เข้าสู่ระบบIrma menelan ludah melihat betapa santainya Fang Zhe menyerahkan kartu hitamnya di loket penukaran. Dalam hitungan menit, petugas loket yang tadinya bersikap dingin berubah menjadi sangat kaku, keringat dingin membasahi pelipisnya saat melihat angka yang tervalidasi."I-ini chip Anda, Tuan... Total seratus juta dolar dalam pecahan platinum," ucap petugas itu dengan suara gemetar.Beberapa pelayan dengan seragam formal segera menghampiri, membawa nampan perak yang berisi tumpukan chip berkilau. Bobotnya cukup berat, memancarkan cahaya metalik yang menandakan nilai fantastis di baliknya."Ikuti aku .." Fang Zhe memberi isyarat agar mereka membawa nampan itu mengikuti langkahnya.Mereka berdua berjalan membelah kerumunan orang-orang berpakaian mewah yang tengah berteriak histeris di depan meja-meja judi. Aroma cerutu mahal dan alkohol menyerbak di udara, namun bagi Fang Zhe, udara di sini berbau seperti keputusasaan yang dibungkus kemewahan.Langkah Fang Zhe terhenti di sebuah meja besa
Fang Zhe hanya mendengus pelan mendengar pertanyaan Irma, sembari menahan rasa perih di hatinya akibat "perampokan" poin yang baru saja dilakukan sistem lengkap dengan pajak sialannya."Anggap saja begitu, Dokter. Sedikit trik kecepatan tangan yang kupelajari di sela-sela meracik pill," jawab Fang Zhe asal, sambil menyerahkan topeng perak gelap itu kepada Irma. "Pakailah. Jangan dilepas sebelum kita keluar dari gedung itu."Wuuuush!Irma menerima topeng itu dengan ragu. Materialnya terasa dingin dan halus, namun saat ia mengenakannya, topeng itu seolah menyusut dan menyatu sempurna dengan kontur wajahnya. Dalam pantulan spion, Irma terperangah melihat sosok asing yang menatap balik ke arahnya. Ia tetap cantik, namun auranya berubah total menjadi wanita misterius dari kalangan atas."Luar biasa..." gumam Irma takjub.Fang Zhe pun mengenakan topengnya. Seketika, aura pemimpin yang ramah menghilang, berganti dengan aura dingin dan dominan yang mampu membuat siapa pun menundukkan kepala
Setelah beberapa menit mengantar Bibi Mei...Dan memastikan Bibi Mei masuk ke dalam perlindungan Bimo yang berjaga Toko Alkemis Dewa dengan aman, Fang Zhe segera memutar arah kemudinya. Mesin mobil menderu pelan namun bertenaga, membelah jalanan kota menuju kawasan perumahan elit tempat kediaman Dokter Irma beradaNamun pikiran Fang Zhe masih terfokus pada laporan Juliant Gerva, bahkan semua rencana taktis di kepalanya seakan menguap saat ia menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan modern minimalis yang asri.Tak butuh waktu lama bagi pemilik rumah untuk membuka pintu utama."Kau tepat waktu, Fang Zhe..." suara lembut itu menyapa.Fang Zhe yang hendak melangkah keluar dari mobil mendadak terdiam. Untuk pertama kalinya, fokusnya benar-benar pecah tanpa campur tangan misi sistem apa pun. Di ambang pintu, Irma berdiri dengan gaun malam berbahan sutra yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya yang biasa diikat rapi saat di rumah sakit kini dibiarkan tergerai, membingka
Fang Zhe memperhatikan perubahan raut wajah Bibi Mei yang masih sedikit pucat. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam jemari bibinya yang dingin untuk menyalurkan kehangatan Qi, mencoba menenangkan kegelisahan wanita itu. Bibi Mei menarik napas dalam, mencoba menekan rasa takutnya. Meski pemandangan tadi sangat mengerikan, ia tahu bahwa di dunia yang ia tinggali sekarang... dunia di mana keponakannya menjadi seorang tokoh besar, kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang dimengerti oleh orang-orang seperti Juan."Zhe'er, jangan khawatirkan Bibi. Bicaralah pada Tuan Juliant jika ada masalah penting," ucap Bibi Mei dengan suara yang mulai stabil, mencoba membiasakan diri dengan realitas baru ini.Fang Zhe mengangguk pelan, lalu pandangannya kembali mendingin saat menatap Juliant Gerva yang masih bersujud."Bicaralah, Juliant. Masalah apa yang membuatmu sampai harus mengutus adik tidak berguna ini menemuiku?" tanya Fang Zhe datar.Juliant Gerva mengangkat wajahnya sedikit, namun matanya te
