LOGINBi Inah menatap Soraya dengan iba.
“Yang sabar ya, Bu.” Hati Soraya terasa seperti ditekan benda berat yang menyesakkan. “Aku baik-baik aja, Bi.” Namun dalam hati, ia menyala panas, ‘Aku tidak ingin menyerah. Aku ingin mengejar apa yang jadi milikku. Tidak seharusnya dia datang dan menginjakku seenaknya seperti ini.’ Bi Inah melanjutkan pelan, “Saya tuh kasihan sama Den Andrea. Dari dulu kelakuan Bu Larissa begitu… tapi tetap aja selalu dimaafin. Saya udah seneng banget sekarang Den Andre dapet istri kaya Bu Raya.” Soraya tersenyum hambar. “Tapi Larissa tetap lebih cantik dari saya kan, Bi…” “Yah… dia kan perawatannya selangit, Bu. Coba ibu juga perawatan kayak dia. Temen-temen sosialitanya itu loh Bu… wih, cetar membahana semua, dia gak mau kalah. Beda sama ibu yang sederhana.” Soraya mengangguk pelan. “Bibi udah lama ya ikut Mas Andre?” “Saya ikut Nyonya Lisa udah lama, Bu. Den Andrea dulu masih kuliah di Amerika.” Soraya mengangguk, mulai paham. "Mungkin itu sebabnya Andre sangat menyukai Larissa — karena mereka setara." Namun Bi Inah langsung menimpali, “Enggak nyah… Larissa itu temen kecil Pak Andrea. Dari dulu Den Andrea ditolak terus sama Bu Larissa.” Fakta itu justru lebih menyakitkan—karena ternyata Andre telah menyukai Larissa sejak lama. Soraya tersenyum kecut. “Kalau begitu… gimana aku bisa bersaing sama Larissa?” Bi Inah menatapnya dengan yakin. “Tapi saya lihat… Den Andrea lebih bahagia setelah ada Nyonya, loh. Senyumnya lebih lebar, bisa tertawa lepas. Setau saya, Andre itu orangnya dingin dan pendiem banget. Makanya tuh… Bu Larissa pernah bilang dia bosen… dan akhirnya pergi deh dia.” Soraya mulai tertarik, meski hatinya tetap cemas. “Kira-kira… apa yang bikin dia balik ke sini ya, Bi? Jujur aku insecure banget…” “Saya yakin, Den Andrea sebenernya udah sayang banget kok sama Nyah. Nyonya cuma harus bersikap seperti biasanya dan jangan gubris Bu Larissa. Dia makin diladenin, makin gak jelas, nyah.” Soraya menghela napas panjang, frustrasi. Dalam hati ia menegaskan, “Aku gak boleh gegabah menghadapi wanita ini. Mungkin dia merasa lebih dari aku… tapi aku juga bukan orang yang bisa diinjak.” Soraya mencoba menyemangati diri sendiri. “Ayolah, Rayaa…” Tiba-tiba suara kecil memanggilnya, “Mamiii!” Alex berdiri dengan wajah berantakan tapi menggemaskan. Soraya mengangkatnya, dan rasa sakit di dadanya semakin kuat. Jika harus kehilangan anak kecil ini… rasanya lebih sakit daripada kehilangan Andre. “Aku harus mempertahankan keluargaku dari wanita jalang itu. Dia tidak pantas berada di tengah keluarga sebaik ini. Tuhan… bantu aku menyingkirkannya,” bisiknya dalam hati. Sepanjang jalan, Andrea hanya diam. Kedua tangannya menggenggam setir erat, rahangnya mengeras. Jantungnya berat — seperti memikul sesuatu yang tak lagi bisa ditahan. Dia bahkan tidak punya kekuatan untuk bicara pada wanita di sampingnya. Larissa meliriknya sambil menyandarkan dagu di tangan, santai. Suara centilnya memecah keheningan. “Ketika semua orang tau aku sudah