Home / Romansa / SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA / BAB 4 : Ratapan Hati (Part 4)

Share

BAB 4 : Ratapan Hati (Part 4)

Author: Hamfa Merman
last update publish date: 2025-11-24 22:35:36

“Bu Karnias, maaf ya! Suamimu akan saya manjakan hari ini! Mungkin lain kali bakal jadi giliran Anda! Mu–mungkin juga tidak, ah…!” ucap Bu Linda dengan suara lembut sebelum terputus ketika merasakan sengatan listrik dari salah satu puncak gunung kembar miliknya yang dihisap dengan ganasnya oleh makhluk buas bernama Donfa Kragar.

Karnias Saputri melotot ketika mendengarnya sekaligus geram ketika melihat pemandangan suaminya sendiri begitu ganas meremas dan menghisap tubuh sensitif yang besar sekaligus kenyal miliknya Bu Linda, tepat di depan matanya. Perasaan marah, benci, dan dendam yang sulit terlukiskan terasa bercampur aduk menjadi satu dalam momen bejat semacam itu.

Pengalaman hidup yang mustahil dilupakan oleh Karnias Saputri, tak peduli apa yang terjadi ke depannya. Entah berapa lama rasa mengganjal di dalam hatinya akan terus ada. Selama terus didiamkan dan tidak ada sesuatu yang dapat melunturkannya, perasaan rumit akan terus menerus mendiami isi hatinya hingga membuatnya kehilangan akal sehat.

“Sungguh menyesal aku menikahi pria bejat sepertimu, Mas Donfa! Tidak disangka, beginilah sosokmu yang sebenarnya! Sebejat inikah rupanya sosok pria yang pernah aku cintai selama ini!” pikir Karnias Saputri mulai menyalahkan dirinya sendiri sampai meneteskan air mata kesedihan yang mungkin untuk terakhir kalinya.

Dengan berat hati, Karnias Saputri memutuskan untuk segera keluar dari dalam ruangan terkutuk tersebut. Momen dari masa lalu perlahan-lahan muncul dalam ingatannya, saat-saat di mana dia pernah benar-benar jatuh cinta hingga memutuskan untuk menerima lamaran nikahnya Donfa Kragar.

***

Sepuluh tahun yang lalu, Karnias Saputri masih berusia sekitar 19 tahun. Wajahnya yang rupawan didukung dengan tubuhnya yang elegan seolah melekat pada jati dirinya. Karnias Saputri tidak hanya sebatas cantik di luarnya saja, melainkan hatinya juga tak kalah memukau pandangan orang-orang terhadapnya.

“Karnias, kamu ini apa gak lelah suka bantuin kerjaan orang lain? Saya melihat kinerja kamu sudah terlalu melebihi kapasitas yang seharusnya ditugaskan kepadamu loh. Kalau begini terus, lama-lama kamu pasti akan kelelahan sendiri!” ungkap seorang pria tua yang merupakan atasan kerjanya Karnias Saputri.

Karnias Saputri tersenyum malu sambil berkata, “Tidak ada masalah sama sekali kok, Pak! Karnias memang sudah biasa dan merasa senang kalau bisa membantu orang lain. Memang melelahkan kalau dipikir-pikir, tapi akan terbiasa juga kalau didukung dengan niat kuat di dalam hati.”

Pria tua menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit mendengar jawaban yang tidak biasa dari lawan bicaranya tersebut. “Hadeh, kamu ini memang aneh! Tidak ada tambahan gaji sekalipun kamu bekerja berlebihan. Belum lagi, kamu masih karyawan baru dan hanya lulusan SMA saja. Sulit untuk dipromosikan kalau tidak lulusan sarjana. Lebih baik santai saja, kerja sambil belajar sehingga bisa segera melanjutkan kuliah atau mungkin buka usaha sendiri.”

Karnias Saputri hanya tersenyum dalam hatinya membatin, “Saya sudah tahu akan hal itu. Karenanya, membantu pekerjaan orang lain juga termasuk proses belajar. Masalah kuliah, hmm…. Semoga saja ada kesempatan!”

Seketika ingatan tentang keluarga muncul kembali. Sebagai informasi, Karnias Saputri adalah anak yatim piatu sejak berusia tujuh tahun. Pasalnya, kedua orang tuanya meninggal dunia akibat insiden kecelakaan pesawat yang jatuh saat keduanya sedang berangkat bersama ke luar Jawa menuju Kalimantan demi masalah pekerjaan.

Tidak ada yang menyangka kalau perpisahan yang seharusnya hanya sementara saja bisa berubah 180 derajat jauhnya menjadi sebuah tragedi malapetaka yang membuat Karnias Saputri yang merupakan anak tunggal, seketika menjadi anak sebatang kara. Tanpa kedua orang tuanya, Karnias Saputri masih terbilang beruntung karena kakek dan neneknya masih hidup.

