Masuk59.
Meskipun ada sedikit keraguan di dalam hatinya, Erlang setuju dengan permintaan Arsya. Dia tidak ingin terlibat lebih dalam dengan Arsya, tetapi dia tidak bisa menolak permintaan itu karena menyangkut Zoya.Setelah mengucapakan kata sepakat, dan Arsya pergi meninggalkan ruangannya, Erlang segera menghubungi Devi dan Sammy untuk meminta bantuan mereka mengecek keadaan toko roti milik Zoya."Maaf, Lang, kami sedang berada di luar kota, apa kamu lupa bahwa kamu lah yang menugaskan kami?" kata Sammy di ujung telepon, suaranya terdengar sedikit lelah."Kenapa kalian harus berangkat berdua?" Erlang bertanya, merasa sedikit kesal karena dia khawatir tentang Zoya sementara dirinya sedang sibuk dengan urusan kantor."Ini kerja sama besar dengan perusahaan asing, dan aku ingat kamu sudah setuju dengan keberangkatan kami," Sammy menjawab dengan sedikit tegang."Baiklah, aku sendiri yang akan memeriksa keadaan Zoya," kata Erlang, merasa sediDalam perjalanan menuju panti asuhan, Erlang tersenyum gemas menyaksikan wajah Zoya yang merengut sejak tadi. Jika saja mereka tidak sedang berada dalam perjalanan, Erlang akan meraih tubuh Zoya, memeluk dan menghujaninya dengan ciuman yang bertubi-tubi. "Sayang, apa yang kamu pikirkan?" Erlang menarik tangan Zoya, lalu mengecupnya dengan lembut. "Apa kamu masih terganggu dengan perkataan ayahmu?" Zoya menoleh ke arah Erlang, matanya menantang. "Bagaimana menurutmu? Apa kamu akan setuju seandainya mereka menjodohkan kamu dengan Shenny?" Bukannya menjawab, Erlang malah tergelak mendengar pertanyaan itu. Tingkat kecemburuan Zoya melebihi ekspektasinya. Erlang saja tidak sampai berpikir sejauh itu, bagaimana Zoya bisa begitu menggebu-gebu dengan perasaannya? Erlang tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Kamu cemburu?" tanya Erlang dengan nada yang santai, sambil melirik Zoya dengan mata yang berbinar. Melihat ekspresi Erlang, wajah Zoya memanas. "Aku tidak cemburu!" bantahny
"Aku ada di sini, Zoya. Aku baru saja selesai merapikan persediaan makan malam untuk kita nanti," terdengar suara Amy dari arah dapur. Suara itu diikuti oleh langkah-langkah kaki yang semakin dekat, dan kemudian Amy muncul di ruang tamu dengan senyum yang manis di wajahnya.Amy dalam suasana bahagia saat ini. Kunjungan Shenny selalu membawa aura positif untuknya. Itu sebabnya, dia tersenyum menyambut kedatangan Zoya.Namun, saat melihat Erlang, senyum Amy sedikit berubah, menjadi lebih dingin dan terukur. "Oh, kamu datang ke sini juga," katanya dengan nada yang kurang suka.Erlang membalas perlakuan Amy dengan sebuah senyuman. Dia tidak terpengaruh oleh perubahan ekspresi Amy dan justru bersemangat saat menyerahkan hadiah pada wanita itu. "Selamat siang, Bu Amy, ini oleh-oleh yang saya bawakan," ucapnya dengan ramah.Amy mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan perkataan Erlang. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, karena matanya langsung tertuju pada paperbag yang masih berada di ta
