Mag-log inXian Ren turun dari Bus dan berjalan menuju rumahnya. Ia mengambil kunci rumah cadangan yang ia bawa, lalu membuka pintu dan segera masuk ke dalam."Kak Rin, kenapa belum tidur? Apa kakak sengaja menungguku?" ujar Xian Ren sambil tersenyum jahil saat melihat kakak tirinya itu masih menonton TV di ruang keluarga."E-eh! Kamu ini sembarangan bicara. Aku hanya belum ngantuk," ujar Yuan Rin sedikit malu.Xian Ren melepas jaketnya lalu duduk di sofa, tak jauh dari posisi kakak tirinya."Mana Ibu?""Ibu sudah tidur duluan." Yuan Rin menoleh dan melirik ke arah adik tirinya itu. "Bagaimana makan malammu dengan Bu Mei tadi, Han?""Biasa saja, Kak," jawab Xian Ren santai. Ia kemudian menatap Yuan Rin dengan raut wajah yang lebih serius. "Kak Rin... aku boleh tanya sesuatu?"Yuan Rin menaikkan sebelah alisnya. "Mau tanya apa?""Kak Rin ingat tidak, sehari atau dua hari sebelum aku jatuh dan koma dulu, apa aku sempat pergi ke mana?" ujar Xian Ren perlahan. "Atau... apa Kak Rin merasa ada sesuatu
Xian Ren menatap Bu Mei dengan wajah yang begitu tenang—memberikan rasa aman bagi wanita di hadapannya itu."Saya berjanji, Bu Mei. Informasi ini tidak akan pernah keluar dari mulut saya, apalagi menyebut nama Ibu."Bu Mei mengembuskan sedikit napas lega. Ia memegang dadanya seraya mendekat ke arah meja."Ibu sebenarnya tidak melihat kejadian saat kamu jatuh itu secara langsung, Lim," ujar Bu Mei perlahan. "Tapi Ibu mengetahui sesuatu yang penting... sehari setelah insiden kamu jatuh dari atap.""Maksud Ibu... Informasi apa yang Ibu ketahui setelah insiden yang menimpa saya itu?"Bu Mei menarik napas panjang dan mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu yang selalu ia rahasiakan."Sehari setelah insiden itu, Ibu berniat mengantar dokumen ke ruangan Pak Choi," ujar Bu Mei dengan suara pelan. "Saat Ibu sudah berdiri di depan pintu ruangannya, Ibu mendengar percakapan antara Pak Hwang dan Pak Choi.""Percakapan?" Xian Ren mengerutkan dahinya.Bu Mei mengangguk. "Sebenarnya... Pak Hw
Bu Mei dengan cepat menarik tangannya seraya memalingkan pandangannya. Raut wajahnya mendadak canggung sambil berusaha menutupi getaran halus yang sempat merambat di lengannya."A-ah... Maaf, Lim. Ibu tidak sengaja.""Tidak apa-apa, Bu Mei," ucap Xian Ren dengan raut wajah tenang.Bu Mei mengembuskan napas pendek, debaran di dadanya masih terasa. Ia kemudian merapikan piring-piring di meja dan mempersilahkan Xian Ren untuk duduk. "Silakan duduk, Lim. Makanan sudah siap semua."Mereka berdua duduk berhadapan. Di atas meja sudah tersaji beberapa masakan rumahan yang masih hangat. Suasana diawali dengan keheningan singkat.Bu Mei mengambilkan nasi dan lauk untuk Xian Ren."Silakan dimakan, Lim. Ibu harap rasanya pas di lidahmu," ujar Bu Mei sambil menyunggingkan senyum tipis."Terima kasih, Bu Mei. Kelihatannya enak sekali."Percakapan di antara mereka awalnya mengalir dengan topik-topik santai dan umum. Bu Mei menanyakan perkembangan pelajaran di kelas, bagaimana tanggapan Xian Ren ter
Xian Ren sedang rebahan di kamarnya sore itu. Matanya menatap ke arah langit-langit kamar, sementara pikirannya terus berputar memikirkan semua kejadian yang terjadi belakangan ini."Hmm... Aku jadi penasaran... Kira-kira Han Lim mau menyebut nama siapa waktu di mimpi itu?" gumamnya pelan seraya menghela napas panjang. Rasa penasaran itu masih terus mengganjal di dalam dadanya.Ponsel di sampingnya bergetar pendek—menandakan ada sebuah pesan masuk. Xian Ren segera meraih ponselnya. Pesan itu berasal dari Bu Mei. Wanita itu mengirimkan alamat rumahnya serta pesan singkat."Han Lim, ini alamat rumah Ibu. Kamu bisa datang sekitar jam 7 malam ini. Ibu tunggu."Xian Ren membaca pesan tersebut dan mengetik balasan singkat untuk Bu Mei."Baik, Bu Mei. Saya akan datang tepat waktu."Setelah mengirimkan pesan tersebut, sebuah pesan baru kembali masuk. Kali ini dari Shuling."Lim. Kamu lagi apa?"Xian Ren tersenyum tipis membacanya, lalu membalas."Tidak ada. Cuma lagi santai saja di kamar. Ken
Xian Ren tertidur lelap. Namun, kesadarannya seketika ditarik ke dalam sebuah ruang kehampaan yang tak bertepi. Di sekelilingnya hanya ada ruangan kosong yang luas dan sebuah titik cahaya jauh di depan sana."Di mana aku, sekarang?" Ia menatap sekelilingnya dengan raut wajah bingung.Saat ia melihat ke arah depan, seorang pemuda sedang berdiri membelakangi dirinya. Pemuda itu kemudian berbalik dan menatap ke arahnya."Kau... Han Lim?" Xian Ren tersentak pelan.Han Lim menatap Xian Ren dengan raut wajah tenang dan tersenyum tipis."Terima kasih, Xian Ren..." ucapnya pelan."Terima kasih untuk apa?""Terima kasih karena kau sudah bersedia tinggal di tubuhku dan memperbaiki nama baik serta reputasiku di sekolah."Xian Ren menggeleng. "Aku belum banyak melakukan sesuatu untukmu.""Tetap saja aku harus berterima kasih."Xian Ren menatap Han Lim, mengingat beberapa teka-teki yang masih mengganjal di pikirannya. "Han Lim. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu.""Apa yang ingin kau ta
Xian Ren berjalan ke arah halte bus. Ia melihat Shuling yang berdiri gemetar di belakang tubuh Yuan En. Sementara Ryu Wei tampak berdiri di depan Yuan En dan saling beradu pandang."Ada apa ini?" ucap Xian Ren seraya menghampiri mereka.Ryu Wei melirik ke arah Xian Ren. Wajahnya masih terlihat kesal bercampur emosi. Namun, ingatan tentang bagaimana ia dan teman-temannya dihajar oleh Xian Ren seketika melintas lagi di kepalanya. Ryu Wei mendesis kasar. "Cih, tidak ada apa-apa! Ayo pergi!" ujarnya pada keempat temannya. Ia segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan lokasi tersebut.Xian Ren mengerutkan keningnya menatap kepergian Ryu Wei dan teman-temannya. Ia kemudian melirik ke arah Yuan En. Baru saja ia ingin kembali bertanya, bus jemputan mereka kemudian datang dan berhenti di depan halte."Busnya sudah datang. Ayo cepat naik," ujar Yuan En seraya bergegas masuk ke dalam bus sambil menarik lengan Xian Ren dengan cepat. Shuling mengikuti dari belakang. Wajahnya masih tampak pu







