مشاركة

7. Nyonya Kembali

مؤلف: Jayashree
last update آخر تحديث: 2025-11-23 18:34:01

Bi Inah menatap Soraya dengan iba.

“Yang sabar ya, Bu.”

Hati Soraya terasa seperti ditekan benda berat yang menyesakkan.

“Aku baik-baik aja, Bi.”

Namun dalam hati, ia menyala panas, ‘Aku tidak ingin menyerah. Aku ingin mengejar apa yang jadi milikku. Tidak seharusnya dia datang dan menginjakku seenaknya seperti ini.’

Bi Inah melanjutkan pelan,

“Saya tuh kasihan sama Den Andrea. Dari dulu kelakuan Bu Larissa begitu… tapi tetap aja selalu dimaafin. Saya udah seneng banget sekarang Den Andre dapet istri kaya Bu Raya.”

Soraya tersenyum hambar.

“Tapi Larissa tetap lebih cantik dari saya kan, Bi…”

“Yah… dia kan perawatannya selangit, Bu. Coba ibu juga perawatan kayak dia. Temen-temen sosialitanya itu loh Bu… wih, cetar membahana semua, dia gak mau kalah. Beda sama ibu yang sederhana.”

Soraya mengangguk pelan.

“Bibi udah lama ya ikut Mas Andre?”

“Saya ikut Nyonya Lisa udah lama, Bu. Den Andrea dulu masih kuliah di Amerika.”

Soraya mengangguk, mulai paham. "Mungkin itu sebabnya Andre sangat menyukai Larissa — karena mereka setara."

Namun Bi Inah langsung menimpali,

“Enggak nyah… Larissa itu temen kecil Pak Andrea. Dari dulu Den Andrea ditolak terus sama Bu Larissa.”

Fakta itu justru lebih menyakitkan—karena ternyata Andre telah menyukai Larissa sejak lama.

Soraya tersenyum kecut.

“Kalau begitu… gimana aku bisa bersaing sama Larissa?”

Bi Inah menatapnya dengan yakin.

“Tapi saya lihat… Den Andrea lebih bahagia setelah ada Nyonya, loh. Senyumnya lebih lebar, bisa tertawa lepas. Setau saya, Andre itu orangnya dingin dan pendiem banget. Makanya tuh… Bu Larissa pernah bilang dia bosen… dan akhirnya pergi deh dia.”

Soraya mulai tertarik, meski hatinya tetap cemas.

“Kira-kira… apa yang bikin dia balik ke sini ya, Bi? Jujur aku insecure banget…”

“Saya yakin, Den Andrea sebenernya udah sayang banget kok sama Nyah. Nyonya cuma harus bersikap seperti biasanya dan jangan gubris Bu Larissa. Dia makin diladenin, makin gak jelas, nyah.”

Soraya menghela napas panjang, frustrasi. Dalam hati ia menegaskan,

“Aku gak boleh gegabah menghadapi wanita ini. Mungkin dia merasa lebih dari aku… tapi aku juga bukan orang yang bisa diinjak.”

Soraya mencoba menyemangati diri sendiri.

“Ayolah, Rayaa…”

Tiba-tiba suara kecil memanggilnya,

“Mamiii!”

Alex berdiri dengan wajah berantakan tapi menggemaskan. Soraya mengangkatnya, dan rasa sakit di dadanya semakin kuat. Jika harus kehilangan anak kecil ini… rasanya lebih sakit daripada kehilangan Andre.

“Aku harus mempertahankan keluargaku dari wanita jalang itu. Dia tidak pantas berada di tengah keluarga sebaik ini. Tuhan… bantu aku menyingkirkannya,” bisiknya dalam hati.

Sepanjang jalan, Andrea hanya diam. Kedua tangannya menggenggam setir erat, rahangnya mengeras. Jantungnya berat — seperti memikul sesuatu yang tak lagi bisa ditahan. Dia bahkan tidak punya kekuatan untuk bicara pada wanita di sampingnya.

Larissa meliriknya sambil menyandarkan dagu di tangan, santai.

Suara centilnya memecah keheningan.

