Share

6.

Author: Al_Fazza
last update publish date: 2026-02-13 19:39:02

Erina masih memperhatikannya beberapa detik lebih lama.

Tatapannya tajam. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah tenang Fang Zhe. Lalu ia meletakkan cangkir tehnya secara perlahan.

“Hari ini ada pertemuan penting.”

Nada suaranya kembali profesional.

“Pertemuan perdagangan bahan obat dengan klien lama Paviliun Obat. Nilainya sangat besar.”

Fang Zhe berdiri tegap.

“Saya mengerti, Nona.”

Erina bangkit dari kursinya. Tumit sepatunya menyentuh lantai marmer dengan ritme teratur.

“Kau ikut bersamaku.”

Ia berjalan melewati Fang Zhe, aroma parfum lembutnya tertinggal sepersekian detik di udara.

“Tugasmu sederhana. Mengantar. Menjaga. Mengamati.”

Ia berhenti sebentar di depan pintu.

“Dan satu hal lagi.”

Fang Zhe mengangkat pandangan.

“Jangan membuat masalah dengan klienku.”

Nada suaranya tidak keras. Tapi jelas mengandung peringatan.

“Beberapa dari mereka memiliki latar belakang yang sensitif.”

Fang Zhe langsung menganggukan kepalanya, sejak menjadi pelayan keluarga Zhao. Fang Zhe memang tahu sedikit informasi tentang keluarga bangsawan yang tak suka saksi hidup berkeliaran.

Jantungnya bergetar lagi.

“Saya tidak akan bertindak tanpa instruksi,” jawabnya tenang.

Erina menatapnya sejenak.

“Kau cukup kuat. Itu sudah jelas terbukti kemarin.”

Tatapannya sedikit menyipit.

“Tapi dunia bisnis bukan arena jalanan. Ego bisa menghancurkan kesepakatan miliaran.”

Fang Zhe menunduk tipis.

“Saya hanya akan bertindak jika keselamatan Anda terancam.”

Sepersekian detik, sudut bibir Erina nyaris terangkat.

“Bagus.”

*

Tak lama setelah perjalanan singkat. Mobil hitam berhenti di depan gedung pertemuan eksklusif hotel bintang lima di kota Shange.

Pintu kaca terbuka otomatis. Di dalam, ruang VIP sudah disiapkan.

Meja panjang kayu mahoni. Dinding berlapis marmer gelap. Lampu gantung modern memantulkan cahaya hangat yang elegan.

Disana terdapat tiga pria telah duduk menunggu.

Dan di tengah mereka... Seorang pemuda berjas abu-abu mahal, rambut tersisir rapi, senyum tipis penuh percaya diri. Tatapannya mengandung kesombongan yang tak disembunyikan.

“Tuan Muda Keluarga Brata…” gumam Fang Zhe dalam hati dia mengingat sosok itu, saat pemuda itu berkunjung ke keluarga Zhao.

Ia mengenali wajah itu. Keluarga Brata adalah salah satu keluarga bangsawan kaya yang menguasai jalur distribusi bahan obat di seluruh wilayah Provinsi.

Erina berjalan masuk dengan langkah mantap.

“Tuan Muda Brata.”

Suaranya tenang. Pemuda itu berdiri, menyambut dengan senyum melebar.

“Nona Erina. Seperti biasa… Anda selalu memukau.”

Tatapannya menelusuri Erina tanpa malu. Dari wajah turun perlahan… Hingga ke ujung sepatu haknya.

Fang Zhe masih berdiri satu langkah di belakang, ekspresinya tetap datar. Namun matanya sedikit menyipit.

“Silakan duduk,” ucap Tuan Muda Brata.

Pertemuan dimulai. Beberapa menit pertama berjalan formal. Mereka membahas harga bahan obat langka. Distribusi kuota untuk konsumen, dan manfaat kerja sama jangka panjang.

Namun perlahan, arah pembicaraan berubah.

Tuan Muda Brata menyandarkan tubuhnya ke kursi. Senyumnya berubah lebih licik.

“Sejujurnya… keluarga kami bisa menaikkan kuota dua kali lipat.”

Erina menatapnya lurus.

“Itu kabar baik.”

“Tentu saja.” Ia tersenyum tipis. “Tapi setiap keuntungan besar… Biasanya memerlukan imbalan yang setara.”

Fang Zhe merasakan udara di ruangan itu berubah. Namun terlihat, wajah Erina tetap tenang.

“Imbalan seperti apa yang Anda maksud?”

Tuan Muda Brata menyilangkan kaki.

“Kesepakatan ini bisa kita lanjutkan… Jika Nona Erina bersedia menemaniku malam ini.”

