LOGINKLIIIIK!
Suara notifikasi itu seperti petir yang menyambar jantung Fang Zhe.
Ia membeku. Lalu perlahan menunduk menatap panel sistem.
*
Status Host: Fang Zhe
*
“Apa?”
Wajahnya seketika kaku.
“APA?!”
Ia bahkan langsung meloncat dari tempat tidur.
“System! Kau mencuri poinku?!”
DIIIIIING!
‘Host secara sukarela melakukan peningkatan Kharisma.’
“Secara sukarela kepalamu!” bentaknya.
“AKU CUMA SENTUH!”
DIIIIIING!
‘Konfirmasi sentuhan telah dianggap sebagai persetujuan.’
Nadi di pelipisnya berdenyut keras.
“Seratus lima puluh poin… Itu hasil kerja kerasku tadi siang!”
‘Investasi pada penampilan memiliki dampak jangka panjang.’
“Dampak jangka panjang? Aku ini pengawal, bukan kontestan pemilihan wajah tampan kota!”
Panel tetap biru. Dingin. Tanpa rasa bersalah. Fang Zhe berjalan mondar-mandir di kamar kecil itu.
“Kharisma tingkat satu… Aura ketampanan tuan muda… Untuk apa?! Untuk memikat nyamuk di taman?!”
DIIIIIING!
‘Efek samping: meningkatkan daya tarik, kewibawaan, dan respons sosial positif.’
“Respons sosial positif?! Aku butuh poin, bukan tepuk tangan!”
Ia menarik rambutnya sendiri.
“System ini benar-benar penipu kelas atas…”
DIIIIIING!
‘Sistem menyukai host yang ekspresif.’
“Diam! Jangan balas lagi!”
Kamar kembali sunyi. Fang Zhe akhirnya memilih untuk duduk di tepi ranjang. Dadanya naik turun. Karena semua poinnya habis.
Refleks tak naik. Daya tahan tak naik. Teknik observasi tak terbeli. Medis tetap lima ratus poin. Yang naik hanya wajahnya.
Ia menatap cermin kecil di dinding. Lalu terdiam sejenak.
Beberapa detik berlalu.
“Hah?”
Alisnya perlahan terangkat.
Rahangnya tampak lebih tegas. Tatapannya lebih tajam. Kulitnya lebih bersih. Bahkan garis bahunya terlihat lebih proporsional.
Aura samar entah bagaimana membuat dirinya sendiri terasa berbeda.
“Ini… aku?”
Ia mendekat sedikit.
“Tidak masuk akal…”
Namun detik berikutnya wajahnya kembali mengeras.
“Tidak peduli seberapa tampan, poin tetap nol!”
Ia kembali menjatuhkan diri ke ranjang.
“Besok aku harus kerja… dan aku bahkan tidak punya peningkatan apa pun.”
Ia memejamkan mata. Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar pelan.
“System…”
Tidak ada jawaban.
“Kalau kau mencoba menipuku lagi, aku benar-benar akan menghancurkan semua misimu.”
Hanya suasana sunyi yang melanda. Fang Zhe menghela napas panjang. Hari ini menurutnya terlalu panjang.
Kota Shange. Erina. Paviliun Obat. Sistem misterius. Poin hilang. Kharisma aneh. Bahkan menyinggung tuan muda keluarga Paduka Ryan.
Hidupnya benar-benar berubah. Dalam beberapa menit, napasnya menjadi teratur. Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke kota ini…
Ia akhirnya dapat tertidur.
*
Pagi hari.
Cahaya matahari menembus tirai kamarnya. Fang Zhe membuka mata perlahan. Beberapa detik ia menatap langit-langit. Lalu mengingat semuanya.
“Bukan mimpi.”
Ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Setelah mandi cepat, ia mengenakan pakaian kerja yang sudah tergantung rapi di lemari.
Setelan hitam pas badan. Kemeja putih bersih. Jas tipis khusus pengawal elit. Sepatu kulit hitam mengilap. Begitu ia mengancingkan jasnya…
Ia kembali menatap cermin.
