เข้าสู่ระบบ
“Ayolah, bibi cantik. Jangan berpura-pura suci. Bukankah kau juga ingin hidup lebih baik?”
Suara laki-laki muda terdengar sombong dan sedikit mabuk. Yang langsung membuat jantung Fang Zhe bergetar cepat. Ia mengenali suara itu. Zhao Ming Yao, tuan muda ketiga keluarga Zhao, pemuda itu terkenal arogan, brutal, dan tak tersentuh hukum keluarga. Ketika Fang Zhe mendorong pintu ruang penyimpanan anggur sedikit terbuka, ia melihat bibinya terdorong ke dinding. Wajah wanita itu terlihat pucat, tangannya gemetar menahan tubuh Zhao Ming Yao yang mendekat dengan senyum menjijikkan. Pemandangan itu mengoyak hati Fang Zhe. Di luar sana, hujan turun deras di kompleks keluarga Zhao, membasahi halaman marmer yang luas bak istana bangsawan kuno. Namun bagi Fang Zhe, badai sesungguhnya ada di ruangan ini. Sejak kecil, ia hidup di bawah atap keluarga Zhao bukan sebagai anggota keluarga, melainkan hanya pemuda kurus dengan pakaian pelayan sederhana. Dia tidak tahu asal usulnya, bahkan siapa orang tuanya. Satu-satunya keluarga yang tersisa hanyalah bibinya itu, wanita sederhana yang bekerja keras di dapur keluarga Zhao untuk membiayai hidup mereka berdua. “Tuan muda Zhao, tolong hentikan… Saya hanya pelayan... A-anda...” suara bibinya bergetar penuh ketakutan. “Tepat karena kau hanya pelayan, siapa yang berani melapor?” Zhao Ming Yao tertawa pelan. Di waktu yang sama, genggaman Fang Zhe melemah. Nampan teh yang sedari tadi dibawanya jatuh ke lantai dengan suara nyaring.. Praaaank! “Apa yang kau lakukan?!” Suara Fang Zhe dingin, tapi wajahnya memerah penuh amarah. Zhao Ming Yao menoleh, alisnya terangkat, lalu tertawa meremehkan. “Ah? Pelayan kecil? Berani mengganggu hiburanku?” Fang Zhe melangkah masuk tanpa ragu. “Lepaskan Bibi Mei.. Atau?!” "Atau apa? Kau kira, disini kau bisa mengatur ku?" "A-aku akan membunuhmu!" teriak Fang Zhe memberanikan dirinya. Beberapa pengawal Zhao yang berjaga di sudut ruangan mulai mendekat, saat Fang Zhe berdiri menantang sembari memberi ancaman. “Bocah ini gila.” “Seorang pelayan rendahan ingin jadi pahlawan?” Zhao Ming Yao mendengus dingin, lalu menampar wajah bibinya dan mendorongnya ke samping. “Kau mengancamku?” Zhao Ming Yao tertawa pelan, namun sorot matanya berubah dingin seperti pisau. Detik berikutnya Zhao Ming Yao mulai melangkah. Hingga... BAM! Tinju Zhao Ming Yao menghantam wajah Fang Zhe tanpa peringatan. Yang membuat tubuh Fang Zhe terlempar dan menghantam rak anggur. Botol-botol pecah berantakan, aroma alkohol bercampur darah mulai memenuhi ruangan. Fang Zhe terjatuh ke lantai, kepalanya berdengung hebat. Namun ia tetap berusaha bangkit. “Lepaskan… bibiku…” gumamnya parau. “Masih bisa berbicara?” Zhao Ming Yao mendecak jijik. “Seorang pelayan rendahan tanpa nama, tanpa latar belakang… Berpikir bisa menantangku?” Ia memberi isyarat ringan. Yang membuat para pengawal langsung bergerak. Tendangan menghantam perut Fang Zhe. Pukulan keras beruntun itu mengenai punggung dan wajahnya. Setiap serangan terasa seperti mematahkan tulang satu per satu. Duk! Bam! Krak! Fang Zhe terbatuk hebat, darah mengalir dari sudut bibirnya. Pandangannya mulai kabur, namun matanya masih terbuka, kini