LOGIN
S E A S O N III
୨ৎ D E R R I N જ⁀➴ "Ahh, siaaaaal!!" Kandung kemihku sudah enggak tahan lagi sama sisa alkohol semalam. Aku yakin kalau tadi malam aku sudah kebanyakan minum. Ada suara air mengalir dari kamar mandi. Aku masih enggak percaya kalau itu Marlin. Dia enggak mungkin bangun lebih pagi dari aku. Soalnya setiap hari, akulah yang biasanya tarik-tarik dia buat bangkit dari kasur. Aku singkap selimut, turun dari kasur, terus jalan pelan-pelan. Karena sedikit gelap, aku hampir saja terpeleset gara-gara menginjak baju-baju yang berserakan di lantai, untung saja aku masih sempat menyangga diri agar enggak terjatuh. "Arggg ... sumpah, semalam itu kita ngapain aja, sih?" gumamku. Aku masuk kamar mandi, bersyukur Marlin enggak menyalakan lampu, karena otakku pasti meledak kalau langsung terkena cahaya pagi-pagi buta begini. Lagi pula, aku juga enggak ingin lihat mukaku sekarang. Marlin sudah jadi sahabatku sejak kecil, jadi bukan hal aneh juga kalau aku kencing di depan dia. Jadi aku turunkan celana dalam, duduk di toilet, sambil mengeluh gara-gara kepalaku cenut-cenut. Idenya Marlin buat traveling keliling Bandung memang gokil. Karena aku benar-benar butuh refreshing. Apalagi dua kakak tiriku baru saja menemukan cinta sejatinya. Eh, kalau Alzian, sih lebih tepatnya dia sudah menemukan lagi. Tapi tetap saja, siapa sangka si Aldani yang batu itu bisa jatuh cinta? Dan sebentar lagi, semua orang pasti akan mencibirku. Soalnya aku anak perempuan yabg paling tua di keluarga Sunya. Orang-orang pasti berpikir kalau aku juga harus cepat-cepat punya keluarga, anak, dan segala macamnya. Memang harus, ya? Liburan kita kali ini seru, sampai akhirnya Marlin mengajakku menonton pertarungan MMA semalam. Kita nonton dua orang cowok yang saling pukul satu sama lain cuma buat hiburan. Aku mencoba menikmatinya, sih, tapi sumpah itu barbar banget. Akhirnya kandung kemihku lega juga, dan rasanya nikmat banget. “Gila, kamu Marlin! Kok, kamu bisa bangun sepagi ini?” Enggak ada jawaban. Aku cuma dengar suara air berhenti. “Aduh, aku pusing banget, Marlin. Ayo dong, bilang kalau kamu pingin sarapan di bawah! Aku ikut!” “Terserah kamu aja,” jawabnya, suaranya berat. Itu bukan suara Marlin. Otakku belum sempat mencerna, tiba-tiba pintu shower terbuka dan muncullah cowok telanjang, badannya penuh tato, ototnya kekar banget dan ya, ampun .. itu apa yang mengacung tinggi di bawah perutnya? Aku bisa lihat jelas karena ada cahaya redup dari meja kamar mandi. Wajahnya sedikit familiar, tapi aku enggak langsung mengenalinya. Apa dia bersama Marlin semalam? Sial. Aku enggak seharusnya melihat dia telanjang begini. “Sorry ya, semoga aku enggak ganggu kamu. Aku cuma harus bersihin sisa-sisa semalam,” katanya. “Ma—maaf, tapi kamu siapa?” Dia tertawa. “Ya, jelas suami kamu, lah!” Dia ambil handuk, melilitkannya di pinggang. Aku masih bengong di atas toilet, mulutku menganga. Refleks, aku pun menengok ke tangan kiri, ada cincin besar mengikat di jari. Ah, Sial. Berarti dia enggak bohong. Aku istrinya, aku baru saja jadi cewek Bandung, dan yang lebih parahnya lagi, aku lagi kencing di depan suami baruku, yang sebenarnya orang aneh, dan aku sama sekali enggak kenal. Dia sepertinya sadar sama ekspresiku yang antara syok dan takut. Soalnya dia tertawa, merapikan handuknya. Air masih menetes turun dari perut berototnya yang seperti