Sudah sejak lama Erlang melakukan hal itu, namun baru saat ini bisa terlaksana. Saat di mana dia memiliki kesempatan untuk mendekati kedua orang tua Zoya dengan caranya sendiri. Tidak peduli seberapa banyak dia harus mengeluarkan biaya untuk menarik simpati Amy, Erlang rela melakukannya demi Zoya. "Hadiah ini terlalu berlebih-lebihan, Lang." Zoya tidak setuju sikap Erlang yang demikian. "Jangan biasakan menghambur-hamburkan uang untuk ibuku, nanti dia malah ngelunjak." "Tidak masalah." Erlang terlihat santai ketika memisahkan barang-barang yang akan diberikan pada Amy, dan juga sang ibu angkat yang merawatnya sejak kecil. "Setelah dari rumah orang tuamu, temani aku ke panti asuhan, Buk Gina pasti bahagia melihat kamu, terakhir kali aku meninggalkan kota ini, dia masih sempat menanyakan keadaan kamu." "Tentu saja, aku juga sangat merindukannya, Lang." Zoya membantu sebisa mungkin, membawa barang-barang mereka menuju tempat parkir, lalu memasukkannya ke dalam mobil. Kurang dar
7Zoya merasa risih dengan tatapan Arsya yang membuatnya merasa seperti objek yang sedang dipelajari. Meski pria itu adalah suaminya, dia tidak suka diperhatikan seperti itu. "Aku tidak nyaman dengan cara kamu melihatku," Zoya berkata sambil mencoba mengalihkan pandangan. "Aku hanya melihat betapa berharganya barang-barang yang melekat di tubuhmu, Zoya." Arsya tersenyum sinis. "Apa kamu akan pergi ke suatu tempat?" Dia berharap diminta bantuan, tapi merasa gengsi untuk mengungkapkannya.Zoya mengatur napas. "Seperti yang aku katakan saat makan siang tadi, aku akan keluar untuk mengurus kepentingan toko dan aku akan pergi sendiri saja."Decak kesal terdengar dari mulut Arsya. Dia muak mendengar penjelasan yang menurutnya hanya sekedar mimpi itu. "Lupakan tentang toko sialan itu, apa kamu pikir aku tidak tahu apa-apa tentang keuanganmu yang buruk itu?" sindirnya.Arsya melangkah mendekati Zoya, suaranya semakin tajam dan penuh dengan ejekan. "Kamu pikir bisa mengalahkan aku dan membuka
Zoya sengaja menemui Sasmita untuk mengirimkan pesan pada Erlang. Dia belum sempat mengganti ponsel, jadi sementara waktu, untuk berhubungan dengan kekasihnya, dia harus melalui wanita paruh baya itu."Apa saja yang kalian bicarakan?" Arsya penasaran dan mulai mencurigai sesuatu. "Kamu sangat dekat dengannya, selalu tersenyum dan bahkan tertawa bahagia setiap bersama dengan pelayan itu, apa dia sangat berarti bagimu?" "Bahkan pelayan pun kamu curigai," Zoya mengejek, namun tidak akan membahas Sasmita lebih lanjut. "Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan? Cara kamu memanggilku seperti sedang meneriaki maling, apa kamu sudah mati perasaan hingga tidak memikirkan pendapat orang lain yang mendengarkannya?""Persetan dengan perasaan orang lain!" hardik Arsya dan hanya ingin fokus pada Zoya bersama orang-orang di sekitarnya. "Aku bicara tentang pelayan itu, apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?""Kamu gila, Arsya." Zoya memasang wajah datar kar
Alih-alih menuruti perkataan Erlang, Arsyila justru semakin brutal. Dengan keangkuhannya, dia memukul-mukul tubuh suaminya hingga terjadi perdebatan yang lebih fatal."Kurang ajar kamu, Erlang, seumur hidupku aku tidak pernah direndahkan seperti ini!" seru Arsyila sembari terus melayangkan pukulan bertubi-tubi. "Siapa kamu yang berani mengusir aku?"Erlang mempelajari setiap gerakan Arsyila. Dia menangkis dan berusaha meredam emosi wanita itu agar segera berhenti bertindak semena-mena padanya."Lihat perilaku yang kamu bangga-banggakan ini, apa kamu layak untuk dihargai?" Erlang mencemooh. "Kamu yang sebenarnya memang tidak pantas untuk dihargai, Syila! Kamu selalu mengungkit-ungkit kesalahan orang lain, tapi tidak pernah melihat kesalahan sendiri!" Arsyila berhenti sejenak, matanya merah karena amarah. "Kamu berani mengatakan itu? Apa kamu pikir aku tidak tahu bahwa kamu berselingkuh selama ini? Aku tahu apa yang terjadi di belakangku dan







