Share

03. Rahasia Kotor

Author: Tinta Terbang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-04 16:14:04

Yuan Rin perlahan melepaskan pelukannya. Pipinya seketika merona merah membayangkan betapa eratnya ia memeluk adiknya tadi.

Selama ini, ia tidak pernah memeluk adik tirinya seperti itu. Dan bahkan, ia sangat tidak suka jika adik tirinya berada di dekatnya.

"K-kau jangan salah paham. A-aku bukan tiba-tiba peduli denganmu. Aku cuma tidak mau kamu mati dan membuat ibu semakin sedih," Yuan Rin mendengus dan memalingkan wajahnya dari Xian Ren.

Xian Ren hanya tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu. Tatapan matanya yang tenang, semakin membuat Yuan Rin salah tingkah.

Han Yu yang memperhatikan mereka, hanya bisa tersenyum kecil.

"Rin, mumpung kamu ada di sini, antar Ibu turun sebentar ke toko di depan rumah sakit. Ibu ingin membeli kasur lipat dan beberapa persediaan lain," ucap Han Yu lembut sambil membetulkan selimut Xian Ren.

"Baik, Bu."

"Sayang, Ibu dan Kakakmu turun sebentar ya. Kamu istirahat saja dulu di sini. Kalau ada apa-apa, tekan saja bel di samping ranjangmu itu agar perawat segera datang ke sini," Han Yu mengusap lembut kepala Xian Ren.

"Iya, Bu. Aku mengerti," sahut Xian Ren pelan dan mengangguk singkat.

"Hei, awas ya. Kau jangan aneh-aneh selama kami tidak ada," ucap Yuan Rin sambil melotot pada adiknya itu.

Yuan Rin dan Han Yu akhirnya keluar dari kamar. Xian Ren menghela napas panjang.

Ia kemudian teringat oleh pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mengganjal di kepalanya—sejak ia terbangun di tubuh barunya ini. Ia ingin segera mencari tahu semua jawabannya saat ini.

"Hei Sistem. Aku ingin bertanya sesuatu," ucap Xian Ren sambil memusatkan pikirannya.

Layar biru transparan seketika muncul di depannya.

"Sistem. Jelaskan padaku, kenapa baru sekarang aku berada di tubuh remaja ini? Dan di mana jiwa asli Han Lim saat ini?'

Layar biru transparan mulai menampilkan baris demi baris informasi secara bertahap.

[Menjawab Inang: Terdapat jeda waktu selama tiga tahun (2027–2030) karena proses inkubasi kosmik dan penyesuaian energi Duality pasca insiden kematian Inang di masa lalu. Mendeteksi Jiwa Asli Han Lim: Jiwa Han Lim saat ini berada di alam kehampaan (batas antara alam kehidupan dan alam kematian). Setelah mengalami berbagai penderitaan selama hidupnya, rasa trauma dan kepedihan telah membuat jiwanya menolak untuk kembali ke tubuhnya untuk saat ini].

Xian Ren terdiam membaca informasi itu. Ia bisa merasakan betapa beratnya hidup yang dijalani oleh remaja ini.

"Lalu... kenapa aku yang dipilih untuk masuk ke tubuh ini?" lanjut Xian Ten bertanya.

Layar biru kembali berkedip, memperbarui teks informasi dengan lebih rinci.

[Analisis Pemilihan Inang: Berdasarkan hukum mutlak Sistem Duality, jiwa pengganti harus memiliki resonansi yang selaras dengan keinginan terakhir sang pemilik tubuh asli sebelum kematiannya. Rekam Jejak Keinginan Han Lim: Tepat sebelum tubuhnya terjatuh ke bawah, Han Lim mengeluarkan sebuah permohonan putus asa dalam hatinya—seandainya ia bisa menjadi seseorang yang lebih kuat dan bisa membalas semua orang-orang yang membuatnya menderita selama ini].

Layar kembali berkedip menampilkan teks baru.

[Sinkronisasi Jiwa Xian Ren: Pengorbanan di kehidupan lama Inang saat mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan seorang anak kecil, memberikan tiket aktivasi Sistem. Analisis Kecocokan: Jiwa Xian Ren yang di kehidupan lama dikenal sebagai seorang petarung tangguh, pemberani, tidak kenal takut, dinilai memiliki kecocokan dengan permohonan Han Lim. Kombinasi ini menciptakan sinkronisasi sempurna untuk membangkitkan takdir baru].

