LOGINHedi berdiri dekat pintu. Wajahnya datar. Kunci mobil berada di tangannya. Ia melangkah masuk, melempar kunci itu ke meja.“Kunci mobil kamu,” ucapnya singkat. “Saya cuma mengembalikan.”King menatapnya dengan mata menyala. “Enak sekali kamu bawa mobil orang!”Hedi tak menjawab. Ia berbalik hendak pergi.“Tunggu!”Kanaya bergerak cepat. Tangannya meraih pergelangan Hedi. Genggamannya lemah tapi putus asa.Hedi menoleh. Tatapan mereka bertemu.Kanaya menelan ludah. “Jangan tinggalkan aku.”King tertawa dingin. “Lihat itu. Bahkan prajurit kecil pun lebih kamu harapkan daripada aku.”King meraih jaketnya. Langkahnya limbung tapi penuh amarah. “Urusan kita selesai. Jangan pernah menghubungi aku lagi."Pintu dibanting. Suara mesin mobil meraung, lalu menjauh menelan gelap.Hedi masih berdiri. Tangannya tertahan dalam genggaman Kanaya. Napas perempuan itu bergetar.“Hedi…” suaranya nyaris tak terdengar. “Tolong…”Hedi menarik napas panjang. Tatapannya bingung. Lampu kamar berpendar redup, m
"Bukannya Anda Pak Jatiendra Manggala yang pernah terluka di sini? Istri Anda...Bu Kanaya, 'kan?" tanya suster itu menelisik Jati."Saya sudah sembuh dari amnesia, Mbak, " ucap Jati tak ingin berbelit. "Itu kesalahan, inilah istri saya yang sesungguhnya. Tolong dia. Dia hidup dan mati saya.""Mas... " Gandes masih mengerang kesakitan.Jati menggenggam tangannya khawatir. "Kamu dan jagoan kita pasti baik-baik saja. Percaya " hibur Jati.Gandes dipindahkan. Brankar bergerak cepat menyusuri lorong. Lampu putih terasa menyilaukan.“Pak, silakan tunggu di luar dulu,” ucap perawat.Jati langsung menahan. “Tidak. Saya ikut.”“Prosedur...”“Dia istri saya, Pak.” Suara Jati meninggi. “Saya tidak mau ke mana-mana.”Dokter Budi muncul, wajahnya serius. “Tenang dulu. Kami perlu periksa. Hanya saja, bagaimana Anda bilang ini istri Bapak?""Ternyata Pak Jati sudah sembuh dari amnesia, Dok." Suster yangg tadi bicara dengan Jati menjelaskan. "Ini istri beliau."Dokter Budi manggut-manggut. Sekilas m
"King mundur seoangkah. Pengakuan Kanaya membuatnya kaget. Seharusnya ia gembira, tapi tidak, apa yang baru saja terjadi membuat ia naik pitam. " Kamu hamil? Apa Bakungan itu yang menghamili kamu?""Ini anak kamu."Plak! Tamparan mengenai Kanaya. "Dasar wanita marahan! Bukankah aku selalu memakai pengaman saat bersamamu?" Kaki King sudah melayang. "Kamu tidur bersama orang lain dan kamu mau menjebak ku. Jangan mimpi kamu Kanaya! " Kembali tangannya menjambak rambut Kanaya lalu mendorongnya kasar. Kanaya tersungkur. Belum puas juga tamparan dilayangkan lelaki oti. "'Ampun… tolong…!”Suara itu menembus pintu resort seperti pisau. Gandes yang sudah mengangkat tangan hendak mengetuk pintu mendadak terpaku. Nafasnya tercekat. Itu suara Mama. Bukan rintih biasa. Ada rasa panik, sakit, dan ketakutan bercampur satu.“Mas…” Gandes berbalik cepat. Wajahnya pucat.Belum sempat Jati bertanya, jeritan kedua menyusul. Lebih keras. Lebih putus asa.“Tolooong…!”"Mas, itu Mama, tolongin dia.""I
