LOGINFang Zhe tidak ingin membuang waktu lagi. Ambisinya yang oportunis telah tersulut sepenuhnya oleh iming-iming poin melimpah dari sistem lintah darat ini. Tiga hari adalah waktu yang singkat, dan ia harus memastikan bahwa mangsanya tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari jaring yang tengah ia tebar. "Faiye! Lei Ba! Masuk!" seru Fang Zhe, suaranya yang kini disokong oleh resonansi energi Pengumpul Roh Bintang Satu bergema menembus pintu kayu ek tebal ruangannya. Krieeet... Pintu kamar terbuka dengan cepat. Faiye dan Lei Ba, yang memang sejak tadi berjaga di koridor luar dengan penuh rasa segan, buru-buru melangkah masuk. Begitu melintasi pintu, langkah kaki kedua pria itu mendadak membeku. Aura di dalam kamar terasa begitu menekan hingga membuat napas mereka terasa berat. Pendaran sisa energi emas-perak yang masih mengambang tipis di udara, dikombinasikan dengan tatapan mata Fang Zhe yang sedingin es, membuat bulu kuduk mereka meremajang seketika. "B-Bos..." Faiye
[Diiing!] [Permintaan diproses. Mengonsumsi 10.000 Poin untuk memurnikan 'Cairan Esensi Langit Sembilan Roh'. Silakan periksa penyimpanan spasial Anda.] Mendengar suara mekanis sistem, Fang Zhe segera mengulurkan tangan kanannya. Syuuuut! Sebuah botol giok kecil berukiran naga kuno mendadak muncul di telapak tangannya. Melalui permukaan botol yang transparan, terlihat cairan kental berwarna emas bercampur pendaran perak yang berputar-putar laksana galaksi mini, memancarkan hawa spiritual yang luar biasa padat. "Emas dan perak? Kelihatannya meyakinkan," gumam Fang Zhe, matanya berkilat penuh antisipasi. Tanpa ragu-ragu, ia membuka sumbat botol dan langsung meneguk habis ramuan tersebut hingga tetes terakhir. BOOOOOOOOM!!! Begitu cairan emas-perak itu menyentuh tenggorokannya, rasanya seolah-olah sebuah gunung berapi aktif meledak di dalam perutnya. Hawa panas yang ekstrem dan energi spiritual yang teramat pekat langsung menyerbu, mengalir liar ke setiap jengkal meridian
Tap! tap! Tap! Sreesst! Langkah kaki Fang Zhe yang berwibawa mendadak terhenti tepat di batas luar lingkaran arena yang hancur. Jubahnya berkibar pelan, membelakangi ribuan penonton yang masih menundukkan kepala dengan takzim. Suasana yang baru saja akan mencair setelah perintah pembukuan aset kepada Faiye, seketika kembali membeku. Fang Zhe tidak langsung berjalan menuju pintu keluar. Ia memiringkan kepalanya sedikit, melirik ke arah deretan kursi VIP di tribun atas... Itu tempat di mana para penguasa blok tingkat tinggi biasanya mengamati mangsa mereka. Sebuah senyuman tipis, yang kali ini memancarkan keangkuhan mutlak dan provokasi tanpa batas, kembali terukir di wajah tampannya. Tak lama. Fang Zhe membalikkan tubuhnya perlahan. Suaranya tidak keras, namun dengan sokongan sisa Qi yang murni, setiap kata yang keluar dari bibirnya berdentang seperti lonceng kematian di telinga semua orang yang hadir. "Karena hari ini Sipir Hakim sudah meresmikan namaku, dan separuh dari Pen
Suasana hening yang mencekam itu tidak berlangsung lama. Di atas podium pengawas yang tinggi, sang Sipir Hakim, seorang pria paruh baya berwajah kaku dengan jubah hitam berlambang rantai besi perlahan berdiri dari kursinya. Sebagai orang yang telah menyaksikan ratusan pertarungan berdarah di Arena Hidup dan Mati, baru kali ini sepasang matanya menyipit tegang. Tatapannya tertuju pada parit dalam yang membelah arena, lalu beralih pada sosok Fang Zhe yang masih berdiri tenang tanpa setitik pun darah mengotori pakaiannya. Kini sipir Hakim menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan Qi-nya agar suaranya menggema ke setiap sudut gedung yang sunyi. "Pertarungan... SELESAI!" Suara berat Sipir Hakim menggelegar, memecahkan keheningan yang sempat membekukan ribuan penonton. "Tiga bersaudara Mo—Mo Ren, Mo Tian, dan Mo Di—telah tewas di arena! Dengan ini, kemenangan mutlak jatuh kepada... FANG ZHE!" BOOM! Bagai bendungan yang runtuh, gemuruh sorak-sorai, teriakan histeris, dan tepuk ta