Xian Ren membaca seluruh penjelasan sistem tersebut dengan saksama. Ia mulai paham, jika dirinya bukan sekadar parasit yang masuk ke tubuh orang lain secara sembarangan. Kehadirannya di sini adalah takdir—sebuah jawaban atas jeritan putus asa dan harapan dari Han Lim.

"Hmmm, jadi begitu..." gumam Xian Ren pelan. "Hei Sistem, apa aku akan tetap berada di tubuh ini selamanya?"

[Analisis Persentase: 50:50. Pengikatan Jiwa Secara Permanen Tergantung Pada Setiap Tindakan Yang Dilakukan Dan Dampak Perubahan Yang Dilakukan Oleh Inang Dari Sekarang].

"Ahh, Baiklah," Xian Ren menganggukkan kepalanya.

"Han Lim, kau tenanglah dulu di alam sana. Aku akan membantumu membereskan semua kekacauan dan para bajingan yang sudah membuatmu menderita selama ini." Xian Ren menyeringai dingin.

---

Di area belakang gedung sebuah sekolah, lima orang siswa sedang berkumpul santai sambil menghisap rokok.

Tampak seorang pemuda dengan gaya angkuh diantara siswa tersebut. Pemuda itu bernama Ryu Wei—anak dari seorang pengusaha kaya sekaligus penyokong dana terbesar di sekolah itu.

Ryu Wei merupakan dalang utama perundungan di sekolah tersebut.

Seorang guru pria berjalan di dekat sana. Guru itu sempat berhenti dan menoleh ke arah Ryu Wei dan teman-temannya yang sedang merokok di lingkungan sekolah secara terang-terangan.

Sang guru lalu buru-buru memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak melihat kejadian tersebut. Ia pergi begitu saja—tanpa memberikan sanksi atau pun teguran pada mereka.

Ryu Wei tertawa melihat guru tersebut. Ia membuang rokoknya, lalu menatap ke arah teman-temannya.

"Apa kalian mendengar kabar terbaru soal si pecundang itu?" tanya Ryu Wei.

"Kami belum mendengar kabarnya lagi, Boss. Aku rasa si culun itu masih tidur nyenyak di rumah sakit. Hahahaha," ucap Lee—salah satu teman Ryu—sambil tertawa mengejek.

"Hahaha! Benar sekali! Aku berharap si pecundang itu tidak akan pernah bangun lagi," sahut Dao—siswa lain yang juga teman Ryu.

"Tapi aku heran, kenapa dia masih belum juga mati. Padahal waktu itu kita menghajarnya sangat keras. Bahkan mukanya sudah mirip seperti adonan kue yang hancur," timpal Chen—siswa lainnya.

"Aku ingat ekspresi wajahnya yang memelas dan menangis saat Ryu ingin mendorong tubuhnya dari atas. Benar-benar sangat konyol. Hahahaha," ucap Ming Tao, sambil tertawa terbahak-bahak.

Ryu Wei tersenyum dingin. "Anak itu memang tidak berguna. Itulah akibat dia berani menolak untuk mengerjakan tugas sekolahku. Tapi tenang saja, kepala sekolah sudah membereskan semuanya. Kita aman. Lagipula, siapa yang peduli dengan orang miskin seperti dia?"

Mereka tertawa dengan keras, menjadikan penderitaan dan kondisi yang sedang dialami oleh Han Lim sebagai sebuah lelucon yang menggelikan.

Di balik dinding tembok tak jauh dari tempat mereka berkumpul, tampak seseorang siswi yang berdiri diam mendengarkan semua percakapan itu.

Kedua tangannya mengepal kuat, dadanya sedikit sesak karena menahan amarah dan keterkejutan yang luar biasa.

'Ternyata mereka yang membuat Han Lim menjadi seperti itu,' batin siswi itu dengan pandangan yang tertuju pada Ryu Wei dan teman-temannya.

'Dan pihak sekolah juga mengetahui kebenaran ini? Tapi kenapa pihak sekolah berbohong kepada publik dengan mengatakan kalau Han Lim terpeleset dari lantai dua lalu terjatuh sendiri?'

