LOGINViviana mengikuti pelayan yang berjalan masuk ke dalam, sambil memperhatikan sekelilingnya Viviana berpikir di dalam hati, rumah yang sangat luas bagaimana mungkin tidak memiliki banyak barang di dalamnya.
"Nama mu Asa bukan?" tanya Viviana. "Benar Nyonya," sahut pelayan Asa. "Bolehkah aku bertanya pada mu," ucap Viviana. "Tentu saja Nyonya tanyakan apa saja padaku, aku akan menjawabnya dengan sepenuh hati, " sahut pelayan Asa penuh semangat. "Kenapa di dalam tidak terdapat banyak barang?" Tanya Viviana. "Tuan lebih mementingkan penduduk, barang yang menurutnya tidak penting lebih baik tidak di memilikinya, dan uangnya bisa digunakan untuk para penduduk," ucap pelayan Asa. "Jadi maksudmu sebenarnya dulu tempat ini memiliki banyak barang," sahut Viviana. "Benar, bahkan penuh barang barang mewah, tapi setelah Duke Arhend menjadi penerus semua di jual hasilnya digunakan untuk kepentingan penduduk Utara, wilayah Utara hampir setiap tahun musim dingin penduduk membutuhkan makanan dan baju hangat yang digunakan agar tidak dingin," ucap pelayan Asa menjelaskan dengan serius. "Ahhhh, kalau tidak salah Duke Arhend mendapatkan gelar Duke setelah Duke sebelumnya kalah melawan naga merah, saat itu Duke Arhend masih berusia 10 tahun," sahut Viviana. "Nyonya aku tidak menyangka Nyonya mengetahui itu, ternyata Tuan Duke tidak salah memilih istri," ucap pelayan Asa penuh semangat. "Nyonya ini kamar anda, mau aku bantu mandi," sambung pelayan Asa. "Boleh, aku juga terbiasa mandi sebelum istirahat," sahut Viviana. Setelah mandi air hangat Viviana membaringkan tubuhnya, tiga hari tidur di kereta kuda membuat tubuhnya sakit semua, Viviana yang memejamkan matanya langsung tertidur pulas. Pelayan Asa yang baru keluar kamar terkejut melihat Duke Arhend yang berdiri di depan pintu, saat mau berbicara pelayan Asa diminta untuk berbicara lebih pelan. "Nyonya Duchess baru saja tertidur Tuan," ucap pelayan Asa pelan. "Dia pasti kelelahan karena perjalanan jauh, jangan bangunkan dia sampai dia bangun sendiri, setelah bangun siapkan makanan yang enak untuknya tidak perlu menunggu ku karena tidak ada alasan untuknya makan bersama ku orang yang sangat ditakutinya," sahut Duke Arhend sambil berjalan pergi. Viviana yang membuka matanya bisa melihat cahaya dari balik tirai jendela, hari sudah siang dan dirinya bangun kesiangan bukan hanya bangun kesiangan Viviana menepuk dahinya karena melupakan kewajiban malam pertamanya dengan Duke Arhend yang seharusnya mereka lakukan setelah tiba di wilayah utara. "Maaf sepertinya aku kelelahan Asa," ucap Viviana yang melihat pelayan Asa sudah ada di kamarnya. "Tidak perlu meminta maaf Nyonya, kata Tuan Nyonya bisa bangun jam berapa pun," sahut pelayan Asa. "Kalau begitu jam berapa Duke pergi dari kamar ini?" Tanya Viviana. "Maaf, Tuan Duke tidak datang ke kamar Nyonya dan tidur di kamarnya sendiri, semalam Tuan hanya meminta agar tidak membangunkan Nyonya," ucap pelayan Asa. Viviana terdiam berpikir keras kalau bukan untuk mendapatkan penerus buat apa Duke Arhend menikahinya, kenapa Duke Arhend bahkan tidak menemuinya sama sekali selama perjalanan, jika Duke Arhend tidak membutuhkannya seharusnya tidak perlu menjadikannya istri pikir Viviana. "Nyonya mau mandi sekarang?" Tanya Pelayan Asa. "Baiklah," sahut Viviana pelan. ... Traaaang traaang traaaang... Sejak pukul 05:30 Duke Arhend sudah berada di tempat latihan para Ksatria, para Ksatria yang menjadi lawannya di buat tidak bisa bangun dan semua terbaring