Mag-log inLaras tersembunyi di ujung tombak Jenderal Guan memuntahkan peluru yang menderu dahsyat, merobek udara dengan kecepatan yang mustahil dihindari oleh manusia biasa.Di saat yang bersamaan, Tuan Besar yang sudah kehilangan seluruh akal sehatnya tidak mau ketinggalan. Dengan raungan gila, jemarinya menarik pelatuk revolver emas murni miliknya berturut-turut.BANG! BANG!Tiga peluru emas langsung melesat lurus, membelah sisa-sisa meja beludru hijau, menerjang tepat ke arah dahi dan jantung Fang Zhe.Jarak mereka terlalu dekat, dan kecepatan peluru-peluru itu jelas sangat cepat. Siapa pun yang berada di posisi itu seharusnya sudah hancur menjadi serpihan daging dalam hitungan milidetik.Namun, di tengah badai mesiu dan letusan senjata yang memekakkan telinga... Fang Zhe tetap duduk dengan tenang.Ia bahkan tidak mengedipkan matanya di balik topeng perak tersebut. Tubuhnya tetap bersandar santai di kursi kemudi yang megah, salah satu tangannya masih menopang dagu dengan malas, seolah-olah s
Fang Zhe menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyentuh chip. Di balik topeng perak minimalisnya, sepasang matanya berkilat jenaka sekaligus dingin. Ia tidak melepaskan cengkeraman tangan kokoh Jenderal Guan di atas lengannya, melainkan membiarkannya begitu saja."Mempertaruhkan nyawa ketika uang kalian sudah habis?" Fang Zhe terkekeh rendah, sebuah suara yang terdengar teramat santai namun sarat akan penghinaan."Menarik. Ini tentu akan menghemat banyak waktuku untuk membersihkan tempat ini. Baik, aku terima taruhan sampah kalian."Mendengar persetujuan Fang Zhe, Jenderal Guan perlahan menarik kembali tangannya. Napas sang jenderal berembus berat, memancarkan aura Qi militer yang sangat solid dan menekan. Di ujung meja, Tuan Besar tidak bersuara, namun silinder revolver emasnya kembali diputar dengan bunyi klik yang berirama, menandakan bahwa ia pun menyetujui kegilaan ini sebagai langkah terakhir untuk membalikkan keadaan."Dealer... bagikan kartu terakhir," perintah Tuan Besa
Seketika hawa membunuh dari Tuan Besar dan Jenderal Guan meledak secara bersamaan. Tumpukan ratusan triliun chip kini menumpuk seperti gunung di tengah meja beludru hijau yang bersimbah darah Ariel. Kepungan tiga arah yang absolut. Triple As milik Luna, Triple Sembilan milik Jenderal Guan, dan potensi Royal Flush milik Tuan Besar.Di hadapan kepungan maut yang secara matematis telah mengunci kemenangannya di bawah satu persen, Fang Zhe perlahan melepaskan chip yang sejak tadi ia putar di jemarinya. Chip itu jatuh ke meja dengan bunyi ting yang pelan, namun sanggup menghentikan gaung tawa Tuan Besar."Kalian selalu membuat kalkulasi berdasarkan apa yang kalian lihat," ucap Fang Zhe, suaranya mengalun tenang, memecah ketegangan ekstrem di ruangan itu. "Tapi kalian lupa, di hadapanku, takdir bukanlah tentang probabilitas... melainkan kepatuhan."Fang Zhe tidak menyentuh sisa chipnya, karena ia memang sudah All-In sejak awal. Dengan gerakan yang sangat lambat, ia mengulurkan tangan kana
Bruuuuk! Tubuh Ariel menegang seketika sebelum akhirnya ambruk ke atas meja beludru hijau, menumpahkan darah segar yang perlahan mengalir di sela-sela chip judi dan merembas ke kain meja. Wanita itu tewas seketika, matanya masih terbelalak menatap kosong ke langit-langit ruangan. "Tu-tuan besar kau?!" Luna menjerit histeris, reflex menutup mulutnya dengan kedua tangan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat sampai-sampai ia harus berpegangan pada sandaran kursi agar tidak jatuh merosot ke lantai. Air matanya mengalir deras, menyatu dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya yang pucat pasi bagaikan kain kafan. Namun Tuan Besar perlahan menurunkan lengannya. Asap tipis masih mengepul dari moncong revolver emas murni miliknya. Sambil memutar silinder pistolnya dengan bunyi klik-klik-klik yang mengerikan, ia perlahan memalingkan kepalanya ke arah Luna. Tatapan mata Tuan Besar di balik topengnya begitu dingin, kosong, dan sarat akan kegilaan murni. Eksekusi mati Ariel barusan bukanlah s
