แชร์

BAB 6 : Ratapan Hati (Part 6)

ผู้เขียน: Hamfa Merman
last update วันที่เผยแพร่: 2025-11-24 22:37:20

Meski berisik dengan suara-suara lagu yang diputar, keheningan di antara orang-orang di dalamnya terasa sangat jelas apabila diamati. Semuanya berfokus kepada Donfa Kragar seolah menyiratkan kalau Donfa Kragar memilih untuk diam, maka semuanya akan diam di detik itu juga.

Untungnya, tidak lama kemudian ada seorang pelayan yang mengetuk pintu kemudian masuk ke dalam. Ternyata, pelayan tersebut mengantarkan sejumlah botol yang jelas isinya adalah minuman keras yang memabukkan. Kedua temannya seolah menemukan angin segar untuk memulai pembicaraannya sekali lagi.

“Hehe, akhirnya yang dinantikan tiba juga. Minum lagi, ayo minum lagi semuanya! Puaskan dirimu dan lepaskan beban yang mengusik pikiran kita semua!” seru salah satu temannya Donfa Kragar.

Mendengar itu, Donfa Kragar melirik sejenak sebelum berkata, “Baiklah, ayo minum saja sepuasnya! Tak lama lagi, aku harus segera pulang juga!”

“Haha, wokeh!” sahut semua orang bersamaan.

Mereka bersemangat dalam hati masing-masing sampai menegak minuman yang ada sebanyak mungkin sampai habis tak bersisa. Tak disangka, waktu berlalu begitu cepat sehingga hampir semuanya benar-benar mabuk akibat terlalu banyak meminum minuman keras. Hanya Donfa Kragar yang tampak masih tersadar meski wajahnya juga sudah menandakan hampir tertidur saat itu juga.

“Urgh…! Sial, sialan! Ayahku yang sudah tua itu benar-benar brengsek sekali. Bagaimana bisa dia masih seenaknya menyuruhku melakukan hal yang tidak aku inginkan sebagai syarat menjadi pewaris, hah?! Aku, Donfa Kragar, bukan budak siapa pun termasuk ayahku yang tercela itu! Hmph!” gumam Donfa Kragar tak karuan terus saja mengoceh tidak jelas seorang diri.

Tok, tok!

Suara pintu diketuk sebelum akhirnya dibuka ketika seorang pria tua muncul dari lainnya seraya berkata, “Tuan Muda Donfa Kragar, jam sudah menunjukkan larut malam. Seharusnya Tuan sudah tahu kalau besok Anda harus melakukan inspeksi ke salah perusahaan cabang. Tugas ini diberikan langsung oleh Ayah Anda demi pembelajaran sebagai calon pewaris.”

“Cih, calon pewaris, huh? Pak Buwir! Saya ini sudah menjadi pewaris, bukan sekadar calon pewaris! Sialan kau, apa kau benar-benar ajudan terpercayaku atau malah budaknya ayahku sih, hah?! Jangan sekali-kali kau memerintahkanku melakukan apa yang disuruh oleh ayahku yang sudah bau tanah itu!” tegas Donfa Kragar yang masih setengah sadar membantah perkataannya pria tua sebelumnya yang bernama Pak Buwir.

Pak Buwir hanya bisa menghela napas ringan sambil menundukkan kepalanya. “Maafkan saya, Tuan Muda! Kalau begitu, izinkan saya terlebih dahulu mengantarkan Anda pulang dengan selamat sampai ke hotel terlebih dahulu. Selebihnya, pembahasannya bisa dilanjutkan esok hari!”

Tanpa menunggu balasan dari Donfa Kragar, Pak Buwir segera berjalan mendekat ke arah Donfa Kragar yang disekitarnya masih berjejeran para wanita dan teman dekatnya Donfa Kragar sedang terkapar karena mabuk berat. Dengan hati-hati, Pak Buwir akhirnya sampai di sisinya Donfa Kragar dan berusaha menopang tubuhnya untuk dibawa pergi ke dalam mobil.

“Aku, Donfa Kragar adalah pewaris sah Keluarga Kragar! Pastinya Keluarga Kragar akan menjadi milikku, sialan! Pak Buwir, ingat itu baik-baik!” seru Donfa Kragar yang masih mengigau hingga asal bicara tidak jelas dengan lirih nada suaranya.

“Baik, Tuan!” Pak Buwir hanya bisa membalas demikian singkatnya sambil terus membopong tubuhnya Donfa Kragar untuk segera pergi dari sana.

Setelah bersusah payah berjalan dengan bobot tambahan di sampingnya, Pak Buwir akhirnya berhasil membawa Donfa Kragar ke dalam mobil pribadinya. Dalam perjalanan pulang menuju hotel penginapan, Donfa Kragar masih saja terus menerus mengigau dengan kata-kata yang tidak terlalu berbeda seperti mengutuk ayahnya sendiri sambil memamerkan dirinya sebagai pewaris sah Keluarga Kragar.

