LOGIN"Kenapa diam? Tidak bisa menjawab, kan?" tanya Nayna.Lukas mengambil ponselnya dan memberikannya pada Nayna, "Kamu bisa tanyakan pada siapa saja yang ada di ponsel itu," sahut Lukas.Nayna membuka ponselnya Lukas dan mencari nama-nama di kontak, tapi Nayna terkejut saat tidak melihat nomor seorang wanita yang di simpan Lukas dengan emoticon love. Jelas-jelas Nayna ingat kalau kemarin nomor wanita itu disimpan di sana, tapi sayangnya sekarang tidak ada.Nayna melihat dengan teliti siapa saja yang nomornya Lukas simpan tapi sepertinya tidak ada nomor Tuan Asmagara karena semua perintah hanya di kirimkan oleh Marvis saja. Nayna merasa percuma karena membuka ponsel Lukas tidak akan membuktikan apa-apa."Tidak ada nomor Tuan Asmagara," sahut Nayna."Aku seorang supir dan mana ada seorang atasan seperti Tuan Asmagara menyimpan nomor orang seperti aku." Lukas mengatakan itu berharap Nayna akan paham.Nayna menghubungi nomor Marvis tapi setelah Nayna pikir-pikir semuanya hanya sia-sia saja,
Saat ini Lukas tengah berada di kamar mandi, sedangkan ponselnya berdering membuat Nayna penasaran karena nomor itu di simpan dengan nama emoticon love. Nayna mengangkat telponnya dan berharap ada petunjuk tentang Lukas.Nayna menyangka kalau orang yang menelpon Lukas adalah orang penting bagi Lukas.{{📞📞"Lukas, kapan kamu akan pulang?" tanya seorang wanita diseberang sana membuat Nayna terkejut mendengarnya."Kalau bisa jangan lama-lama pulangnya, kita kan mau ngadain makan malam. Apa kamu lupa?" ucapnya lagi.Nayna hanya diam saja sambil menunggu reaksi dari wanita itu, tapi sepertinya wanita itu curiga karena Lukas tidak kunjung menjawab."Lukas? Are you okay?" tanyanya.Tak ada jawaban lagi."Lukas?" "Siapa?" tanya Nayna yang langsung membuat wanita itu terkejut dan memutuskan sambungan telponnya.Tutt📞📞}}Nayna menatap pada ponsel Lukas, saat Lukas datang ke sana. Nayna replek langsung melemparkan ponsel Lukas ke atas ranjang."Sudah?" tanya Nayna."Sudah, kamu mau ke kama
"Kenapa tidak tanya pada Dion?" tanya Lukas."Justru karena Dion tidak bilang jadi aku mau tanya Nayna, kita hanya mau kamu mendapatkan keadilan, Nay. Kita juga sayang pada Saka," jawab Lia."Tapi kalau kamu tidak mau menjawab maka tidak masalah, Nay." Arya mengatakan itu berharap Nayna tenang.Terlihat dengan jelas kalau Nayna sekarang gugup dan kebingungan, padahal Arya dan Lia hanya ingin mendengar alasannya saja. Mereka tidak akan menyalahkan Nayna karena sudah menikah dengan Dion.Nayna menatap pada Lia yang sejak tadi menatap pada Nayna dengan penuh harap."Nyonya, Tuan, sebenarnya dulu aku belum ingin menikah, apa lagi belum ada restu dari kalian. Tapi Dion memaksa untuk melakukan pernikahan Siri, saat itu aku tidak mengerti apa-apa. Aku hanya mengiyakan saja karena saat itu aku juga takut kehilangan Dion, aku tau kalau aku salah." Nayna merendahkan diri."Dion tidak bilang apa pun pada kita saat itu," ujar Arya.Nayna menatap pada Arya dan langsung menundukkan kepalanya, "Dion
Lia menatap tajam dokter itu, padahal sejak awal Lia begitu percaya pada dokter itu. Dokter itu adalah kepercayaan keluarga Widirdja, bahkan Lia juga pernah beberapa kali konsultasi padanya.Tapi sekarang Lia sudah tidak percaya padanya, dan Lia muak sekali melihatnya."Aku mengecek ulang dan ternyata Saka adalah anak kandung Dion, kamu mau ngelak bagaimana lagi?" tanya Lia dengan nada kesal.Arya hanya diam saja karena dia tidak tau apa-apa tapi Arya juga akan membela istrinya kalau sampai Dokter itu macam-macam, karena didesak terus oleh Lia. Dokter itu akhirnya mengatakan kebenarannya pada Lia.Mungkin dokter itu juga memikirkan akibat yang akan dia terima kalau berbohong pada Lia dan Arya."Ya Nyonya, aku memalsukan hasil itu ...," "Benarkan! Aku sudah duga hal ini! Apa yang membuat kamu jadi seperti ini?" geram Lia memarahi Dokter itu."Maaf Nyonya tapi semua ini permintaan Nona Evaluasi," ucap Dokter itu.Lia dan Arya terkejut mendengar ucapan Dokter itu, Lia begitu tidak perca
Sejak malam Dion terus menerus menghubungi Nayna karena hari ini adalah janji Nayna yang akan memberikan bukti pada Dion kalau Saka adalah Putranya, setelah pertemuan saat itu Dion memberikan beberapa lembar rambutnya pada Nayna karena Nayna ingin melakukan tes DNA. Bukan hanya rambut bahkan Dion juga memberikan air liurnya pada Nayna karena takut rambut saja tidak akurat.Pagi ini Nayna sedang menunggu seseorang mengantarkan hasil tes DNA, walaupun melakukan tes DNA biayanya cukup mahal tapi Nayna rela melakukan itu karena dia ingin membuktikan pada Dion kalau Nayna tidak pernah berbohong.Nayna juga malu dengan viralnya berita itu karena sebagian orang juga mengenali Nayna."Nay, apa kelinci sudah dikasih makan?" tanya Lukas sambil membawa secangkir teh menuju ke halaman rumahnya."Belum, aku akan lihat sekarang." Nayna langsung pergi menuju ke belakang karena ingin memberi makan kelinci, kalau Saka tau kelinci kesayangannya belum di kasih makan mungkin Saka akan marah.Lukas menikm
Hari ini Saka sudah bisa pulang, semua administrasi sudah diurus oleh Marvis jadi Nayna hanya tinggal pulang saja. Sekarang mereka sudah sampai di rumah dan semua tetangga juga melihat kondisi Saka karena mereka tau kalau Saka terluka.Nayna senang karena dia berada di lingkungan orang-orang baik, saat Nayna pingsan diluar pun orang-orang begitu baik menolong Nayna. Padahal Nayna juga tau kalau tetangganya di sana itu rata-rata adalah orang kaya.Semua tetangga berpamitan dan sekarang hanya tinggal Nayna dan Lukas saja, sedangkan Saka berbaring di kamar karena harus istirahat. Nayna menatap pada Lukas yang sejak tadi sibuk mengutak-atik ponselnya."Apa tuan Asmagara tidak marah saat kamu mengambil cuti?" tanya Nayna.Lukas menggelengkan kepalanya, "Marah kenapa? Dia tau kalau Saka terluka jadi dia mengijinkan aku untuk cuti," jawab Lukas."Bisakah kamu undangan Tuan Karna Asmagara datang?" pinta Nayna.Lukas terkejut, dia menatap pada Nayna yang baru saja mengatakan itu."Mau apa unda