“Ketika semua orang tau aku sudah kembali, pasti otomatis wanita jelek itu akan pergi dari hidupmu. Karena yang pantes buat tuan CEO kaya kamu ya cuma aku… iya kan sayang?”

Andrea tak menjawab. Matanya hanya menatap lurus ke depan — seakan jalanan lebih penting daripada hidupnya sendiri.

Yang terus memenuhi kepalanya hanyalah Soraya.

Bagaimana aku harus memperbaiki semua ini? Bagaimana aku melindunginya?

Larissa mulai gelisah.

Ia membetulkan rambutnya dengan senyum licik.

“Setelah ini kita akan kembali jadi keluarga paling bahagia… tanpa adanya wanita jelek itu lagi. Iya kan?”

Tetap tak ada jawaban.

Larissa mendesis, kesal.

“Kamu gak denger ya kata-kataku?! Dulu kamu selalu denger loh apa yang aku bilang!”

Andrea menepikan mobil mendadak. Rem diinjak keras.

Larissa tersentak hingga tubuhnya maju sedikit.

Andrea menoleh pelan, matanya gelap.

“Aku bahkan sangat kesal karena kamu ada di mobil ini. Sekarang… turun.”

“Andrea…” Larissa menganga, tak percaya.

“Kamu gak pernah nyuekin aku! Kamu selalu cinta sama aku dan gak pernah ada yang bisa gantiin aku di hati kamu! Ingat itu Andrea!”

Andrea menghela napas panjang.

”Ya… itu sebelum kamu ninggalin aku. Dan sebelum Raya ada di hidupku. Sekarang semua udah beda.”

“Enggak! Kamu cuma lagi buta! Aku akan segera nyadarin kamu!”

Nada Larissa memanas — ia mulai panik. Aura Andrea hari ini… bukan Andrea yang dulu.

Andrea kembali memperingatkan, kali ini lebih tegas.

“Aku akan anter kamu ke mana pun setelah ini. Tapi jangan ganggu pekerjaanku sekarang. Tolong… kamu keluar.”

“Enggak!”

Andrea turun dari mobil tanpa sepatah kata lagi. Larissa menatapnya tak berkedip — jantungnya mulai berdegup cepat.

Mengapa dia jadi… jauh lebih gagah sekarang?

Dulu Andrea hanyalah lelaki setia yang selalu tunduk padanya. Tapi pria yang berdiri di dekat pintu mobil saat ini… adalah sosok yang tegas. Punya wibawa. Dan itu membuat darah Larissa berdesir.

Andrea membuka pintu penumpang.

“Turun sekarang.”

“Enggak!”

Andrea mulai menyentuh lengannya, hendak menariknya keluar.

“Enggak! Aku mau ikut kamu, Andre!”

Larissa menangis — air matanya jatuh, memohon.

Andrea berhenti menariknya. Menatap wajah itu… wajah yang dulu sangat ia cintai.

Emosi dalam dirinya berperang.

“Jangan buat onar. Setelah ini… aku bakal antar kamu pulang ke rumahmu.”

“Please Andre… aku cuma mau di sisimu…”

Larissa mencengkram lengan Andrea kuat-kuat.

Andrea menghempasnya — lebih tegas.

“Gak usah bermulut manis, Larissa. Karena kamu pernah ninggalin aku… sama Alex.”

Ucapan itu memukul keras di dada Larissa. Ia menggigit bibir — terhina sekaligus marah.

Andrea menarik napas panjang. Meeting akan dimulai. Waktunya hampir habis.

Ia harus pergi… sebelum hatinya hancur lagi.

Sesampainya di kantor, Andrea melangkah cepat tanpa menoleh lagi pada Larissa. Wajahnya dingin — aura CEO-nya muncul.

Larissa turun dengan santai. Senyum ratu kembali di wajahnya. Tumit stiletto berdetak elegan di lantai.

“Bukannya itu Nyonya Larissa ya?”

“Dia balik? Serius?”

Desas-desus mulai terdengar.

Tapi ada yang berbeda — Andrea sama sekali tidak menoleh ke arahnya.

