LOGINDIIIIIING!
Panel transparan berwarna biru muda muncul di hadapan Fang Zhe, hanya bisa dilihat olehnya. Di bawahnya, dua pilihan menyala terang.
1. Bela Diri Dasar (Basic Combat Mastery).
Meningkatkan refleks, kekuatan pukulan, teknik dasar pertarungan tangan kosong. Cocok untuk konfrontasi langsung.
2. Kemampuan Medis Dasar (Basic Medical Proficiency).
Pengetahuan pertolongan pertama, stabilisasi luka, diagnosis ringan. Cocok untuk situasi penyelamatan non-tempur.
Diikuti dengan munculnya waktu hitung mundur muncul di sudut panel.
00:00:10
Fang Zhe menatap gadis yang bernama Erina, yang kini terpojok di dinding toko tutup. Salah satu pria sudah hampir meraih lengannya.
'Jika aku memilih medis… Aku mungkin bisa menolong setelah semuanya terlambat. Namun jika aku memilih ilmu bela diri… ' bergumam, sembari merubah sorot matanya lebih tegas.
“Aku memilih… Bela Diri Dasar.”
DIIIIIING!
‘Kemampuan ditransfer…’
Dalam sepersekian detik, sensasi panas mengalir dari dadanya ke arah perut, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Otot-ototnya menegang. Tulang-tulangnya seperti diselaraskan ulang. Ingatan asing muncul di benaknya, posisi kuda-kuda, sudut pukulan, titik lemah tubuh manusia.
Hanya dalam dua detik, transfer itu selesai.
Fang Zhe mulai membuka matanya. Dunia terasa lebih lambat yang ia rasakan.
Ia bisa melihat pergerakan bahu pria pertama sebelum tangannya bergerak. Bisa membaca arah langkah bahkan sebelum kaki lawan menyentuh tanah.
“Hei bocah! Mau jadi pahlawan?!” salah satu pria menyeringai saat melihat Fang Zhe berjalan mendekat.
Jantung Fang Zhe tetap berdegup cepat. Ia masih merasa takut, ingin percaya sistem, tapi mana mungkin ada seseorang yang tak pernah berkelahi, bisa langsung mahir?
Namun kali ini, ketakutan itu tidak mengendalikan tubuhnya.
“Aku hanya… tidak suka melihat sampah berkeliaran,” ucapnya pelan.
“Apa?!”
Pria pertama menyerang lebih dulu. Tinju besar mengarah ke wajah Fang Zhe. Refleksnya bergerak hampir tanpa sadar. Miringkan kepala, yang membuat tinju besar itu hanya menghantam udara kosong. Hal itu diikuti dengan gerakan siku menghantam pergelangan lawan.
KRAK!
“AAAAARGH!”
Tulang pergelangan pria itu retak. Fang Zhe melangkah masuk sebelum dua lainnya bereaksi. Satu pukulan lurus ke ulu hati.
BUUK!
"UGGGGH!"
Udara keluar dari paru-paru lawan kedua. Tubuh pria itu tertekuk. Yang membuat pria ketiga mencoba meraih leher Fang Zhe dari belakang.
Namun Fang Zhe memutar tubuhnya, menangkap lengan, lalu membanting dengan teknik lemparan sederhana yang tertanam jelas di memorinya.
BRAK!
Debu seketika beterbangan yang membuat suasana berubah menjadi hening.
Hanya dalam kurang dari lima belas detik.
Tiga pria bertubuh kekar itu tergeletak mengerang di tanah. Orang-orang yang tadi berpura-pura tidak menganggap Fang Zhe, kini menatap dengan mata membelalak.
Fang Zhe sendiri terdiam sesaat.
'Ini… kekuatanku sekarang? Benar benar ajaib...' ungkapnya dalam hati.
Napasnya mungkin sedikit berat, tapi bukan karena kelelahan. Melainkan karena sensasi adrenalin yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di belakangnya, suara gemetar terdengar.
