INICIAR SESIÓN“Kamu panik, ya?” tanya si aneh itu dengan santainya.
Mataku pun langsung menemukan bingkai foto di meja. Foto aku dan dia, bersama sama penghulu palsu di tengahnya. Sialan, Mama-Papa pasti langsung mengamuk kalau tahu ini. Aku bahkan enggak bisa membayangkan Papa bakal bicara apa. Eh, tapi siapa juga yang peduli. Aku memang sudah membencinya dari dulu. Di foto itu, aku pakai gaun putih super mini, sementara dia pakai jas tuxedo biru. Kita berdua tersenyum lebar, jelas lagi mabuk berat. Aku ambil fotonya. “Kamu serius, ya, soal pernikahan ini?” “Iya, lah, kita kan udah resmi menikah.” “Kalau gitu, bisa enggak kita batalin aja?” Aku tatap dia. Ekspresinya langsung jatuh. “Lagian, ini juga cuma gara-gara iseng, kan. Kita bahkan enggak saling kenal!” “Ya ... aku juga udah ngira kalau kamu enggak bakal senang sama situasi ini,” katanya sambil angkat bahu. “Bukannya gitu. Sebenarnya aku benci yang namanya pernikahan, enggak percaya sama pernikahan,” jelasku. “Semua janji-janji pernikahan itu bulshit!” “Kamu enggak percaya sama pernikahan?” "Mungkin, sih!" Aku langsung teringat waktu Papa selingkuh dari Mama dulu. Dan akhirnya mereka berpisah juga. Janji untuk setia sehidup semampus, jelas itu hanyalah omong kosong. “Oke, bukannya mau nyinggung, ya ... tapi kayaknya kamu juga bukan tipe cowok yang bucin, deh. Jadi aku yakin kamu juga enggak percaya sama hal-hal yang kayak begini, kan.” Muka dia sempat gelap sepersekian detik, sebelum akhirnya dia tersenyum lagi. “Jangan lihat sampul dari bukunya. Aku masih punya hati, kok.” Aku geleng-geleng kepala. Ini pasti mimpi. Please, Tuhan, tolong bilang kalau ini mimpi. Aku ingin cubit diriku sendiri, tapi sudah cukup lah, rasa malu gara-gara kencing, muntah, pakai sikat gigi orang, dan sekarang aku nongkrong sama cowok yang aku enggak kenal cuma pakai kaus sama celana dalam. Dia masih telanjang dada, duduk di tepi ranjang, handuknya makin longgar terbuka, pahanya pun terbuka lebar. Ya, ampun. Sedikit lagi aku bisa melihat Juniornya, tapi ya sudah, lah. Aku yakin semalam kita pasti sudah nge-seks buat resmikan pernikahan ini. Dia tertawa, seperti bisa dengar isi otakku. Aku langsung tutup muka pakai tangan, merintih. “Enggak apa-apa kok,” katanya santai. “Enggak apa-apa gundulmu?” Aku kepalkan tangan. “Aku enggak mau nikah sama orang aneh. Dan aku jelas enggak bakal nikah sama orang yang kerjaannya mukulin orang lain buat cari duit!!!” “Kayaknya enggak tepat kalau kita debat soal profesiku sekarang," katanya, kalem banget sampai bikin aku ingin teriak biar dia sadar. “Kamu pasti punya orang yang bisa beresin beginian, kan?” Dia memiringkan kepalanya. “Orang?” “ya, seseorang atau apa lah yang bisa bantu kita selesaiin ini.” “Serius? Kamu enggak ingat kalau ada alasan kenapa kamu nikah sama aku?” “Ya, menurutku alasannya cuma gara-gara Vodka sama tampangmu itu. Aku mungkin waktu itu mikir kalau kamu cuma bercanda dan cuma pingin have fun.” Dia akhirnya berdiri, dan sumpah, itu handuk kayaknya tinggal jatuh saja sebentar lagi. “Ehmm ... Maksud aku, kita ini orang asing, kan, dan kita enggak kenal ... Kita mabuk terus enggak