Dan terdiam. Aura itu kini terasa lebih jelas.
Posturnya tegak. Tatapannya dalam. Rahangnya tegas. Bahkan ekspresinya tanpa sadar memancarkan wibawa yang cukup tenang.
Bukan lagi pemuda miskin yang duduk di halte bus kemarin. Melainkan pria muda dengan aura tuan muda bangsawan.
“Ini efek Kharisma…” gumamnya pelan.
Ia menarik napas.
“Baiklah… setidaknya tidak sepenuhnya sia-sia.”
Tok.
Tok.
Ketukan terdengar di pintu.
“Pengawal Fang, Nona meminta Anda ke ruang makan.”
“Baik.”
Fang Zhe membuka pintu dan berjalan menyusuri lorong.
Langkahnya stabil. Bahunya tegap. Tatapannya lurus ke depan.
Beberapa pelayan yang dilewatinya tanpa sadar berhenti sejenak. Mereka saling berpandangan.
“Kenapa… Aura Pengawal Fang terasa berbeda hari ini?”
“Dia terlihat seperti… tuan muda keluarga besar.”
Fang Zhe tidak menyadari tatapan itu. Ia memasuki ruang makan. Dan di sana, Erina sudah duduk di kursi utama.
Ia mengenakan setelan formal warna krem lembut, rambut panjangnya terurai rapi. Di depannya tersaji sarapan sederhana namun elegan.
Saat pintu terbuka, Erina mendongakkan kepala. Seketika tatapannya membeku.
Untuk sepersekian detik, tatapannya benar-benar berhenti.
Fang Zhe juga masih berdiri tegak di ambang pintu.
Cahaya pagi dari jendela besar memantulkan siluetnya. Garis rahangnya tegas. Tatapannya tenang namun dalam. Aura wibawa yang tak kentara kemarin kini terasa nyata.
Bukan hanya tampan. Tapi berkelas. Erina bahkan lupa untuk menurunkan cangkir tehnya. Detak jantungnya tanpa sadar bertambah satu ketukan.
“Fang Zhe?”
Suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya. Fang Zhe berjalan mendekat dan berhenti satu langkah di belakang kursinya.
“Selamat pagi, Nona.”
Nada suaranya stabil. Rendah. Penuh kontrol.
Erina mengerjap sekali. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar wajah. Melainkan karisma, wibawa yang terlihat benar benar berbeda dari awal sejak ia bertemu.
Kepercayaan diri yang sunyi namun kuat.
Ia menegakkan punggungnya kembali, mencoba mengembalikan ekspresi profesionalnya.
“Kau… terlihat berbeda hari ini.”
Fang Zhe sedikit mengangkat alis.
“Berbeda?”
Erina terdiam dua detik sebelum menjawab.
“Lebih cocok mengenakan jas itu.”
Fang Zhe dalam hati menghela napas panjang. “Terima kasih, Nona.”
Namun sebelum suasana itu berubah canggung.
DIIIIIING!
Suara notifikasi mendadak menggema tepat di dalam kepalanya. Jantung Fang Zhe hampir meloncat keluar. Diikuti dengan panel biru transparan muncul di sudut penglihatannya.
*
MISI BARU TERDETEKSI!
Kategori: Misi Sedang
*
Tatapan mata Fang Zhe kembali membeku. Matanya masih lurus ke depan. Namun di dalam hati dan pikirannya.
“APA?!”
Ia hampir tersedak napasnya sendiri.
“Tingkatkan… apa?!”
Tangannya yang tadinya tenang di belakang punggung hampir mengepal.
“System, kau sudah gila?!”
DIIIIIING!
‘Misi sesuai jalur perkembangan hubungan strategis.’
“Hubungan strategis kepalamu!”
Ia menahan ekspresi sekuat tenaga agar tidak berubah di depan Erina. Membuat CEO menyukainya? Ia adalah pengawal. Bukan aktor drama romansa murahan!
Dan lagi, didepannya itu Erina. CEO Paviliun Obat. Wanita cerdas, dingin, dan jelas bukan tipe yang mudah terpikat.