Siswi itu segera bersembunyi saat mendengar Ryu Wei dan teman-temannya pergi meninggalkan area belakang sekolah.

Ia memejamkan matanya. Kebohongan besar sekolah dan kekejaman geng Ryu Wei kini telah terekam jelas di kepalanya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • SISTEM GANDA: KEHIDUPAN KEDUA XIAN REN   08. Misi Awal: Merebut Kembali Hak Siswa

    "Han Lim... Tante... Ayo ikut aku sekarang. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan pada kalian."Han Yu mengusap sisa air matanya di pipi. Ia menatap Shuling dengan bingung."Ada apa, Shuling? Kenapa kita harus ke sana?"Shuling melirik ke arah koridor sekolah yang mulai ramai dan dipenuhi siswa-siswa dan juga para guru."Di sini terlalu banyak orang, Tante. Aku akan menjelaskannya di taman belakang yang sepi. Ayo kita ke sana."Xian Ren memperhatikan raut wajah gadis itu dari dekat. Shuling tampak sangat gugup dan cemas. Ia melihat gadis itu beberapa kali menggigit bibirnya—seolah sedang menyembunyikan sesuatu."Baiklah. Ayo," sahut Xian Ren singkat.Mereka bertiga berjalan dengan tergesa-gesa menuju taman kecil yang letaknya berada di belakang gedung sekolah. Taman itu tampak sepi karena tertutup pepohonan rindang dan jarang dikunjungi para siswa maupun guru.Setelah memastikan tidak ada orang lain yang berada di sekitar tempat itu, Shuling menghentikan langkahnya di dekat sebuah kursi.

  • SISTEM GANDA: KEHIDUPAN KEDUA XIAN REN   07. Kesaksian Palsu Pak Hwang

    Sambungan telepon kemudian berakhir. Han Yu masih berdiri di dekat meja sambil memegang gagang telepon dengan tangan gemetar. Wajahnya menjadi pucat, matanya mulai berkaca-kaca."Ibu, ada apa?" tanya Xian Ren yang memperhatikan perubahan ibunya itu.Han Yu tidak menjawab, air mata mulai menetes di pipinya."Bu?" Xian Ren mulai panik. Ia segera berdiri lalu mendekat ke arah ibunya.Han Yu meletakkan gagang telepon. Napasnya tersengal-sengal. Ia memeluk Xian Ren yang kini berdiri di dekatnya."Pihak sekolah mengeluarkanmu, Han," ucap Han Yu dengan suara bergetar dan terisak-isak."Mengeluarkanku?" Xian Ren mengernyitkan dahinya.Han Yu mendongak, menatap wajah anak tirinya tersebut. "Mereka bilang, keputusan itu dibuat oleh komite sekolah saat rapat kemarin.""Apa alasannya, Bu?""Komite sekolah mengatakan kalau kecelakaan yang kamu alami terjadi karena kamu melanggar beberapa aturan keselamatan sekolah.”Xian Ren terdiam mendengar ucapan itu."Ibu benar-benar tidak percaya pihak sekola

  • SISTEM GANDA: KEHIDUPAN KEDUA XIAN REN   06. Resonansi Keintiman

    Setelah mengurus seluruh berkas administrasi kepulangan dan menaiki sebuah mobil taksi yang mereka pesan, Han Yu dan Xian Ren akhirnya tiba di depan rumah berlantai dua beberapa menit kemudian. Rumah itu adalah rumah yang selama ini mereka tempati—peninggalan dari mendiang suami Han Yu yang juga merupakan ayah kandung Han Lim.Xian Ren keluar dari taksi dengan tenang. Walau tubuhnya sudah dipulihkan oleh Ramuan Pemulihan Otot dari Sistem Duality kemarin, ia tetap berpura-pura berjalan lemas agar Han Yu tidak mencurigai pemulihan tubuhnya yang mendadak."Pelan-pelan saja, Han. Biar Ibu membantumu berjalan," ucap Han Yu lembut seraya merangkul lengan anak tirinya dan menuntunnya berjalan ke pekarangan rumah.Han Yu memencet bel rumah. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya membukakan pintu dari dalam. Wanita itu tak lain adalah Bibi Xue Fang yang berusia 43 tahun."Ah, kalian sudah pulang? Ayo masuk," Bibi Xue Fang tersenyum.Han Yu menuntun Xian Ren berjalan ke dalam rumah. Seor

