LOGINBeberapa jam kemudian, pintu kamar terbuka dari luar. Han Yu dan Yuan Rin masuk ke dalam ruangan sambil membawa kantong plastik berisi kasur lipat dan beberapa perlengkapan cuci muka yang baru mereka beli dari toko di depan rumah sakit.
Xian Ren yang tadi sempat tertidur sebentar, segera membuka matanya. Ia menatap ibu dan kakak tirinya itu.
"Ah, Han. Maafkan kalau membuatmu terbangun," ucap Han Yu dengan senyum lembutnya. Ia meletakkan kasur lipat itu di dekat dinding, lalu menata perlengkapan mandinya di atas meja.
"Hei adikku yang bodoh. Apa kau lapar?" Yuan Rin berjalan mendekati meja. Ia mengambil satu apel merah dari sana, lalu menarik kursi ke dekat ranjang.
Yuan Rin duduk di tepi ranjang di samping Xian Ren. Ia mengupas kulit apel merah itu dengan perlahan. Sesekali melirik ke arah Xian Ren yang sudah bersandar sambil menatap ke arahnya.
"Bu. Apa kata dokter tentang kondisi Han?" tanya Yuan Rin, sambil terus mengupas kulit apel di tangannya. "Kapan Han diperbolehkan pulang dari sini?"
Han Yu menoleh ke arah Yuan Rin, lalu menoleh ke arah Xian Ren sambil menghela napasnya.
"Kalau tidak ada demam susulan atau pun komplikasi lain dalam dua atau tiga hari ke depan, Han sudah boleh rawat jalan di rumah," jawab Han Yu. "Tapi kita tetap harus rajin membantunya terapi fisik. Otot-otot tubuhnya masih sangat lemah karena terlalu lama berbaring."
Yuan Rin mengangguk mendengar ucapan ibunya. Ia memotong buah apel yang sudah bersih itu menjadi beberapa bagian kecil.
"Baguslah kalau begitu. Aku sudah bosan bolak-balik ke rumah sakit setiap hari," gumam Yuan Rin dingin. Ia menyodorkan sepotong apel ke mulut Xian Ren. "Makan ini. Kau butuh nutrisi agar tidak semakin kurus."
Xian Ren membuka mulutnya, lalu mengunyah apel itu secara perlahan.
"Terima kasih, Kak," ucap Xian Ren pelan. Suaranya masih terdengar sedikit serak.
"Hei, sejak kapan kau menjadi anak yang manis seperti ini?" Yuan Rin mengernyitkan dahinya, lalu tertawa—bermaksud menggoda sang adik.
Han Yu berjalan berdiri mendekati Yuan Rin. "Malam ini, biar Ibu saja yang tidur di rumah sakit untuk menjaga adikmu. Kamu pulang saja, Rin. Beristirahatlah di rumah." Han Yu mengusap bahu putrinya dengan lembut.
"Ibu yakin tidak apa-apa sendirian di sini? Aku bisa menemani ibu di sini kalau Ibu capek." Yuan Rin menatap wajah ibunya, lalu kembali menyuapi apel ke mulut Xian Ren.
"Tidak usah, Sayang. Kamu kan besok harus kuliah. Lagipula nanti malam Paman dan Bibimu mau datang menginap di rumah sekalian menemanimu."
'Paman dan Bibi?' batin Xian Ren, mencoba mengingat.
Tiba-tiba layar biru transparan berkedip dan melayang di udara—tepat di depan matanya.
[DING!]
[Pemberitahuan Sistem Duality: Terdeteksi Potensi Konflik Keluarga. Informasi Target Sekunder: Paman Yuze dan Bibi Xue Fang (Keluarga Han Lim). Catatan Sistem: Merekam Niat Buruk/Manipulatif Terhadap Han Yu. Rekomendasi: Lindungi Han Yu Saat Pulang Ke Rumah].
Xian Ren membaca baris demi baris kalimat berwarna putih terang di layar tersebut.
Seulas senyum dingin terukir di bibirnya.
"Kamu kenapa, Han? Apa ada yang sakit lagi? Kenapa kamu tersenyum begitu?" tanya Han Yu, wajahnya tampak bingung.
Xian Ren segera tersadar. Ia menggelengkan kepala dan menoleh ke arah Han Yu. "Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya teringat kejadian lucu di sekolah."
"Kamu jangan terlalu banyak pikiran dulu. Cepat habiskan apelnya lalu istirahatlah lagi," Han Yu mengusap rambut Xian Ren dengan penuh kasih sayang.