ia menatap satu-satunya hal yang membuat kesadarannya bertahan. Bibinya Liu Mei. “Tu-tuan muda Ming Yao jangan lukai Fang Zhe!” jerit Bibi Mei, suaranya pecah oleh tangis. Namun Zhao Ming Yao telah melangkah mendekat, lalu menginjak dada Fang Zhe dengan sepatu kulitnya. “Kau dengar itu?” katanya sambil tersenyum tipis. Dan berlanjut, “bagaimana cara bibimu merengek agar aku tidak membunuhmu?” Kelopak mata Fang Zhe terasa berat. Dia tidak perduli lagi ungkapan Zhao Ming Yao, yang pasti disaat kesadarannya akan memudar, ia melihat bayangan Zhao Ming Yao mendekati bibinya lagi. Kini dia hanya bisa mendengar tangisan tertahan. Ia mendengar tawa rendah yang membuat darahnya membeku. Dan akhirnya... Hooosh! Hoooosh! Hoooosh! Nafas Fang Zhe terengah-engah saat melihat sekelilingnya. Karena di pandangan matanya, hanya ada kegelapan yang terlihat. “U-untunglah hanya mimp....” belum selesai ungkapannya usai, dia telah menyadari kenyataan. Bukan mimpi, tapi tubuhnya berada didasar jurang yang begitu dalam. “Ji-jika ini bukan mimpi... La-lau bagaimana bisa aku berada di jurang ini?” DIIIIIING! Tiba-tiba suara lonceng dipikirannya bergema. ‘Selamat anda telah menjadi host baru sistem hebat menjadi dewa secara instan?!’ “Si-sistem?!” DIIIIING! ‘Tuan benar! Anda sebenarnya telah mati, tapi takdir mengikat kita layaknya seorang jodoh! Asal tuan menyelesaikan misi! Semua dendam, bahkan menjadi seorang Dewa, bukan lagi sebuah mimpi!’ Masih berpikir logis, mungkin suara dipikirannya adalah halusinasi. Tapi sistem itu segera berkata. 'Apa yang tuan pikirkan? Halusinasi? Apa tuan masih mengira ini adalah mimpi?' Mendengar ungkapan itu, Fang Zhe mulai membalas singkat melalui pikirannya. 'Jika kau memang sehebat itu, mampu merubah seseorang jadi Dewa... Bisakah kau membantuku keluar dari dasar jurang?' senyum remehnya terdengar. DIIIIIIIING! Seketika suara lonceng kembali berdenging, hal itu diikuti oleh sahutan suara sistem yang tenang. 'Hadiah pertemuan tak terduga... Sistem memberikan sayap energi secara singkat...' WOOOOSH! Dari balik punggung Fang Zhe, muncul sepasang sayap seperti hewan phoenix. Matanya seketika terbelalak kuat, tubuhnya mematung. Mencoba memastikan apa yang ia lihat memang kenyataan. 'Tuan, hadiah pertama ini bersifat sementara... Anda harus segera keluar, atau hadiahnya akan hilang...' Tersadar dari lamunan akibat peringatan itu. Fang Zhe langsung mengumpat. "Kau memang ajaib, tapi aku saja tidak bisa menggunakan sepasang sayapnya... Lalu bagaimana caraku terbang!" 'Tuan, kepakan sepasang sayap itu. Satu kepakan, itu sudah cukup untuk terbang setinggi sepuluh meter... Lakukan seperti seekor phoenix yang tengah menari nari diatas udara!' Melakukannya, seketika wajah Fang Zhe tak bisa lagi menyembunyikan raut keterkejutannya. Karena ia benar benar bisa terbang keatas jurang! Hingga beberapa saat setelah keluar, dari dasar jurang. Pandangannya tertuju kearah jalan desa yang sunyi. Namun jalananya memiliki aspal yang halus, tidak seperti desa desa yang pernah ia kunjungi sebelumnya. "Di mana aku? Lalu, kenapa aku seperti melihat desa modern?" 