tahu kenapa kita main nikah-nikahan, aku mana sadar semalam. Mana pakai bawa-bawa penghulu segala, aku kira itu palsu. Itu dari mana coba? Itu tolol banget, kan ... dan jelas ini harus kita akhiri!” Dari ekspresinya, jelas aku sudah bikin dia tersinggung. Gila, kok dia enggak sepemikiran sama aku? Bukankah seharusnya dia lebih banyak yang dipertaruhkan daripada aku? Dia punya karier besar, reputasi, sama uang banyak. Sedangkan aku? “Aku harus turun ketemu manajerku. Dia mau bahas soal pernikahan ini. Kamu mau ikut?” katanya. Pandangan kita jelas berbeda soal langkah selanjutnya. Aku cuma ingin keluar dari kamar ini, bertemu Marlin, terus kembali ke Pecang. “Enggak, aku mandi dulu terus siap-siap.” “Aku bakal bawain kamu kopi. Hemm ... Ngomong-ngomong, kamu sukanya kopi apa? Aku harusnya tahu sih ... kan kamu istriku. Tapi janji, kamu cuma perlu bilang sekali dan aku bakal ingat selamanya,” katanya. Dia senyum, dan oh, sial. Sekarang aku mengerti, kenapa aku berpikir mau menikah sama dia. “Kopi hitam, tapi pakai gula.” “Oke. Aku balik bentar lagi.” Dia ganteng, pakai jeans, kaus, sandal, sama hoodie. Jujur, aku bisa saja dapat suami yang jauh lebih buruk daripada dia kalau menikah sama orang Pecang. Dia jalan ke arahku seperti ingin kasih aku ciuman, tapi tiba-tiba berhenti. Mungkin gara-gara lihat mukaku yang masih syok bercampur takut. “Aku kasih kamu waktu, deh, buat mencerna semua ini. Nanti aku bawain kopi sama donat, terus kita ngobrol lagi, oke?” “Ya, oke.” “Jangan kemana-mana!” Dia senyum lebar. Senyumnya manis banget buat orang yang kemungkinan besar giginya sudah pernah rontok beberapa kali. “Aku enggak bakal kemana-mana,” jawabku sambil menyilangkan jari di belakang punggung. “Oke.” Dia keluar, dan baru saat itu aku bisa melepas napas. Aku langsung ambruk di kursi, badanku terasa lemas, dan panik mulai meresap ke otak. Aku menikah sama orang gila? Ya, mungkin enggak sepenuhnya gila, sih. Marlin pasti tahu semua tentang dia. Bahkan kakak-kakakku juga sempat heboh waktu tahu kita mau menonton pertarungan itu, jadi mereka pasti mengikuti terus pertandingan dia, dan jelas mereka mengenalnya. Tapi buat aku? Toyi The Rock tetap orang asing. Aku enggak tahu apa-apa tentang dia. Kecuali satu, dia suami aku sekarang.୨ৎ D E R R I N જ⁀➴Satu tahun kemudian ....Cowok-cowok mutusin buat bikin acara nonton bareng pertandingan di rumah mereka. Karena kemarin malem kita nggak bisa ngumpul, jadi sekarang kita nongkrong bareng Minggu sore sambil nonton rekamannya. Ada bagian dari aku yang kepikiran, apa nggak berat buat Toyi dateng ke acara kayak gini? Tapi dia selalu bilang dia enjoy aja. Dia emang udah pensiun sebagai juara, walau sekarang sabuknya jatuh ke orang lain, soalnya dia udah berhenti."Masih aja kamu nggak percaya sama aku?" Toyi melingkarin lengannya ke aku sambil melihatin juara baru pamer sabuknya. "Coba deh lihat muka si Patrick. Aku dulu bisa jagain muka aku tetep cakep gini." Dia nepok pipinya sendiri sambil nyengir.Pertarungan dia sama Patrick setahun lalu gila-gilaan banget buat ditonton. Aku sempet berdiri dan teriak dukung dia, tapi bagian nemenin dia pulih setelahnya tuh berat banget buat aku. Melihat suami aku yang kuat ampe susah bangun dari sofa itu bikin hati aku ngilu. Merek
