Share

8. Godaan

Author: BandaNeira
last update publish date: 2026-10-03 12:00:28

Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum canggung. "Katanya sih wanginya enak dan tahan lama. Gue nggak terlalu ngerti soal begini. Tapi semoga lo suka Re," jawabnya tulus.

Rere terdiam. Sepanjang hidupnya tak pernah ada yang memberinya hadiah senilai ini. Bukan karena kurang mampu, tapi karena tak ada yang berusaha sekeras ini untuknya. Ia menatap botol itu lalu kembali menatap Dimas. Wajahnya yang biasanya ketus dan dingin perlahan melembut. Garis bibirnya yang selalu terkatu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   13. Rumit

    Belum sempat ia berbalik, suara pintu yang tertutup pelan terdengar dari seberang lorong. Dimas menoleh cepat. Pintu kamar Rere baru saja tertutup rapat. Ia tak melihat wajah Rere, tapi ia tahu gadis itu pasti melihat semuanya.Dimas menutup matanya sejenak, rasa bersalah langsung menyergap hatinya."Sampai ketemu besok Kak," pamitnya singkat, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya. Ia berjalan cepat menuju kamarnya sendiri dan menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.Ding![HARI 1 SELESAI!][Poin Sosial +3][Hubungan dengan Rere menurun! Cobalah perbaiki keesokan harinya!]Malam itu Dimas sulit terlelap. Pikirannya terus melayang ke pintu kamar Rere di seberang sana. Ia ingin sekali pergi mengetuk pintunya, menjelaskan bahwa tidak ada apa-apa antara dirinya dan Laras. Tapi ia tahu situasi ini akan terlihat semakin mencurigakan jika ia memaksakan diri masuk ke kamar Rere di jam yang sudah larut ini. Ia hanya bisa berharap Rere mau mendengarkan penjelasannya esok pagi.Keesoka

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   12. Misi.baru

    Vania tertawa pelan sambil menepuk kursi di sebelahnya. "Kalian ternyata sudah kenal? Baguslah. Laras itu sepupu jauh kita Dim. Dia baru pindah ke kota ini dan kebetulan butuh tempat tinggal sementara, jadi aku ajak dia menginap di sini dulu."Dimas menelan ludah. Ia menatap Laras yang berdiri anggun di hadapannya. Kini ia mengenakan pakaian yang jauh lebih santai, sebuah gaun tidur berbahan lembut berwarna krem yang jatuh rapi hingga di bawah lutut, namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang halus. Rambutnya yang panjang terurai bebas di bahu, dan wangi lembut yang sama kembali menyapa hidung Dimas."Jadi... Kak Laras akan tinggal di sini?" tanyanya pelan.Laras mengangguk ramah. "Kalau kamu tidak keberatan ya Dimas. Aku janji tidak akan merepotkan."Belum sempat Dimas menjawab, suara denting yang sudah terlalu dikenalnya terdengar lagi.Ding![MISI BARU AKTIF!][Bantu Laras beradaptasi selama 7 hari ke depan!][Syarat: Siap membantu kapan pun diminta][Hadiah: +20 Poin Sosial +

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   11. Laras

    "Kamu juga semangat," jawab Dimas pelan.Rere mengangguk lalu berjalan menaiki tangga. Dimas menatap punggungnya yang menjauh sebelum kembali menunduk menghabiskan sarapannya. Hatinya terasa hangat sekaligus tenang. Semua berjalan baik baik saja.Tak lama kemudian Dimas berangkat ke bengkel. Udara pagi terasa segar menyapa wajahnya. Ia menyusuri jalan dengan langkah ringan, pikirannya jernih dan siap bekerja. Sesampainya di bengkel, Pak Haris sudah menyambutnya dengan senyum ramah. Pekerjaan pagi itu berjalan lancar. Beberapa kendaraan datang untuk diperiksa dan Dimas mengerjakannya dengan teliti dan cekatan.Hingga sekitar pukul sepuluh pagi sebuah mobil sedan berwarna hitam berkilau meluncur pelan berhenti tepat di depan bengkel. Pintu pengemudi terbuka perlahan. Seorang wanita turun dari dalamnya.Dimas seketika berhenti mengelap tangannya. Matanya tak sengaja terpaku pada sosok itu.Wanita itu tampak sangat cantik. Wajahnya tirus dengan bibir yang berbentuk indah. Kulitnya tampak