  • SISTEM GANDA: KEHIDUPAN KEDUA XIAN REN   05. Percakapan Rahasia dan Ramuan Pemulihan

    Shuling—seorang siswi berparas cantik dengan rambut panjang yang terurai—tampak tidak fokus mendengarkan penjelasan dari sang guru di depan kelas.Matanya tertuju ke barisan belakang kelas, menatap ke arah Ryu Wei dan teman-temannya yang tertawa sambil bermain ponsel di tengah jam pelajaran—tanpa menghiraukan gurunya di depan kelas.Raut wajah Shuling dipenuhi amarah yang tertahan sejak ia mendengar percakapan Ryu Wei di belakang sekolah kemarin. Ia ingin sekali mendatangi Han Yu—ibu dari Han Lim—untuk membongkar semua kelakuan busuk Ryu Wei yang menyebabkan Han Lim sampai koma.Namun, jika ia cuma bermodalkan apa yang hanya ia dengar kemarin, pihak sekolah pasti akan menyangkalnya dengan mudah. Shuling butuh bukti lain untuk bisa membongkar semua kejahatan itu.Saat bel istirahat berbunyi, Shuling bergegas keluar kelas—bermaksud mengikuti Ryu Wei dan teman-temannya secara diam-diam. Namun langkahnya terhenti di koridor depan ruang Kepala Sekolah. "Tentu saja, Tuan Wei. Masalah wakt

  • SISTEM GANDA: KEHIDUPAN KEDUA XIAN REN   04. Insiden di Tengah Malam

    Beberapa jam kemudian, pintu kamar terbuka dari luar. Han Yu dan Yuan Rin masuk ke dalam ruangan sambil membawa kantong plastik berisi kasur lipat dan beberapa perlengkapan cuci muka yang baru mereka beli dari toko di depan rumah sakit.Xian Ren yang tadi sempat tertidur sebentar, segera membuka matanya. Ia menatap ibu dan kakak tirinya itu."Ah, Han. Maafkan kalau membuatmu terbangun," ucap Han Yu dengan senyum lembutnya. Ia meletakkan kasur lipat itu di dekat dinding, lalu menata perlengkapan mandinya di atas meja."Hei adikku yang bodoh. Apa kau lapar?" Yuan Rin berjalan mendekati meja. Ia mengambil satu apel merah dari sana, lalu menarik kursi ke dekat ranjang.Yuan Rin duduk di tepi ranjang di samping Xian Ren. Ia mengupas kulit apel merah itu dengan perlahan. Sesekali melirik ke arah Xian Ren yang sudah bersandar sambil menatap ke arahnya."Bu. Apa kata dokter tentang kondisi Han?" tanya Yuan Rin, sambil terus mengupas kulit apel di tangannya. "Kapan Han diperbolehkan pulang dar

  • SISTEM GANDA: KEHIDUPAN KEDUA XIAN REN   03. Rahasia Kotor

    Yuan Rin perlahan melepaskan pelukannya. Pipinya seketika merona merah membayangkan betapa eratnya ia memeluk adiknya tadi. Selama ini, ia tidak pernah memeluk adik tirinya seperti itu. Dan bahkan, ia sangat tidak suka jika adik tirinya berada di dekatnya. "K-kau jangan salah paham. A-aku bukan tiba-tiba peduli denganmu. Aku cuma tidak mau kamu mati dan membuat ibu semakin sedih," Yuan Rin mendengus dan memalingkan wajahnya dari Xian Ren. Xian Ren hanya tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu. Tatapan matanya yang tenang, semakin membuat Yuan Rin salah tingkah. Han Yu yang memperhatikan mereka, hanya bisa tersenyum kecil. "Rin, mumpung kamu ada di sini, antar Ibu turun sebentar ke toko di depan rumah sakit. Ibu ingin membeli kasur lipat dan beberapa persediaan lain," ucap Han Yu lembut sambil membetulkan selimut Xian Ren. "Baik, Bu." "Sayang, Ibu dan Kakakmu turun sebentar ya. Kamu istirahat saja dulu di sini. Kalau ada apa-apa, tekan saja bel di samping ranjangmu itu agar per

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status