MasukJati hanya menatap, wajahnya datar tapi matanya berbicara banyak, menatap Ryan dan Gandes bergantian. Ia melangkah mendekat. Ada jarak yang terasa begitu tegang.
Gandes menelan ludah, napasnya cepat. Ryan menatapnya tak percaya. "Bukankah tadi dia sudah pergi?" bathinnya.
"Naik mobil sekarang juga," titah Jati terdengar dingin tapi bergetar di ujung nada.
Ryan yang masih memegang kunci segera menatapnya tajam. "Mas, begini ya, cara kamu ngomong sama Gandes?"
"Aku bicara sama istriku, bukan sama kamu." Tatapan Jati tak kala tajam, menusuk Ryan seolah ingin menelan setiap kata yang sempat keluar. Di belakang mereka, suasana kantin yang tadi ramai tiba-tiba terasa sesak.
Gandes menatap Jati. "Pulang saja duluh, aku belum mau pulang. Aku mau ambil baju di kos." Suaranya pelan, hampir tenggelam dalam gemetar yang ia tahan.
"Lupakan bajumu, bukankah aku telah membelikanmu baju. Kita bisa mengambilnya kapan-kapan."
"Tapi,.."
"Masuk mobil, kataku." Dengan menahan marah, Jati segera menarik tangan Gandes.
"Mas,..." Ryan berusaha menahan.
"Jangan ikut campur urusanku!" Dengan kasar, Jati mengibaskan tangan Ryan, lalu menutup pintu mobilnya begitu Gandes masuk.
"Kenapa kamu bersama lelaki itu lagi?" tanya Jati begitu mobil melaju.
Gandes hanya diam.
"Kamu tuli ya?"
Gandes masih diam.
Tangan Jati mengepal menahan marah.
Hening. Mobil melaju menuju kediaman Jati. Sepanjang perjalanan, yang ada hanya kemarahan di wajah Jati.
Sesampainya di rumah megah itu, sudah terdengar suara gaduh. Suara perempuan-perempuan sepuh dan ibu-ibu kerabat juga tetangga, bercampur tawa, bunyi ember tembaga beradu dengan gayung batok. Aroma bunga menguar, campuran melati, kenanga, dan mawar putih.
Maheswari sudah berdiri di halaman belakang. Ia tampak puas mengatur segalanya: tempayan tanah liat besar, janur kuning melingkari sumur, air yang sudah diberi kembang tujuh rupa. Semua tampak sempurna, kecuali wajah Gandes yang pucat saat tiba.
Setiap langkah terasa berat. Kakinya lemas, seolah menolak untuk mendekat pada ritual yang tidak ia pahami.
Perias sepuh, berambut putih keperakan dan bersanggul rapi, menyambutnya dengan senyum hangat.
"Ini pengantin wanitanya?" tanya perias itu.
Maheswari mengangguk. "Ya, ini Gandes."
Gandes menunduk. Ia bisa merasakan seluruh mata di halaman itu menatapnya, menilai, menimbang, mungkin juga mencibir.
Ketakutan menyergapnya. Bagaimana kalau benar ia harus memakai jarik yang dililit sampai dada? Ia menelan ludah. Tubuhnya kaku.
Perias mendekat, matanya tajam seperti membaca isi hati. "Cantik," katanya pelan, "tapi belum lepas dari dunia lamanya."
"Makanya kami minta tolong, bersihkan semuanya," sela Maheswari cepat.
Perias hanya mengangguk, lalu menyiapkan air bunga.
Gandes berdiri di tengah halaman, taman itu, jemarinya saling meremas. Dadanya terasa penuh, seolah udara enggan masuk.
"Mas Jati... mana?" tanyanya pelan pada Maheswari.
"Dia akan ke sini sebentar lagi."
Hati Gandes lega. Ia berharap lelaki itu sudah pergi. Ia tak ingin tatapan itu lagi, tatapan yang selalu membuatnya merasa kecil. Tapi langkah-langkah berat itu akhirnya terdengar juga.
Jati muncul dengan pakaian adat Jawa lengkap: beskap hitam, blangkon di kepala, kain batik melilit rapi. Ia membawa kebaya dan kain panjang di tangannya. Meletakkannya di hadapan perias tanpa menatap siapa pun.
"Ini untuk acara ini, Mbah," katanya datar. "Biar auratnya nggak kelihatan. Namun untuk tidak menghilangkan sakralnya, sudah saya siapkan hijab melati dan penutup dada melati."
Semua orang terdiam. Maheswari menatap putranya lama. "Kau pikir ini acara siraman, Jati?"