di tanah. "Tuan apakah anda tidak lelah setelah perjalanan dan malam pertama semalam," ucap Ksatria Aut. "Semalam aku tidur sangat nyenyak, itu kenapa tenagaku sangat banyak tidak seperti kalian yang hanya fokus minum minum saja," sahut Duke Arhend. "Apa! Tuan tidur bagaimana dengan Nyonya?" Ucap Ksatria Den. "Bukankah sudah jelas dia juga tertidur di kamarnya," ucap Duke Arhend. "Jadi Tuan tidak... ." Ksatria Den tidak melanjutkan perkataannya setelah ditatap oleh Ksatria Lis. Setelah Duke Arhend pergi kelima Ksatria utama berkumpul membicarakan Duke Arhend, bagaimana bisa Duke Arhend membiarkan istrinya tidur sendiri di kamar yang berbeda, bahkan sejak membawa Istri barunya Tuan mereka bahkan tidak pernah menemui istrinya itu. "Tuan sudah keterlaluan, nyonya pasti sedih," ucap Ksatria Den. "Menurut ku mungkin tidak," sahut Ksatria Lis. "Nyonya tidak peduli Tuan yang tidak mendatanginya sama sekali selama perjalanan, aku rasa Nyonya juga tidak peduli apakah Tuan akan datang ke kamarnya atau tidak salah Tuan juga yang tiba tiba meminta pernikahan dipertemuan pertama," sambung Ksatria Lis. "Apakah tuan membenci Nyonya?" Tanya Ksatria An. "Aku rasa tidak malah sebaliknya kurasa Tuan saja yang kurang peka, sepanjang perjalanan Tuan memang tidak menemui nyonya tapi selama perjalanan itu Tuan selalu menjaga kereta kuda," ucap Ksatria Lis. "Kalau begitu apakah nyonya membenci Tuan?" Tanya Ksatria An lagi. "Aku tidak yakin mungkin iya, siapa yang tidak benci dipaksa menikah oleh pria yang tidak dikenal hingga harus meninggalkan keluarganya," sahut Ksatria Lis. "Haaaah, lalu bagaimana rumah tangga tuan ke depannya nanti," ucap Ksatria Den. "Entah, hanya Tuan sendiri yang bisa menentukan nya," sahut Ksatria Lis. ... Di tempat lain Viviana yang selesai mandi berkeliling kediaman Duke Arhend di temani pelayan Asa, para pelayan lain yang berpapasan dengan Viviana memberikan hormat karena merasa kagum, Viviana sangat cantik bagi mereka Viviana sangat cocok menjadi Nyonya Duchess wilayah utara. "Tempat ini luas juga," ucap Viviana. "Sangat luas Nyonya tapi mungkin akan membosankan karena tidak sama seperti rumah rumah yang ada di ibukota," sahut pelayan Asa. "Memang berbeda, bedanya rumah di ibukota pasti memiliki taman bahkan rumah kaca, di sini sangat dingin tidak mungkin bisa berkebun," ucap Viviana. "Ahhh, nyonya yang terbaik, selama ini belum ada tamu yang bisa mengerti tentang situasi di rumah ini, Nyonya yang baru datang bisa mengerti aku terharu," sahut pelayan Asa. "Nyonya kita akan ke tempat terakhir, ikuti aku," sambung pelayan Asa sambil menggandeng tangan Viviana. Keduanya yang memasuki ruang latihan mengejutkan kelima Ksatria utama, kelima Ksatria yang berkumpul membicarakan Duke Arhend langsung menghampiri Viviana dan pelayannya. Mereka berharap Viviana tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, karena Duke yang tidak peka memang salahnya sendiri dan itu bisa merusak rumah tangganya sendiri. "Nyonya sedang berkeliling," ucap Ksatria Den. "Kebetulan tempat ini yang terakhir, aku sudah lelah berkeliling," sahut Viviana. "Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Viviana. "Kami baru selesai latihan dengan Tuan," ucap Ksatria Aut. "Kita baru tiba kemarin dan kalian sudah berlatih apa tidak lelah?" sahut Viviana. "Haaaah, memang hanya nyonya yang mengerti kami tidak seperti Tuan," ucap Ksatria An. "Tuan yang meminta kami latihan, tapi Nyonya tenang saja kami juga sudah tidak lelah," sahut Ksatria