LOGIN“Tuan Jurgan Kragar? Malam-malam begini, mengapa beliau menghubungi saya? Mungkinkah karena urusan besok di perusahaan cabang bersama Tuan Muda Donfa Kragar?” gumam Pak Buwir seolah mencoba menebak-nebak kemungkinan tersembunyi mengapa dirinya dihubungi oleh ayahnya Donfa Kragar secara langsung.
Tak ingin terus menebak-nebak tanpa dasar alasan yang jelas, Pak Buwir segera menjawab panggilan masuk tersebut. “Halo, Tuan! Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
Pak Buwir tampak berhati-hati dalam kata-katanya. Di sisi lain, Jurgan Kragar tengah berada di dalam ruang kerja, tepat di kediaman utama milik Keluarga Kragar. Ekspresi wajahnya yang sudah keriput begitu sulit ditebak, tapi jelas sekali kalau sorot matanya begitu dingin rasanya.
“Hmph! Bocah nakal itu ada di mana sekarang? Dari tadi saya coba hubungi, malah tidak dijawab-jawab dan bahkan sengaja dimatikan! Sudah bosan hidup kah, bocah tidak tahu diuntung itu, hah?!” teriak Jurgan Kragar begitu nyaring terdengar meski sebatas panggilan masuk saja sudah mampu membuat Pak Buwir merinding ketakutan.
Meski begitu, pengalaman kerjanya yang sudah lebih dari 15 tahun tentu saja bukan omong kosong belaka. Pak Buwir dengan cepat meredakan emosional yang terkejut sebelumnya dalam waktu yang singkat. Dalam satu tarikan napas, Pak Buwir kembali tersadar dan dengan tenang siap untuk merespon.
“Bocah nakal yang dimaksud pastinya Tuan Muda Donfa. Haruskah aku mengatakannya beliau mabuk-mabukan atau tidak ya? Sebaiknya tidak, karena kalau ketahuan, bisa celaka juga aku!” pikir Pak Buwir mencoba memikirkan jawaban dan memilah informasi yang tepat untuk disampaikan.
“Hmm? Mengapa diam saja, hah? Cepat jawab pertanyaan saya sekarang juga!” sentak Jurgan Kragar sekali lagi yang mengejutkan Pak Buwir.
“Te–tentu, Tuan! Tuan Muda Donfa seharian bekerja keras dengan baik mempersiapkan kunjungan ke perusahaan cabang esok hari. Saat ini, beliau kelelahan karena kerja seharian sehingga sudah tertidur pulas di dalam kamarnya. Apa mungkin Tuan ingin saya menyampaikan beberapa pesan khusus kepada Tuan Muda Donfa? Kalau iya, saya pasti akan mengingat baik-baik pesan dari Tuan dan esok hari pasti akan langsung saya sampaikan!”
Pak Buwir dengan gugup dan perlahan-lahan menjawab dengan tenang. Meski begitu, hatinya seolah tercampur aduk bahkan pengalaman kerja selama belasan tahun seolah sirna di tengah situasi yang menekankan kehati-hatian tersebut. Jurgan Kragar tampak terdiam sejenak ketika mendengar jawabannya Pak Buwir.
“Kelelahan kerja seharian? Omong kosong macam apa yang kau lontarkan kepadaku, hah?! Bocah nakal yang tidak tahu diuntung, mana mungkin kerja keras seharian tanpa bisa dihubungi olehku seharian penuh?! Sejak dua hari yang lalu, terus saja mustahil dihubungi. Jangan coba-coba membodohi saya, Pak Buwir!” tegas Jurgan Kragar langsung naik pitam dan marah sejadi-jadinya.
“Hiii…! Ga–gawat, ini masalah serius! Sialan, aku harus menjawab apa?!” batin Pak Buwir mengutuk dalam hatinya karena dibuat bingung dengan responnya Jurgan Kragar.
“Sa–saya tidak berani mencoba membodohi Tuan Jurgan. Tuan Muda Donfa memang sudah tertidur pulas saat ini di dalam kamarnya sendiri. Ha–haruskah saya membangunkannya agar dapat berkomunikasi secara langsung dengan Tuan?” Pak Buwir mencoba memberikan solusi alternatif dan mengalihkan semua masalahnya ke arah Donfa Kragar secara langsung.
Lagi pula, ini sudah bukan masalah pekerjaan lagi, melainkan sudah mengarah kepada masalah keluarga pribadi antara ayah dan anak. Tentunya, Pak Buwir tidak ingin karirnya hancur karena terlalu ikut campur ke dalam urusan pribadi para atasannya. Dengan pemikiran begitu yang melekat dalam otaknya, Pak Buwir dengan bijaksana sana merencanakan agar kedua atasannya tersebut bisa saling berdebat secara langsung.