'Tuan anda berada dipinggiran desa Mati, selatan kota Shange. Waktu 08.00, tahun 2026, bulan januari!' Menganggukan kepalanya, tiba tiba keterkejutan yang lebih besar muncul pada sorot matanya. "Ta-tahun 2026?! Bu-bulan januari?! Kau gila! Jelas jelas aku..." karena terkejut, suaranya yang melengking membuat salah satu warga desa menaikan sebelah alisnya. Karena melihat seorang pemuda, dengan pakaian compang camping memaki ke arah tempat kosong. "Hei? Kamu orang gila baru ya?"Erina masih memperhatikannya beberapa detik lebih lama.Tatapannya tajam. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah tenang Fang Zhe. Lalu ia meletakkan cangkir tehnya secara perlahan.“Hari ini ada pertemuan penting.”Nada suaranya kembali profesional.“Pertemuan perdagangan bahan obat dengan klien lama Paviliun Obat. Nilainya sangat besar.”Fang Zhe berdiri tegap.“Saya mengerti, Nona.”Erina bangkit dari kursinya. Tumit sepatunya menyentuh lantai marmer dengan ritme teratur.“Kau ikut bersamaku.”Ia berjalan melewati Fang Zhe, aroma parfum lembutnya tertinggal sepersekian detik di udara.“Tugasmu sederhana. Mengantar. Menjaga. Mengamati.”Ia berhenti sebentar di depan pintu.“Dan satu hal lagi.”Fang Zhe mengangkat pandangan.“Jangan membuat masalah dengan klienku.”Nada suaranya tidak keras. Tapi jelas mengandung peringatan.“Beberapa dari mereka memiliki latar belakang yang sensitif.”Fang Zhe langsung menganggukan kepalanya, sejak menjadi pelayan keluarga Zhao. Fang Zhe meman
KLIIIIK!Suara notifikasi itu seperti petir yang menyambar jantung Fang Zhe.Ia membeku. Lalu perlahan menunduk menatap panel sistem.*Status Host: Fang ZhePekerjaan: Pengawal Pribadi CEOPoin Sistem: 0Kharisma: Tingkat 1 — Aura Ketampanan Tuan Muda Kota Shange.*“Apa?”Wajahnya seketika kaku.“APA?!”Ia bahkan langsung meloncat dari tempat tidur.“System! Kau mencuri poinku?!”DIIIIIING!‘Host secara sukarela melakukan peningkatan Kharisma.’“Secara sukarela kepalamu!” bentaknya.“AKU CUMA SENTUH!”DIIIIIING!‘Konfirmasi sentuhan telah dianggap sebagai persetujuan.’Nadi di pelipisnya berdenyut keras. “Seratus lima puluh poin… Itu hasil kerja kerasku tadi siang!”‘Investasi pada penampilan memiliki dampak jangka panjang.’“Dampak jangka panjang? Aku ini pengawal, bukan kontestan pemilihan wajah tampan kota!”Panel tetap biru. Dingin. Tanpa rasa bersalah. Fang Zhe berjalan mondar-mandir di kamar kecil itu.“Kharisma tingkat satu… Aura ketampanan tuan muda… Untuk apa?! Untuk memik
Hening beberapa detik memenuhi kabin mobil yang bergerak halus itu. Fang Zhe juga tidak langsung menjawab.Di luar jendela, gedung-gedung kota Shange mulai menjulang tinggi. Dunia yang beberapa jam lalu terasa begitu kejam, kini seperti membuka celah kecil untuknya.“Kalau aku menolak?” tanyanya tenang.Erina menatap lurus ke depan.“Paduka Ryan bukan tipe orang yang membiarkan saksi hidup bebas berkeliaran. Kau sudah memukul anak buahnya.”Ia berhenti sejenak, lalu menatapnya secara serius.“Dan kau cukup kuat untuk membuat mereka penasaran.”Artinya jelas. Menolak pun bukan pilihan aman. Fang Zhe menyandarkan punggungnya perlahan.“Apa tugasku?”“Menjagaku. Mengikutiku. Dan patuh pada perintahku.” jawab Erina singkat.Tanpa banyak basa-basi lagi, Fang Zhe mengangguk.“Aku terima.”DIIIIIING!Panel sistem kembali muncul.MISI UTAMA SELESAI!Mendapatkan pekerjaan yang layakEvaluasi: Pengawal Pribadi CEO Paviliun ObatHadiah: 100 poin sistem‘100 poin telah ditambahkan.’‘Total poin s
