INICIAR SESIÓNLangkah Jati perlahan mendekat. Suara sandal kulitnya menggesek tanah yang basah oleh air bunga. Gandes tidak berani menoleh. Hatinya berpacu cepat, seperti hendak meledak. Kebencian selalu muncul tiap melihat lelaki itu.
Suara perias menyusul, lembut tapi tegas. "Sekarang giliran suami membasuh wajah istrinya. Sebagai tanda penerimaan."
Gandes membeku. Jantungnya seperti berhenti berdetak.
Udara terasa lebih dingin. Ia bisa merasakan kehadiran Jati di belakangnya, begitu dekat.
Tangan lelaki itu terulur, berhenti di udara, lalu,..membasuh wajahnya.
"Dekatkan kepalamu," bisik perias sambil menunjuk Gandes yang menunduk, tubuhnya masih tertutup melati. "Cium ubun-ubunnya, Nak. Ucapkan satu harapan dalam hatimu. Biar langgeng, biar rumah tangga ini kuat seperti akar pohon beringin."
Suara tawa kecil terdengar dari deretan ibu-ibu sepuh yang menonton.
"Ayo, Mas Jati. Kenapa masih canggung begitu? Bukannya semalam sudah mencium yang lainnya? " Kekeh seorang ibu tetangga Jati yang tak jauh dari sana.
Tawa yang lain terdengar.
Sekilas Jati memang gugup, terlebih saat menatap mata Gandes.
"Cium ubun-ubunnya, to. Jangan cuma dicium di pipinya nanti!" seru salah satu dengan nada menggoda.
"Wah, Jati ini kalau malu malah tambah ganteng!" timpal yang lain.
Maheswari hanya menatap dingin, membuat beberapa mulut langsung bungkam. Hening mendadak.
Jati menatap wajah Gandes yang setengah tertutup kelopak melati. Ia menunduk, lalu mendekat perlahan. Ujung napasnya menyentuh kepala basah yang beraroma bunga tujuh rupa. Ia memejamkan mata, mencium ubun-ubun itu lama, sambil berbisik nyaris tak terdengar.
Namun satu kata tak luput ia bisikkan di telinga Gandes. "Semoga kamu kuat di rumah ini, Gandes. Ini adalah hukuman bagi kamu karena kamu terlahir dari perempuan brengset itu."
Tangan Gandes mencengkeram ujung beskap Jati, bahkan kakinya menginjak selop lelaki itu, hingga lelaki itu menjerit reflek.
Semua yang di sana, ibu-ibu sesepuh keluarga Jati, juga tetangga perempuan, kaget.
"Ada apa kamu, Jati?" Maheswari menyelidik.
"E,.. bukan apa-apa, Kanjeng Ibu. Kayaknya ada yang aneh di kakiku. Mungkin semut dari pohon jambu itu yang menggigit."
"Enak mana, Mas Jati, digigit semut apa digigit Mbak Gandes tadi malam?"
Gerr! Suara tawa bergemuruh karena celotehan tetangga Jati.
Jati menatap Gandes yang melotot ke arahnya. Mukanya nampak merah menahan malu.
Perias menepuk bahu Jati pelan setelah ikut tersenyum. "Harapan sudah terucap. Sekarang tanggung jawabmu mulai hari ini. Gendong istrimu, bawa ke kamar pengantin. Itu tanda akhir prosesi."
"Apa, Mbah? " Gandes protes. "Tidak, aku tidak mau digendong, biar aku jalan saja. "
"Mbak, kenapa malu, bukannya semalam sudah,.. "
Maheswari menatap ibu-ibu itu. Acara 'adus keramas' dalam tradisi Jawa kuno memang diperuntukkan bagi pasangan setelah melalui malam pertama hinggah yang menjalaninya harus kuat mental dicandai habis-habisan.
Tanpa bicara panjang lebar, Jati membungkuk dan segera mengangkat tubuh Gandes ke dalam pelukannya bagai mengangkat benda ringan yang tak punya beban.
Gandes yang kaget seketika tak bisa lagi protes, terlebih saat Maheswari menatapnya dengan tatapan menusuk.