Ruangan mendadak hening. Dua pria lain tertawa kecil, seolah itu hal biasa. Tatapan mereka jelas. Tidak lagi soal bisnis. Melainkan sesuatu yang lebih kotor.

Fang Zhe merasakan darahnya mendidih. Tangannya hampir mengepal. Namun ia teringat pesan Erina yaitu jangan membuat masalah.

Melihat Erina tidak langsung marah. Ia tidak ingin menampar. Ia tidak meninggikan suara. Ia hanya menatap pria itu dengan dingin. Meski tangannya ingin sekali bergerak menghajar wajah tuan muda dari keluarga Brata ini.

“Saya datang untuk bisnis, bukan hiburan.”

Suaranya setenang es. Tuan Muda Brata terkekeh geli mendengarnya.

“Ah, jangan terlalu kaku. Dunia ini saling menguntungkan.”

Ia berdiri. Melangkah mendekat sedikit ke sisi meja.

“Dengan satu malam saja… keluarga Brata akan memastikan Paviliun Obat berdiri di puncak pasar utara.”

Fang Zhe bisa melihat tatapan pria itu yang terang-terangan cabul. Erina langsung bangkit dari kursinya.

“Kalau begitu, kesepakatan ini tidak perlu dilanjutkan.”

Mendengarnya, senyum tipis yang tak tersembunyi terlihat pada sudut bibir tuan muda keluarga Brata.

"Tidak perlu dilanjutkan? Mungkin Paviliun Obatmu akan hancur... Setelah menyinggung tuan muda keluarga Paduka Ryan... Dengarkan aku, jika kamu menyetujuinya. Mungkin aku akan menyingkirkan keluarga itu dengan kekuasaanku?!"

Ucapan itu menggantung di udara. Ancaman yang dibungkus tawaran.

Erina sedikit menatap Tuan Muda Brata tanpa berkedip. Ekspresinya tetap tenang. Namun matanya terasa begitu dingin.

“Paviliun Obat berdiri karena kualitas dan reputasi,” ucapnya perlahan.

“Bukan karena perlindungan pria yang menyamakan kerja sama dengan pelecehan.”

Ruangan terasa lebih berat. Yang membuat senyum Tuan Muda Brata memudar sedikit.

“Kau berani sekali.”

Erina meraih tasnya.

“Keberanian berbeda dengan harga diri.”

Ia melangkah mundur.

“Dan harga diriku tidak untuk dinegosiasikan.”

Fang Zhe mengikuti satu langkah di belakang.

Detak jantungnya stabil. Namun amarahnya nyaris meledak. Saat mereka hampir mencapai pintu. 

Tuan Muda Brata bersuara lagi.

“Erina.”

Fang Zhe dan Erina seketika berhenti.

Bukan karena takut. Melainkan karena ingin memastikan kata-kata terakhirnya jelas.

“Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.”

Erina tidak menoleh.

“Begitu pula dengan rasa hormat.”

Ia melangkah keluar. Pintu tertutup. Namun masalah belum selesai. Lorong VIP hotel itu sepi. Karpet tebal meredam suara langkah.

Namun tiga sosok besar sudah berdiri di ujung lorong.

Tiga pria berjas hitam.

Tubuh tinggi. Bahu lebar. Tatapan dingin tertuju kearah kedyuanya. Kini mereka mulai bergerak pelan.

Menutup jalur menuju lift. Fang Zhe langsung melangkah setengah di depan Erina. Posisinya jelas berusaha melindungi.

Salah satu pria menyeringai.

“Oh… Hanya sekadar pengawal kecil.”

Suaranya berat.

“Kau pikir jas bagus membuatmu terlihat berbahaya?”

Pria kedua tertawa pelan.

“Dia terlihat seperti model majalah. Bukan petarung. Memang dia bisa apa?”

Yang ketiga menepuk bahunya sendiri.

“Bos hanya ingin bicara lagi. Jangan membuat kami harus menyeret kalian.”

Erina tetap berdiri tegak. Tidak panik. Namun jelas ini bukan sekadar obrolan.

Fang Zhe menatap Erina, memperlihatkan tatapan tenang. Seperti meminta sebuah persetujuan.

“Hei anak muda! Menjauh, atau...”

Tidak membalas ancaman itu, Fang Zhe menyeringai dingin.

"Bos, apa aku boleh beraksi?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SISTEM GILA MENGUBAHKU JADI DEWA   196. Li Shian yang cantik, dan Li Yin yang kepo.