"Kau memang aneh," Yuan Rin kembali menyuapi apel ke mulut adiknya.
Tak lama setelah itu, Yuan Rin bersiap-siap untuk pulang.
"Kamu harus banyak beristirahat biar cepat kembali normal. Kalau ada apa-apa, minta tolong pada ibu. Oke," ucap Yuan Rin. Ia mencium kening Xian Ren.
"Baik, kak." Xian Ren mengangguk dan tersenyum.
"Bu, aku pulang dulu. Kabari aku jika ada apa-apa." Yuan Rin melambaikan tangan pada ibunya, lalu berjalan ke arah pintu.
"Hati-hati di jalan," ucap Han Yu, menatap putrinya yang berjalan keluar dari pintu.
---
Malam harinya.
Suasana di dalam kamar rumah sakit berubah menjadi sunyi. Lampu utama ruangan sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu dinding kecil yang menyala samar di sudut dekat pintu kamar.
Han Yu tidur di atas kasur lipat yang dibentang di atas lantai—tepat di samping ranjang tempat Xian Ren berbaring. Wanita itu tampak tertidur lelap.
Xian Ren mendadak terbangun. Tubuhnya terasa pegal karena terlalu lama berbaring dalam posisi terlentang.
Ia memiringkan posisinya perlahan-lahan ke arah samping ranjang. Matanya langsung tertuju pada sosok Han Yu yang sedang tidur di bawah sana.
Pakaian tidur yang dikenakan oleh Han Yu, tampak ketat dan sedikit terangkat ke atas. Xian Ren bisa melihat dengan jelas bentuk dada Han Yu yang padat dan besar. Lekuk panggul serta bokongnya yang bulat dan berisi, tampak begitu menggoda
Wajah cantik Han Yu terlihat begitu polos saat tidur, napasnya terdengar teratur. Xian Ren menelan ludah melihat pemandangan indah tubuh ibu tirinya itu.
Sebagai seorang pria dewasa, hasrat alaminya bergejolak secara liar dalam hitungan detik. Napasnya mulai tidak teratur. Tanpa bisa ia tahan, pusakanya menegang keras di area selangkangan dan menonjol dari balik celananya.
Layar biru kembali berkedip dan melayang di depan dadanya.
[DING!]
[Target Han Yu Terdeteksi dalam Kondisi Rentan. Status Target: Mengirimkan Aura Keintiman Pasif. Rekomendasi Sistem: Tingkatkan Interaksi Fisik Secara Bertahap untuk Mendapatkan Poin Duality Tambahan & Membuka Fitur Baru].
Xian Ren menyeringai tipis membaca pesan dari Sistem tersebut. Matanya tertuju pada teks di layar transparan yang melayang di udara, mencoba mencerna informasi itu.
Han Yu terdengar melenguh pelan. Wanita itu bergeser dan perlahan membuka matanya. Tenggorokannya terasa kering dan ia juga merasa ingin buang air kecil.
Han Yu segera duduk di atas kasur lipatnya. Ia terkejut melihat Xian Ren yang sudah bangun dan menatap ke arah kosong di depannya sambil menyeringai kecil.
"Han? Kamu kenapa melamun begitu di tengah malam?" tanya Han Yu dengan raut wajah yang masih tampak bingung.
Xian Ren terkejut dan buru-buru menoleh ke arah ibu tirinya dengan canggung. "E-eh... Tidak apa-apa, Bu. Aku cuma terbangun tadi."
"Oh... ibu mau ke kamar mandi sebentar." Han Yu berdiri dan berjalan menuju pintu.
Ia berjalan dalam kondisi pandangan yang masih agak samar karena belum sepenuhnya sadar. Pencahayaan kamar yang remang-remang membuat jarak pandangnya terbatas.
Kakinya secara tidak sengaja tersangkut pada ujung lipatan selimut yang menjuntai dari atas ranjang Xian Ren.
"Kyyaaa!"
Han Yu kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya langsung roboh dan ambruk ke arah depan—tepat ke atas ranjang tempat Xian Ren terbaring.
Wajah dan bibir Han Yu mendarat tepat dibagian selangkangan Xian Ren yang sejak tadi sedang menegang di balik celana.
Aroma tubuh yang khas bercampur napas hangat dari mulut Han Yu terasa begitu jelas dan menerpa langsung ke area sensitif milik Xian Ren.
