로그인Nayna Ayundara menikah dengan Lukas, seorang pria asing yang pernah ia tolong. Pernikahan mereka hanyalah sebuah kesepakatan demi meredam tekanan dari lingkungan karena Nayna tinggal serumah dengan pria yang bukan suaminya. Namun setelah menikah, Nayna mulai melihat sisi lain dari Lukas, sosok yang ternyata menyimpan masa lalu dan kebenaran yang selama ini tak pernah ia bayangkan. Di balik semua itu, satu hal yang paling mengejutkan. Lukas perlahan menjadi sosok ayah sambung bagi anak Nayna, dan membentuk ikatan yang jauh lebih kuat dari sekadar kesepakatan.
더 보기Deandra’s POV
“Congratulations, Luna, you’re pregnant,” I blinked a few times after that announcement and took a few deep breaths, but nothing could quell the rush of emotions inside of me at that statement. Who would believe it? I had been feeling pretty sick for weeks now, and if Daniel hadn’t pushed me to do this, I probably wouldn’t be here right now, receiving the best news in my life. For three years since I had been married to Daniel, Alpha of the Dagger pack, he and I haven’t had a child in all those years. It wasn’t as if we never tried; it was just that we never could have them. Daniel always joked that maybe it wasn’t our time, but secretly I could see that he wanted a child just as much as I wanted one. “Luna, is everything alright?” The head doctor at the pack clinic asked to pull me out from my reverie, and I shook my head in the negative. “I’m fine,” I assured her. I was more than fine; I was happy. This news meant so many things, and the point at the top of the list was that I wasn’t barren and could actually have children. It also meant things between Daniel and me could get better than before, and we could become a real family. Before it was just two of us, but now we’d have a mini version of us running around, and hopefully before long, we would have another. “Just make sure you get lots of rest. I can’t overemphasize how important that is right now.” The doctor continued, and I was forced to keep my mind still and my thoughts centered on the present moment. “You have to be careful about what you eat; your diet matters now more than ever. Whatever you eat or drink, whatever goes into your body now affects your child more than anything, so you need to watch out. No alcohol, minimize the coffee…” As she made a list of pregnancy dos and don’ts, I zoned out again, but this time I was seeing what my future with Daniel would be like: a child of our own with us celebrating birthdays and major milestones. It was such a happy moment. “That would be all,” The doctor summarized just as I came back to the present again. She smiled as she saw the look on my face. “Don’t worry, you’ll love every moment of this experience. Remember not every day will be fun and heavenly, but I promise you it will all be worth it when you hold your baby in your arms.” I nodded and rose from my chair, trying to catch up with her as she made her way to the door. I didn’t doubt that the pregnancy would be challenging, but I also knew that I would cherish every minute of it. “Please send the Alpha my congratulations.” She told me as she waved me goodbye at the car park a few minutes later. I nodded and started the engine of the car, riding back to the pack house with so much joy and gladness in my heart. When I arrived back at the packhouse, my personal maid and closest friend, Layla, received me at the door. Seeing her brought back all the emotions I had been keeping at bay, and I hugged her, shocking and startling her. “Oh my, what happened? Are you okay?” I chuckled and pulled back, brushing back tears so I wouldn’t alarm her. “I am fine, Layla, and I just had the most wonderful idea.” Somehow, I had picked Daniel’s birthday as the day I got the news of my pregnancy; life couldn’t get more exciting than that, so what better way to break the news to