“Ka-kamu…”
Ia menoleh. Gadis itu berdiri perlahan. Wajahnya masih terlihat pucat, namun sorot matanya kini penuh keterkejutan.
Cantik. Itu kesan pertama yang muncul. Meski rambutnya berantakan dan napasnya belum stabil, aura elegan masih terpancar jelas darinya.
DIIIIIING!
‘Misi Darurat Selesai!’
‘Hadiah: 50 poin sistem diterima.’
‘Total poin saat ini: 50’
Mendengarnya Fang Zhe menyeringai tipis.
'System yang ada ditubuhku sepertinya bisa dipercaya...' kembali berkata didalam hati, tiba tiba salah satu pria di tanah memaki pelan, “Kau… kau tahu siapa kami? Kami orangnya Paduka Ryan!”
Nama itu memang asing bagi Fang Zhe.
Paduka Ryan?
Bukan Zhao. Bukan dari keluarga Zhao. Namun melihat raut wajah Erina yang berubah tegang, ia tahu satu hal, nama itu bukan nama orang sembarangan.
“Pergi dari sini!” bisik Erina cepat, jarinya mencengkeram pergelangan tangan Fang Zhe.
Tanpa banyak bicara, Fang Zhe mengangguk. Mereka berlari menyusuri trotoar, menjauh dari kerumunan dan meninggalkan tiga pria yang masih mengerang di tanah.
Beberapa puluh meter kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak di tepi jalan. Kaca belakangnya turun perlahan.
Seorang gadis berkacamata turun di kursi depan tampak terlihat panik.
“Nona Erina! Anda tidak apa-apa?!”
Erina langsung membuka pintu belakang dan menarik Fang Zhe masuk bersamanya.
"Sekarang, bawa kami pergi menjauh dari jalanan ini..."
"Baik nona..."
Pintu tertutup, dan mobil pun melaju. Barulah suasana sedikit tenang.
Fang Zhe duduk tegak, masih waspada. Ia melirik ke samping. Di dalam mobil, Erina terlihat berbeda. Meski pakaiannya sederhana, caranya duduk, caranya mengatur napas, menurutnya soosok Erina ini jelas bukan gadis biasa.
Seperti seseorang yang terbiasa memerintah. Atau memiliki kedudukan tinggi. Pikirannya mulai melayang, masalah dia tahu. Masalah yang telah ia ikut campuri, mungkin akan berpengaruh di waktu kedepan. Memikirnya, suasana didalam mobil berubah menjadi hening.
Beberapa detik hening berlalu sebelum Erina menoleh padanya.
“Kau… siapa namamu?”
“Fang Zhe.”
“Punya pekerjaan?”
Pertanyaan itu membuat Fang Zhe terdiam. Beberapa jam lalu ia teringat, ditolak di mana-mana. Sekarang, seorang wanita dengan aura elit bertanya seperti ini. Tentu ia tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja!
“Belum,” jawabnya jujur.
Tatapan Erina menajam. Ia teringat bagaimana Fang Zhe bergerak barusan cukup cepat, bersih, efisien. Tidak ada gerakan sia-sia. Itu bukan keberuntungan. Itu teknik bela diri yang mungkin dipelajari pemuda disisinya.
“Kau tahu siapa aku?” tanya Erina lagi.
Fang Zhe menggelengkan kepalanya sejenak..
Gadis berkacamata di depan berdeham pelan. “Ehemmm... Nona Erina adalah CEO Paviliun Obat.”
Fang Zhe sedikit terkejut, tapi ekspresinya tetap tenang.
"CEO? Pavliun obat?"
Erina menatap lurus ke matanya.
“Kau baru saja menyelamatkanku dari orang-orang Paduka Ryan. Itu artinya, mulai hari ini, kau sudah berdiri di pihak yang berseberangan dengan mereka.”
Nada suaranya tidak mengancam. Hanya menyampaikan fakta yang harus diketahui oleh Fang Zhe.