"Arghh..." Han Yu menahan napasnya, matanya melotot melihat tonjolan itu.
Benda keras yang menegang di balik celana itu begitu dekat di bibirnya. Napasnya memburu, jantungnya mendadak berdetak tidak karuan. Pipinya seketika merah merona—merasa malu sekaligus canggung.
"M-Maafkan Ibu, Han! Ibu benar-benar tidak sengaja!" ucap Han Yu, suaranya terdengar gemetar.
"T-Tidak apa-apa, Bu," ucap Xian Ren, menatap ke arah wajah ibunya yang masih berada di depan selangkangannya.
Dengan tubuh yang agak gemetaran, Han Yu buru-buru berdiri. Ia sama sekali tidak berani menatap wajah Xian Ren. Ia langsung berbalik dan berjalan keluar dari dalam kamar menuju kamar mandi di luar.
Layar biru kembali berkedip dan muncul di depan mata Xian Ren.
[DING!]
[Interaksi Tak Terduga Terdeteksi! Target: Han Yu mengalami Rasa Malu & Terangsang Reaktif. Hadiah Tambahan: +25 Poin Duality. Status Energi Duality Saat Ini: 35/100].
Xian Ren membaca informasi tersebut. Ia mengusap wajahnya, lalu tersenyum lebar.
"Sialan... Insiden yang benar-benar bagus."
Xian Ren menatap Bu Mei dengan wajah yang begitu tenang—memberikan rasa aman bagi wanita di hadapannya itu."Saya berjanji, Bu Mei. Informasi ini tidak akan pernah keluar dari mulut saya, apalagi menyebut nama Ibu."Bu Mei mengembuskan sedikit napas lega. Ia memegang dadanya seraya mendekat ke arah meja."Ibu sebenarnya tidak melihat kejadian saat kamu jatuh itu secara langsung, Lim," ujar Bu Mei perlahan. "Tapi Ibu mengetahui sesuatu yang penting... sehari setelah insiden kamu jatuh dari atap.""Maksud Ibu... Informasi apa yang Ibu ketahui setelah insiden yang menimpa saya itu?"Bu Mei menarik napas panjang dan mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu yang selalu ia rahasiakan."Sehari setelah insiden itu, Ibu berniat mengantar dokumen ke ruangan Pak Choi," ujar Bu Mei dengan suara pelan. "Saat Ibu sudah berdiri di depan pintu ruangannya, Ibu mendengar percakapan antara Pak Hwang dan Pak Choi.""Percakapan?" Xian Ren mengerutkan dahinya.Bu Mei mengangguk. "Sebenarnya... Pak Hw
Bu Mei dengan cepat menarik tangannya seraya memalingkan pandangannya. Raut wajahnya mendadak canggung sambil berusaha menutupi getaran halus yang sempat merambat di lengannya."A-ah... Maaf, Lim. Ibu tidak sengaja.""Tidak apa-apa, Bu Mei," ucap Xian Ren dengan raut wajah tenang.Bu Mei mengembuskan napas pendek, debaran di dadanya masih terasa. Ia kemudian merapikan piring-piring di meja dan mempersilahkan Xian Ren untuk duduk. "Silakan duduk, Lim. Makanan sudah siap semua."Mereka berdua duduk berhadapan. Di atas meja sudah tersaji beberapa masakan rumahan yang masih hangat. Suasana diawali dengan keheningan singkat.Bu Mei mengambilkan nasi dan lauk untuk Xian Ren."Silakan dimakan, Lim. Ibu harap rasanya pas di lidahmu," ujar Bu Mei sambil menyunggingkan senyum tipis."Terima kasih, Bu Mei. Kelihatannya enak sekali."Percakapan di antara mereka awalnya mengalir dengan topik-topik santai dan umum. Bu Mei menanyakan perkembangan pelajaran di kelas, bagaimana tanggapan Xian Ren ter
