LOGIN“Kalau rasa yang kamu punya sama Tari itu tulus, kamu nggak akan tega buat nyakitin.”Sosok pengendara motor tiba-tiba muncul sebelum Prasetyo berhasil membawaku pergi, anak buah Prasetyo mengira dia pengguna jalan yang kebetulan lewat, tapi ternyata dia adalah Deko. Dalam keadaan yang membuatku takut sekaligus bersyukur, aku belum berhasil menemukan jawaban tentang bagaimana dua orang ini bisa ada di tempat dan waktu yang sama denganku.“Jangan sok ngerasa di atas angin hanya gara-gara kamu masih diterima dengan baik sama Tari, kamu dan aku itu sama saja karena Tari belum memutuskan dia pilih siapa.”“Aku single, kamu? Kamu mau jadikan Tari istri kedua? Atau.... mau ceraikan istri kamu dan ninggalin anak kamu demi membuktikan kalau kamu serius sama Tari?”“Bukan urusan kamu!!”“Memang bukan, tapi kita sama-sama laki-laki kan? Karena setahuku, yang bangga mengakui dirinya sebagai laki-laki sejati tapi bisanya nyakitin perempuan itu lebih pantas disebut banci sih.”“Punya mulut j
“Sekarang lebih baik kamu ikut aku! Tinggalin motor kamu di situ! Biar nanti aku suruh orang buat benerin sekalian nganterin ke rumah kamu kalau semuanya sudah beres,” kata Prasetyo dari mobilnya.“Nggak usah, makasih. Di depan nanti pasti ada kok yang buka.”“Kamu mau jalan sampai berkilo-kilo meter juga nggak bakalan ada Tar. Ini tuh udah masuk daerah pinggirian, nggak akan ada tukang tambal ban yang buka dua puluh empat jam. Udah masuk aja! Sekali-kali nurut bisa nggak sih? Demi kamu juga loh ini.”Aku mulai ragu untuk melanjutkan langkahku setelah mendengar kata-kata Prasetyo tapi aku tidak punya pilihan lain. Setelah semua yang dia lakukan, aku tidak mungkin percaya begitu saja kalau Prasetyo benar-benar berniat baik. “Mikirin apalagi sih kamu? Takut? Apa yang harus ditakutin coba? Tenang aja Tari, aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu,” Prasetyo kemudian menghentikan mobilnya beberapa meter di depanku karena aku juga berhenti. Dia lalu keluar dari mobil dan berjalan mendekatik
“Saya nggak habis pikir apa yang buat Tante Ning begitu terkesan sama Mbak sampai harus membawa Mbak ke sini. Setiap kerjaan yang saya kasih ke Mbak nggak ada satu pun yang punya nilai sempurna, selalu ada aja masalahnya,” Lila langsung memberikan kalimat pembuka tanpa menyuruhku duduk terlebih dahulu.“Yang mana lagi yang kamu, maaf.... maksud saya pekerjaan yang mana yang Bu Lila maksud,” aku hampir saja terpancing emosi kali ini, setiap hari ada saja yang kurang menurut dia.“Masih nanya yang mana? Kamu sudah lupa kemarin saya beri kamu kerjaan apa?!”“Karena Ibu memberi saya pekerjaan yang berbeda terus setiap harinya jadi saya harus pastikan dulu pekerjaan mana yang Ibu maksud kali ini.”“Semuanya kacau! Bisa kerja nggak sih?!”“Tolong tunjukkan pada saya biar saya perbaiki sekarang.”“Disuruh SO kacau, disuruh bantu display ambyar, disuruh bantu-bantu temennya yang lain juga nggak bisa. Udah nggak ketolong lagi, saya terus harus kasih kamu kerjaan apa? Bersih-bersih?!”“S
“Lebih baik Mbak bilang baik-baik sama Bu Ning terus keluar dari situ.”“Aku nggak enak Mir, dia sudah banyak bantu aku selama ini. Dia tahunya kita semua baik-baik aja.”“Baik-baik apanya kalau tiap Sabtu Minggu dipaksa begadang terus? Baik-baik apanya kalau selama ini Mbak dikasih kerjaan yang nguras tenaga? Itu kan nggak seperti yang dijanjikan Bu Ning sebelumnya dan Bu Ning nggak tahu soal ini makanya Mbak harus speak up, jangan diem aja! Aku yakin Mbak bisa beresin si Lila-Lila itu, nggak perlu merasa nggak enak sama anak kurang ajar kayak dia Mbak.”“Sebenernya bukan nggak enak ke anak itu sih Mir, aku lebih mikirin Bu Ning aja.”“Iya Mbak, ngerti banget, paham banget, tapi sampai kapan Mbak bisa tahan? Tiap Senin pagi mata panda Mbak sejelas itu loh, kalau Mbak sampai ambruk gimana anak-anak? Aku yakin Bu Ning juga akan percaya kok sama Mbak kalau Mbak cerita yang sebenernya.”“Untuk saat ini sepertinya nggak akan semudah itu Mir, soalnya si Lila ini pinter banget bolak-ba
“Saya yakin kamu dan dia bisa jadi tim yang solid, anaknya baik banget, ceria juga. Kerjaan ini aman buat kamu karena nggak perlu lembur malam lagi. Jujur saya takut dan kepikiran terus setelah kejadian kamu kemarin,” Bu Ning lalu mengetuk pintu sebuah ruangan dan membukanya perlahan kemudian masuk, aku mengikutinya dari belakang.“Hii, hallow anak cantik, Tante bawakan teman untuk kamu,” sapa Bu Ning semangat.“Lila…” panggilku perlahan saat tahu siapa teman baru yang dimaksud Bu Ning.“Kalian saling kenal?” tanya Bu Ning pada kami berdua.“Belum Tante, baru aja ketemu di sini. Hii namaku Lila, senang bisa berkenalan dengan Mbak… siapa ya?” Lila menjawab pertanyaan Bu Ning dengan cepat sembari mengulurkan tangannya padaku, dia tersenyum.“Tari, kenalkan ini Lila, dia putri temen lama saya, lama tinggal di luar dan sekarang sudah mantap buat menetap di Indo katanya,” kata Bu Ning sambil memegangi kedua bahu Lila.“Saya Tari,” aku menyambut uluran tangannya dan tersenyum.“Oke,
“Hasilnya sudah keluar dan Bu Kanti memang mengalami gangguan jiwa, jadi seperti yang aku katakan kemarin, kasus ini dihentikan. Bu Kanti akan dirawat di rumah sakit jiwa,” Deko datang untuk memberi tahu kelanjutan kasus penusukan itu.“Akhirnya dia menuai apa yang dia perbuat. Tapi… kenapa rasanya masih mengganjal di hati ya Ko?”“Ada apa Mbak?” tanya Deko pada Mbak Asri.“Nggak tahu, apa mungkin karena dia pinter bikin drama jadi rasanya di hati itu masih belum seratus persen percaya sama dia. Takut banget kalau dia pura-pura dan ini semua adalah bagian dari rencana dia untuk mengganggu Tari lagi.”“Mbak, jangan mikir yang aneh-aneh.”“Kali ini nggak perlu sampai khawatir berlebihan karena semua prosesnya berjalan dengan baik. Kebetulan ada beberapa teman saya yang sudah bantu agar semuanya sesuai dengan kenyataan tanpa rekayasa Mbak. Bu Kanti dan Seno sekarang tidak sekuat dulu Mbak, saya kira Pras sudah benar-benar lepas dari mereka berdua.”“Syukurlah kalau memang begitu ja