Namun, yang namanya keluarga biasa-biasa saja, kondisi ekonomi kakek dan neneknya terbilang tidak terlalu besar. Hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan Karnias Saputri sampai sebatas SMA saja. Meski begitu, Karnias Saputri selalu merasa bersyukur dalam hidupnya dan menolak untuk merasa kecewa sedikit pun.

“Hidup semua orang memang berbeda, Pak. Ada yang berkecukupan dan ada pula yang harus mengais dengan kerja keras. Karnias terbilang beruntung, tapi masalah kuliah memang masih agak berat. Rencananya, Karnias ingin mendapatkan beasiswa. Sayangnya, saya masih kesulitan bersaing dengan peserta lain dari seluruh penjuru Indonesia.”

Karnias Saputri berkata-kata dengan tenang untuk merespon perkataannya pak tua itu. Keduanya berada di dalam ruangan kerja dengan banyak komputer yang sudah sunyi karena memang waktu malam telah tiba dan semua orang yang bekerja di sana sudah pulang sejak lama sehingga hanya menyisakan Karnias Saputri dan atasannya saja.

Pria tua itu menghela napasnya sambil berkata, “Dari perkataanmu, Bapak bisa sedikit memahami kondisi keluarga yang ada di belakang layar, mendukung serta menjadi tanggungan hidupmu. Persaingan di Indonesia memang semakin ketat, jadi tidak ada salahnya untuk memikirkan segala macam kemungkinan yang ada.”

Pria tua terdiam sesaat sebelum kembali melanjutkan, “Ya sudahlah, Bapak tidak akan berbicara banyak. Hanya ingin mengingatkan untuk berhati-hati dan terus menjaga kesehatan. Batasan tubuhmu hanya kamu sendiri yang tahu, tapi perlu disadari kalau tidak ada yang namanya manusia super di dunia ini. Hanya ada manusia biasa yang pasti merasakan sensasi yang namanya lelah!”

Karnias Saputri menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baik, Pak. Karnias Saputri sadar betul akan hal itu. Terima kasih atas nasehatnya.”

“Okelah, kalau begitu Bapak pulang dahulu. Jangan malam-malam kerjanya, pastikan jam sembilan malam sudah pulang!” ujar pria tua itu sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan Karnias Saputri yang masih seorang diri di depan layar komputernya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 100 : Hadirkan (Part 10)

    “Dari laporan bawahanku, tampaknya Nona Karnias sudah terlanjur bosan dengan kondisinya yang terkurung di dalam kamar. Yah, tidak bisa disalahkan juga sih, hadeh!” gumam Pak Buwir dengan santai berjalan maju.Tanpa disadarinya, ada sejumlah orang yang diam-diam mengawasinya dari sisi lain. Tatapan mata mereka menjadi tajam melihat kehadiran sosok yang sangat tidak asing itu.“Lapor, tim pengintai berhasil menemukan lokasi Pak Buwir. Kemungkinan besar, dia ingin menuju ke arah kamar rawat inap target kita kali ini. Apa yang harus kami lakukan? Mohon berikan arahan yang jelas!” ucap salah satu pengintai segera berpindah tempat dan menghubungi atasannya.Atasannya yang dimaksud jelas sekali adalah Pak Harmir itu sendiri. Namun, yang bersangkutan sedang disibukkan oleh sesuatu yang membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk membalas pertanyaan yang diajukan tim pengintai.“Kepada tim pengintai, ketua masih ada halangan. Tetap siaga saja di tempat dan awasi segalanya! Laporkan segala sesua

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 99 : Hadirkan (Part 9)

    Mendengar dua keluarga terdekatnya itu benar-benar serius sekali, Karnias Saputri dibuat terdiam seribu bahasa. Tak mungkin lagi baginya untuk mencoba berbagai macam tipu muslihat demi mengelabui kakek dan neneknya yang sudah sangat merindukan dirinya.“Apa yang harus aku lakukan sekarang?! Kakek dan Nenek benar-benar marah. Kemungkinannya besar kalau mereka bakalan menelepon polisi, lalu melaporkanku sebagai orang hilang cukup tinggi!” pikir Karnias Saputri merasakan dilema dalam benaknya.Bukannya dia tidak mau pulang, tapi keadaan di sekitarnya yang memaksanya untuk tetap tinggal di tempatnya duduk saat ini. Tidak ada jalan keluar, tidak peduli seberapa keras dia mencoba. Tampaknya, Karnias Saputri kembali dihadapkan dengan krisis yang sangat serius ini.“Maaf Kek, maaf Nek! Sampai jumpa keesokan harinya! Dada!” ujar Karnias Saputri sudah kehilangan harapan lainnya selain melakukan aksi kekanakannya itu.Tit…!Ponsel tiba-tiba dimatikan yang membuat ekspresi wajahnya kakek dan nene

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 98 : Hadirkan (Part 8)