"Enteng sekali tubuhmu, " bisik Jati dengan seringai kecil.
Sorak kecil terdengar. Suara sandal-sandal perempuan dan tawa renyah mengiringi langkah Jati yang beranjak ke lantai atas.
"Wah, masih kuat toh nggendong istri seberat itu?"
"Gimana nggak kuat, tubuh Mbak Gandes aja krempeng kayak nggak pernah makan begitu."
"Beda sama ibunya yang tubuhnya sintal," bisik bu Rena.
"Emang Bu Rena pernah lihat ibu Mbak Gandes?"
"Pernah lihat saat dibawa Mas Jati ke sini, Bu. Tubuhnya bagus berisi, rambutnya indah, lurus se punggung. Parasnya juga menawan, pokoknya pas banget buat mimpin ibu Persit."
"Wah, beda banget ya sama Mbak Gandes? "
"Wong bedanya jauh. Tapi enak juga sih, dapat yang seger, masih ting ting lagi, bukan janda."
"Eh, tapi dibilang enak juga, seharusnya enak nikah sama ibunya, lebih berpengalaman. Tahu kan gimana Mas Jati itu? Kok malah nikah sama anaknya, haha..."
Beberapa tetangga terbahak, berbisik, namun langsung terdiam saat Maheswari menoleh tajam satu per satu. Tak ada yang berani menatap balik.
Hening kembali mengisi ruangan, hanya suara langkah Jati dan desah pelan Gandes yang gelisah di pelukannya.
"Turunin aku, Jati," bisik Gandes. "Aku masih basah."
"Kalau kamu turun sekarang, nanti kamu jatuh. Lantai licin."
"Turunin!"
"Tenang."
Nada Jati datar, tapi genggamannya semakin erat. Harum bunga dari rambut Gandes menelusup ke dadanya, membuat napasnya sedikit berantakan. Ada sesuatu yang hangat merambat di balik kesunyian itu.
Mereka melewati tangga, menuju kamar pengantin. Beberapa anak kecil berlari di belakang, menirukan langkah mereka sambil tertawa.
"Mas Jati, hati-hati, jangan sampai kepleset!" Seloroh keponakan Jati.
"Tuh, pengantin wanitanya malu tuh, mukanya merah!"
Gandes menggigit bibir, berusaha menahan rasa malu dan canggung. "Cepat turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri."
"Sebentar lagi."
Begitu tiba di depan kamar, Jati membuka pintu dengan kakinya. Suara engsel kayu berderit pelan. Ia melangkah masuk dan menurunkan Gandes di dalam kamar mandi.
"Sini, biar aku ambilin melatinya, " kata Jati, menatap wajah gadis itu yang menunduk berusaha mengambil jarum pentul yang menancap.
"Pergi saja dari sini." Suara Gandes bergetar. "Aku bisa melakukannya sendiri."
Jati menatap roncean melati yang menutupi tubuh istrinya, yang ditancapkan banyak jarum pentul agar tak bergeser saat disiram air. Tanpa persetujuan ia mengulurkan tangan.
" Aku bisa sendiri. Dengar nggak?"
Jati terdiam. Udara dari kamar pengantin itu terasa masuk ke kamar mandi dalam, kamar itu, penuh aroma bunga dan dupa yang masih mengepul dari sudut ruangan.
"Gandes," katanya kesal, "jangan keras kepala. Kamu terlihat kesulitan. "
Jati melangkah mendekat, tangannya terulur. Tapi Gandes mundur selangkah. "Aku bilang,.. jangan!"
"Jarumnya banyak, kamu susah lepas sendiri."
Namun Gandes terus berusaha membuka tali melati di lehernya. Jemarinya gemetar. Sekali, dua kali, tapi simpul itu tak mau lepas. Ujungnya justru menjerat.
Jati menghela napas. "Sudah. Aku bantu,..."
"Keluar!" teriak Gandes, memutar tubuh, tapi dia terhuyung ke lantai.
Dalam satu gerakan cepat, Jati menahan bahunya agar tak terjatuh.