kembali, pasti otomatis wanita jelek itu akan pergi dari hidupmu. Karena yang pantes buat tuan CEO kaya kamu ya cuma aku… iya kan sayang?” Andrea tak menjawab. Matanya hanya menatap lurus ke depan — seakan jalanan lebih penting daripada hidupnya sendiri. Yang terus memenuhi kepalanya hanyalah Soraya. Bagaimana aku harus memperbaiki semua ini? Bagaimana aku melindunginya? Larissa mulai gelisah. Ia membetulkan rambutnya dengan senyum licik. “Setelah ini kita akan kembali jadi keluarga paling bahagia… tanpa adanya wanita jelek itu lagi. Iya kan?” Tetap tak ada jawaban. Larissa mendesis, kesal. “Kamu gak denger ya kata-kataku?! Dulu kamu selalu denger loh apa yang aku bilang!” Andrea menepikan mobil mendadak. Rem diinjak keras. Larissa tersentak hingga tubuhnya maju sedikit. Andrea menoleh pelan, matanya gelap. “Aku bahkan sangat kesal karena kamu ada di mobil ini. Sekarang… turun.” “Andrea…” Larissa menganga, tak percaya. “Kamu gak pernah nyuekin aku! Kamu selalu cinta sama aku dan gak pernah ada yang bisa gantiin aku di hati kamu! Ingat itu Andrea!” Andrea menghela napas panjang. ”Ya… itu sebelum kamu ninggalin aku. Dan sebelum Raya ada di hidupku. Sekarang semua udah beda.” “Enggak! Kamu cuma lagi buta! Aku akan segera nyadarin kamu!” Nada Larissa memanas — ia mulai panik. Aura Andrea hari ini… bukan Andrea yang dulu. Andrea kembali memperingatkan, kali ini lebih tegas. “Aku akan anter kamu ke mana pun setelah ini. Tapi jangan ganggu pekerjaanku sekarang. Tolong… kamu keluar.” “Enggak!” Andrea turun dari mobil tanpa sepatah kata lagi. Larissa menatapnya tak berkedip — jantungnya mulai berdegup cepat. Mengapa dia jadi… jauh lebih gagah sekarang? Dulu Andrea hanyalah lelaki setia yang selalu tunduk padanya. Tapi pria yang berdiri di dekat pintu mobil saat ini… adalah sosok yang tegas. Punya wibawa. Dan itu membuat darah Larissa berdesir. Andrea membuka pintu penumpang. “Turun sekarang.” “Enggak!” Andrea mulai menyentuh lengannya, hendak menariknya keluar. “Enggak! Aku mau ikut kamu, Andre!” Larissa menangis — air matanya jatuh, memohon. Andrea berhenti menariknya. Menatap wajah itu… wajah yang dulu sangat ia cintai. Emosi dalam dirinya berperang. “Jangan buat onar. Setelah ini… aku bakal antar kamu pulang ke rumahmu.” “Please Andre… aku cuma mau di sisimu…” Larissa mencengkram lengan Andrea kuat-kuat. Andrea menghempasnya — lebih tegas. “Gak usah bermulut manis, Larissa. Karena kamu pernah ninggalin aku… sama Alex.” Ucapan itu memukul keras di dada Larissa. Ia menggigit bibir — terhina sekaligus marah. Andrea menarik napas panjang. Meeting akan dimulai. Waktunya hampir habis. Ia harus pergi… sebelum hatinya hancur lagi. Sesampainya di kantor, Andrea melangkah cepat tanpa menoleh lagi pada Larissa. Wajahnya dingin — aura CEO-nya muncul. Larissa turun dengan santai. Senyum ratu kembali di wajahnya. Tumit stiletto berdetak elegan di lantai. “Bukannya itu Nyonya Larissa ya?” “Dia balik? Serius?” Desas-desus mulai terdengar. Tapi ada yang berbeda — Andrea sama sekali