“Nyonya sudah kembali.”

Larissa mengangguk sombong.

“Bagaimana keadaan kantor ini tanpaku?”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • SORAYA : Istri Pengganti   13. Kehadiranmu

    Andrea tertawa pelan, menggenggam tangannya dan menariknya pergi. Mereka naik ke kamar eksklusif keluarga Tamson, lantai tertinggi hotel. Begitu pintu tertutup— Andrea tak bisa menahan diri langsung mencium Soraya kembali, lebih dalam, lebih putus asa. “Aku sangat merindukanmu…” Soraya membalas dengan napas memburu. “Aku menginginkanmu, Mas.” Andrea menuruni leher Soraya dengan ciuman panas, aromanya menabrak seluruh kontrol diri. Tak butuh waktu lama — mereka sudah berada di tempat tidur, melepaskan kerinduan. Setelah malam yang panjang, Soraya terbangun pelan. Lampu kamar redup, hanya cahaya kota yang masuk melewati tirai besar. Tubuhnya masih hangat, terbungkus dalam selimut tebal. Lalu ia sadar— dirinya berada dalam pelukan Andrea. Lengannya melingkar di pinggang Soraya, napasnya tenang, dalam, damai… seperti seseorang yang akhirnya bisa tidur setelah berhari-hari tersiksa. Soraya menatap wajah itu. Wajah yang biasanya penuh tekanan, kebingungan, rasa bersalah… kini

  • SORAYA : Istri Pengganti   12. Makan Malam

    "Larissa mungkin masa lalu yang selalu aku rindukan sebelumnya,” Andrea berkata pelan, suaranya seperti tertahan sesuatu. Ia terdiam sejenak sebelum meremas tangan Soraya lembut. “Tapi sepertinya semua udah berubah sekarang.”Soraya melepaskan genggaman itu perlahan, matanya merendah.“Aku tidak berani memimpikanmu, Mas. Rasanya masih jelas bagaimana kamu gak pernah melihat aku dan selalu terjebak dalam masa lalu bersama Mbak Larissa. Sekarang saat dia kembali… yang aku rasakan lebih putus asa.”Kata-kata itu menghantam Andrea. Ia kehilangan suara.Ia menepi dan menghentikan mobil di pinggir jalan. Lampu kota memantul di wajah bersalahnya saat ia menatap Soraya.Tanpa berpikir panjang, Andrea meraih tangan Soraya dan mengecup punggungnya dengan lembut.“Saat ini aku sangat takut, Raya. Aku sangat takut kehilanganmu.”“Mas, apakah kamu benar-benar merasakannya? Apa yang aku rasakan?”Mata mereka bertemu — namun bukan kehangatan yang mereka lihat, melainkan ketakutan dan rasa tak percay

  • SORAYA : Istri Pengganti   11. Menculik

    Tidak ada jawaban. Larissa masuk kembali ke rumah dengan wajah panas membara. Rahangnya mengeras, tumit sepatunya menghentak lantai marmer.“Oke kalau ini yang kalian inginkan… jangan kamu pikir aku bodoh. Justru KALIAN yang bodoh.”Ia mendesis panjang, matanya merah karena amarah.Larissa benar-benar kesal, namun pikirannya bekerja cepat.Alex.Anak itu selalu menjadi kelemahan Andrea.Mana mungkin pria itu akan mengabaikanku kalau aku membawa Alex?Ia tersenyum miring.Licik.“Bi Inah!”“Iya nyonyah.”“Mana Alex?”“Alex sudah tidur nyonyah.”Larissa melangkah cepat.“Aku akan bawa dia pergi dari sini.”Inah tersentak dan langsung menahan tangannya dengan panik.“Nyah tolong jangan, nyah.”“Gak usah ikut campur kamu ya.”“Tapi nyah… nanti Nyonya Soraya pasti khawatir. Den Andrea juga…”“Peduli apa aku sama mereka?! Liat! Mereka bisa-bisanya ninggalin aku. Oke kalau kalian mau begini cara mainnya!”Larissa berjalan cepat menuju kamar Alex, napasnya memburu.Begitu masuk, ia langsung m