him than to throw him a birthday party? Layla agreed with me, and immediately we got to planning. It wasn’t easy since it had been a spur-of-the-moment decision, but when I put my mind to something, I always saw it through. Once I had finished decorating his office, which I chose as a last-minute venue, I invited some of his friends and got to work on preparing all the food for the party. Layla insisted on doing it, but I was too excited to let her do it. I asked her to arrange for a small birthday cake instead, one that was shaped in the form of a baby. My request seemed odd to her, but she followed through and did as I had asked. I wanted so badly to scream my news from the top of the highest building, but I wanted Daniel to be the first one to know. Perhaps my baby cake would be a dead giveaway of the surprise, but at least he’d be the best to hear the actual thing from me. *** The party had started half an hour ago, but Daniel was still nowhere to be found. I had called and sent him tons of texts, but I got no answer back. I was sure they delivered, though, because of the double tick on each message, which made me wonder why he was ignoring me. Had he gotten so tired of waiting for me that he just moved on without telling me? As soon as the thought popped into my head, I pushed it back out, not wanting to harbor negative thoughts on such a happy day. Today all my dreams of being a mother have finally come true, so what more could I ask for? “Relax, Andra, he’ll be here soon.” I looked up as his best friend and one of my close friends, Elliot, walked up to me and handed me a glass of wine. I started to shake my head to reject the glass when I realized no one except me knew about the baby, and then I collected it. big mistake because I wasn’t supposed to be drinking because of the baby. I collected it for show in the beginning, but after holding it for a while as I waited for my husband to call me or show up to his own surprise party, I took sips from the glass. “You have a new message,” Layla told me, handing me my phone back. She had seized it when she noticed I had been fussing over it as a mother would do over her child as I waited for Daniel to text me back. “It must be him,” she assured me, and I nodded, unlocking my phone, my heart filled with hope. I wished I hadn’t opened the message, though, because what greeted me left me shattered and sent my heart crashing into the pit of my stomach. “Andra, are you okay? Say something; you’re scaring me.” Lyla requested."Dasar tidak tau malu!""Sudah Nek, lagian aku yang minta Nyonya berada di sini. Sudah jangan dibalas lagi karena aku tidak mau kalian terus menerus bertengkar," sahut Nayna.Nenek berhenti memarahi Lilia, kalau saja Nayna tidak menghentikannya mungkin saat ini Lilia sudah habis dimarahi oleh Nenek. Sekarang tidak ada harapan lagi untuk Lilia akrab dengan Nenek karena terlihat kalau Nenek begitu marah pada Lilia.Nayna merasa kasihan pada Lilia, walaupun Nayna juga pernah sakit hati oleh Lilia. "Kemana Zara?" Nayna bertanya pada Iyas agar suasana tidak canggung lagi."Zara ada di rumah, tadinya dia ingin ikut tapi aku larang karena kita hanya akan menjemput Mama saja," sahut Iyas.Nayna menganggukan kepalanya sepertinya ingin mencari topik obrolan sekarang bukanlah hal yang baik karena mereka semua hanya dipenuhi emosi saja, mungkin semua orang tidak tau harus mengatakan apa. Karena Nenek masih marah dan mereka tidak mau berbasa-basi.Setelah lama akhirnya Nenek dan Iyas memutuskan u
