernah seperti ini. Ia merasa ia tidak mungkin bisa menjadi pria seperti sekarang ini jika bukan Aruna yang dikenalnya.

Zidan mengeyitkan keningnya. “Aku harus mencarikan darah cadangan untuknya. Kamu juga baru sembuh, aku tidak mungkin mengambil semua darahmu untuk menyelamatkannya.”

Zidan segera keluar dari pintu. Ia memberikan selembar kertas kepada penjaga. “Carikan aku darah jenis ini!”

“Baik!”

Empat orang pergi mencari jenis darah yang dibutuhkan. Dua jam kemudian, mereka kembali dengan 4 kotak pendingin berisi kantong darah.

Karena tidak bisa langsung digunakan, Zidan harus memasukkannya ke dalam alat khusus milik keluarga Adiwa. Sementara itu, Satria sudah terlelap di samping Aruna.

Aruna terlelap selama lima jam. Ia baru sadarkan diri sekitar pukul tiga pagi. Zidan masih berada di sana, sibuk memeriksa data di komputernya, mencari tahu asal-usul Aruna.

Aruna kembali tidur karena tubuhnya terasa sangat lemas. Namun, melihat Satria di sampingnya, hatinya sedikit lega dan tidak khawatir lagi.

Melihat Aruna bergerak, Zidan segera berdiri dari kursinya untuk memeriksanya.

“Bagaimana kondisimu? Apakah kepalamu masih terasa pusing?”

Aruna menggelengkan kepalanya. “Perutku terasa sangat sakit, sepertinya luka di pinggang kananku kembali robek,” terangnya.

Zidan tersenyum. “Ya, sebelumnya aku sudah memintamu untuk beristirahat di kamar, tetapi kamu ditemukan di taman. Dan aku melihatmu memindahkan batu dengan kondisimu yang sekarang? Aku tahu kamu sudah bosan dirawat di sini, tapi pulihkan dirimu secepatnya jika kamu ingin keluar dari kediaman ini, oke!”

Zidan tersenyum lebar sambil menepuk bahunya pelan. Aruna tidak menjawab dan memutuskan untuk tidur kembali.

Darah milik Aruna dan Satria memang terhubung satu sama lain. Keduanya memiliki keunikan seperti hasil dari beberapa percobaan khusus. Entah bagaimana, keduanya bisa bertemu di panti asuhan.

Satria pikir dulu dia dibuang kedua orang tuanya di panti. Tapi sebenarnya tidak demikian.

Ben Adiwa, ketua mafia sebelumnya, memang membawa dua bayi, dan mereka adalah Aruna dan Satria. Ada gen khusus yang disuntikkan pada punggung kedua bayi itu hingga membekas seperti tanda lahir.

Sayangnya, perkembangan Aruna tidak cukup baik, dan Ben Adiwa menghentikan uji coba. Ia mengirim Aruna ke panti asuhan. Sementara Satria berhasil lulus uji coba, tetapi karena situasi berbahaya, ia juga tetap dikirim ke panti asuhan.

Dua anak itu dibesarkan di tempat yang sama, tanpa tahu siapa orang tua mereka sebenarnya.

Zidan terlihat sangat serius. Dia pernah memeriksa sel darah keluarga Adiwa, dan semua orang di keluarga ini memiliki sel darah jenis yang sama.

“Bagaimana bisa Aruna memilikinya? Dia tidak dibesarkan dari keluarga Satria. Anggota kepolisian memiliki sel darah keluarga Adiwa? Setahuku Aruna juga bukan bawahan keluarga Adiwa.”

Zidan merahasiakannya. Selama ini, belum pernah ada orang yang bisa mendonorkan darah langsung pada Satria karena gen khusus yang dimilikinya. Keluarga Adiwa bahkan harus memberikan peralatan khusus kepada Zidan untuk memproses darah yang dibutuhkan.

Melihat Aruna memiliki gen yang sama, membuat Zidan terkagum-kagum. Bagaimana mungkin bisa ada hal yang se-kebetulan ini.