“Hah, Tuan Muda Donfa Kragar benar-benar sudah menyimpang terlalu jauh. Pria kecil yang kekanakan dahulu menjadi sosok yang tak karuan seperti ini. Kalau bukan karena masalah kala itu…, hadeh…!” pikir Pak Buwir dalam renungan diamnya ketika melirik Donfa Kragar melalui cermin sambil mengendarai mobilnya.

Ingatan terkait kejadian sekaligus masalah serius yang menimpa Donfa Kragar muncul di dalam benaknya. Kenyataan pahit yang bahkan Pak Buwir sendiri yang bukan pihak yang terlibat secara langsung menjadi merinding sekali dan tidak ingin mengingatnya sama sekali. Segala sifat bejatnya Donfa Kragar saat ini berawal dari sejak saat itu.

“Semoga masalah ini bisa segera selesai juga!” pikir Pak Buwir berharap dalam hatinya.

Waktu berselang, Pak Buwir akhirnya sampai di hotel penginapan. Dengan susah payah, Pak Buwir terus saja menggotong Donfa Kragar sampai ke dalam kamarnya sendirian. Setelahnya tiba di sana, beliau langsung membaringkan Donfa Kragar yang sudah terlelap dalam tidurnya sejak kelelahan mengoceh di dalam mobil sebelumnya.

Pak Buwir menatap dengan tenang ke arahnya Donfa Kragar sambil menarik selimut untuknya. Pak Buwir sempat bergumam pelan, “Semoga nyenyak tidurnya, Tuan Muda Donfa!”

Setelah itu, Pak Buwir segera keluar dari dalam kamar tersebut. Tak berselang lama pintu ditutup oleh Pak Buwir dari luar, Donfa Kragar tiba-tiba membuka kedua matanya. Tatapan matanya tampak lesu dan juga tegas di saat bersamaan. Dengan keadaan setengah sadar, Donfa Kragar bergumam pelan, “Aku pasti akan menjadi pewaris Keluarga Kragar, pasti!”

Di sisi lain, Pak Buwir yang sudah masuk ke dalam kamarnya sendiri mendapati ponselnya tiba-tiba berdering dengan keras. Dengan terburu-buru, Pak Buwir melihat kalau yang sedang memanggilnya tidak lain adalah Tuan Jurgan Kragar, ayahnya Donfa Kragar itu sendiri.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 100 : Hadirkan (Part 10)

    “Dari laporan bawahanku, tampaknya Nona Karnias sudah terlanjur bosan dengan kondisinya yang terkurung di dalam kamar. Yah, tidak bisa disalahkan juga sih, hadeh!” gumam Pak Buwir dengan santai berjalan maju.Tanpa disadarinya, ada sejumlah orang yang diam-diam mengawasinya dari sisi lain. Tatapan mata mereka menjadi tajam melihat kehadiran sosok yang sangat tidak asing itu.“Lapor, tim pengintai berhasil menemukan lokasi Pak Buwir. Kemungkinan besar, dia ingin menuju ke arah kamar rawat inap target kita kali ini. Apa yang harus kami lakukan? Mohon berikan arahan yang jelas!” ucap salah satu pengintai segera berpindah tempat dan menghubungi atasannya.Atasannya yang dimaksud jelas sekali adalah Pak Harmir itu sendiri. Namun, yang bersangkutan sedang disibukkan oleh sesuatu yang membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk membalas pertanyaan yang diajukan tim pengintai.“Kepada tim pengintai, ketua masih ada halangan. Tetap siaga saja di tempat dan awasi segalanya! Laporkan segala sesua

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 99 : Hadirkan (Part 9)

    Mendengar dua keluarga terdekatnya itu benar-benar serius sekali, Karnias Saputri dibuat terdiam seribu bahasa. Tak mungkin lagi baginya untuk mencoba berbagai macam tipu muslihat demi mengelabui kakek dan neneknya yang sudah sangat merindukan dirinya.“Apa yang harus aku lakukan sekarang?! Kakek dan Nenek benar-benar marah. Kemungkinannya besar kalau mereka bakalan menelepon polisi, lalu melaporkanku sebagai orang hilang cukup tinggi!” pikir Karnias Saputri merasakan dilema dalam benaknya.Bukannya dia tidak mau pulang, tapi keadaan di sekitarnya yang memaksanya untuk tetap tinggal di tempatnya duduk saat ini. Tidak ada jalan keluar, tidak peduli seberapa keras dia mencoba. Tampaknya, Karnias Saputri kembali dihadapkan dengan krisis yang sangat serius ini.“Maaf Kek, maaf Nek! Sampai jumpa keesokan harinya! Dada!” ujar Karnias Saputri sudah kehilangan harapan lainnya selain melakukan aksi kekanakannya itu.Tit…!Ponsel tiba-tiba dimatikan yang membuat ekspresi wajahnya kakek dan nene

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 98 : Hadirkan (Part 8)

