LOGINPOV SALMATernyata Reno mengejarku. Aku tidak menyangka dia menarikku ke dalam pelukan yang erat ini."Dengarkan aku dulu," katanya memohon setelah aku meminta untuk dilepaskan.Kini, kami saling bertatap-tatapan. Kutatap matanya dengan tajam sambil menunggu penjelasan.Tapi, setelah bermenit-menit berlalu, dia masih bungkam. Tak satupun kalimat yang keluar dari mulutnya. Buang-buang waktu saja.Apa dia terlalu bingung untuk mencari alasan apalagi untuk menutupi kebohongannya?lebih baik aku pergi saja. berada di hotel ini hanya akan membuat aku gila.Air mataku kering saat mengendarai mobil menuju rumah. Tak jelas seperti apa rasa yang ada di dalam hatiku sekarang. Semuanya campur aduk. Rasa terkejut, rasa kecewa, bingung, bimbang, heran, semuanya ada. Bercampur menjadi satu dan menyesakkan dada.Bagaimana bisa Reno menyembunyikan identitasnya dariku? Buat apa? Apakah untuk sebuah permainan? Atau aku dijadikan kelinci percobaan untuk sosial eksperimennya?"Kamu kira aku akan tergiur
POV RENO Lampu ruangan pesta yang berkelap-kelip terasa menyilaukan saat aku memasuki ruangan pesta. Ruangan megah ini penuh sesak dengan kolega Papa, wajah-wajah antusias menyambut kedatangan kami bertiga, Mama, Papa, dan aku. Seorang pelayan menuntun kami ke sofa dekat panggung. Aku duduk di tengah, diapit Mama dan Papa yang seolah sengaja memenjaraku. Padahal, aku ingin melarikan diri, mencari Salma, menceritakan semuanya sebelum pesta perkenalan ini benar-benar dimulai. Pesta ini dihadiri mitra dan kolega Papa, dan kemungkinan besar, Salma juga ada di sini. Tidak mungkin tidak. Pesta ini sengaja mama buat untuk mengenalkan siapa aku. Salma adalah target tujuan utama Mama. Dia ingin membuka identitasku dengan cara yang dramatis. Pandanganku menyapu ruangan, mencari sosok yang kucintai itu. Namun, yang kulihat hanyalah wajah para undangan yang tidak begitu kukenal. Mataku menyipit saat melihat wajah Raffi, mantan tunangan Salma yang juga hadir di sini. Dia duduk berdampingan
POV RENO Pagi ini, kapal pesiar kami bertolak dari Pulau Mentawai menuju Jakarta. Di sampingku, Papa sibuk berbincang dengan Om Hans. Keduanya tak habis-habis waktu dan energi membahas bisnis. Mama dan Tante Anita melihat-lihat laman web toko online di laptop. Keduanya asyik memilih-milih barang untuk berbelanja. Sementara aku, berkutat dengan ponselku sendiri. Mataku tak lepas dari layar ponsel, terpaku membaca pesan-pesan lamaku dengan Salma. Setiap kata yang pernah kutulis, setiap balasan yang Salma kirimkan, berubah menjadi kenangan. Seharusnya menjadi kenangan manis, tapi yang terasa sekarang adalah rasa getir, akhirnya aku sudah sadar bahwa ternyata nomorku telah diblokir. “Ada apa dengan Salma? Kenapa dia tega? Apa Mama penyebabnya?” bisikku dalam hati, pertanyaan itu bergema di kepala sepanjang waktu. Aku ingin sekali membahas hal ini dengan Mama, namun kesempatan itu terasa begitu sulit. Mama, terlalu sibuk menghabiskan waktu dengan Tante Anita, yang selalu menempel kema
POV RENO Satu hari berlayar di kapal pesiar dan dua hari berada di Pulau Mentawai. Tiga hari yang menguras energi dan menyiksaku secara emosi. Bagaimana tidak, setiap malam, aku harus menghabiskan waktu bersama Papa dan Om Hans untuk berdiskusi tentang rancangan proyek sampai larut. Siang harinya aku harus menemani Mama dan Tante Anita, istri Om Hans, menikmati liburan di pantai-pantai Pulau Mentawai. Dan yang paling menyebalkan, aku harus mencuri-curi waktu dan bersembunyi-sembunyi untuk menelepon Salma. Setiap kulakukan, teleponku tidak pernah tersambung. “Apa masalah ponselku ini?” Aku bergumam kesal karena belum juga berhasil menghubungi nomor Salma. Ini sudah tiga hari, Salma bisa berpikiran yang aneh-aneh padaku karena aku menghilang tanpa kabar. Seorang pelayan resort, laki-laki muda usia 20-an, datang mengantarkan minuman. Kebetulan, aku sedang duduk di beranda cottage sambil memantau kegiatan Mama dan Tante Anita bermain di pantai. Kesibukan Mama di sana menjadi pelua
POV SALMA Malam ini aku memilih lembur. Membenamkan diri dalam pekerjaan akan sedikit mengurangi rasa kecewaku pada Reno. Jam delapan malam, kantorku sudah lengang. Hanya ada satu OB yang masih berada di kantor, dia pun sedang bersiap-siap pulang. “Dono, boleh minta tolong belikan makan? Beli di café dekat-dekat sini aja,” pintaku pada Dono. “Boleh, Buk.” “Apa aja menu yang ada di sana?” “Café di depan cuma jual nasi goreng, ibu mau toppingnya apa?” Nasi goreng? Entah kenapa perutku mendadak mual kalau sudah mendengar menu yang satu itu. Otakku lansung melayang pada sarapan nasi goreng yang dibuatkan Reno untukku. Arghhh! Mengapa wajahnya muncul lagi di ingatan ini hanya karena mendengar kata nasi goreng? “Buk, jadi ngga?” Dono memecah lamunanku. “Yang lain aja, selain nasi goreng,” jawabku cepat. “Di dekat sini juga ada café yang menjual ayam goreng, ibu mau yang itu?” Ayam goreng café itu? Yang pernah menjadi menu makan malamku dengan Reno? Oh tidak! Lagi lagi wajah R
POV SALMASetelah kepergian Reno dari rumah, aku bergelut dengan kegelisahan sepanjang malam. Hatiku harap-harap cemas. Bagaimana kalau Mama Reno membesar-besarkan masalah ini? Bagaimana kalau kami diminta pisah? Atau, bagaimana kalau? … Otakku berkecamuk memikirkan bagaimana nanti. “Mamanya angkuh sekali, tidak seperti Reno yang rendah hati. Memangnya Mamanya siapa sih?” Aku menggerutu sendiri sambil mondar-mandir gelisah di kamar. Kulihat jam sudah melewati angka sebelas. Sudah dua jam berlalu sejak kepergian mereka dari sini, namun Reno juga belum memberi kabar padaku.Kuambil ponsel. Dadaku bergemuruh saat menunggu teleponku diangkat.“Hello, Ren,” ucapku begitu telepon tersambung. Tidak ada jawaban dari sana. Hanya helaan napas yang terdengar samar.“Ren, jawab,” ucapku lirih agar Reno segera merespon.“Ini bukan Reno. Ini saya, Soraya, Mamanya.”Deg!Jantungku lansung bertalu cepat ketika mendengar suara wanita itu. “Tante?” “Iya, saya. Soraya,” jawabnya tegas. “Salma, Maaf.