baja itu. Barulah aku sadar ada beberapa memar di rusuk sama rahang sampingnya. “Petinju?” bisikku. Dia berkedip. Dia salah satu petarung semalam. Cowok yang memukuli lawannya habis-habisan di atas ring. Ada tendangan, pukulan, dan darah di mana-mana. Itu tontonan paling gila yang pernah aku lihat. Aku benar-benar menyaksikan pertarungan itu, dan aku benci kekerasan. Tapi Marlin ngefans berat sama MMA, dan entah bagaimana, dia bisa dapat tiket dadakan buat kita. Aku enggak mungkin mengecewakan dia. Yang aku enggak tahu, ternyata dia dapat kursi di barisan paling depan. Selama pertarungan dia heboh bersorak-sorak, sedangkan aku cuma bisa bengong, enggak menyangka ada orang yang benar-benar menikmati kekerasan seperti itu. “Setelah aku lihat kamu muntah semalam, ini sih masih enggak ada apa-apanya,” katanya sambil menunjuk ke arahku yang masih duduk di toilet. Mukaku langsung panas. Aku muntah di depan dia? Dan sekarang aku kencing depan dia? Ya ampun, apalagi yang sudah aku lakukan? Dia santai saja, seolah enggak ada apa-apa. “Tadi aku dapat telepon dari manajerku.” “Manajer?” Aku makin bingung, harusnya aku sudah berdiri, merapikan diri, tapi malah masih duduk di toilet sambil mendengarkan dia. “Ternyata kita enggak jaga privasi semalam.” Dia menyalakan lampu. Mataku pun langsung perih seperti ditusuk jarum gara-gara cahayanya. Aku buru-buru membereskan diri, tarik celana dalam sama kaus yang baru aku sadar, kalau ternyata itu milik dia. Gila. Berarti aku lagi ada di kamar hotelnya. Terus, bagaimana caranya aku bisa kabur dari sini sebelum ini makin runyam? Dia bersandar santai di wastafel, tangan memegang sikat gigi, kasih odol di atasnya. “Aku udah minta bellboy bawain perlengkapan mandi, soalnya kamu pakai sikat gigiku semalam.” “Aku … pakai sikat gigimu?” rintihku. Sumpah ini benar-benar memalukan. “Enggak usah malu. Aku santai aja, kok.” “Kamu santai, aku yang enggak bakal bisa santai!” Dia tertawa. “Ya, aku juga kaget pas bangun tadi pagi, terus baru ingat. Tapi ya gitu, deh ...” dia angkat bahu dan aku bengong. “... kayaknya kita harus ngobrolin hal ini. Tapi, mungkin habis kamu pakai baju dulu.” Aku buru-buru cuci tangan, karena serius, aku enggak bisa bernapas normal di kamar mandi ini, sementara dia cuma pakai handuk. “Enggak apa-apa, kita bisa ngobrol gini aja, kok,” balasku. Dia enak bisa bilang begitu. Kalau aku juga punya badan kotak-kotak seperti dia, mungkin aku juga santai. “Ya, udah, tunggu bentar.” Aku keluar dari kamar mandi. Beberapa detik kemudian, dia muncul. Kali ini sambil pegang remote, yang otomatis membuka semua gorden di kamar. Pemandangan jalanan kota Bandung langsung terbuka, cahaya menyorot masuk, membuat mataku makin perih lagi. Dan jelas-jelas ini bukan kamar hotel yang Marlin sama aku booking. Karena kita cuma pesan kamar standar dengan dua ranjang, sementara ini kamar suite mewah, ada ruang tamu lengkap, sofa, TV layar datar, sampai minibar. Terus Marlin ke mana, sih? Kok, bisa-bisa dia membiarkanku sampai sejauh ini?