Zidan menduga ada keterlibatan dan konspirasi yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Ia harus menemukan catatan lama keluarga itu sebelum ada orang lain yang menyadari kebenaran ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SIMPANAN MAFIA GANAS   Bab 15. Tuntutan Sang Kakek

    “Kita akan periksa ke dokter kandungan. Kamu belum datang bulan, mungkin saja kamu hamil. Jika benar, aku akan lebih berhati-hati lagi melakukannya,” ucap Bayu dengan lembut pada Aruna. Aruna mengangguk setuju. Ia segera mandi, dan setelah selesai, Bayu langsung membawanya ke dokter untuk pemeriksaan. Di rumah sakit, Bayu setia menemaninya masuk ke ruang periksa. Meski Aruna sudah terlambat datang bulan beberapa minggu, dokter menyatakan belum ada tanda-tanda kehamilan yang pasti walaupun sudah dilakukan tes. “Aku akan melakukannya lebih keras! Aruna, hari ini aku tidak akan ke kantor. Kita akan menghabiskan waktu di villa,” ujar Bayu penuh ambisi. Aruna meremas ujung roknya. Tubuhnya terasa sangat lelah, bahkan ia hampir tidak sanggup berjalan. “Malam saja, ya? Aku lelah, aku sungguh lelah, oke?” bujuknya. “Aruna, lusa kamu sudah harus pergi ke kediaman pria itu!” keluh Bayu. “Bayu, aku sungguh lelah. Aku janji nanti malam kamu bisa melakukannya beberapa kali. Aku akan membiarka

  • SIMPANAN MAFIA GANAS   Bab 14. Dipagut Gairah

    “Aruna, kamu tidak apa-apa?” Tanya Bayu.Aruna menggelengkan kepalanya.“Bagaimana kondisimu belakangan ini?” Tanyanya.“Aku baik-baik saja, hanya kakek yang selalu mendesakku untuk cepat-cepat membuatmu hamil, dia tidak sabar ingin cucu darimu,” jawabnya.Aruna mengingat masalah itu, tujuan Bayu mengikat kontrak memang untuk pendapatkan keturunan. Aruna sangat lelah, tapi kerja sama yang sudah disepakati tidak mungkin dia lupakan begitu saja.Aruna melepaskan seluruh bajunya lalu rebah di meja. Dia membuka kedua pahanya sambil berkata pada Bayu.Bayu sangat merindukannya. Dia melihat tubuh Aruna yang sangat dia inginkan; sudah tidak sabar ingin menjamahnya. Bayu mendekatinya, dia juga melepaskan piyamanya. Pertama-tama dia menyentuh sisi intim Aruna sambil mengelusnya dengan lembut.“Aruna, aku sangat merindukanmu….Hmh,”“Bayu, kamu tahu sebenarnya aku muak dengan semua ini? Keluargamu menganggapku seperti sebuah mesin yang tidak punya hati. Lakukan sekarang, jangan menundanya,” bisi

  • SIMPANAN MAFIA GANAS   Bab 13. Pagi yang Melelahkan

    Keesokan paginya Aruna merasa tulang belulangnya hancur. Baru beberapa hari tinggal dengan Satria, Aruna hanya diberi waktu untuk melayaninya.Pelayan masuk ke dalam kamar untuk mengantarkan sarapan. Melihat kamar Satria berantakan lagi, mereka tidak terkejut. Semua orang di kediaman itu tahu Aruna sangat dicintai oleh Satria, dan hampir setiap kali mereka mendengar suara desahan serta pekikan di balik pintu kamar tersebut.“Nona Runa, ini sarapan Anda,”Aruna bangun sambil menutup tubuhnya yang telanjang dengan selimut, lalu mengangguk dengan lemah.“Ya terimakasih, taruh saja di meja,”Pelayan menaruh nampan di meja. Aruna melihat segelas susu hangat, dia mengambil gelas itu dan meminumnya. Seketika energinya kembali terisi dan tubuhnya tidak terlalu lemah lagi.Aruna teringat dengan momennya dengan pria itu dan dia merasa tidak nyaman. Wajahnya masam dan berkeringat. Tadinya dia ingin menyuap makanan, tapi dia berhenti dan meletakkan kembali sendoknya.Pelayan pikir ada yang sala