"Bukan, Kanjeng Ibu," jawabnya tenang. "Tapi aku tidak mau istriku dipertontonkan. Adat tetap jalan, tapi kehormatan tetap dijaga."
Hening beberapa detik. Lalu perias tersenyum tipis. "Kau suami yang tahu batas. Baiklah, kita mulai dengan cara ini."
Maheswari tidak berkata apa pun, tapi ekspresinya sulit dibaca. Mungkin marah, mungkin heran seorang Jati mengatakan itu, atau mungkin sekadar menyerah pada anak laki-lakinya yang keras kepala.
Gandes memandangi Jati diam-diam. Dalam hatinya, perasaan campur aduk.
Perias menuntunnya ke kamar. Gandes berganti jarik dan kebaya sesuai arahan.
"Seharusnya jarit ini dililit sampai dada," kata perias lembut.
"Maaf, Mbah. Saya..." suara Gandes tercekat.
"Tidak apa," sahut perias cepat. "Kita pakai cara yang lebih sesuai untukmu. Tetap indah, tetap sakral."
Ia memakaikan Gandes kebaya lembut, lalu melati ronce di dada dan kepala. Wangi bunga melati memenuhi ruangan. Gandes menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat tenang, tapi hatinya bergetar hebat.
Mereka keluar. Gandes duduk di bangku kecil di tengah taman. Semua mata tertuju padanya.
Air pertama disiramkan ke kepalanya. Dingin, menusuk kulit. Tetesannya mengalir di wajah, di leher, membawa bulir air mata yang tak bisa lagi ia tahan.
"Air ini simbol kesucian," kata perias lembut. "Membersihkan bukan hanya tubuh, tapi juga hati."
Gandes menutup mata. Ia mendengar bisik-bisik di sekitarnya. Ada yang memuji, ada yang mencibir. Tapi ia diam. Hanya air dan doa yang menemaninya.
Jati berdiri agak jauh, bersandar di tiang kayu, tak bergeming. Sekali pun tatapannya tak beralih dari wajah Gandes yang menunduk.
Saat perias menuangkan air terakhir dan mengucap doa pamungkas, Jati menunduk perlahan.
Perias menepuk bahu Gandes. "Selesai sudah. Kau kini bagian dari keluarga ini, Nak."
"Mana suaminya?" tanya perias dengan suara parau.
"Jati, kemari," panggil Maheswari.
Dunia seperti berhenti sejenak.
Gandes menegakkan punggungnya. Tubuhnya bergetar, bulir air menetes dari ujung hijab ke pipi. Hatinya tak enak.
"Kenapa dia dipanggil?" bisiknya hampir tak terdengar. Tapi tak seorang pun menjawab.
21 tahun kemudian.“Letnan Dua Jiendra Manggala.” Nama itu menggema di lapangan Bumimoro, Surabaya, disambut tepuk tangan panjang. Barisan perwira muda berdiri tegak, seragam putih berkilau tersapu matahari pagi.Jiendra melangkah satu langkah ke depan, menerima penyematan pangkat dengan wajah tenang, rahang mengeras menahan getar yang tak perlu dipamerkan.Sampai upacara selesai, barisan dibubarkan. Lapangan yang tadi sunyi kini dipenuhi pelukan, kamera, dan tawa yang tertahan haru.Jati berdiri menunggu. Ketika Jiendra mendekat, keduanya berhadapan tanpa banyak kata. Tinggi mereka hampir sama. Bahu sejajar. Postur serupa. Hanya wajah Jiendra menyimpan garis lembut milik Gandes, campuran Eropa yang samar namun jelas. Rambutnya ikal ringan, cokelat tua, tidak semerah milik ibunya dulu, juga tidak hitam pekat seperti kebanyakan prajurit lain. Jati menepuk pundaknya. Sekali. Kuat.“Kamu lulus, di angkatan laut seperti impianmu,” ucapnya singkat.Jiendra tersenyum kecil. “Iya, Romo.”Te