Tubuh mereka terlalu dekat.
Gandes menatap Jati dengan mata membulat, air di pipinya bercampur tetes bunga. "Lepaskan!"
"Diam! Aku cuma bantu."
"Keluar, Jati!" Suara Gandes meninggi, memantul di dinding yang sunyi.
Jati mematung. Tatapan mereka bertemu sekilas, seperti dua bara yang sama-sama enggan padam.
Lalu Gandes menepis tangannya, mundur hingga punggungnya menabrak dinding kamar mandi.
"Keluar!"
21 tahun kemudian.“Letnan Dua Jiendra Manggala.” Nama itu menggema di lapangan Bumimoro, Surabaya, disambut tepuk tangan panjang. Barisan perwira muda berdiri tegak, seragam putih berkilau tersapu matahari pagi.Jiendra melangkah satu langkah ke depan, menerima penyematan pangkat dengan wajah tenang, rahang mengeras menahan getar yang tak perlu dipamerkan.Sampai upacara selesai, barisan dibubarkan. Lapangan yang tadi sunyi kini dipenuhi pelukan, kamera, dan tawa yang tertahan haru.Jati berdiri menunggu. Ketika Jiendra mendekat, keduanya berhadapan tanpa banyak kata. Tinggi mereka hampir sama. Bahu sejajar. Postur serupa. Hanya wajah Jiendra menyimpan garis lembut milik Gandes, campuran Eropa yang samar namun jelas. Rambutnya ikal ringan, cokelat tua, tidak semerah milik ibunya dulu, juga tidak hitam pekat seperti kebanyakan prajurit lain. Jati menepuk pundaknya. Sekali. Kuat.“Kamu lulus, di angkatan laut seperti impianmu,” ucapnya singkat.Jiendra tersenyum kecil. “Iya, Romo.”Te
“Dokter! Angkanya naik lagi!”Suara perawat memecah kepanikan. Langkah tergesa memenuhi ruang ICU.Gandes yang baru saja dari musolla bersama Yasmin dan Tawang, menatap lemas. Tangis Gandes pecah lebih keras, membuat tubuhnya oleng. Jati sigap meraih bahu istrinya, namun tenaga Gandes runtuh, membuatnya jatuh limbung.“Gandes,” suara Jati parau. “Pegang aku. Kuatkan dirimu."Gandes tak menjawab. Tangannya mencengkeram lengan Jati, napasnya tersengal, air mata tak berhenti mengalir. Dari balik kaca, layar monitor Jiendra berpendar cepat, garis-garisnya melonjak tak beraturan.Maheswari menutup mulut, dadanya naik turun. “Kenapa bisa begini lagi…?”"Kita berdo'a, Bu. Dia anak yang kuat, dia pasti selamat, " tambah Jatmiko.Ryan yang sudah berbalik melangkah, berhenti. Ia menoleh. Tangis Gandes, suara mesin, teriakan perawat, semua menghantam bersamaan. Dia kembali. Matanya tertuju ke inkubator. Tubuh kecil itu, wajah pucat, dada bergerak terbantu alat.“Kondisinya menurun,” ujar seorang
"Di mana Jati, Yasmin?" tanya Maheswari yang baru datang dari mushola."Di sana, Bu." Gandes menjawab, namun tak digubris oleh Maheswari. " Titip Jiendra, saya ke mushola sebentar."Maheswari masih tak bicara, bahkan saat Jatmiko memegang tangannya.Gander menelan ludah, dia tahu semua itu karena kesalahannya.“Selamat.”Suara Ryan jatuh pelan, tapi menghantam lebih keras daripada teriakan. Jati menoleh perlahan. Cahaya putih ICU memantul di wajah Ryan yang tampak lebih segar dari terakhir kali ia ingat. Rahangnya mengeras, seolah kata barusan harus dipaksa keluar agar tak kembali melukai dirinya sendiri.Maheswari yang hendak mendekat, terdiam, tak langsung memeluk putranya yang berbulan-bulan tak dijumpainya.“Selamat, Mas Jati,” ulang Ryan. “Akhirnya tak ada lagi alasan bagiku bertahan.”Jati menelan napas. Tangannya masih menempel di kaca inkubator. Mesin terus berdengung, tak peduli percakapan retak yang sedang terjadi beberapa langkah darinya.“Ryan, aku.... "“Biarkan aku menye