Suasana di dalam ruangan VIP itu kini benar-benar telah berubah menjadi neraka psikologis bagi sebagian orang. Pertengkaran internal yang baru saja diredam oleh ancaman mati Tuan Besar meninggalkan bekas trauma yang mendalam bagi Luna dan Ariel. "Dealer... bagikan kartunya," perintah Tuan Besar dengan nada rendah yang bergetar antara amarah dan ambisi yang meluap. Sang dealer yang tangannya sudah basah oleh keringat dingin, dengan gemetar mulai mengocok ulang dek kartu. Bunyi gesekan kertas kartu kali ini terdengar seperti hitungan mundur lonceng kematian di telinga Luna dan Ariel. Sret! Sret! Sret! Dua kartu pertama hole cards meluncur ke hadapan masing-masing pemain. Fang Zhe pun langsung mengambil dua kartunya dengan satu tangan, meliriknya sekilas, lalu meletakkannya kembali dalam posisi tertelungkup. Sudut bibirnya di balik topeng naga semakin melengkung sinis. Melalui Mata Dewa, ia tidak hanya melihat kartunya sendiri, tetapi juga bisa membaca kekacauan mental yang sedang
Wajah Tuan Besar memerah padam di balik topengnya. Rasa malu, murka, dan panik bercampur aduk menjadi satu badai destruktif di dalam dadanya. Dengan kasar, ia menggebrak meja hingga beludru hijau itu retak di bagian tengah. "Jangan sombong dulu, keparat!" raung Tuan Besar, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Ini belum berakhir! Paviliun Keberuntungan Langit tidak akan membiarkanmu keluar dari pintu ini dengan kepala tegak! Kita mainkan putaran berikutnya!" Mendengar keputusasaan Tuan Besar, Fang Zhe justru melipat tangannya di dada. Sepasang matanya yang berkilat jenaka menatap gundukan chip raksasa di atas meja, lalu beralih menatap Tuan Besar dengan pandangan penuh ejekan. "Putaran berikutnya?" Fang Zhe terkekeh hambar. Dia lalu melanjutkan ungkapannya, "tuan besar, mari kita realistis... Dua ratus lima puluh triliun dolar... Meskipun aset paviliunmu begitu besar di negara ini... Tapi apa kau berpikir aku ini orang yang bodoh?" "Apa maksudmu?!" Fang Zhe mel
Langkah Han Mujun dan para anggota keluarga besar itu mendadak kaku. Udara di dalam gua yang tadinya mulai mendingin, seketika kembali mencekam. Tekanan Qi Fang Zhe yang kini jauh lebih padat setelah menyerap kolam darah, mengunci setiap sendi mereka."Apa maksudmu, Nak?" Han Mujun menoleh susah pa
"Seni Petir Penghancur Dunia!" raung Han Mujun.Traaack! Traaaack!Bola petir ungu di tangannya meledak menjadi ribuan ular siber yang memenuhi setiap sudut goa. Cahayanya begitu menyilaukan hingga Ketua Lu dan pemuda Feng harus menutup mata, yakin bahwa dalam detik berikutnya, Fang Zhe hanya akan
"Bawa tas kalian?" Fang Zhe menyipitkan mata, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai yang tak terlihat oleh pria pemegang palu itu. "Simpan saja sampahmu itu. Aku tidak punya waktu untuk menjadi pelayan orang mati." "Apa kau bilang?! Dasar tidak tahu diri!" Pria besar itu nyaris mengayunkan p
Mesin Helikopter terus menderu, membelah awan tipis di atas hamparan hutan belantara yang memisahkan Kota Shange dan Provinsi Nan She. Saat Fang Zhe yang sedang memejamkan mata tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia membuka panel sistemnya secara virtual, jemarinya yang tak kasat mata menggulir daftar