    Sreeet... Suara desas-desus yang semula memenuhi ruangan Toko Sumber Daya Naga Langit mendadak hening. Kata-kata yang keluar dari bibir Fang Zhe, meskipun lirih, itu cukup bisa didengar oleh beberapa pelanggan lain. Seketika itu juga, beberapa pasang mata dari para pelanggan kaya yang sedang memilih barang di sudut-sudut toko langsung tertuju padanya. Alis mereka mengernyit serentak, memancarkan kombinasi antara rasa tidak percaya, kebingungan, dan rasa ingin tahu yang membuncah. "Pengumpul Roh? Apakah telingaku tidak salah dengar?" bisik seorang pria paruh baya berjubah brokat merah yang dikenal sebagai saudagar kaya dari luar penjara. "Ranah Pengumpul Roh di dalam Penjara Naga Hitam ini bisa dihitung dengan jari sebelah tangan! Siapa pria berjubah hitam itu? Apakah dia salah satu penguasa blok? Katanya semuanya terbunuh ketika melawan penguasa blok baru itu?" sahut kultivator lain di sebelahnya, menatap punggung Fang Zhe dengan pandangan menyelidik. "Heh, apa dia Fang Z

  • SISTEM GILA MENGUBAHKU JADI DEWA   195. Toko sumber daya Naga Langit.

    "Pasar gelap yang disokong oleh Kekaisaran... menarik," gumam Fang Zhe, matanya menyipit saat otaknya yang cerdas langsung menyusun ulang strategi. Rasa dongkolnya pada sistem matre itu sedikit terobati. Jika 12.000 poin hanya bisa menaikkannya satu bintang karena besarnya kapasitas dantiannya, maka ia harus mencari alternatif manual. Uang jutaan dolar di dalam puluhan kartu ATM yang dibawa Lei Ba kini bukan lagi sekadar angka mati, melainkan tiket emasnya di pasar gelap untuk membeli sumber daya spiritual berkualitas tinggi. "Lei Ba, Faiye, bawa uang itu. Kita pergi ke pasar gelap sekarang juga," perintah Fang Zhe sembari menyambar jubah hitam yang dibawa Faiye dan menyampirkannya ke bahu. Namun, tepat saat kakinya baru melangkah satu senti di ambang pintu ruangan Blok 10, bulu kuduk Fang Zhe mendadak meremang. Naluri bertarungnya yang tajam menangkap sekelebat riak energi tak kasat mata yang mengintai dari celah ventilasi udara di sudut atas lorong. Riak itu sangat halus, namu

  • SISTEM GILA MENGUBAHKU JADI DEWA   194. Ada pasar gelap?

    "Baik tuan muda..." ungkap mereka berdua segera keluar dari ruangan.. Diiiing! Sebuah kilatan cahaya biru transparan kembali memenuhi pandangan mata Fang Zhe. Seiring dengan kepergian Faiye dan Lei Ba yang bergegas melaksanakan perintah rahasianya, keheningan total kembali menguasai ruangan Blok 10. "Sistem, buka statusku," gumam Fang Zhe dingin. [Pemberitahuan Sistem: Menampilkan panel status Tuan Rumah.] > Sisa Poin Saat Ini: 12.000 Poin > Ranah Kultivasi: Pengumpul Roh bintang satu. * Mengingat niat membunuh Han Ling yang begitu pekat dan fakta bahwa pria itu mengincar kepalanya demi membalas dendam karena menghancurkan keluarganya, Fang Zhe tahu kultivasi pemuda itu tak terdeteksi. Dan ia harus menyiapkan diri agar, ia bisa menuntaskan dua misi sekaligus! "Sistem, dengan sisa 12.000 poin terakhirku ini, lakukan terobosan ranah sekarang! Naikkan kultivasiku ke tingkat berikutnya!" perintah Fang Zhe tanpa ragu sedikit pun. Diiiing! >[Pemberitahuan Sistem: Mempros

  • SISTEM GILA MENGUBAHKU JADI DEWA   193.

    Tanya Fang Zhe asli, suaranya terdengar santai namun penuh dengan nada kepuasan yang tertahan. Mendengar pertanyaan itu, baik Lei Ba maupun Faiye masih tidak bisa berkata-kata. Lidah mereka kelu, seolah-olah seluruh pasokan kata di dalam otak mereka telah menguap habis. Namun Lei Ba hanya bisa mengangguk-angguk kaku seperti ayam kayu, sementara Faiye masih memegangi botol ramuan medisnya dengan pandangan kosong yang syok. Bagi mereka, apa yang ada di depan mata bukan lagi sekadar "hebat", melainkan seeperti Dewa. Namun, tepat saat Fang Zhe membuka mulutnya untuk menjelaskan rahasia di balik teknik barunya itu... Tak... Tak... Tak... Gema ketukan langkah kaki yang berat dan teratur mendadak terdengar dari lorong luar, bergerak mendekat ke arah ruangan pribadi Blok 10. Suara sol sepatu bot militer yang keras itu langsung memicu alarm kewaspadaan di kepala Fang Zhe. Mengingat ritme langkahnya yang angkuh dan penuh wibawa, itu jelas bukan langkah kaki narapidana biasa dari Blok

  • SISTEM GILA MENGUBAHKU JADI DEWA   192. Teknik Bayangan Tubuh?!