Lis yang baru saja menepuk punggung Ksatria An. "Baiklah, tapi bagaimanapun juga kesehatan yang utama, jangan lupa beristirahat," ucap Viviana yang langsung berbalik pergi. "Nyonya yang sebaik ini bagaimana mungkin menikah dengan suami seperti Tuan," ucap kesatria An. Setelah keluar tempat pelatihan pelayan Asa merasa penasaran, Kelima Ksatria utama sangat terkenal tidak membuka tangan pada orang lain, tapi melihat mereka akrab dengan Viviana pelayan Asa ingin tahu bagaimana mulai mereka bisa menjadi akrab. "Aku tau kamu ingin bertanya, mereka yang membantu ku sepanjang perjalanan, itu kenapa mungkin aku terlihat lebih akrab dengan mereka," ucap Viviana. "Bagaimana dengan Tuan?" Tanya Pelayan Asa. "Aku tidak pernah bertemu dengannya walau kami satu rombongan, mungkin dia sengaja menghindar dari ku karena ternyata aku tidak seperti lady yang diinginkannya," ucap Viviana. "Tuan seperti itu, keterlaluan," sahut pelayan Asa. "Tidak masalah," ucap Viviana sambil berjalan pergi.Semua yang ada di kediaman Duke Arhend sangat sibuk, para Ksatria berpencar mencari penawar racun untuk menyembuhkan Duke Arhend, bukan hanya mencari penawar beberapa Ksatria bahkan pergi dari wilayah Utara untuk mencari Uskup agung seperti yang disarankan oleh dokter.Saat malam hari Viviana berpura-pura tertidur, tepat setelah beberapa saat pelayannya pergi Viviana diam-diam keluar, sebelumnya Viviana sempat diberitahu oleh pelayannya saat berkeliling kalau kamar Duke Arhend berada dibagian ujung tidak jauh dari kamarnya.Setibanya di depan kamar Duke Viviana melihat ada penjaga yang berjaga, Viviana yang tidak bisa meminta penjaga itu untuk pergi malah meminta izin untuk melihat Duke Arhend sebentar saja."Nyonya," ucap penjaga."Aku ingin melihat bagaimana keadaan Duke," sahut Viviana."Baik nyonya, akan ku buka pintunya," ucap penjaga cepat.Viviana bergegas masuk karena tidak ingin ada yang melihatnya, dari jauh terlihat Duke Arhend yang terbaring masih tidak sadarkan diri.Vivi
Duke Arhend yang memperhatikan dari kejauhan melihat ada yang tidak normal dari para monster, selain bermutasi para monster lebih agresif menyerang satu sama lain.Duke Arhend bergegas menarik pedangnya dan langsung berlari ke arah para monster, dengan mudah Duke Arhend membasmi para monster di depannya, semakin banyak yang dibunuhnya para monster semakin banyak yang berdatangan tanpa henti.Tak tak tak.Puluhan Ksatria yang baru saja tiba membagi tugas, beberapa Ksatria menggiring kuda menjauh dan ksatria lain bergegas menghampiri Duke Arhend yang masih mengayunkan pedangnya menghunus para monster."Tuan," ucap Ksatria Lis."Kalian akhirnya datang, lebih baik berhati-hati mereka tidak mudah dikalahkan dan jumlahnya terus bertambah," sahut Duke Arhend."Tuan yang sudah mengalahkan ratusan monster mengatakan monster tidak mudah dikalahkan, lalu dari mana datangnya para mayat para monster ini," ucap Ksatria Den."Dari pada banyak bicara langsung saja menyerang jangan sampai kamu yang ma
Di tempat baru kehangatan yang di dapat Viviana dari para pelayan dan ksatria yang menghormatinya membuat Viviana terkadang lupa, dirinya yang terpaksa menikah dengan Duke Arhend sampai saat ini belum bertemu lagi, saat mengingat itu Viviana terus tidak habis pikir apa yang dipikirkan Duke Arhend memintanya menikah dengannya kalau hanya untuk menghindarinya, atau sebegitu menyesal kah Duke Arhend menikah dengannya sampai melihatnya saja tidak mau.Haaaaaah."Nyonya, Tuan Taka datang," ucap kepala pelayan Mist tepat setelah melihat Viviana menarik nafas panjang.Kepala pelayan Mist meminta semua pelayan bersikap baik pada Viviana karena tidak ingin Viviana pergi, selama beberapa hari kepala pelayan melihat Viviana yang mengurung diri sendiri membuatnya merasa kasihan, diam diam kepala pelayan Mist mengusulkan sesuatu ke Duke Arhend pria beristri yang sama sekali tidak mempedulikan istrinya."Siapa Tuan Taka?" Tanya Viviana kebingungan."Tuan Duke mengundang Tuan Taka, Tuan desainer baj