  • SORAYA : Istri Pengganti   10. Terabai

    Soraya tidak peduli lagi pada teriakan Larissa. Ia hanya mengangkat Alex ke gendongannya dan meninggalkan taman, membawa anak itu masuk ke rumah sambil berusaha menenangkannya.Di kamar, Alex masih tersedu-sedu.“Kenapa sih ada Tante jahat itu? Aku gak mau sama Tante jahat.” rengeknya sambil memeluk Soraya erat-erat.Soraya mengusap punggung kecil itu lembut.“Alex, sebenarnya dia adalah Mamamu yang sebenarnya. Aku juga ibumu… tapi kamu lahir dari perutnya.”Alex mengernyit bingung.“Tapi aku gak tau siapa dia.”Soraya menatapnya penuh kasih.“Alex denger Mami boleh?”Anak itu mengangguk kecil, wajahnya masih basah oleh air mata.“Kita harus selalu bersikap baik, dan kamu anak baik, bukan?”Alex mengangguk lagi, kali ini lebih dalam.Sangat menggemaskan dalam kesedihannya.“Mulai sekarang kamu harus berusaha untuk baik dengan Mamamu ya.”Alex menatapnya dengan mata berkaca-kaca.“Tapi aku cuma mau Mami…”Soraya tersenyum, menggenggam pipinya lembut.“Mami di sini, sayang. Gak akan per

  • SORAYA : Istri Pengganti   9. Hampir Gila

    Bagus langsung berdiri. Teman-temannya menatap dengan senyum lebar dan tatapan jahil. Terdengar kikikan tertahan dari ujung ruangan. “Silakan, Bu. Saya antar.” Larissa mendesis pelan, melengos dan berjalan cepat ke luar. Bagus mengikuti di belakang dengan senyum penuh kepuasan. Pintu tertutup. Andrea berdiri diam. Nafasnya berat… lalu memegang pelipis yang berdenyut keras. “Andaikan aku belum menyentuh Soraya… mungkin tidak akan serumit ini.” "Ah Tuhan… apa yang harus kulakukan?" Ia menatap ponsel di tangannya. Ingin menghubungi Soraya… tapi lidahnya kelu. Gak mungkin bicara di rumah. Larissa pasti akan mengacau. Andrea mondar-mandir di dalam ruangan, semakin gelisah. Kenapa pria setia sepertiku… harus dapat masalah seperti ini? Di rumah, Alex berlari-lari kecil di taman sambil tertawa riang, tangannya terangkat ke atas. “Aa dulu sayang! Pesawat datang!” Soraya menyuapi anak yang lahap itu. “Aaaa!” Alex berputar-putar, pura-pura jadi pesawat kecil. Soraya be

  • SORAYA : Istri Pengganti   8. Kami Tidak Bercerai

    Resepsionis tersenyum ramah. “Pak Andre tidak pernah tidak lembur sebelumnya, Bu. Tapi sekarang… keliatannya Pak Andre lebih santai. Sudah mulai ambil libur. Wajahnya juga berseri, beberapa waktu ini.” Lalu menambahkan: “Pantas saja… ternyata ibu sudah kembali.” Larissa menyipitkan mata dan tersenyum kecut. “Apa dia terlihat sangat bahagia?” “Iya, Bu.” jawab wanita itu tersenyum. “Kalian tau soal Soraya?” pertanyaan itu lebih terdengar seperti intimidasi. Langsung beberapa staf saling menatap. “Oh… istrinya baru pak Andrea ya, Bu? Pak Andre gak pernah bawa ke kantor sih Bu… bahkan acara gathering pun selalu sendirian.” Lalu dengan suara lirih, yang bikin dada Larissa panas: “Sepertinya… tetap Ibu masih jadi ratu di hati Pak Andrea.” Larissa hanya tersenyum kecut. Pupil matanya mengecil — marah. 'Sialan… Andrea bener-bener udah membuka hati untuk wanita jelek itu. Dan aku gak akan diam aja.' batinnya Larissa memasuki kantor Andrea. Aroma wan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status