“Kalau begitu?” tanya Fang Zhe.
Erina tersenyum tipis.
“Jadilah pengawal pribadiku.”
Erina masih memperhatikannya beberapa detik lebih lama.Tatapannya tajam. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah tenang Fang Zhe. Lalu ia meletakkan cangkir tehnya secara perlahan.“Hari ini ada pertemuan penting.”Nada suaranya kembali profesional.“Pertemuan perdagangan bahan obat dengan klien lama Paviliun Obat. Nilainya sangat besar.”Fang Zhe berdiri tegap.“Saya mengerti, Nona.”Erina bangkit dari kursinya. Tumit sepatunya menyentuh lantai marmer dengan ritme teratur.“Kau ikut bersamaku.”Ia berjalan melewati Fang Zhe, aroma parfum lembutnya tertinggal sepersekian detik di udara.“Tugasmu sederhana. Mengantar. Menjaga. Mengamati.”Ia berhenti sebentar di depan pintu.“Dan satu hal lagi.”Fang Zhe mengangkat pandangan.“Jangan membuat masalah dengan klienku.”Nada suaranya tidak keras. Tapi jelas mengandung peringatan.“Beberapa dari mereka memiliki latar belakang yang sensitif.”Fang Zhe langsung menganggukan kepalanya, sejak menjadi pelayan keluarga Zhao. Fang Zhe meman
KLIIIIK!Suara notifikasi itu seperti petir yang menyambar jantung Fang Zhe.Ia membeku. Lalu perlahan menunduk menatap panel sistem.*Status Host: Fang ZhePekerjaan: Pengawal Pribadi CEOPoin Sistem: 0Kharisma: Tingkat 1 — Aura Ketampanan Tuan Muda Kota Shange.*“Apa?”Wajahnya seketika kaku.“APA?!”Ia bahkan langsung meloncat dari tempat tidur.“System! Kau mencuri poinku?!”DIIIIIING!‘Host secara sukarela melakukan peningkatan Kharisma.’“Secara sukarela kepalamu!” bentaknya.“AKU CUMA SENTUH!”DIIIIIING!‘Konfirmasi sentuhan telah dianggap sebagai persetujuan.’Nadi di pelipisnya berdenyut keras. “Seratus lima puluh poin… Itu hasil kerja kerasku tadi siang!”‘Investasi pada penampilan memiliki dampak jangka panjang.’“Dampak jangka panjang? Aku ini pengawal, bukan kontestan pemilihan wajah tampan kota!”Panel tetap biru. Dingin. Tanpa rasa bersalah. Fang Zhe berjalan mondar-mandir di kamar kecil itu.“Kharisma tingkat satu… Aura ketampanan tuan muda… Untuk apa?! Untuk memik
Hening beberapa detik memenuhi kabin mobil yang bergerak halus itu. Fang Zhe juga tidak langsung menjawab.Di luar jendela, gedung-gedung kota Shange mulai menjulang tinggi. Dunia yang beberapa jam lalu terasa begitu kejam, kini seperti membuka celah kecil untuknya.“Kalau aku menolak?” tanyanya tenang.Erina menatap lurus ke depan.“Paduka Ryan bukan tipe orang yang membiarkan saksi hidup bebas berkeliaran. Kau sudah memukul anak buahnya.”Ia berhenti sejenak, lalu menatapnya secara serius.“Dan kau cukup kuat untuk membuat mereka penasaran.”Artinya jelas. Menolak pun bukan pilihan aman. Fang Zhe menyandarkan punggungnya perlahan.“Apa tugasku?”“Menjagaku. Mengikutiku. Dan patuh pada perintahku.” jawab Erina singkat.Tanpa banyak basa-basi lagi, Fang Zhe mengangguk.“Aku terima.”DIIIIIING!Panel sistem kembali muncul.MISI UTAMA SELESAI!Mendapatkan pekerjaan yang layakEvaluasi: Pengawal Pribadi CEO Paviliun ObatHadiah: 100 poin sistem‘100 poin telah ditambahkan.’‘Total poin s