    Pak Buwir langsung terdiam seribu bahasa. Tak ada kata-kata lainnya lagi yang bisa diutarakan olehnya. Terlepas dari sudut mana pun, segalanya menjadi jauh lebih rumit kalau dirinya masih keras kepala untuk berperilaku yang tidak seharusnya.“Maafkan atas kelancangan saya, Tuan Muda! Beberapa hari belakangan, sikap hormat saya memang cukup banyak yang berantakan. Harap dimaklumi!” ujar Pak Buwir tak lagi mencoba untuk membantah dan langsung mengakui segala kesalahannya saat itu juga.Donfa Kragar menghembuskan napasnya. “Huuuh…, terserahlah, aku tidak peduli formalitas seperti itu. Intinya, aku sudah melakukan apa yang kau minta. Sekarang, giliran kamu yang melakukan apa pun permintaan dariku!” tegasnya tak lagi punya waktu berlama-lama untuk urusan yang dianggapnya sepele itu.Pak Buwir tidak berkomentar terlalu jauh. “Baik, Tuan Muda! Saya akan menjalankan perintah Anda sebaik-baiknya!” sahutnya dengan tegas.“Hmph! Pergilah!” ucap Donfa Kragar seketika mematikan panggilan masuk di

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 97 : Hadirkan (Part 7)

    Inilah yang membuat perasaan Karnias Saputri tercampur aduk. Donfa Kragar jelas tak paham sampai sejauh itu sama sekali. Hasilnya, sudah bisa ditebak kelanjutan isi percakapan keduanya.“Oh…? Apa kau mulai mengkhawatirkanku?” tanya Donfa Kragar mulai bersilat lidah.Karnias Saputri sedikit melipat bibirnya. “Bu, bukan itu…, maksudku iya! Ah…, kau pasti tahulah maksudku, kan? Jangan pura-pura gak tahu!” sahutnya sangat gugup sendiri.Donfa Kragar memicingkan alis matanya. “Hah? Apaan sih maksudmu ini?” tanyanya benar-benar tidak tahu menahu.Karnias Saputri mengerutkan bibirnya. Dirinya jelas merasa sangat malu kalau sampai mengutarakan isi hatinya. Belum lagi, Donfa Kragar bisa-bisanya terkesan tidak tahu sama sekali. Baginya, pria itu pasti sedang berpura-pura tidak tahu saja.“Idih, Tuan Muda pasti bercanda, kan? Bukannya wajar untuk calon istri mengkhawatirkan suaminya sendiri? Saya hanya melakukan tugas ringan semacam itu saja. Tidak perlu dilebih-lebihkan sama sekali!” ujar Karni

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 96 : Hadirkan (Part 6)

    Tanpa disadarinya, kelompoknya Pak Harmir sudah menyamar dan menyusup masuk ke dalam rumah sakit tempatnya sedang dirawat inap. Mereka membaur di antara orang-orang yang ada di sana. Terlihat seperti pasien dan ada juga yang terlihat seperti perawat yang sedang bertugas di sana.“Pak Harmir, lokasi target sudah dikonfirmasi. Dia berada di lantai atas tempat para anggota VIP dirawat inap. Apakah kita harus menyergapnya sekarang juga?” ujar salah satu bawahan melalui radio setelah mengawasi sekilas di lantai atas.Dia melihat kerumunan para penjaga yang sedang menjaga ketat salah satu kamar VIP. Pak Harmir yang mendapatkan pesan itu akhirnya membalas dengan pertanyaan. “Apakah penjagaannya di sana sangat rapat?” tanyanya dengan tenang.Bawahan tersebut melirik sekilas sekali untuk mengecek keseluruhan yang ada. “Lebih dari selusin penjaga berada di sana. Namun, saya belum bisa memastikan apakah mereka membawa senjata api atau tidak. Kalau iya, bakal merepotkan nantinya, Tuan!” jawabanny

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 95 : Hadirkan (Part 5)

    Para bawahannya seolah tidak terlalu terkejut dengan pernyataan itu. Mereka diam-diam mendengarkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Pak Harmir. Karena tidak ada yang berkomentar, Pak Harmir merasa kalau mereka memahami arahannya.“Jujur saja, kali ini saya tidak tertarik untuk melakukan segalanya begitu saja. Ada beberapa hal yang perlu saya temukan jawabannya. Jadi, kalian semua harus benar-benar berhati-hati kalau tidak ingin terluka nantinya!” tegas Pak Harmir berbicara tak terlalu jelas maksudnya.Para bawahannya tetap diam menunggu Pak Harmir selesai menjelaskan semuanya. Namun, penjelasan dari Pak Harmir yang ditunggu-tunggu malah tak kunjung tiba juga. Hal ini membuat mereka yang ada di sana malah dibuat kebingungan sendiri.“Tuan, apakah tidak ada penjelasan secara spesifik lebih lanjut terkait menjalankan misi ini?” tanya salah satu bawahannya memberanikan diri.Pak Harmir melirik ke arahnya. “Tidak ada hal yang perlu dibahas. Kalian hanya perlu membawa senjata, tap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status