“Lima ratus poin…” mengingatnya yang membuat dadanya berdegup kencang.
500 poin berarti ia bisa membeli Kemampuan Medis Dasar.
“Tapi ini misi bunuh diri sosial!” ungkap dalam hatinya.
Erina masih menatapnya.
“Kau terlihat… sedikit tegang.”
Fang Zhe langsung sadar dari lamunannya.
“Saya baik-baik saja, Nona.”
Erina masih memperhatikannya beberapa detik lebih lama.Tatapannya tajam. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah tenang Fang Zhe. Lalu ia meletakkan cangkir tehnya secara perlahan.“Hari ini ada pertemuan penting.”Nada suaranya kembali profesional.“Pertemuan perdagangan bahan obat dengan klien lama Paviliun Obat. Nilainya sangat besar.”Fang Zhe berdiri tegap.“Saya mengerti, Nona.”Erina bangkit dari kursinya. Tumit sepatunya menyentuh lantai marmer dengan ritme teratur.“Kau ikut bersamaku.”Ia berjalan melewati Fang Zhe, aroma parfum lembutnya tertinggal sepersekian detik di udara.“Tugasmu sederhana. Mengantar. Menjaga. Mengamati.”Ia berhenti sebentar di depan pintu.“Dan satu hal lagi.”Fang Zhe mengangkat pandangan.“Jangan membuat masalah dengan klienku.”Nada suaranya tidak keras. Tapi jelas mengandung peringatan.“Beberapa dari mereka memiliki latar belakang yang sensitif.”Fang Zhe langsung menganggukan kepalanya, sejak menjadi pelayan keluarga Zhao. Fang Zhe meman
KLIIIIK!Suara notifikasi itu seperti petir yang menyambar jantung Fang Zhe.Ia membeku. Lalu perlahan menunduk menatap panel sistem.*Status Host: Fang ZhePekerjaan: Pengawal Pribadi CEOPoin Sistem: 0Kharisma: Tingkat 1 — Aura Ketampanan Tuan Muda Kota Shange.*“Apa?”Wajahnya seketika kaku.“APA?!”Ia bahkan langsung meloncat dari tempat tidur.“System! Kau mencuri poinku?!”DIIIIIING!‘Host secara sukarela melakukan peningkatan Kharisma.’“Secara sukarela kepalamu!” bentaknya.“AKU CUMA SENTUH!”DIIIIIING!‘Konfirmasi sentuhan telah dianggap sebagai persetujuan.’Nadi di pelipisnya berdenyut keras. “Seratus lima puluh poin… Itu hasil kerja kerasku tadi siang!”‘Investasi pada penampilan memiliki dampak jangka panjang.’“Dampak jangka panjang? Aku ini pengawal, bukan kontestan pemilihan wajah tampan kota!”Panel tetap biru. Dingin. Tanpa rasa bersalah. Fang Zhe berjalan mondar-mandir di kamar kecil itu.“Kharisma tingkat satu… Aura ketampanan tuan muda… Untuk apa?! Untuk memik
Hening beberapa detik memenuhi kabin mobil yang bergerak halus itu. Fang Zhe juga tidak langsung menjawab.Di luar jendela, gedung-gedung kota Shange mulai menjulang tinggi. Dunia yang beberapa jam lalu terasa begitu kejam, kini seperti membuka celah kecil untuknya.“Kalau aku menolak?” tanyanya tenang.Erina menatap lurus ke depan.“Paduka Ryan bukan tipe orang yang membiarkan saksi hidup bebas berkeliaran. Kau sudah memukul anak buahnya.”Ia berhenti sejenak, lalu menatapnya secara serius.“Dan kau cukup kuat untuk membuat mereka penasaran.”Artinya jelas. Menolak pun bukan pilihan aman. Fang Zhe menyandarkan punggungnya perlahan.“Apa tugasku?”“Menjagaku. Mengikutiku. Dan patuh pada perintahku.” jawab Erina singkat.Tanpa banyak basa-basi lagi, Fang Zhe mengangguk.“Aku terima.”DIIIIIING!Panel sistem kembali muncul.MISI UTAMA SELESAI!Mendapatkan pekerjaan yang layakEvaluasi: Pengawal Pribadi CEO Paviliun ObatHadiah: 100 poin sistem‘100 poin telah ditambahkan.’‘Total poin s