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   10. Misi Rahasia

    Ciuman itu tak lagi lembut saja. Rere menekan bibirnya lebih erat, meminta lebih dalam, seakan haus akan kehadiran Dimas. Dimas membalasnya dengan sama, melupakan segala keraguan yang sempat menahan dirinya. Ia menarik pinggang gadis itu lebih dekat hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. Setiap lekuk tubuh Rere menempel rapat pada tubuhnya, terasa hangat, halus, dan nyata di balik kain yang nyaris tak ada bedanya dengan udara.Rere melepaskan ciuman itu sejenak, napasnya terengah-engah memburu di bibir Dimas. Matanya menatap tajam namun lembut, berbinar penuh hasrat yang tak bisa lagi dibendung."Jangan berhenti..." bisiknya serak, bibirnya menyapu sudut bibir Dimas lalu turun menyentuh rahangnya, menciumi setiap inci kulit yang terbakar panas. "Gue nggak mau berhenti sekarang..."Tangan Dimas merambat naik dari pinggang ke punggungnya, menyisir kulit halus yang terasa panas di bawah sentuhannya. Ia merasakan getaran halus yang menjalar di tubuh Rere setiap kali jemarinya menyent

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   9. Semakin panas

    Dimas memejamkan mata sejenak. Ia merasakan sentuhan jari Rere yang masih menempel di dadanya. Ia merasakan hawa hangat tubuh gadis itu. Dan di mana mana ia mencium wangi yang sama. Wangi yang ia belikan dengan tulus. Wangi yang kini seolah mengikatnya tak bisa lari ke mana mana."Re... jangan gini..." pinta Dimas suaranya nyaris tak terdengar.Rere mundur sedikit menatap wajah Dimas yang memerah padam. Senyumnya masih terukur di bibir. Ia tampak menikmati melihat Dimas yang tak berdaya begitu di hadapannya."Kenapa? Takut nggak bisa nahan diri?" tanyanya menggoda pelan.Dimas menghela napas kasar. Ia membuka matanya menatap Rere. "Bukan gitu. Kita ini saudara Re. Nanti kalau ada yang lihat...""Siapa yang lihat? Semua sudah tidur," potong Rere pelan. Ia kembali mendekat. Kali ini pipinya hampir menyentuh pipi Dimas. "Gue cuma mau bilang makasih. Cara lain nggak boleh ya?"Dimas terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Kepalanya terasa pening. Antara rasa ingin menjaga batas dan peras

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   8. Godaan

    Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum canggung. "Katanya sih wanginya enak dan tahan lama. Gue nggak terlalu ngerti soal begini. Tapi semoga lo suka Re," jawabnya tulus.Rere terdiam. Sepanjang hidupnya tak pernah ada yang memberinya hadiah senilai ini. Bukan karena kurang mampu, tapi karena tak ada yang berusaha sekeras ini untuknya. Ia menatap botol itu lalu kembali menatap Dimas. Wajahnya yang biasanya ketus dan dingin perlahan melembut. Garis bibirnya yang selalu terkatup rapat perlahan terangkat membentuk senyum yang sungguh sungguh tulus."Terima kasih Dim..." ucapnya pelan, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Nggak usah semahal ini juga sih..."Ding![REAKSI TARGET DITERIMA!][MISI SERAHKAN HADIAH SELESAI!][Hadiah: Poin Sosial +15][Bonus: Rere mulai mempercayai Host!][Keterampilan Baru: Daya Tarik Sosial Aktif!]Dimas menghela napas lega mendengar pemberitahuan itu. Ia tersenyum lebar. "Yang penting lo suka Re. Itu sudah cukup buat gue."Rere tersenyum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status