Jurgan Kragar di dalam ruangan pribadinya terdiam dalam selama beberapa saat yang setiap detiknya terasa begitu menegangkan bahkan menyiksa jiwanya Pak Buwir. Setelah terdiam cukup lama, Jurgan Kragar akhirnya berkata, “Hmph! Lupakan saja, biarkan bocah nakal itu istirahat terlebih dahulu! Kamu awasi dia saat kunjungan kerja ke perusahaan cabang esok hari!”
Pak Buwir yang keringatan meski berada di dalam ruangan bersuhu dingin akhirnya membalas, “Te–tentu, Tuan! Saya akan membantu Tuan Muda Donfa sebaik mungkin. Kunjungan kerja dan pengawasan di perusahaan cabang sudah diinformasikan jauh-jauh hari kepada para pemimpin perusahaan cabang. Saya rasa, seharusnya tidak akan ada masalah yang serius.”
Jurgan Kragar kembali terdiam sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja. Suaranya cukup terdengar jelas hingga memasuki ke telinganya Pak Buwir. Meski begitu, beliau tetap memilih diam dan menunggu Jurgan Kragar mengatakan apa pun yang diinginkan oleh atasannya tersebut.
“Hmph! Baguslah kalau begitu! Oh iya, ingatkan juga bocah nakal itu masalah pernikahan yang sudah direncanakan sebelumnya! Hal ini juga sangat penting demi menjadi pewaris Keluarga Kragar yang sempurna. Katakan saja, kalau bocah nakal itu terus saja berdalih dan tidak mengindahkan perintahku, maka jangan harap mendapatkan kesempatan menjadi pewaris Keluarga Kragar yang sah!” tegas Jurgan Kragar tampak menekankan masalah tersebut.
Pak Buwir yang mendengarnya merasa seperti tersambar petir karena terkejut sekali di dalam hatinya sehingga dengan tergagap dia langsung bertanya, “Per–pernikahan? Apakah Tuan Muda Donfa benar-benar sudah memiliki jodoh yang dicintainya?”
Pertanyaan tersebut seharusnya terbesit di dalam hati, tapi sudah terlanjur keceplosan di lisannya. Alhasil, Pak Buwir yang terlambat menyadari hanya bisa langsung terdiam dan menutup mulutnya rapat-rapat. Ingin sekali rasanya Pak Buwir menampar mulutnya sendiri karena memutuskan bertanya-tanya sesuatu yang seharusnya tidak perlu diketahui olehnya.
“Dari laporan bawahanku, tampaknya Nona Karnias sudah terlanjur bosan dengan kondisinya yang terkurung di dalam kamar. Yah, tidak bisa disalahkan juga sih, hadeh!” gumam Pak Buwir dengan santai berjalan maju.Tanpa disadarinya, ada sejumlah orang yang diam-diam mengawasinya dari sisi lain. Tatapan mata mereka menjadi tajam melihat kehadiran sosok yang sangat tidak asing itu.“Lapor, tim pengintai berhasil menemukan lokasi Pak Buwir. Kemungkinan besar, dia ingin menuju ke arah kamar rawat inap target kita kali ini. Apa yang harus kami lakukan? Mohon berikan arahan yang jelas!” ucap salah satu pengintai segera berpindah tempat dan menghubungi atasannya.Atasannya yang dimaksud jelas sekali adalah Pak Harmir itu sendiri. Namun, yang bersangkutan sedang disibukkan oleh sesuatu yang membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk membalas pertanyaan yang diajukan tim pengintai.“Kepada tim pengintai, ketua masih ada halangan. Tetap siaga saja di tempat dan awasi segalanya! Laporkan segala sesua
Mendengar dua keluarga terdekatnya itu benar-benar serius sekali, Karnias Saputri dibuat terdiam seribu bahasa. Tak mungkin lagi baginya untuk mencoba berbagai macam tipu muslihat demi mengelabui kakek dan neneknya yang sudah sangat merindukan dirinya.“Apa yang harus aku lakukan sekarang?! Kakek dan Nenek benar-benar marah. Kemungkinannya besar kalau mereka bakalan menelepon polisi, lalu melaporkanku sebagai orang hilang cukup tinggi!” pikir Karnias Saputri merasakan dilema dalam benaknya.Bukannya dia tidak mau pulang, tapi keadaan di sekitarnya yang memaksanya untuk tetap tinggal di tempatnya duduk saat ini. Tidak ada jalan keluar, tidak peduli seberapa keras dia mencoba. Tampaknya, Karnias Saputri kembali dihadapkan dengan krisis yang sangat serius ini.“Maaf Kek, maaf Nek! Sampai jumpa keesokan harinya! Dada!” ujar Karnias Saputri sudah kehilangan harapan lainnya selain melakukan aksi kekanakannya itu.Tit…!Ponsel tiba-tiba dimatikan yang membuat ekspresi wajahnya kakek dan nene