୨ৎ D E R R I N જ⁀➴Satu tahun kemudian ....Cowok-cowok mutusin buat bikin acara nonton bareng pertandingan di rumah mereka. Karena kemarin malem kita nggak bisa ngumpul, jadi sekarang kita nongkrong bareng Minggu sore sambil nonton rekamannya. Ada bagian dari aku yang kepikiran, apa nggak berat buat Toyi dateng ke acara kayak gini? Tapi dia selalu bilang dia enjoy aja. Dia emang udah pensiun sebagai juara, walau sekarang sabuknya jatuh ke orang lain, soalnya dia udah berhenti."Masih aja kamu nggak percaya sama aku?" Toyi melingkarin lengannya ke aku sambil melihatin juara baru pamer sabuknya. "Coba deh lihat muka si Patrick. Aku dulu bisa jagain muka aku tetep cakep gini." Dia nepok pipinya sendiri sambil nyengir.Pertarungan dia sama Patrick setahun lalu gila-gilaan banget buat ditonton. Aku sempet berdiri dan teriak dukung dia, tapi bagian nemenin dia pulih setelahnya tuh berat banget buat aku. Melihat suami aku yang kuat ampe susah bangun dari sofa itu bikin hati aku ngilu. Merek
"Beneran? Kamu percaya aku?" Dia gigit bibir dalemnya, terus natap aku. "Awalnya aku percaya, tapi saat lihat barang-barang dia di suite kamu, aku nggak bisa bohong... itu kelihatan kayak bukti." Sialan, Anelle udah ngerusak momen reuni aku sama Derrin. "Jadi kamu nangis karena mikir aku selingkuh?" Dia geleng kepala. Syukurlah. Aku hampir gila barusan. "Aku nangis karena sempet ada momen aku ragu sama kamu. Emang sebentar banget, tapi tetep aja itu ada. Gimana kalau aku nggak pernah bisa percaya penuh sama kamu?" Aku nyenggol kepala ke belakang, hembus napas panjang. Harusnya sekarang aku udah di dalem dia, bukan malah sibuk ngeyakinin perasaan dan kesetiaan aku. "Dengan apa yang Anelle lakuin, siapa pun bakal kepikiran kayak gitu." "Tapi gimana kalau, Toyi? Gimana kalau rasa takut aku nggak pernah ilang?" Dia duduk di sofa, kepala ditutupin tangan. "Gimana kalau aku selalu jadi orang yang berantakan gini? Kamu hidup dengan gaya hidup yang bikin aku takut." Aku duduk
Dia diam, dan perut aku mules karena aku tau aku bakal bikin hari dia jadi jelek.Setelah kayaknya nunggu seabad, dia akhirnya nanya, "Apa?""Anelle nyergap aku di pesta dan ada orang yang ngejepret kita.""Oh.""Tolong dengerin dulu. Itu kejadian tiba-tiba. Dia nyamperin buat nyapa, aku udah mau nyuruh dia pergi, tapi dia malah nempel ke aku saat ada yang moto.""Toyi," katanya."Maksud aku, dia sengaja deketin aku biar kelihatan kayak kita pasangan.""Toyi.""Aku udah bilang ke dia buat minggat. Kataku aku suami orang dan aku bahagia."Dia malah ketawa. "Toyi.""Apa?""Nggak apa-apa. Aku ngerti. Kamu bakal foto bareng banyak orang.""Tapi dia mantan aku," kataku."Aku tau. Santai aja. Aku percaya sama kamu kok."Aku pengen dia ulang kalimat terakhir itu. "Serius kamu?"Dia ketawa. "Ya ampun, aku emang sensitif, tapi cuma gara-gara satu foto nggak bakal ngeganggu aku."Aku angguk, meski dia nggak bisa lihat. "Wah, syukurlah.""Kamu bener-bener butuh seks deh. Kamu kaku banget.""Inga
"Batang aku masuk ke dalem kamu, kamu ngeluh nikmat.""Lebih cepet," aku desah."Aku udah makin cepet. Aku balik posisi, sekarang kamu yang di atas, nunggangin aku, arahin batang aku ke pintu masuk kamu. Terus kamu naik-turun, aku remes tetek kamu. Kita sama-sama teriak, kulit nabrak kulit.""Jangan berhenti," aku mohon."Aku keluar masuk makin keras, jari aku main di kelentit kamu, muter-muter. Ayo keluar, Baby, keluar buat aku," katanya, dan aku pun meledak."Derrin, kamu ada di situ?" suara orang lain teriak.Hape aku jatuh dari tangan, nyemplung langsung ke kloset. Sial. Aku cuma bisa berharap dia udah kelar sebelum hape aku kecebur. Semoga Donna punya stok beras di dapur. Kalau nggak, aku harus kabur ke Izel Crater besok buat beli hape baru.Aku ambil hape dari kloset, keluar bilik, ketemu Connie berdiri di sana dengan tangan di pinggang."Pipi kamu merah banget, Sayang, kamu nggak apa-apa?"Aku angguk sambil cuci tangan. "Aku baik-baik aja. Cuma agak overwhelmed."Semoga aja Con