tidak menoleh ke arahnya. “Nyonya sudah kembali.” Larissa mengangguk sombong. “Bagaimana keadaan kantor ini tanpaku?”Resepsionis tersenyum ramah. “Pak Andre tidak pernah tidak lembur sebelumnya, Bu. Tapi sekarang… keliatannya Pak Andre lebih santai. Sudah mulai ambil libur. Wajahnya juga berseri, beberapa waktu ini.” Lalu menambahkan: “Pantas saja… ternyata ibu sudah kembali.” Larissa menyipitkan mata dan tersenyum kecut. “Apa dia terlihat sangat bahagia?” “Iya, Bu.” jawab wanita itu tersenyum. “Kalian tau soal Soraya?” pertanyaan itu lebih terdengar seperti intimidasi. Langsung beberapa staf saling menatap. “Oh… istrinya baru pak Andrea ya, Bu? Pak Andre gak pernah bawa ke kantor sih Bu… bahkan acara gathering pun selalu sendirian.” Lalu dengan suara lirih, yang bikin dada Larissa panas: “Sepertinya… tetap Ibu masih jadi ratu di hati Pak Andrea.” Larissa hanya tersenyum kecut. Pupil matanya mengecil — marah. 'Sialan… Andrea bener-bener udah membuka hati untuk wanita jelek itu. Dan aku gak akan diam aja.' batinnya Larissa memasuki kantor Andrea. Aroma wan
Bi Inah menatap Soraya dengan iba. “Yang sabar ya, Bu.” Hati Soraya terasa seperti ditekan benda berat yang menyesakkan. “Aku baik-baik aja, Bi.” Namun dalam hati, ia menyala panas, ‘Aku tidak ingin menyerah. Aku ingin mengejar apa yang jadi milikku. Tidak seharusnya dia datang dan menginjakku seenaknya seperti ini.’ Bi Inah melanjutkan pelan, “Saya tuh kasihan sama Den Andrea. Dari dulu kelakuan Bu Larissa begitu… tapi tetap aja selalu dimaafin. Saya udah seneng banget sekarang Den Andre dapet istri kaya Bu Raya.” Soraya tersenyum hambar. “Tapi Larissa tetap lebih cantik dari saya kan, Bi…” “Yah… dia kan perawatannya selangit, Bu. Coba ibu juga perawatan kayak dia. Temen-temen sosialitanya itu loh Bu… wih, cetar membahana semua, dia gak mau kalah. Beda sama ibu yang sederhana.” Soraya mengangguk pelan. “Bibi udah lama ya ikut Mas Andre?” “Saya ikut Nyonya Lisa udah lama, Bu. Den Andrea dulu masih kuliah di Amerika.” Soraya mengangguk, mulai paham. "Mungkin i
Andre menariknya turun ke lantai bawah, langkahnya dingin dan tegas. “Ini kamarmu sekarang,” katanya sambil membuka pintu kamar tamu. “Enggak! Aku gak sudi! Mending aku pulang ke rumah Ayah!” Andre menatapnya tanpa ekspresi. “Oke kalau begitu, silakan.” Ia membuka pintu lebar-lebar. Larissa terpaku. Tenggorokannya terasa kering, lidahnya kelu. Sepulang dari Italia, ia pulang ke rumah ayahnya — seorang konglomerat ternama — tapi ia tidak lagi dianggap keluarga. Ia sudah diusir oleh keluarga Jihan. Maka ia kembali. Kembali untuk satu-satunya tempat yang pasti masih menerimanya. Andre. Tapi lagi lagi ia kesal karena Andre malah memiliki orang lain sebagai penggantinya.Larissa memelas, suaranya lirih tapi penuh desakan."Tapi aku mau balik sama kamu, Ndre... apa kamu udah gak cinta sama aku?"Dia berlari ke arah Andre, ingin memeluknya—tapi segera ditahan.Andre menatapnya tajam, rahangnya mengeras. Ada amarah besar dalam dirinya yang hampir pecah."Aku nunggu kamu, sampe aku ga
