FAZER LOGINPOV SALMA"Kenapa mendadak sekali, Pak Marko?"Aku menerima telepon dari Pak Marko tepat pukul sepuluh malam, saat tubuhku baru saja masuk ke dalam selimut. Hari ini rasanya lelah sekali."Maaf atas gangguan ini, Nona Salma," suara Pak Marko terdengar sedikit ragu namun tegas, "Tapi para dewan direksi ingin mendengar langsung perkembangan produk Anda.""Bukankah sebelumnya disepakati cukup lewat video profil? Video kami hampir selesai, tinggal tiga hari lagi.""Ada sedikit perubahan kebijakan. Saya harap Nona bisa memaklumi."Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna. Firasatku merasakan ada yang ganjal."Baiklah," jawabku akhirnya.Tak ada alasan untuk tidak setuju walau jadwal presentasi yang tiba-tiba ini mencurigakan.Aku tahu betul, aku harus setuju dengan semua keputusan investor untuk memenangkan kepercayaan. Namun benakku terusik. "Jangan-jangan ini ulah Reno?"Aku bangkit dari ranjang dengan malas-malasan, memijakkan kaki di lantai kamar yang dingin. Menimbang-nimbang untuk begad
POV SALMAAku menjamu Soraya di ruangan pustaka. Menyuguhkan teh melati untuknya. Soraya datang dengan senyum. Gelagatnya sangat berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Terkesan datang untuk berdamai.Semoga saja aku benar."Rumahmu sangat nyaman. Aku merasa de javu. Dulu rumah orang tuaku designya juga seperti ini," ucap Soraya setelah meneguk teh."Ini rumah peninggalan mendiang kakek dan nenek. Saya lahir dan besar di sini," balasku yang juga ikut berbasa-basi. Padahal sudah tak kuat menahan rasa penasaran dengan maksud kedatangannya.Soraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Kemudian dia menyeruput teh lagi. Tidak ada obrolan yang tercipta di antara kami. Yang terdengar hanya degup jantungku sendiri dan detak jarum jam. Rasanya Sunyi dan canggung."Hmmm ... tante. Maaf kalau saya lancang," ucapku memecah kebisuan."Lancang kenapa, Sal?" tanyanya tenang."Menurutku, tante ngga perlu repot-repot membujukku untuk meninggalkan Reno. Sepertinya, sebentar lagi kami juga aka
POV SALMATernyata Reno mengejarku. Aku tidak menyangka dia menarikku ke dalam pelukan yang erat ini."Dengarkan aku dulu," katanya memohon setelah aku meminta untuk dilepaskan.Kini, kami saling bertatap-tatapan. Kutatap matanya dengan tajam sambil menunggu penjelasan.Tapi, setelah bermenit-menit berlalu, dia masih bungkam. Tak satupun kalimat yang keluar dari mulutnya. Buang-buang waktu saja.Apa dia terlalu bingung untuk mencari alasan apalagi untuk menutupi kebohongannya?lebih baik aku pergi saja. berada di hotel ini hanya akan membuat aku gila.Air mataku kering saat mengendarai mobil menuju rumah. Tak jelas seperti apa rasa yang ada di dalam hatiku sekarang. Semuanya campur aduk. Rasa terkejut, rasa kecewa, bingung, bimbang, heran, semuanya ada. Bercampur menjadi satu dan menyesakkan dada.Bagaimana bisa Reno menyembunyikan identitasnya dariku? Buat apa? Apakah untuk sebuah permainan? Atau aku dijadikan kelinci percobaan untuk sosial eksperimennya?"Kamu kira aku akan tergiur
POV RENO Lampu ruangan pesta yang berkelap-kelip terasa menyilaukan saat aku memasuki ruangan pesta. Ruangan megah ini penuh sesak dengan kolega Papa, wajah-wajah antusias menyambut kedatangan kami bertiga, Mama, Papa, dan aku. Seorang pelayan menuntun kami ke sofa dekat panggung. Aku duduk di tengah, diapit Mama dan Papa yang seolah sengaja memenjaraku. Padahal, aku ingin melarikan diri, mencari Salma, menceritakan semuanya sebelum pesta perkenalan ini benar-benar dimulai. Pesta ini dihadiri mitra dan kolega Papa, dan kemungkinan besar, Salma juga ada di sini. Tidak mungkin tidak. Pesta ini sengaja mama buat untuk mengenalkan siapa aku. Salma adalah target tujuan utama Mama. Dia ingin membuka identitasku dengan cara yang dramatis. Pandanganku menyapu ruangan, mencari sosok yang kucintai itu. Namun, yang kulihat hanyalah wajah para undangan yang tidak begitu kukenal. Mataku menyipit saat melihat wajah Raffi, mantan tunangan Salma yang juga hadir di sini. Dia duduk berdampingan
POV RENO Pagi ini, kapal pesiar kami bertolak dari Pulau Mentawai menuju Jakarta. Di sampingku, Papa sibuk berbincang dengan Om Hans. Keduanya tak habis-habis waktu dan energi membahas bisnis. Mama dan Tante Anita melihat-lihat laman web toko online di laptop. Keduanya asyik memilih-milih barang untuk berbelanja. Sementara aku, berkutat dengan ponselku sendiri. Mataku tak lepas dari layar ponsel, terpaku membaca pesan-pesan lamaku dengan Salma. Setiap kata yang pernah kutulis, setiap balasan yang Salma kirimkan, berubah menjadi kenangan. Seharusnya menjadi kenangan manis, tapi yang terasa sekarang adalah rasa getir, akhirnya aku sudah sadar bahwa ternyata nomorku telah diblokir. “Ada apa dengan Salma? Kenapa dia tega? Apa Mama penyebabnya?” bisikku dalam hati, pertanyaan itu bergema di kepala sepanjang waktu. Aku ingin sekali membahas hal ini dengan Mama, namun kesempatan itu terasa begitu sulit. Mama, terlalu sibuk menghabiskan waktu dengan Tante Anita, yang selalu menempel kema
POV RENO Satu hari berlayar di kapal pesiar dan dua hari berada di Pulau Mentawai. Tiga hari yang menguras energi dan menyiksaku secara emosi. Bagaimana tidak, setiap malam, aku harus menghabiskan waktu bersama Papa dan Om Hans untuk berdiskusi tentang rancangan proyek sampai larut. Siang harinya aku harus menemani Mama dan Tante Anita, istri Om Hans, menikmati liburan di pantai-pantai Pulau Mentawai. Dan yang paling menyebalkan, aku harus mencuri-curi waktu dan bersembunyi-sembunyi untuk menelepon Salma. Setiap kulakukan, teleponku tidak pernah tersambung. “Apa masalah ponselku ini?” Aku bergumam kesal karena belum juga berhasil menghubungi nomor Salma. Ini sudah tiga hari, Salma bisa berpikiran yang aneh-aneh padaku karena aku menghilang tanpa kabar. Seorang pelayan resort, laki-laki muda usia 20-an, datang mengantarkan minuman. Kebetulan, aku sedang duduk di beranda cottage sambil memantau kegiatan Mama dan Tante Anita bermain di pantai. Kesibukan Mama di sana menjadi pelua