DIIIIIING!Panel transparan berwarna biru muda muncul di hadapan Fang Zhe, hanya bisa dilihat olehnya. Di bawahnya, dua pilihan menyala terang.1. Bela Diri Dasar (Basic Combat Mastery).Meningkatkan refleks, kekuatan pukulan, teknik dasar pertarungan tangan kosong. Cocok untuk konfrontasi langsung.2. Kemampuan Medis Dasar (Basic Medical Proficiency).Pengetahuan pertolongan pertama, stabilisasi luka, diagnosis ringan. Cocok untuk situasi penyelamatan non-tempur.Diikuti dengan munculnya waktu hitung mundur muncul di sudut panel.00:00:10Fang Zhe menatap gadis yang bernama Erina, yang kini terpojok di dinding toko tutup. Salah satu pria sudah hampir meraih lengannya.'Jika aku memilih medis… Aku mungkin bisa menolong setelah semuanya terlambat. Namun jika aku memilih ilmu bela diri… ' bergumam, sembari merubah sorot matanya lebih tegas.“Aku memilih… Bela Diri Dasar.”DIIIIIING!‘Kemampuan ditransfer…’Dalam sepersekian detik, sensasi panas mengalir dari dadanya ke arah perut, lalu
Fang Zhe terdiam sesaat.Tatapan warga desa itu hanya singgah sebentar sebelum berlalu, meninggalkannya berdiri sendiri di pinggir jalan aspal yang sunyi. Angin pagi bertiup dingin, menyapu pakaian compang-campingnya yang masih berbau darah kering dan tanah lembap.Desa Mati. Nama itu terasa tidak asing lagi, dulu jalanan masih tanah, rumah masih terlihat sedikit. Tapi, sistem sepertinya memberikan informasi benar.Fang Zhe mulai menunduk, menatap kedua tangannya sendiri. Kulitnya penuh luka lama yang telah mengering, namun rasa sakitnya nyaris tak ada. Semua terasa seperti mimpi yang terlalu jelas untuk dilihat.“Kalau begitu…” gumamnya pelan.“Aku harus segera pulang.”Dengan berjalan kaki, Fang Zhe menyusuri jalan dari Desa Mati menuju pinggiran kota Shange. Bangunan-bangunan mulai terlihat lebih rapat, rumah-rumah tua berdiri berdampingan dengan ruko modern yang masih tertutup. Tak ada yang mengenalinya. Jelas tak ada yang peduli.Beberapa jam kemudian, langkahnya mulai terhenti.
“Ayolah, bibi cantik. Jangan berpura-pura suci. Bukankah kau juga ingin hidup lebih baik?”Suara laki-laki muda terdengar sombong dan sedikit mabuk. Yang langsung membuat jantung Fang Zhe bergetar cepat.Ia mengenali suara itu. Zhao Ming Yao, tuan muda ketiga keluarga Zhao, pemuda itu terkenal arogan, brutal, dan tak tersentuh hukum keluarga. Ketika Fang Zhe mendorong pintu ruang penyimpanan anggur sedikit terbuka, ia melihat bibinya terdorong ke dinding. Wajah wanita itu terlihat pucat, tangannya gemetar menahan tubuh Zhao Ming Yao yang mendekat dengan senyum menjijikkan.Pemandangan itu mengoyak hati Fang Zhe. Di luar sana, hujan turun deras di kompleks keluarga Zhao, membasahi halaman marmer yang luas bak istana bangsawan kuno. Namun bagi Fang Zhe, badai sesungguhnya ada di ruangan ini. Sejak kecil, ia hidup di bawah atap keluarga Zhao bukan sebagai anggota keluarga, melainkan hanya pemuda kurus dengan pakaian pelayan sederhana. Dia tidak tahu asal usulnya, bahkan siapa orang tuan