"Beneran? Kamu percaya aku?" Dia gigit bibir dalemnya, terus natap aku. "Awalnya aku percaya, tapi saat lihat barang-barang dia di suite kamu, aku nggak bisa bohong... itu kelihatan kayak bukti." Sialan, Anelle udah ngerusak momen reuni aku sama Derrin. "Jadi kamu nangis karena mikir aku selingkuh?" Dia geleng kepala. Syukurlah. Aku hampir gila barusan. "Aku nangis karena sempet ada momen aku ragu sama kamu. Emang sebentar banget, tapi tetep aja itu ada. Gimana kalau aku nggak pernah bisa percaya penuh sama kamu?" Aku nyenggol kepala ke belakang, hembus napas panjang. Harusnya sekarang aku udah di dalem dia, bukan malah sibuk ngeyakinin perasaan dan kesetiaan aku. "Dengan apa yang Anelle lakuin, siapa pun bakal kepikiran kayak gitu." "Tapi gimana kalau, Toyi? Gimana kalau rasa takut aku nggak pernah ilang?" Dia duduk di sofa, kepala ditutupin tangan. "Gimana kalau aku selalu jadi orang yang berantakan gini? Kamu hidup dengan gaya hidup yang bikin aku takut." Aku duduk
Dia diam, dan perut aku mules karena aku tau aku bakal bikin hari dia jadi jelek.Setelah kayaknya nunggu seabad, dia akhirnya nanya, "Apa?""Anelle nyergap aku di pesta dan ada orang yang ngejepret kita.""Oh.""Tolong dengerin dulu. Itu kejadian tiba-tiba. Dia nyamperin buat nyapa, aku udah mau nyuruh dia pergi, tapi dia malah nempel ke aku saat ada yang moto.""Toyi," katanya."Maksud aku, dia sengaja deketin aku biar kelihatan kayak kita pasangan.""Toyi.""Aku udah bilang ke dia buat minggat. Kataku aku suami orang dan aku bahagia."Dia malah ketawa. "Toyi.""Apa?""Nggak apa-apa. Aku ngerti. Kamu bakal foto bareng banyak orang.""Tapi dia mantan aku," kataku."Aku tau. Santai aja. Aku percaya sama kamu kok."Aku pengen dia ulang kalimat terakhir itu. "Serius kamu?"Dia ketawa. "Ya ampun, aku emang sensitif, tapi cuma gara-gara satu foto nggak bakal ngeganggu aku."Aku angguk, meski dia nggak bisa lihat. "Wah, syukurlah.""Kamu bener-bener butuh seks deh. Kamu kaku banget.""Inga
"Batang aku masuk ke dalem kamu, kamu ngeluh nikmat.""Lebih cepet," aku desah."Aku udah makin cepet. Aku balik posisi, sekarang kamu yang di atas, nunggangin aku, arahin batang aku ke pintu masuk kamu. Terus kamu naik-turun, aku remes tetek kamu. Kita sama-sama teriak, kulit nabrak kulit.""Jangan berhenti," aku mohon."Aku keluar masuk makin keras, jari aku main di kelentit kamu, muter-muter. Ayo keluar, Baby, keluar buat aku," katanya, dan aku pun meledak."Derrin, kamu ada di situ?" suara orang lain teriak.Hape aku jatuh dari tangan, nyemplung langsung ke kloset. Sial. Aku cuma bisa berharap dia udah kelar sebelum hape aku kecebur. Semoga Donna punya stok beras di dapur. Kalau nggak, aku harus kabur ke Izel Crater besok buat beli hape baru.Aku ambil hape dari kloset, keluar bilik, ketemu Connie berdiri di sana dengan tangan di pinggang."Pipi kamu merah banget, Sayang, kamu nggak apa-apa?"Aku angguk sambil cuci tangan. "Aku baik-baik aja. Cuma agak overwhelmed."Semoga aja Con