Viviana mengikuti pelayan yang berjalan masuk ke dalam, sambil memperhatikan sekelilingnya Viviana berpikir di dalam hati, rumah yang sangat luas bagaimana mungkin tidak memiliki banyak barang di dalamnya. "Nama mu Asa bukan?" tanya Viviana. "Benar Nyonya," sahut pelayan Asa. "Bolehkah aku bertanya pada mu," ucap Viviana. "Tentu saja Nyonya tanyakan apa saja padaku, aku akan menjawabnya dengan sepenuh hati, " sahut pelayan Asa penuh semangat. "Kenapa di dalam tidak terdapat banyak barang?" Tanya Viviana. "Tuan lebih mementingkan penduduk, barang yang menurutnya tidak penting lebih baik tidak di memilikinya, dan uangnya bisa digunakan untuk para penduduk," ucap pelayan Asa. "Jadi maksudmu sebenarnya dulu tempat ini memiliki banyak barang," sahut Viviana. "Benar, bahkan penuh barang barang mewah, tapi setelah Duke Arhend menjadi penerus semua di jual hasilnya digunakan untuk kepentingan penduduk Utara, wilayah Utara hampir setiap tahun musim dingin penduduk membutuhkan m
Perjalanan menuju wilayah utara memakan waktu 7 hari jika melewati jalan biasa, sedangkan jika melewati portal hanya membutuhkan waktu 3 hari perjalanan. Kereta berguncang melewati bebatuan, siang hari berganti malam hari dan kereta kuda berhenti. Tok tok tok... "Permisi Nyonya, kita akan beristirahat malam ini di sini, Nyonya bisa turun makan bergabung dengan kami, atau Nyonya mau ku bawakan makanannya ke kereta kuda," ucap Ksatria Lis disambut anggukan kepala Viviana. "Tidak perlu aku akan bergabung dengan Para ksatria," sahut Viviana. Viviana menghampiri para Ksatria yang sedang membakar sesuatu, karena tidak tahu apa yang bisa dilakukannya Viviana hanya memperhatikan dan tidak banyak bicara. "Nyonya terima kasih sudah mau menikah dengan Tuan kami," ucap Ksatria Den kepalanya melihat ke sekelilingnya memastikan Duke tidak mendengar ucapannya. "Tidak perlu berterima kasih para Tuan ksatria," sahut Viviana. "Nyonya bisa memanggil ku Den," ucap Ksatria Den. "Yang me
Lima hari berlalu setelah debutante Viviana, sehari setelah Duke Arhend datang keesokannya juga kembali datang untuk memastikan, masih dengan jawaban yang sama Viviana tidak keberatan menikah dengannya demi orangtuanya. "Nona, Duke Arhend kembali datang," ucap pelayan yang baru membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu. "Aku akan menemuinya," sahut Viviana. Viviana menghampiri Duke Arhend yang duduk dengan tegak, raut wajahnya terlihat sangat serius, saat Viviana tiba Duke Arhend yang duduk langsung berdiri. "Haaaah, aku datang untuk memastikan lagi apa kamu serius bersedia menikah dengan ku," ucap Duke Arhend. "Aku sudah mengatakannya sejak kemarin, aku bersedia menikah dan ikut ke wilayah Utara, apa yang kukatakan masih kurang jelas," sahut Viviana. "Kalau begitu aku pergi, aku harap kamu tidak menyesalinya," ucap Duke Arhend membuat Viviana terlihat kebingungan. Viviana tidak mengerti kenapa Duke Arhend mendatanginya hanya untuk memastikan, padahal semua adalah permintaannya d