“Kenapa? Kenapa kamu balik disaat aku udah mulai melupakanmu?” suara Andre parau, nyaris pecah. “Apa maksud semuanya? Kenapa kamu harus kembali?”Larissa menatapnya lama. Ada sesal di matanya, tapi juga keyakinan yang berbahaya.“Karena aku tau aku salah, aku tau cuma kamu yang mencintai aku dengan tulus, Ndre. Gak pernah ada lelaki sebaik kamu. Dan aku tau, kamu pasti akan selalu terima aku lagi.”Andre menggeleng pelan, menahan amarah yang hampir meledak.“Aku sudah memutuskan untuk bahagia tanpa kamu. Gimana bisa aku mencintai seorang wanita yang tega meninggalkan putra kecilnya? Apa kamu gak peduli sama Alex?”Larissa melangkah satu langkah lebih dekat, matanya berkilat.“Justru karena itu aku balik, Ndre. Plis, sekarang kamu udah gak butuh wanita jelek itu. Sekarang kamu udah punya aku.”Andre menarik napas dalam-dalam, suaranya berat.“Aku gak akan memilih. Kalian berdua istriku… dan aku akan berusaha adil.”“GAK!! Aku gak terima!!” teriak Larissa, suaranya pecah.Andre menatapn
Andrea menatap lekat mantan istrinya yang sudah setahun ini pergi tanpa kabar, menghilang bersama seorang pria tanpa pernah memikirkan perasaannya. "Apa yang membuatmu kembali?" "Aku ingin kembali pada anak dan suamiku, apa aku salah?" "Kau bertanya apa kau salah?" Andrea mencibir. "Ya tentu kau salah!! Apa aku ini tempat sampah dimana kau bisa pergi dan kembali sesukamu?" Andrea menatapnya dengan marah Larissa menengguk saliva menatap suaminya yang kini benar-benar marah, Andrea yang selalu menerimanya sudah berubah. "Aku tidak percaya wanita itu yang membuatmu bisa berkata begini padaku." "Jangan selalu salahkan orang lain. Salahkan dirimu!" Andrea membuang wajahnya tak tahan melihat wajahnya yang terus memelas dan melelehkan hatinya. Berusaha keras ia melupakan wanita itu, disaat ia mulai bisa tidak memikirkannya dia muncul seenaknya. Larissa tertawa kecewa, "Kita belum bercerai Andrea, aku ingin kembali." Di balik pintu, Soraya mendengar semuanya. Mimpi yang mulai terbangu
Andrea berhenti sejenak, menatap wanita yang kini ada di hadapannya, wajahnya merona dan butir air mata membasahi pipinya. "Kau menangis?" Andrea terkejut, "Apa aku menyakitimu?" Ia segera menyeka air mata itu dari wajah Raya. Raya tersenyum dengan sedikit tawa, ia menggeleng. "Aku bahagia." Ia menatap suaminya. "Aku bahagia akhirnya kau datang." Kini Raya meraihnya dan mengecup bibir Andrea manja. Kecupan itu seperti menyalakan sesuatu, desiran dalam darahnya menjadi lebih cepat, Andrea menginginkan wanita di hadapannya, sangat menginginkannya. Andrea menciumi tangannya terus naik hingga ke bahu, dan mendarat pada bibir lembut Soraya, ia menekankan ciuman dengan kuat dan mendorong Soraya di tempat tidur dan kini ia dengan mantap naik ke atas tubuhnya. Soraya pasrah, ia menikmati setiap sentuhan yang setiap malam menjadi khayalannya. Kini, setelah setahun, malam ini tiba, setelah malam ini dia adalah istri Andrea yang sebenarnya. Tengah malam, Soraya terbangun, percaya tak perca