Xian Ren sedang rebahan di kamarnya sore itu. Matanya menatap ke arah langit-langit kamar, sementara pikirannya terus berputar memikirkan semua kejadian yang terjadi belakangan ini."Hmm... Aku jadi penasaran... Kira-kira Han Lim mau menyebut nama siapa waktu di mimpi itu?" gumamnya pelan seraya menghela napas panjang. Rasa penasaran itu masih terus mengganjal di dalam dadanya.Ponsel di sampingnya bergetar pendek—menandakan ada sebuah pesan masuk. Xian Ren segera meraih ponselnya. Pesan itu berasal dari Bu Mei. Wanita itu mengirimkan alamat rumahnya serta pesan singkat."Han Lim, ini alamat rumah Ibu. Kamu bisa datang sekitar jam 7 malam ini. Ibu tunggu."Xian Ren membaca pesan tersebut dan mengetik balasan singkat untuk Bu Mei."Baik, Bu Mei. Saya akan datang tepat waktu."Setelah mengirimkan pesan tersebut, sebuah pesan baru kembali masuk. Kali ini dari Shuling."Lim. Kamu lagi apa?"Xian Ren tersenyum tipis membacanya, lalu membalas."Tidak ada. Cuma lagi santai saja di kamar. Ken
Xian Ren tertidur lelap. Namun, kesadarannya seketika ditarik ke dalam sebuah ruang kehampaan yang tak bertepi. Di sekelilingnya hanya ada ruangan kosong yang luas dan sebuah titik cahaya jauh di depan sana."Di mana aku, sekarang?" Ia menatap sekelilingnya dengan raut wajah bingung.Saat ia melihat ke arah depan, seorang pemuda sedang berdiri membelakangi dirinya. Pemuda itu kemudian berbalik dan menatap ke arahnya."Kau... Han Lim?" Xian Ren tersentak pelan.Han Lim menatap Xian Ren dengan raut wajah tenang dan tersenyum tipis."Terima kasih, Xian Ren..." ucapnya pelan."Terima kasih untuk apa?""Terima kasih karena kau sudah bersedia tinggal di tubuhku dan memperbaiki nama baik serta reputasiku di sekolah."Xian Ren menggeleng. "Aku belum banyak melakukan sesuatu untukmu.""Tetap saja aku harus berterima kasih."Xian Ren menatap Han Lim, mengingat beberapa teka-teki yang masih mengganjal di pikirannya. "Han Lim. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu.""Apa yang ingin kau ta
Xian Ren berjalan ke arah halte bus. Ia melihat Shuling yang berdiri gemetar di belakang tubuh Yuan En. Sementara Ryu Wei tampak berdiri di depan Yuan En dan saling beradu pandang."Ada apa ini?" ucap Xian Ren seraya menghampiri mereka.Ryu Wei melirik ke arah Xian Ren. Wajahnya masih terlihat kesal bercampur emosi. Namun, ingatan tentang bagaimana ia dan teman-temannya dihajar oleh Xian Ren seketika melintas lagi di kepalanya. Ryu Wei mendesis kasar. "Cih, tidak ada apa-apa! Ayo pergi!" ujarnya pada keempat temannya. Ia segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan lokasi tersebut.Xian Ren mengerutkan keningnya menatap kepergian Ryu Wei dan teman-temannya. Ia kemudian melirik ke arah Yuan En. Baru saja ia ingin kembali bertanya, bus jemputan mereka kemudian datang dan berhenti di depan halte."Busnya sudah datang. Ayo cepat naik," ujar Yuan En seraya bergegas masuk ke dalam bus sambil menarik lengan Xian Ren dengan cepat. Shuling mengikuti dari belakang. Wajahnya masih tampak pu
Pak Choi mengangguk cepat, tubuhnya gemetar. "B-baik, Tuan Wei! Saya mengerti! Saya akan mencari cara untuk membereskan masalah ini!""Bagus. Aku harap kau menepati ucapanmu itu." Tuan Wei mendengus kasar. "Pak Choi, cepat kau panggil wali kelas mereka ke sini. Aku ingin bicara dengannya.""B-baik, Tuan Wei."Pak Choi segera menghubungi Bu Mei melalui telepon internal. Tak butuh waktu lama, Bu Mei mengetuk pintu lalu melangkah masuk ke ruangan dengan raut bingung sekaligus cemas."Permisi, Pak Choi. Ada apa Bapak memanggil saya?" ucap Bu Mei pelan.Tuan Wei berbalik dan menatap Bu Mei dengan tajam. "Apa kau wali kelas Han Lim dan Ryu Wei?""I-iya, Tuan Wei. Saya Lian Mei, wali kelas mereka," jawab Bu Mei seraya menundukkan kepalanya."Dengar, Bu Mei..." Tuan Wei berjalan mendekati wanita itu. "Mulai sekarang, aku ingin kau mengawasi Han Lim agar tidak mencari masalah dengan anakku. Dan jangan biarkan dia menyentuhnya. Apa kau paham?!""Tapi... Tuan Wei. Saya—""Jangan membantah!" poto