Saat ini Iyas merasa sangat tidak enak badan, rasanya badannya begitu gerah dan Iyas juga merasa haus. Semakin Iyas minum maka semakin Iyas haus. Iyas pikir hanya dirinya saja yang merasakan hal itu padahal Zara juga merasakannya. Zara malah lebih parah karena dia sampai mandi beberapa kali untuk menghilangkan rasa gerah di badannya."Kamu merasakan hal yang sama juga?" tanya Zara."Ya, apakah kita salah makan?" tanya Iyas."Aku tidak makan apa-apa." Zara mengatakan itu mengingat-ingat kalau dia benar-benar tidak makan apa pun.Iyas merasa sangat tertarik pada Zara yang hanya memakai kimono saja, Iyas menarik Zara dan langsung menghujaninya ciuman pada Zara, untuk sekejap Iyas sadar kalau dirinya pasti meminum obat perangsang. Iyas heran kapan dia meminum orang perangsang dan siapa yang melakukan itu."Zara, sepertinya kita minum obat perangsang." Iyas mengatakan itu membuat Zara panik karena rasa itu tidak bisa hilang dari tubuhnya."Bagaimana kita sekarang? Bagaimana cara menghilang
Mereka sampai di rumah sakit dan dengan cepat mereka ke ruangan Dion karena ingin melepaskan kondisi Dion sekarang, tapi sebelum masuk kedalam Arya sudah mencegat Evalista dan istrinya agar tidak masuk kedalam dan bertemu Dion."Dion sudah sadar?" tanya Lia.Arya seperti kesusahan untuk mengatakannya, tapi Arya juga tidak bisa menyembunyikan penyakit yang Dion derita sekarang."Dion mengalami gangguan kejiwaan," ujar Arya yang langsung membuat Lia terkejut dan hampir saja terjatuh untungnya Arya segera memegangi Lia agar Lia tidak jatuh."Kenapa bisa?" tanya Lia."Ini pasti bohong!" geram Evalista yang mengira Dion berbohong karena sangat jelas kalau Dion ingin bersandiwara."Ini beneran, dokter yang mengatakannya." Arya mengatakan itu dan awalnya Arya juga tidak percaya hanya saja dokter mengatakan itu dan memberitahu Arya kalau di kepala Dion ada masalah.Bahkan baru saja Dion mengamuk dan mencakar-cakar dokter di hadapan Arya, sekarang Dion tenang karena diberikan obat penenang ole
Brugh!Dion pingsan karena terkejut mendengar kebenaran kalau Nayna adalah putra dari Tuan Granida, Evalista langsung meminta Riki untuk membantu Dion agar bisa di bawa ke rumah sakit. Tuan Granida meminta nomor rekening Evalista agar dia bisa mengirimkan sisanya pada Dion.Granida cukup rugi dengan membeli perusahaan yang hampir bangkrut itu, hanya saja demi Nayna apa pun akan Granida lakukan.Granida ingin membuktikan pada semua orang kalau orang yang selama ini mereka rendahkan adalah orang yang paling kaya, Granida ingin memberikan aset pada Nayna agar suatu saat kalau dia meninggal. Kalau Nayna tidak di kasih warisan karena tidak tercatat dalam hak waris pun tidak masalah karena Nayna sudah di berikan langsung oleh Granida."Ayah, ini begitu berlebihan." Nayna mengatakan itu bukan ingin menolak tapi Nayna tidak enak saja."Tidak Nay, ini masih kurang. Aku ingin memberikan kamu lebih dari ini." Granida meyakinkan Nayna agar tidak menolak pemberian Granida."Terima kasih Ayah, tapi
Dion menatap pada putranya yang sedang di pangku oleh Ibunya, setelah melahirkan Evalista hanya rebahan saja dan anaknya di urus oleh Lia. Banyak alasan Evalista untuk menolak mengendong atau memberikan asi untuk anaknya.Sampai sekarang anak itu diberikan susu formula karena Evalista tidak mau mem
Nenek heboh karena mendapatkan pesan dari Lukas kalau Nayna hamil, semua pelayan yang menderita kabar itu merasa sangat bahagia juga. Tapi ekspresi Nenek berubah saat melihat Lilia yang bahkan tidak senang sedikit pun mendengar berita itu padahal itu adalah cucu pertama Lilia."Aku sangat senang ka
Hari ini Nayna memutuskan untuk pulang karena Lukas juga banyak pekerjaan, lagian Saka juga harus sekolah. Nayna berpamitan pada Granida dan awalnya Granida tidak mengijinkan tapi Nayna tetap memaksa agar bisa pulang sekarang.Lukas sudah memesan tiket pesawat untuk mereka pulang karena naik mobil
Saat ini perusahaan Dion sedang tidak baik-baik saja karena ternyata pengeluaran untuk proyek itu cukup besar dan dana dari Marta tidak cukup, Dion meminta Ayahnya untuk menyuntikkan dana tapi Arya menolak karena Arya tidak punya uang sebanyak itu. Bahkan Arya juga yakin kalau proyek itu tidak akan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.