Home / Romansa / SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA / BAB 3 : Ratapan Hati (Part 3)

Share

BAB 3 : Ratapan Hati (Part 3)

Author: Hamfa Merman
last update Last Updated: 2025-11-24 15:14:40

“Donfa Kragar, mencintai pria laknat sepertimu benar-benar kesalahan terbesar dalam hidupku! Aku pasti akan mengingat rasa sakit ini seumur hidupku! Kau tunggu saja balasan dariku, pasti berkali-kali lebih dahsyat dari penyiksaanmu selama ini!” pikir Karnias Saputri dalam hatinya yang benar-benar membenci dan mulai menyimpan dendam.

Donfa Kragar tidak tahu isi hatinya Karnias Saputri, lebih tepatnya memang tidak mau tahu sama sekali. Alhasil, Donfa Kragar semakin ganas terus memukuli istrinya sendiri tersebut tepat di hadapan selingkuhannya. Sebuah kelakuan bejat yang sungguh sulit digambarkan hanya beberapa kata saja. 

“Gawat! Donfa ini benar-benar sudah terlalu berlebihan! Aku harus menghentikannya sekarang juga!” pikir Bu Linda yang sudah tak tega melihat Karnias Saputri terus menerus digampar selayaknya samsak tinju oleh Donfa Kragar tanpa memberikan sedikit pun perlawanan.

“Cukup, Pak Donfa! Jangan terlalu keras memukulinya! Nanti kalau dia pingsan, bakal sulit mengurusnya! Lagi pula, Bu Karnias pasti sudah cukup tersadarkan akan kesalahan yang dilakukan sebelumnya!” ucap Bu Linda sambil perlahan-lahan berjalan mendekat ke arah Donfa Kragar.

Donfa Kragar yang mendengar perkataan Bu Linda seolah merasa tercerahkan. “Benar juga katamu, Bu Linda! Kalau kecoa ini pingsan, bisa sulit mengusirnya dari ruangan ini. Ya sudah, cepat pergi dari tempat ini! Pelajaran hari ini jangan sekali-kali kau lupakan lagi! Cepat keluar!”

Donfa Kragar berhenti memukuli istrinya tersebut, tapi bentakannya seolah tidak berhenti. Karnias Saputri merasa sakit di wajah dan kedua tangannya. Rasanya ingin langsung saja tergeletak pingsan saat itu juga. Namun, tekadnya yang kuat berhasil membuat Karnias Saputri tetap berdiri tegak sekuat tenaga.

“Hmm? Pakai ngelamun segala! Cepat keluar!” bentak Donfa Kragar sekali lagi.

Karnias Saputri perlahan-lahan melirik tajam ke arah Donfa Kragar yang kini masih menatapnya dengan ganas, tak berubah sedikit pun. Bu Linda merasa tak nyaman ketika lirikan tajamnya Karnias Saputri juga diarahkan kepada dirinya. Meski begitu, Bu Linda tetap tenang dan bahkan masih santai tersenyum tipis seolah mengejek penderitaannya Karnias Saputri.

“Karnias, oh Karnias! Bukannya berterima kasih karena telah dibantu olehku, kau malah menatap tajam ke arahku. Tampaknya, dendam di hatimu sudah tidak bisa diobati lagi. Benar-benar wanita yang menyedihkan sekali!” pikir Bu Linda dalam renungannya.

Bu Linda melanjutkan dalam hatinya, “Sejak awal, seharusnya kau tidak perlu menerima lamaran nikahnya Pak Donfa. Sayangnya, waktu itu hatimu sudah dibutakan oleh cinta palsu dan iming-iming status serta harta kekayaan Keluarga Kragar oleh Pak Donfa. Kalau mau menyalahkan, maka salahkan dirimu sendiri karena bertindak ceroboh!”

Karnias Saputri masih terdiam ketika kedua tangannya masih berusaha melindungi wajahnya dan dalam hatinya membatin, “Kalian dua makhluk hina pasti akan merasakan penderitaanku! Pasti akan aku balas ratusan juta kali lebih menyakitkan daripada ini!”

“Hah? Hadeh, masih saja diam terus! Haruskah aku seret keluar kamu ini, huh?! Atau mungkinkah masih ingin ditampar lagi, biar sadar sekali lagi, huh?! Pergi sekarang!” tegas Donfa Kragar sekali lagi membentak sejadi-jadinya yang bahkan mengejutkan hatinya Karnias Saputri dan Bu Linda itu sendiri.

“A–aku bisa jalan sendiri! Pe–permisi!” sahut Karnias Saputri dengan suara tergagap ketika tubuhnya yang sebelumnya mematung perlahan-lahan digerakkan untuk segera keluar dari dalam ruangan kerja tersebut.

“Hmph! Baguslah kalau kamu sudah sadar diri!” Donfa Kragar mendengus dengan dingin sambil berbalik memeluk tubuhnya Bu Linda yang setengah telanjang.