DIIIIIING!Panel transparan berwarna biru muda muncul di hadapan Fang Zhe, hanya bisa dilihat olehnya. Di bawahnya, dua pilihan menyala terang.1. Bela Diri Dasar (Basic Combat Mastery).Meningkatkan refleks, kekuatan pukulan, teknik dasar pertarungan tangan kosong. Cocok untuk konfrontasi langsung.2. Kemampuan Medis Dasar (Basic Medical Proficiency).Pengetahuan pertolongan pertama, stabilisasi luka, diagnosis ringan. Cocok untuk situasi penyelamatan non-tempur.Diikuti dengan munculnya waktu hitung mundur muncul di sudut panel.00:00:10Fang Zhe menatap gadis yang bernama Erina, yang kini terpojok di dinding toko tutup. Salah satu pria sudah hampir meraih lengannya.'Jika aku memilih medis… Aku mungkin bisa menolong setelah semuanya terlambat. Namun jika aku memilih ilmu bela diri… ' bergumam, sembari merubah sorot matanya lebih tegas.“Aku memilih… Bela Diri Dasar.”DIIIIIING!‘Kemampuan ditransfer…’Dalam sepersekian detik, sensasi panas mengalir dari dadanya ke arah perut, lalu
Fang Zhe terdiam sesaat.Tatapan warga desa itu hanya singgah sebentar sebelum berlalu, meninggalkannya berdiri sendiri di pinggir jalan aspal yang sunyi. Angin pagi bertiup dingin, menyapu pakaian compang-campingnya yang masih berbau darah kering dan tanah lembap.Desa Mati. Nama itu terasa tidak asing lagi, dulu jalanan masih tanah, rumah masih terlihat sedikit. Tapi, sistem sepertinya memberikan informasi benar.Fang Zhe mulai menunduk, menatap kedua tangannya sendiri. Kulitnya penuh luka lama yang telah mengering, namun rasa sakitnya nyaris tak ada. Semua terasa seperti mimpi yang terlalu jelas untuk dilihat.“Kalau begitu…” gumamnya pelan.“Aku harus segera pulang.”Dengan berjalan kaki, Fang Zhe menyusuri jalan dari Desa Mati menuju pinggiran kota Shange. Bangunan-bangunan mulai terlihat lebih rapat, rumah-rumah tua berdiri berdampingan dengan ruko modern yang masih tertutup. Tak ada yang mengenalinya. Jelas tak ada yang peduli.Beberapa jam kemudian, langkahnya mulai terhenti.
“Ayolah, bibi cantik. Jangan berpura-pura suci. Bukankah kau juga ingin hidup lebih baik?”Suara laki-laki muda terdengar sombong dan sedikit mabuk. Yang langsung membuat jantung Fang Zhe bergetar cepat.Ia mengenali suara itu. Zhao Ming Yao, tuan muda ketiga keluarga Zhao, pemuda itu terkenal arogan, brutal, dan tak tersentuh hukum keluarga. Ketika Fang Zhe mendorong pintu ruang penyimpanan anggur sedikit terbuka, ia melihat bibinya terdorong ke dinding. Wajah wanita itu terlihat pucat, tangannya gemetar menahan tubuh Zhao Ming Yao yang mendekat dengan senyum menjijikkan.Pemandangan itu mengoyak hati Fang Zhe. Di luar sana, hujan turun deras di kompleks keluarga Zhao, membasahi halaman marmer yang luas bak istana bangsawan kuno. Namun bagi Fang Zhe, badai sesungguhnya ada di ruangan ini. Sejak kecil, ia hidup di bawah atap keluarga Zhao bukan sebagai anggota keluarga, melainkan hanya pemuda kurus dengan pakaian pelayan sederhana. Dia tidak tahu asal usulnya, bahkan siapa orang tuan