DIIIIIING!Panel transparan berwarna biru muda muncul di hadapan Fang Zhe, hanya bisa dilihat olehnya. Di bawahnya, dua pilihan menyala terang.1. Bela Diri Dasar (Basic Combat Mastery).Meningkatkan refleks, kekuatan pukulan, teknik dasar pertarungan tangan kosong. Cocok untuk konfrontasi langsung.2. Kemampuan Medis Dasar (Basic Medical Proficiency).Pengetahuan pertolongan pertama, stabilisasi luka, diagnosis ringan. Cocok untuk situasi penyelamatan non-tempur.Diikuti dengan munculnya waktu hitung mundur muncul di sudut panel.00:00:10Fang Zhe menatap gadis yang bernama Erina, yang kini terpojok di dinding toko tutup. Salah satu pria sudah hampir meraih lengannya.'Jika aku memilih medis… Aku mungkin bisa menolong setelah semuanya terlambat. Namun jika aku memilih ilmu bela diri… ' bergumam, sembari merubah sorot matanya lebih tegas.“Aku memilih… Bela Diri Dasar.”DIIIIIING!‘Kemampuan ditransfer…’Dalam sepersekian detik, sensasi panas mengalir dari dadanya ke arah perut, lalu
Fang Zhe terdiam sesaat.Tatapan warga desa itu hanya singgah sebentar sebelum berlalu, meninggalkannya berdiri sendiri di pinggir jalan aspal yang sunyi. Angin pagi bertiup dingin, menyapu pakaian compang-campingnya yang masih berbau darah kering dan tanah lembap.Desa Mati. Nama itu terasa tidak asing lagi, dulu jalanan masih tanah, rumah masih terlihat sedikit. Tapi, sistem sepertinya memberikan informasi benar.Fang Zhe mulai menunduk, menatap kedua tangannya sendiri. Kulitnya penuh luka lama yang telah mengering, namun rasa sakitnya nyaris tak ada. Semua terasa seperti mimpi yang terlalu jelas untuk dilihat.“Kalau begitu…” gumamnya pelan.“Aku harus segera pulang.”Dengan berjalan kaki, Fang Zhe menyusuri jalan dari Desa Mati menuju pinggiran kota Shange. Bangunan-bangunan mulai terlihat lebih rapat, rumah-rumah tua berdiri berdampingan dengan ruko modern yang masih tertutup. Tak ada yang mengenalinya. Jelas tak ada yang peduli.Beberapa jam kemudian, langkahnya mulai terhenti.
“Ayolah, bibi cantik. Jangan berpura-pura suci. Bukankah kau juga ingin hidup lebih baik?”Suara laki-laki muda terdengar sombong dan sedikit mabuk. Yang langsung membuat jantung Fang Zhe bergetar cepat.Ia mengenali suara itu. Zhao Ming Yao, tuan muda ketiga keluarga Zhao, pemuda itu terkenal arogan, brutal, dan tak tersentuh hukum keluarga. Ketika Fang Zhe mendorong pintu ruang penyimpanan anggur sedikit terbuka, ia melihat bibinya terdorong ke dinding. Wajah wanita itu terlihat pucat, tangannya gemetar menahan tubuh Zhao Ming Yao yang mendekat dengan senyum menjijikkan.Pemandangan itu mengoyak hati Fang Zhe. Di luar sana, hujan turun deras di kompleks keluarga Zhao, membasahi halaman marmer yang luas bak istana bangsawan kuno. Namun bagi Fang Zhe, badai sesungguhnya ada di ruangan ini. Sejak kecil, ia hidup di bawah atap keluarga Zhao bukan sebagai anggota keluarga, melainkan hanya pemuda kurus dengan pakaian pelayan sederhana. Dia tidak tahu asal usulnya, bahkan siapa orang tuan