“Ayo sayang, kita lanjutkan kemesraan sebelumnya! Gara-gara kecoa, semuanya menjadi tertunda. Namun, kecoanya sudah dibereskan sehingga tidak perlu ada yang dipermasalahkan lagi, hehe!” ucap Donfa Kragar dengan nada suaranya yang jahil sekali.

Bu Linda yang melirik kepergian Karnias Saputri hanya bisa segera mengabaikannya ketika Donfa Kragar sudah mulai menanggalkan kemeja ditangannya yang digunakan untuk menutupi dua gunung kembar jumbo miliknya yang luar biasa indah.

“Ah, Pak Donfa ada-ada saja kalau bercanda. Bu Karnias masih belum sepenuhnya keluar dari dalam ruangan ini. Tunggu beliau keluar dahulu, baru kita lanjutkan kemesraan sebelumnya!” Bu Linda berkata-kata dengan lembut, tapi sangat pedas rasanya ketika memasuki telinganya Karnias Saputri yang sudah berjalan sampai di depan pintu keluar.

“Jalang rendahan!” batin Karnias Saputri mengutuk dalam diam. Sorot matanya yang tajam tidak memudar meski hanya diarahkan kepada pintu keluar.

“Sudah, biarkan saja kecoa itu! Nanti keluar sendiri kalau sudah waktunya! Abaikan saja dia!” sahut Donfa Kragar yang sudah kembali berhasrat ketika melihat pemandangan indah dan dahsyat dari dua gunung kembar miliknya Bu Linda.

Tanpa keraguan sedikit pun, Donfa Kragar dengan ganas meremas buah naga raksasa yang lembut dan mulus tersebut. Aksi yang langsung mengejutkan Bu Linda tersebut tidak berhenti sampai di sana ketika Donfa Kragar langsung saja mulai menikmati salah satu puncak gunung kembar dengan bibir dan lidahnya ketika menghisapnya berulang kali dalam waktu singkat.

“Ah…, Pak Donfa! Pelan-pelan, ah!” Bu Linda mendesah di setiap aksi memanas hubungan badan keduanya tersebut.

Karnias Saputri yang marah semakin naik pitam. Tatapan kebencian kembali diarahkan kepada dua pasangan sejoli yang bejat tersebut ketika dirinya memutuskan untuk menoleh. Bu Linda yang menyadari tatapan ganasnya Karnias Saputri hanya membalasnya dengan senyuman tipis sekali lagi seolah mengejek Karnias Saputri dalam diam dan tampak tidak peduli dengan apa pun yang sedang dipikirkan oleh Karnias Saputri saat ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 69 : Kehidupan Baru (Part 9)

    Anak-anak yang berlarian ke sana kemari penuh dengan semangat dan keceriaan. Karnias Saputri terlihat sangat iri melihat orang-orang itu tampak tidak memiliki beban sedikit pun di pundaknya. Berbeda dengan apa yang dirasakan olehnya saat ini.“Waktu kecil, apakah aku bisa seriang itu? Ayah dan ibu telah tiada jauh-jauh hari. Kalau dipikir-pikir, masa kecilku juga tidak ada istimewanya sama sekali. Haruskah rasa iri ini dihilangkan saja ataukah memang wajar muncul ke permukaan? Hmm, entahlah! Aku tidak tahu sama sekali!” gumam Karnias Saputri penuh dengan perasaan yang rumit untuk dijelaskan hanya dengan sebatas kata-kata semata.Karnias Saputri yang duduk seorang diri dengan bengong itu membuat sejumlah mata-mata menjadi heran. Beberapa yang menggunakan alat pendeteksi suara dari jarak jauh juga tidak bisa mendengar dengan jelas. Lagi pula, situasi taman kota yang cukup berisik dengan angin kencang yang mengalir dari sela-sela sekitarnya.“Apa yang sebenarnya terjadi?! Haruskah kita m

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 68 : Kehidupan Baru (Part 8)

    Karnias Saputri segera menepikan sepeda motornya ke salah satu sudut taman kota tersebut. Di sana, tentu saja ada tempat parkir yang memang sengaja sudah disiapkan seperti itu. Banyak sepeda motor lainnya juga yang ada di sana meski tampak jelas tidak sebanding dengan apa yang biasanya terlihat di hari-hari liburan.“Huh…, mari kita jalan-jalan keliling taman kota. Hehe!” gumam Karnias Saputri tampak sangat bersemangat turun dari sepeda motornya.Karnias Saputri menghirup udara segar yang memang khas dari taman kota. Tatapan matanya berkeliaran ke sana kemari, mencoba untuk menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Karnias Saputri akhirnya memutuskan untuk berkeliaran terlebih dahulu, tidak terikat kepada satu tempat tujuan saja.Selepas Karnias Saputri menjauh, sejumlah geng motor tiba-tiba datang dan ikut memarkirkan sepeda motor mereka. Di antara mereka, terlihat jelas saling menatap dengan permusuhan dan kecurigaan antara satu dengan yang lainnya. Meski demikian, mereka tidak s

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 67 : Kehidupan Baru (Part 7)