    CRACK! Gelas kristal di tangan Han Ling hancur berkeping-keping, menyemburkan sisa cairan merah ke lantai marmer yang mengilap. Kepala sipir penjara langsung menjatuhkan lututnya ke lantai, tubuhnya gemetar hebat di bawah tekanan niat membunuh yang mendadak memenuhi seluruh ruangan mewah tersebut. "Ma-maafkan kelancangan saya, Tuan Muda Han! Saya akan segera melaksanakan perintah Anda!" seru kepala sipir dengan suara bergetar, tidak berani mendongak sedikit pun. Han Ling mendengus dingin, mengibaskan sisa pecahan kristal dari tangannya yang bahkan tidak tergores sedikit pun. Matanya menatap lurus ke jendela besar yang mengarah ke kegelapan kompleks penjara, memikirkan sosok Fang Zhe yang saat ini pasti sedang menggelepar sekarat di Blok 10. "Pergilah. Jika bisa pastikan dia tidak mati terlalu cepat sebelum duel kita besok," desis Han Ling penuh dendam. * Sementara itu, kembali ke dalam ruangan pribadi di Blok 10... Wusshhhhh! Sensasi sedingin es dari Pil Penawar Seribu

  • SISTEM GILA MENGUBAHKU JADI DEWA   191.

    Diiiing! Sebuah jendela antarmuka transparan berwarna biru muda mendadak muncul di depan pandangan Fang Zhe yang mulai buram. Suara mekanis sistem yang dingin namun familier menggema langsung di dalam kesadarannya. [Pemberitahuan Sistem: Menjawab pertanyaan Tuan Rumah. Resep pill seribu racun... Daun Qilian, Gingseng berumur 700 tahun, Air Suci Lotus, dan kelopak teratai Qi.] "Jika begitu, apa semua bahan ini ada di toko sistem?" [Ada?! Total konsumsi 3.000 poin untuk semua bahan... Proses pembelian dimulai?!] "Heh tumben kau berubah menjadi baik hati? Pasti kau tak tega kan melihat aku mati karena keserakahan mu seperti biasanya?" "..." Namun sistem tak menjawab. Hingga tiba tiba... Wuuuuush! Empat bahan muncul di hadapan Fang Zhe tanpa prrsetujuan. Namun deretan notifikasi sistem muncul memenuhi pandangan matanya. Diiiing! [Pembelian berhasil?! Poin tersisa 17.000! Semua poin sekarang adalah hasil dari penyelesaian misi penundukan penguasa 4 blok terakhir...] [

  • SISTEM GILA MENGUBAHKU JADI DEWA   7. Tuan muda Brata ketakutan.

    Erina menatap punggungnya beberapa detik. Ia bisa merasakan aura aneh dari pria yang berdiri di depannya itu. Tenang. Stabil. Seolah situasi di lorong ini sama sekali tidak berbahaya. Ia hanya menjawab singkat. “Asal, jangan membunuh.” Sudut bibir Fang Zhe sedikit terangkat. “Itu sudah cukup.

  • SISTEM GILA MENGUBAHKU JADI DEWA   32. JACKPOT

    Fang Zhe mengabaikan tarikan tangan Erina yang gemetar. Ia justru menumpuk chip emas bernilai jutaan dolar itu dengan suara dentingan yang memuaskan telinga."Fang Zhe! Cukup! Jangan dengarkan hasutan ular ini!" teriak Erina, wajahnya kembali memucat. "Satu juta delapan ratus ribu dolar! Kau bisa

  • SISTEM GILA MENGUBAHKU JADI DEWA   31. BARU Permulaan!

    Fang Zhe tidak langsung meletakkan chip-nya. Ia membiarkan suasana hening sejenak, membiarkan tatapan remeh dari para penjudi kelas kakap di sekeliling meja menusuk punggungnya. Mata Dewanya juga masih aktif, menangkap getaran frekuensi magnetik yang dimainkan sang bandar di bawah meja. "Baik aku

  • SISTEM GILA MENGUBAHKU JADI DEWA   29.

    Fang Zhe berbalik dengan tenang, jubah abunya berkibar pelan seolah-olah ditiup oleh angin beku yang ia ciptakan sendiri.Di belakangnya, Tuan Muda Zhao masih terduduk lemas dengan napas tersengal yang mengeluarkan uap putih, sementara ayahnya, sang Kepala Keluarga, mematung dengan wajah pucat pasi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status