    Pak Buwir langsung terdiam seribu bahasa. Tak ada kata-kata lainnya lagi yang bisa diutarakan olehnya. Terlepas dari sudut mana pun, segalanya menjadi jauh lebih rumit kalau dirinya masih keras kepala untuk berperilaku yang tidak seharusnya.“Maafkan atas kelancangan saya, Tuan Muda! Beberapa hari belakangan, sikap hormat saya memang cukup banyak yang berantakan. Harap dimaklumi!” ujar Pak Buwir tak lagi mencoba untuk membantah dan langsung mengakui segala kesalahannya saat itu juga.Donfa Kragar menghembuskan napasnya. “Huuuh…, terserahlah, aku tidak peduli formalitas seperti itu. Intinya, aku sudah melakukan apa yang kau minta. Sekarang, giliran kamu yang melakukan apa pun permintaan dariku!” tegasnya tak lagi punya waktu berlama-lama untuk urusan yang dianggapnya sepele itu.Pak Buwir tidak berkomentar terlalu jauh. “Baik, Tuan Muda! Saya akan menjalankan perintah Anda sebaik-baiknya!” sahutnya dengan tegas.“Hmph! Pergilah!” ucap Donfa Kragar seketika mematikan panggilan masuk di

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 97 : Hadirkan (Part 7)

    Inilah yang membuat perasaan Karnias Saputri tercampur aduk. Donfa Kragar jelas tak paham sampai sejauh itu sama sekali. Hasilnya, sudah bisa ditebak kelanjutan isi percakapan keduanya.“Oh…? Apa kau mulai mengkhawatirkanku?” tanya Donfa Kragar mulai bersilat lidah.Karnias Saputri sedikit melipat bibirnya. “Bu, bukan itu…, maksudku iya! Ah…, kau pasti tahulah maksudku, kan? Jangan pura-pura gak tahu!” sahutnya sangat gugup sendiri.Donfa Kragar memicingkan alis matanya. “Hah? Apaan sih maksudmu ini?” tanyanya benar-benar tidak tahu menahu.Karnias Saputri mengerutkan bibirnya. Dirinya jelas merasa sangat malu kalau sampai mengutarakan isi hatinya. Belum lagi, Donfa Kragar bisa-bisanya terkesan tidak tahu sama sekali. Baginya, pria itu pasti sedang berpura-pura tidak tahu saja.“Idih, Tuan Muda pasti bercanda, kan? Bukannya wajar untuk calon istri mengkhawatirkan suaminya sendiri? Saya hanya melakukan tugas ringan semacam itu saja. Tidak perlu dilebih-lebihkan sama sekali!” ujar Karni

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 96 : Hadirkan (Part 6)

    Tanpa disadarinya, kelompoknya Pak Harmir sudah menyamar dan menyusup masuk ke dalam rumah sakit tempatnya sedang dirawat inap. Mereka membaur di antara orang-orang yang ada di sana. Terlihat seperti pasien dan ada juga yang terlihat seperti perawat yang sedang bertugas di sana.“Pak Harmir, lokasi target sudah dikonfirmasi. Dia berada di lantai atas tempat para anggota VIP dirawat inap. Apakah kita harus menyergapnya sekarang juga?” ujar salah satu bawahan melalui radio setelah mengawasi sekilas di lantai atas.Dia melihat kerumunan para penjaga yang sedang menjaga ketat salah satu kamar VIP. Pak Harmir yang mendapatkan pesan itu akhirnya membalas dengan pertanyaan. “Apakah penjagaannya di sana sangat rapat?” tanyanya dengan tenang.Bawahan tersebut melirik sekilas sekali untuk mengecek keseluruhan yang ada. “Lebih dari selusin penjaga berada di sana. Namun, saya belum bisa memastikan apakah mereka membawa senjata api atau tidak. Kalau iya, bakal merepotkan nantinya, Tuan!” jawabanny

  • SUAMI JAGOAN ISTRI MENDERITA   BAB 95 : Hadirkan (Part 5)

    Para bawahannya seolah tidak terlalu terkejut dengan pernyataan itu. Mereka diam-diam mendengarkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Pak Harmir. Karena tidak ada yang berkomentar, Pak Harmir merasa kalau mereka memahami arahannya.“Jujur saja, kali ini saya tidak tertarik untuk melakukan segalanya begitu saja. Ada beberapa hal yang perlu saya temukan jawabannya. Jadi, kalian semua harus benar-benar berhati-hati kalau tidak ingin terluka nantinya!” tegas Pak Harmir berbicara tak terlalu jelas maksudnya.Para bawahannya tetap diam menunggu Pak Harmir selesai menjelaskan semuanya. Namun, penjelasan dari Pak Harmir yang ditunggu-tunggu malah tak kunjung tiba juga. Hal ini membuat mereka yang ada di sana malah dibuat kebingungan sendiri.“Tuan, apakah tidak ada penjelasan secara spesifik lebih lanjut terkait menjalankan misi ini?” tanya salah satu bawahannya memberanikan diri.Pak Harmir melirik ke arahnya. “Tidak ada hal yang perlu dibahas. Kalian hanya perlu membawa senjata, tap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status