    Seolah bisa mendengar itu, Pak Harmir segera membalas dalam renungannya. “Kamu tidak akan mendapatkan apa pun yang diinginkan oleh Tuan Mudamu itu. Hanya Kepala Keluarga saja yang benar-benar layak untuk dilayani di dalam Keluarga Kragar. Tuan Mudamu masih belum sampai ke tahap itu!” pikir Pak Harmir menolak menyerah.Kedua belah pihak yang bersitegang itu segera mengalihkan pandangannya. Mereka mulai fokus melihat ke arah depan. Dari sini, sudah jelas kalau tidak ada satu pun di antara mereka yang mau mengalah begitu saja. Baik itu Pak Buwir ataupun Pak Harmir, keduanya hanya bidak catur yang digunakan oleh dua atasan mereka yang saling bersitegang satu sama lain.Di tempat lain, Donfa Kragar yang baru saja mandi tetap tenang berjalan ke meja makannya. “Silahkan Tuan Muda! Ini menu makan di hotel kita kali ini!” ucap seorang pelayan hotel dengan sopan mempersilahkan Donfa Kragar duduk.Donfa Kragar menganggukkan kepalanya. Dia melihat sejumlah menu makanan tampak menggoda dan masih b

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 66 : Kehidupan Baru (Part 6)

    “Hah?” Karnias Saputri terkejut mendengar Neneknya berbicara.“Benar kata Nenekmu itu. Tetap santai saja kalau masalah ini terlalu memberatkanmu. Fokus meraih tujuan yang kamu impikan. Kakek dan Nenek akan selalu mendukungmu dari belakang!” ucap sang Kakek kembali menambahkan kesalahpahaman tersebut.Karnias Saputri tersenyum pahit mendengarnya, tak tahu apakah harus marah atau malah tertawa terbahak-bahak. “Tenang, Kek, Nek! Karnias tahu betul maksud Kakek dan Nenek itu demi kebaikannya Karnias sendiri. Oleh karena itulah, Karnias sedikit gelisah aja kemarin. Namun, sekarang Karnias lebih memikirkan pekerjaan di kantor!” ungkap Karnias Saputri dengan tenang mencoba meredakan kesalahpahaman ini.Nenek dan Kakek saling menatap sebelum akhirnya tertawa ringan. “Jadi begitu rupanya. Ya sudah kalau memang tidak ada masalah sama sekali. Kakek dan Nenek akan selalu mendukungmu. Sudah, itu saja yang perlu Karnias ingat baik-baik, jangan pernah dilupakan ya!” ungkap sang Nenek segera membuat

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 65 : Kehidupan Baru (Part 5)

    “Hmm….” Pak Harmir merenung dalam diam karena perasaan bingung yang sulit untuk dijelaskan hanya dengan kata-kata saja sedang memenuhi isi hatinya.“Apa mungkin semuanya hanya kebetulan semata? Tuan Muda itu bukan orang yang sembrono. Selama ini aku mengenalnya sebagai sosok yang peka dan jeli. Meski temperamennya tidak sekeras Kepala Keluarga, tapi ketelitiannya jauh lebih jeli dibandingkan Kepala Keluarga. Sesuatu yang namanya kebetulan sangat mustahil terdengar!” pikir Pak Harmir masih menolak hasil investigasi bawahannya tersebut.Pak Harmir memang tidak bisa disalahkan dalam hal ini sebab memang begitulah kehebatannya Donfa Kragar yang tertanam di dalam otaknya. Bukan hanya dia saja, banyak calon pewaris lainnya juga merenungkan hal yang sama. Oleh karena itulah, setiap gerak-geriknya Donfa Kragar selalu menimbulkan kewaspadaan daripada para pesaingnya tersebut.Kalau mereka lengah sedikit saja, boleh jadi Donfa Kragar akan menggilas mereka dalam sekali jalan. Sebuah kemampuan pe

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 64 : Kehidupan Baru (Part 4)

    “Baik, Pak Harmir!” sahut bawahannya dengan sigap.“Bagus, silahkan bergegas ke lokasi tujuan!” tegas Pak Harmir tampak sangat serius sekali.Para bawahannya langsung pamit undur diri. Jelas tujuan mereka selanjutnya adalah rumah tempat Karnias Saputri berada. Pak Harmir menggelengkan kepalanya seolah tak berdaya memikirkan segalanya.“Ada-ada saja! Semuanya bermula dari ketidakharmonisan menjadi permusuhan. Sudah lama aku bekerja di bawah Keluarga Kragar, masalahnya selalu seperti ini. Ya sudahlah, aku juga hanya bawahan saja. Tidak ada yang bisa aku lakukan di tengah-tengah perebutan kekuasaan ini,” gumam Pak Harmir sebelum lanjut berjalan dengan santai.Tidak tahu badai apa yang menantinya, Karnias Saputri masih sibuk di dapur hingga selesai semua persiapan makanannya. Tak butuh waktu lama, keluarga kecil itu saling berkumpul dan makan dengan tenang. Adapun di luar sana, mata-mata dari pihak Donfa Kragar dan Jurgan Kragar sudah mengambil posisinya masing-masing.“Huh, enaknya makan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status