Pak Buwir langsung terdiam seribu bahasa. Tak ada kata-kata lainnya lagi yang bisa diutarakan olehnya. Terlepas dari sudut mana pun, segalanya menjadi jauh lebih rumit kalau dirinya masih keras kepala untuk berperilaku yang tidak seharusnya.“Maafkan atas kelancangan saya, Tuan Muda! Beberapa hari belakangan, sikap hormat saya memang cukup banyak yang berantakan. Harap dimaklumi!” ujar Pak Buwir tak lagi mencoba untuk membantah dan langsung mengakui segala kesalahannya saat itu juga.Donfa Kragar menghembuskan napasnya. “Huuuh…, terserahlah, aku tidak peduli formalitas seperti itu. Intinya, aku sudah melakukan apa yang kau minta. Sekarang, giliran kamu yang melakukan apa pun permintaan dariku!” tegasnya tak lagi punya waktu berlama-lama untuk urusan yang dianggapnya sepele itu.Pak Buwir tidak berkomentar terlalu jauh. “Baik, Tuan Muda! Saya akan menjalankan perintah Anda sebaik-baiknya!” sahutnya dengan tegas.“Hmph! Pergilah!” ucap Donfa Kragar seketika mematikan panggilan masuk di
Inilah yang membuat perasaan Karnias Saputri tercampur aduk. Donfa Kragar jelas tak paham sampai sejauh itu sama sekali. Hasilnya, sudah bisa ditebak kelanjutan isi percakapan keduanya.“Oh…? Apa kau mulai mengkhawatirkanku?” tanya Donfa Kragar mulai bersilat lidah.Karnias Saputri sedikit melipat bibirnya. “Bu, bukan itu…, maksudku iya! Ah…, kau pasti tahulah maksudku, kan? Jangan pura-pura gak tahu!” sahutnya sangat gugup sendiri.Donfa Kragar memicingkan alis matanya. “Hah? Apaan sih maksudmu ini?” tanyanya benar-benar tidak tahu menahu.Karnias Saputri mengerutkan bibirnya. Dirinya jelas merasa sangat malu kalau sampai mengutarakan isi hatinya. Belum lagi, Donfa Kragar bisa-bisanya terkesan tidak tahu sama sekali. Baginya, pria itu pasti sedang berpura-pura tidak tahu saja.“Idih, Tuan Muda pasti bercanda, kan? Bukannya wajar untuk calon istri mengkhawatirkan suaminya sendiri? Saya hanya melakukan tugas ringan semacam itu saja. Tidak perlu dilebih-lebihkan sama sekali!” ujar Karni
Tanpa disadarinya, kelompoknya Pak Harmir sudah menyamar dan menyusup masuk ke dalam rumah sakit tempatnya sedang dirawat inap. Mereka membaur di antara orang-orang yang ada di sana. Terlihat seperti pasien dan ada juga yang terlihat seperti perawat yang sedang bertugas di sana.“Pak Harmir, lokasi target sudah dikonfirmasi. Dia berada di lantai atas tempat para anggota VIP dirawat inap. Apakah kita harus menyergapnya sekarang juga?” ujar salah satu bawahan melalui radio setelah mengawasi sekilas di lantai atas.Dia melihat kerumunan para penjaga yang sedang menjaga ketat salah satu kamar VIP. Pak Harmir yang mendapatkan pesan itu akhirnya membalas dengan pertanyaan. “Apakah penjagaannya di sana sangat rapat?” tanyanya dengan tenang.Bawahan tersebut melirik sekilas sekali untuk mengecek keseluruhan yang ada. “Lebih dari selusin penjaga berada di sana. Namun, saya belum bisa memastikan apakah mereka membawa senjata api atau tidak. Kalau iya, bakal merepotkan nantinya, Tuan!” jawabanny
Para bawahannya seolah tidak terlalu terkejut dengan pernyataan itu. Mereka diam-diam mendengarkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Pak Harmir. Karena tidak ada yang berkomentar, Pak Harmir merasa kalau mereka memahami arahannya.“Jujur saja, kali ini saya tidak tertarik untuk melakukan segalanya begitu saja. Ada beberapa hal yang perlu saya temukan jawabannya. Jadi, kalian semua harus benar-benar berhati-hati kalau tidak ingin terluka nantinya!” tegas Pak Harmir berbicara tak terlalu jelas maksudnya.Para bawahannya tetap diam menunggu Pak Harmir selesai menjelaskan semuanya. Namun, penjelasan dari Pak Harmir yang ditunggu-tunggu malah tak kunjung tiba juga. Hal ini membuat mereka yang ada di sana malah dibuat kebingungan sendiri.“Tuan, apakah tidak ada penjelasan secara spesifik lebih lanjut terkait menjalankan misi ini?” tanya salah satu bawahannya memberanikan diri.Pak Harmir melirik ke arahnya. “Tidak ada hal yang perlu dibahas. Kalian hanya perlu membawa senjata, tap