"Malah makin ganteng dari dulu," Althaf nimbrung.Dia jalan ke arah meja kita bareng Donna, dan kedua adik aku cuma bisa melototin tanpa ngomong apa-apa.Aku ulurin tangan. "Hei, Gavin, aku Derrin Sunya. Kayaknya kamu kenal sama suami aku, Toyi, kan?" Gila, aneh juga nyebut Toyi kayak gitu keras-keras.Donna nyediain kursi buat Gavin gabung sama kita, sementara bisik-bisik mulai kedengeran dari meja-meja lain di restoran."Hei, Derrin. Seneng ketemu kamu. Jadi, Toyi udah cerita soal podcast kamu, tapi dia nggak bisa berhenti muji kota ini, jadi aku ngerasa harus dateng sendiri buat lihat apa yang aku kelewatan. Lagi pula, aku juga butuh kabur sebentar dari Bandung.""Kopi? Teh?" tanya Donna."Kopi item. Makasih." Dia senyum ke Donna.Mata Donna langsung melotot dramatis saat dia jalan pergi, tangan nempel di dada kayak mau pingsan. Jelas banget, cuma aku doang Sunya yang bisa ngobrol normal sama nih orang."Jadi kamu cuma main-main ke sini?" tanya aku."Iya, dan aku harus bilang, aku
Aku memutar mata. Siapa bego yang bikin berita kita putus? Terus aku geleng. Aku enggak peduli, soalnya mereka jelas salah. Kalau ada yang enggak pasang taruhan di aku cuma gara-gara takhayul tolol itu, ya biarin aja.୨ৎ D E R R I N જ⁀➴Jantungku langsung deg-degan saat lihat artikel yang bilang kalau aku sama Toyi putus. Itu berita bohong. Kayak yang Toyi jelasin waktu kita ngobrol semalem, ada aja orang yang bakal ngelakuin apa pun demi ketenaran atau duit. Dia udah pergi beberapa hari, aku coba sibukin diri sama kerjaan dan nyiapin podcast bareng Gavin Price, tapi tetep aja nggak ngaruh. Otak aku masih muter-muter mikirin Toyi terus di belakang kepala.Karena kita sebenernya masih barengan, bukan kabar putus itu yang bikin aku resah. Yang bikin aku kepikiran tuh fakta kalau dia nggak pernah menang pertarungan saat lagi punya pacar. Jadi aku bakal jadi alasan dia kalah? Setidaknya di mata dunia? Kenapa dia nggak pernah bilang soal ini ke aku sebelumnya?"Kayaknya kamu kebawa pikiran
୨ৎ D E R R I N જ⁀➴ Aku masuk ke kamar hotel pakai kartu yang aku share sama Marlin, terus langsung tutup pintu dan menunduk buat mengatur napas. "Marlin!" Dia keluar dari kamar mandi, pakai kaus sama celana pendek, rambutnya masih basah habis mandi. Aku buru-buru mengumpulkan baju-baju yang ke
୨ৎ T O Y I જ⁀➴ Seharusnya aku enggak meninggalkan istri baruku di kamar hotel sendirian. Tapi Vallent kayaknya enggak terlalu paham kondisiku waktu aku bilang harus mandi dulu sebelum bertemu dia di cafe. Soalnya kepalaku lagi berat banget setelah mabuk semalam, jadi aku harus mandi. Dan enggak mu
S E A S O N III ୨ৎ D E R R I N જ⁀➴ "Ahh, siaaaaal!!" Kandung kemihku sudah enggak tahan lagi sama sisa alkohol semalam. Aku yakin kalau tadi malam aku sudah kebanyakan minum. Ada suara air mengalir dari kamar mandi. Aku masih enggak percaya kalau itu Marlin. Dia enggak mungkin bangun lebih
୨ৎ T O Y I જ⁀➴Aku dan Crypto baru selesai satu sesi latihan, terus kita duduk minum air."Minggu lalu kamu on fire banget. Pukulan sama tendangan kamu mantap," katanya sambil habiskan setengah botol airnya."Thanks."Dia enggak perlu tahu kalau semua tenaga itu aku keluarkan gara-gara kesal sama D