“Cepat, Mas. Kondisinya kritis.”Kalimat yang didengar dari Yasmin itu seperti peluru. Tidak berisik, tapi menghantam tepat sasaran.Jati berdiri kaku di tengah kabin pesawat. Tangan kirinya mencengkeram sandaran kursi, sementara tangan kanan menutup mata sejenak, menahan sesuatu yang berusaha naik ke tenggorokan.“Berapa lama lagi?” suaranya terdengar lebih tenang daripada dadanya.“Dua puluh menit,” jawab kopilot dari depan. “Kita turun di Adisutjipto.”Jati mengangguk pelan. Tidak ada pilihan lain selain percaya pada waktu yang terus bergerak tanpa peduli. Pikirannya melayang ke ruang putih, bau antiseptik, bunyi mesin yang naik turun seperti napas buatan. Bayangan kecil dengan selang dan kabel menempel di tubuh mungil itu muncul begitu jelas. Ia menelan ludah.Di baris kursi belakang, Letda Tawang berdiri, merapikan jaket lapangannya. Gerakannya cekatan, khas prajurit yang terbiasa berpindah medan. Ia melirik ke arah Jati melalui pantulan kaca jendela. Sekilas, sudut bibirnya teran
"Apa golongan darah yang dicari, Dok?" Suara Mica terdengar tegang, nyaris memotong seisi ruang donor.Belum sempat dokter menjawab, langkah kaki tergesa memecah sunyi. Gandes menerobos masuk, wajahnya pucat, napasnya tersengal. Tangannya mencengkeram pinggiran pintu, seolah lantai bergoyang di bawah kakinya."Tidak usah repot," ucap Gandes serak. "Aku yang mendonorkan sendiri darahku untuk anakku."Suster refleks bergerak cepat. "Mbak, jangan dulu. Dari tadi Mbak kelihatan limbung. Duduk sebentar.""Tidak," potong Gandes. Ia melangkah lagi, meski lututnya tampak gemetar. "Aku ibunya. Aku bisa."Ryan menoleh. Tatapan mereka bertemu, singkat namun penuh sesuatu yang tak sempat diberi nama. Mica menghela napas lega, rahangnya mengendur."Mbakyu, ini bukan soal keras kepala," kata Yasmin. "Kamu hampir jatuh dari tadi.""Aku tidak apa-apa," jawab Gandes cepat, meski suaranya bergetar. "Anakku lebih penting."Suster yang sama mengernyit, memandangi wajah Ryan lalu Gandes bergantian. "Maaf,
“Pelan sedikit, Ryan.” Suara Mica terdengar lembut, tapi jelas menahan lelah. Tangannya masih menggenggam map tipis berisi berkas proyek, ujungnya kusut akibat terlalu sering dipindah dari tas ke tangan. Tumitnya berhenti sejenak sebelum pintu kaca rumah sakit terbuka otomatis.“Kamu kelihatan pucat,” lanjutnya. " tapi kenapa langkah kakimu begitu cepat?“"Aku bilang nggak usah periksa, hanya sakit begini saja kok. Nanti kalau udah istirahat pasti tenagaku balik lagi."Mica menggeleng. “Tidak, Ryan. Kamu tuh sakit, anemia.""Kamu terlalu khawatir, Mica. Sudah aku bilang, jangan terlalu baik padaku, aku bukan orang yang bisa membalas kebaikanmu itu." Nada suaranya datar, tapi matanya bergerak cepat menyapu ruang yang tak jauh dari pintu keluar rumah sakit.Mica melangkah berdampingan. “Habis periksa ini langsung pulang. Kamu butuh tidur.”Ryan tidak menjawab. Langkahnya melambat ketika ruangan UGD terlihat. Suasana berubah drastis. Suara tangis, panggilan perawat, roda tandu yang berdec