“Bu Kanaya didatangi seorang lelaki, Pak. Jadi saya tinggal.” Hedi menunduk, enggan menatap Jati seolah dia tahu reaksi selanjutnya. Jati dan Gandes salin menatap.“Apa?” Mata Jati sampai membulatSuaranya rendah, tertahan.Hedi berdiri sedikit menjauh, nada bicaranya ragu, seperti orang yang sadar sedang membuka pintu masalah. “Saya lihat tadi, Pak. Sepertinya ada hubungan yang tak biasa diantara mereka.”“Siapa orangnya?” Jati menatap tajam."Apa itu yang kata Mama rekan bisnis?""Bisnis apa Mama kamu? Kamu tertipu, Gandes.'" Dia bilang ke sini karena ngurus bisnis baru." Gandes menunduk. Hedi mengusap tengkuk. “Saya juga awalnya nggak yakin. Tapi… ciri orang itu mencolok.”“Mencolok bagaimana?"“Tubuhnya agak tambun. Perutnya maju. Jalan santai tapi matanya awas. Sipit… mirip orang Cina. Pakai kemeja mahal, jam tangannya besar. Kayak bukan orang biasa."Jati menarik napas pelan. Dada terasa ditekan dari dalam. Potongan-potongan lama langsung menyatu, seperti puzzle yang akhirny
Jati menepisnya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menunduk, memaksa diri diam, memaksa pikirannya bertahan satu detik lagi.Gandes menatapnya, ngeri. “Mas…”“Kita hanya… harus keluar dari sini.”Jati menghembuskan nafas panjang, seperti orang yang hampir tenggelam lalu diseret kembali ke permukaan. Kakinya melemah, tapi ia masih berdiri dan terus memegang tangan Gandes. “Pak, biar saya yang jadi penghalang Bu Kanaya.” Kapten Hedi menghadang Kanaya.Kanaya langsung melangkah maju. “Kamu pikir bisa mengatur urusan keluarga kami?” Hedi menoleh sekilas, sorot matanya dingin. “Maaf, Bu. Perintah saya jelas.”Kanaya mendengus, menatap tajam pria di depannya. " Minggir kamu!" Kanaya menyenggol pria yang lebih pendek dari dirinya itu. Hedi mundur selangkah. Namun, tenaganya yang ternyata lebih kuat dari Kanaya tetap bisa mengalahkannya. "Saya juga bisa mengunakan kekerasan jika Anda menghalangi atasan saya."Jati mengangkat kepala. Pandangannya sedikit kabur, tapi ia masih bisa melihat jelas w
Jati merasakan dorongan terakhir, berusaha bangkit penuh, saat daun pintu terbuka dan cahaya luar menyelinap masuk, membelah ruangan."Mas..."“Apa yang terjadi?” suara Gandes pecah begitu daun pintu terbuka.Pandangannya membeku. Ibunya berdiri tanpa busana, tubuh condong mendekat, bibir hampir menyentuh wajah Jati. Jati setengah telanjang, wajah pucat, kedua tangannya mendorong bahu perempuan itu dengan sisa tenaga. Nafasnya tersengal, mata berair.“Gandes…” Jati berbisik, seperti orang terbangun dari mimpi buruk.Ibunya menoleh. Mata mereka bertemu. Sekejap itu cukup untuk meruntuhkan sesuatu yang Gandes jaga seumur hidup.Kanaya segera mengambil kimono di lantai lalu memakainya. “Ma…” suara Gandes turun, hampir tak keluar. “Apa yang Mama lakukan?”Ibunya tersentak, lalu mundur setapak. Tangan terangkat menutup dada, bukan malu, melainkan kaget karena rahasia terbuka. “Kamu salah paham,” katanya cepat. “Mama hanya...”“Hentikan!” Gandes menjerit. Tangannya gemetar. “Aku lihat sem