  • SIMPANAN MAFIA GANAS   Bab 12. Aku Ingin Melakukannya Siang dan Malam

    Saat berjalan di koridor, Satria sedang berbicara dengan tamunya seketika melihat bayangan Aruna. Pikir Satria, Aruna kabur lagi, Satria berdiri lalu mengikutinya. Sementara itu, Elara juga mengikuti Aruna, langkahnya langsung terhenti lantaran melihat Satria menyusul Aruna di kediaman Dion. Dari kejauhan Elara melihat Satria memeluk Aruna dari belakang, dan menciuminya dengan rakus. Pemandangan di gelap kolidor itu membuat Elara menangis. Elara memalingkan wajah lalu pergi. Aruna di setubuhi lagi di koridor. Gaunnya diangkat, CD-nya dirobek lalu didorong sambil dipeluk dari belakang. Aruna meremas tiang koridor sambil menungging. Buah dadanya diremas dari belakang. “Aah, aahh, Satria, lepaskan aku, ssh, aah, kamu sudah gila, oukh!” “Aruna sayang, ssh, aku selalu menginginkan tubuh ini, ouh, oh, oh, lubangmu lembut dan nikmat, sayang! Aku ingin terus siang dan malam, aahh, aah, ah.” “Satria, mmhh, oooukh, sshh, aaakh!” Cairan Aruna makin banyak dan membuat Satria makin ge

  • SIMPANAN MAFIA GANAS   Bab 11. Aroma Kepuasan di Seprai

    Di pintu Raka melihat pelayan sedang menemani bayi di kereta. Raka tidak sengaja melihat wajah anak itu. “Bayu kecil?” Gumamnya lalu buru-buru menutup mulutnya kembali. “Ti-tidak mungkin bukan? Apa Aruna sudah menipu semua orang? Bayi itu sangat mirip dengan Bayu Adiwangsa!” Raka masuk ke mobilnya, dan berusaha melupakan wajah bayi itu. Tidak lama setelah Raka pergi, Satria keluar dan melihat Dion. Elara juga berdiri disana sambil melipat tangannya. “Kenapa tidak menikah dengan wanita lain saja? Aruna tidak akan memiliki keturunan jika kalian menikah!” Tanyannya. Satria sangat marah mendegarnya. “Elara! Sejak kapan kamu berani ikut campur urusan pribadiku?! Siapapun wanita yang aku pilih itu sama sekali bukan urusanmu!” Tegasnya. *** Disisi lain, Raka langsung menuju kediaman Bayu dan langsung mengajaknya berunding. “Apa Kamu sudah bertemu dengan Aruna? Apa katanya?” Tanya Bayu dengan wajah tidak sabar. Raka menghela nafas lalu menjelaskannya. “Maaf, aku tidak bisa

  • SIMPANAN MAFIA GANAS   Bab 10. Aaaakhhh! Ampun, Satria!

    Tubuh Aruna sudah di bawa ke kediaman Satria, Aruna sadar dia merasa dingin karena tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun, di bawahnya dia merasakan tekanan cepat dari seseorang yang dia kenal. “Okh, ouh, ouh Satria, ouh!” “Aruna, aku sudah bilang kamu adalah milikku!” Aruna sudah tidak tahan lalu mengangkat bokongnya ke atas. “Aaaahhh, aaahhh, aaahhh!” Cairannya langsung keluar membasahi seprei. Satria menatap penuh kepuasan lalu melumat bibirnya. “Aruna, kamu harus setuju untuk bersamaku!”Bisik Satria di telinga Aruna. Aruna menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa, mengertilah dengan keputusanku,” Aruna menatap dengan wajah memohon. Satria melumat kembali bibirnya dan buah dadanya, Aruna sudah terbiasa di perlakukan dengan liar oleh mafia itu jadi dia juga tidak melawan. “Ah, ah, ah, aku tidak mungkin membiarkanmu pergi Aruna, ah, akh!” Desahnya sambil terus mengayun bokongnya. Aruna menatap bayangan ya di cermin, Satria terus mendorong dengan sangat cepat. “Oooouh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status