"Malah makin ganteng dari dulu," Althaf nimbrung.Dia jalan ke arah meja kita bareng Donna, dan kedua adik aku cuma bisa melototin tanpa ngomong apa-apa.Aku ulurin tangan. "Hei, Gavin, aku Derrin Sunya. Kayaknya kamu kenal sama suami aku, Toyi, kan?" Gila, aneh juga nyebut Toyi kayak gitu keras-keras.Donna nyediain kursi buat Gavin gabung sama kita, sementara bisik-bisik mulai kedengeran dari meja-meja lain di restoran."Hei, Derrin. Seneng ketemu kamu. Jadi, Toyi udah cerita soal podcast kamu, tapi dia nggak bisa berhenti muji kota ini, jadi aku ngerasa harus dateng sendiri buat lihat apa yang aku kelewatan. Lagi pula, aku juga butuh kabur sebentar dari Bandung.""Kopi? Teh?" tanya Donna."Kopi item. Makasih." Dia senyum ke Donna.Mata Donna langsung melotot dramatis saat dia jalan pergi, tangan nempel di dada kayak mau pingsan. Jelas banget, cuma aku doang Sunya yang bisa ngobrol normal sama nih orang."Jadi kamu cuma main-main ke sini?" tanya aku."Iya, dan aku harus bilang, aku
Aku memutar mata. Siapa bego yang bikin berita kita putus? Terus aku geleng. Aku enggak peduli, soalnya mereka jelas salah. Kalau ada yang enggak pasang taruhan di aku cuma gara-gara takhayul tolol itu, ya biarin aja.୨ৎ D E R R I N જ⁀➴Jantungku langsung deg-degan saat lihat artikel yang bilang kalau aku sama Toyi putus. Itu berita bohong. Kayak yang Toyi jelasin waktu kita ngobrol semalem, ada aja orang yang bakal ngelakuin apa pun demi ketenaran atau duit. Dia udah pergi beberapa hari, aku coba sibukin diri sama kerjaan dan nyiapin podcast bareng Gavin Price, tapi tetep aja nggak ngaruh. Otak aku masih muter-muter mikirin Toyi terus di belakang kepala.Karena kita sebenernya masih barengan, bukan kabar putus itu yang bikin aku resah. Yang bikin aku kepikiran tuh fakta kalau dia nggak pernah menang pertarungan saat lagi punya pacar. Jadi aku bakal jadi alasan dia kalah? Setidaknya di mata dunia? Kenapa dia nggak pernah bilang soal ini ke aku sebelumnya?"Kayaknya kamu kebawa pikiran
୨ৎ D E R R I N જ⁀➴ Aku masuk ke kantorku, di stasiun penyiaran radio. Semua staf administrasi melirikku dari balik komputer mereka. Ada yang menyapa, tapi aku langsung pergi ke studio rekaman buat menyelesaikan segmen aku. Aku harus cerita ke pendengar soal pernikahanku a
୨ৎ T O Y I જ⁀➴ "Toyi, kamu harusnya pergi sekarang!" gernyit Derrin sambil mencubit pahaku di bawah meja. "Enggak, aku baik-baik aja, kok." Dia memperhatikanku dengan enggak sabaran. "Pasti capek, kan." Aku angkat bahu. " Enggak juga, or
୨ৎ D E R R I N જ⁀➴Tadi siang aku sama Marlin pulang ke Pecang, dan sekarang aku malah mengurung diri di rumah.Semua saudara-saudaraku lagi nongkrong di Brine & Barrel, Bar milik kakakku. Soalnya malam ini, adalah malam terakhir sebelum musim turis resmi dimulai. Dan semua orang di kota pasti meng
୨ৎ T O Y I જ⁀➴ Aku sedang duduk di sofa, memandangi cincin kawin yang Derrin tinggalkan. Harusnya aku sudah tahu dia bakal kabur. Dari tadi pagi saja sudah terlihat gerak-geriknya kalau dia sama sekali enggak tertarik sama aku. Malah lebih terlihat takut sama aku dan sama apa yang sudah kita lak