Mendengar provokasi balik dari Fang Zhe yang masih teramat tenang, tawa ejekan tiga bersaudara Mo mendadak terhenti, digantikan oleh gelombang amarah yang membakar dada mereka."Kau sendiri yang meminta kematianmu datang lebih cepat, Bocah Sialan!" raung Mo Ren, matanya membelalak merah."MATILAH KAU BERSAMA BELATI MAINANMU ITU!" teriak Mo Tian dan Mo Di serempak.BOOOOOOOM!!! WUUUUUUUSH!Dengan satu sentakan serentak dari tiga bersaudara Mo, Tapak Penghancur Tiga Elemen yang menggantung di langit arena akhirnya dilepaskan. Energi masif berukuran belasan meter itu meluncur turun dengan kecepatan yang mengerikan, menekan atmosfer hingga memicu bunyi ledakan udara yang beruntun."I-ini sudah pasti kelihatan hasilnya... Baiknya kita tutup mata saja!""Benar! paling mentah, separuh tubuh Fang Zhe itu akan hancur!""Sial... Terlalu sombong memang tidak baik!"Seluruh penonton di tribun spontan berdiri. Tekanan angin dari jatuhnya tapak raksasa itu bahkan berembus kencang hingga ke kursi pe
Wuuuush! Wooosh! Woooosh!Pusaran energi tiga warna di atas kepala tiga bersaudara Mo semakin lama semakin memadat dan berputar ganas, menciptakan riak tekanan yang membuat kubah merah Arena Hidup dan Mati bergetar hebat. Kraaack! Kraaack!Bahkan retakan-retakan halus mulai merambat di lantai arena akibat beratnya beban aura yang dipancarkan.Warna cokelat tua itu hasil dari Qi tanah Mo Ren membentuk fondasi yang solid dan masif.Warna merah darah berasal dari Qi api Mo Tian membakar atmosfer dengan hawa panas yang mendidih.Sedangkan Warna hitam pekat itu dari Qi angin beracun Mo Di mengikat kedua energi tersebut, berputar membungkusnya menjadi satu kesatuan yang mengerikan.Hingga....BOOOM!Dari dalam pusaran badai energi tersebut, perlahan-lahan muncul sebuah manifestasi yang membuat seluruh penonton di tribun menahan napas. Karena tak lama kemudian, sebuah Tapak Raksasa berukuran belasan meter terbentuk di udara, turun menaungi separuh arena. "I-ini jurus ini mungkin mampu mem
Suara benturan keras terdengar hampir bersamaan terdengar. Karena Tangan Fang Zhe bergerak cepat seperti bayangan.Telapak tangannya menghantam tengkuk pria pertama dengan presisi sempurna.Hal itu membuat, sepasang mata pria itu langsung memutih. Tubuhnya lemas seketika sebelum ambruk ke tanah.TH
Tuan Muda Brata menatap Fang Zhe beberapa detik. Tatapan itu penuh campuran emosi, antara marah, malu, dan juga takut yang tidak ingin ia akui.Lorong terasa sangat sunyi. Bahkan suara napas para pengawalnya yang kesakitan terdengar jelas.Ia juga tahu satu hal dengan sangat jelas. Jika pemuda di d
Erina menatap punggungnya beberapa detik. Ia bisa merasakan aura aneh dari pria yang berdiri di depannya itu. Tenang. Stabil. Seolah situasi di lorong ini sama sekali tidak berbahaya. Ia hanya menjawab singkat. “Asal, jangan membunuh.” Sudut bibir Fang Zhe sedikit terangkat. “Itu sudah cukup.
erIrma masih menatap Fang Zhe tanpa berkedip. Tatapannya tajam, seolah ingin menembus sampai ke dalam pikirannya. “Fang Zhe…” katanya pelan. “Ilmu medis seperti itu… kau benar-benar hanya ‘pernah belajar beberapa kali’?” Ia menyilangkan tangan di dada. “Dan kau belajar dari mana?” Ruanga