Tak butuh waktu dua menit, pintu lift restoran terbuka dengan dentuman keras. Juliant Gerva melangkah masuk dengan aura otoritas yang kental, dikelilingi oleh barisan pengawal pribadi yang jauh lebih tangguh dari pada kroco-kroco yang dibawa adiknya."Di mana orangnya?!" suara Juliant menggelegar, membuat beberapa pengunjung restoran tersentak.Juan segera berlari menyambut kakaknya dengan wajah penuh kemenangan yang menjijikkan. "Itu dia, Kak! Berandal di meja itu! Dia menghajar orang-orang kita dan dengan sangat berani mengaku sebagai Tuan Fang Zhe. Dia bahkan bilang, meskipun Kakak datang sendiri, Kakak tidak akan berani selancang dia!"Juliant Gerva mendengus kasar. Matanya menyipit penuh amarah. "Berani sekali ada yang menggunakan nama mitra bisnis terpentingku untuk melakukan penipuan rendahan? Di kota Shange ini, siapa pun yang menghina Tuan Fang Zhe, berarti menghina keluarga Gerva!"Juliant melangkah lebar menuju meja tersebut. Dari posisi belakang, ia hanya melihat punggun
Juan tertawa pongah, memberikan isyarat dagu kepada kedua pengawalnya. "Tunggu apa lagi? Buang sampah ini!"Kedua pria berjas hitam itu melangkah maju. Salah satunya, yang memiliki bekas luka di pelipis, mencoba mencengkeram kerah jas Fang Zhe dengan tangan besarnya. Namun, sebelum jari-jari kasar itu menyentuh kain jas mahal yang dikenakan Fang Zhe, sebuah gerakan kilat terjadi.KRAAAK!"AAAAARGH!"Pengawal itu menjerit histeris. Fang Zhe bahkan tidak beranjak dari kursinya, tangannya bergerak begitu cepat hingga tak terlihat mata telanjang, memelintir pergelangan tangan sang pengawal hingga sudut yang mustahil. Tanpa melepaskan pegangannya, Fang Zhe memberikan sedikit dorongan ke depan. Spontan tubuh pengawal seberat seratus kilogram itu melayang seperti bantal kapas, menabrak meja kosong di belakangnya hingga hancur berantakan.Braaak!Pengawal kedua, yang melihat rekannya tumbang dalam sekejap, segera merogoh sesuatu dari balik jasnya, itu sebuah tongkat listrik taktis. Namun, F
Pemimpin penjaga dengan bekas luka di alis itu tertawa terbahak-bahak, sebuah suara parau yang memecah kesunyian malam. Anak buahnya ikut menyeringai, tatapan mereka yang semula waspada kini berubah menjadi penuh nafsu saat memandangi Erina."Paviliun Obat?" sang pemimpin meludah ke aspal. "Nona k
Fang Zhe mengabaikan tarikan tangan Erina yang gemetar. Ia justru menumpuk chip emas bernilai jutaan dolar itu dengan suara dentingan yang memuaskan telinga."Fang Zhe! Cukup! Jangan dengarkan hasutan ular ini!" teriak Erina, wajahnya kembali memucat. "Satu juta delapan ratus ribu dolar! Kau bisa
Fang Zhe tidak langsung meletakkan chip-nya. Ia membiarkan suasana hening sejenak, membiarkan tatapan remeh dari para penjudi kelas kakap di sekeliling meja menusuk punggungnya. Mata Dewanya juga masih aktif, menangkap getaran frekuensi magnetik yang dimainkan sang bandar di bawah meja. "Baik aku
Fang Zhe berbalik dengan tenang, jubah abunya berkibar pelan seolah-olah ditiup oleh angin beku yang ia ciptakan sendiri.Di belakangnya, Tuan Muda Zhao masih terduduk lemas dengan napas tersengal yang mengeluarkan uap putih, sementara ayahnya, sang Kepala Keluarga, mematung dengan wajah pucat pasi