“Dokter! Angkanya naik lagi!”Suara perawat memecah kepanikan. Langkah tergesa memenuhi ruang ICU.Gandes yang baru saja dari musolla bersama Yasmin dan Tawang, menatap lemas. Tangis Gandes pecah lebih keras, membuat tubuhnya oleng. Jati sigap meraih bahu istrinya, namun tenaga Gandes runtuh, membuatnya jatuh limbung.“Gandes,” suara Jati parau. “Pegang aku. Kuatkan dirimu."Gandes tak menjawab. Tangannya mencengkeram lengan Jati, napasnya tersengal, air mata tak berhenti mengalir. Dari balik kaca, layar monitor Jiendra berpendar cepat, garis-garisnya melonjak tak beraturan.Maheswari menutup mulut, dadanya naik turun. “Kenapa bisa begini lagi…?”"Kita berdo'a, Bu. Dia anak yang kuat, dia pasti selamat, " tambah Jatmiko.Ryan yang sudah berbalik melangkah, berhenti. Ia menoleh. Tangis Gandes, suara mesin, teriakan perawat, semua menghantam bersamaan. Dia kembali. Matanya tertuju ke inkubator. Tubuh kecil itu, wajah pucat, dada bergerak terbantu alat.“Kondisinya menurun,” ujar seorang
"Di mana Jati, Yasmin?" tanya Maheswari yang baru datang dari mushola."Di sana, Bu." Gandes menjawab, namun tak digubris oleh Maheswari. " Titip Jiendra, saya ke mushola sebentar."Maheswari masih tak bicara, bahkan saat Jatmiko memegang tangannya.Gander menelan ludah, dia tahu semua itu karena kesalahannya.“Selamat.”Suara Ryan jatuh pelan, tapi menghantam lebih keras daripada teriakan. Jati menoleh perlahan. Cahaya putih ICU memantul di wajah Ryan yang tampak lebih segar dari terakhir kali ia ingat. Rahangnya mengeras, seolah kata barusan harus dipaksa keluar agar tak kembali melukai dirinya sendiri.Maheswari yang hendak mendekat, terdiam, tak langsung memeluk putranya yang berbulan-bulan tak dijumpainya.“Selamat, Mas Jati,” ulang Ryan. “Akhirnya tak ada lagi alasan bagiku bertahan.”Jati menelan napas. Tangannya masih menempel di kaca inkubator. Mesin terus berdengung, tak peduli percakapan retak yang sedang terjadi beberapa langkah darinya.“Ryan, aku.... "“Biarkan aku menye
“Cepat, Mas. Kondisinya kritis.”Kalimat yang didengar dari Yasmin itu seperti peluru. Tidak berisik, tapi menghantam tepat sasaran.Jati berdiri kaku di tengah kabin pesawat. Tangan kirinya mencengkeram sandaran kursi, sementara tangan kanan menutup mata sejenak, menahan sesuatu yang berusaha naik ke tenggorokan.“Berapa lama lagi?” suaranya terdengar lebih tenang daripada dadanya.“Dua puluh menit,” jawab kopilot dari depan. “Kita turun di Adisutjipto.”Jati mengangguk pelan. Tidak ada pilihan lain selain percaya pada waktu yang terus bergerak tanpa peduli. Pikirannya melayang ke ruang putih, bau antiseptik, bunyi mesin yang naik turun seperti napas buatan. Bayangan kecil dengan selang dan kabel menempel di tubuh mungil itu muncul begitu jelas. Ia menelan ludah.Di baris kursi belakang, Letda Tawang berdiri, merapikan jaket lapangannya. Gerakannya cekatan, khas prajurit yang terbiasa berpindah medan. Ia melirik ke arah Jati melalui pantulan kaca jendela. Sekilas, sudut bibirnya teran
"Apa golongan darah yang dicari, Dok?" Suara Mica terdengar tegang, nyaris memotong seisi ruang donor.Belum sempat dokter menjawab, langkah kaki tergesa memecah sunyi. Gandes menerobos masuk, wajahnya pucat, napasnya tersengal. Tangannya mencengkeram pinggiran pintu, seolah lantai bergoyang di bawah kakinya."Tidak usah repot," ucap Gandes serak. "Aku yang mendonorkan sendiri darahku untuk anakku."Suster refleks bergerak cepat. "Mbak, jangan dulu. Dari tadi Mbak kelihatan limbung. Duduk sebentar.""Tidak," potong Gandes. Ia melangkah lagi, meski lututnya tampak gemetar. "Aku ibunya. Aku bisa."Ryan menoleh. Tatapan mereka bertemu, singkat namun penuh sesuatu yang tak sempat diberi nama. Mica menghela napas lega, rahangnya mengendur."Mbakyu, ini bukan soal keras kepala," kata Yasmin. "Kamu hampir jatuh dari tadi.""Aku tidak apa-apa," jawab Gandes cepat, meski suaranya bergetar. "Anakku lebih penting."Suster yang sama mengernyit, memandangi wajah Ryan lalu Gandes bergantian. "Maaf,
“Pelan sedikit, Ryan.” Suara Mica terdengar lembut, tapi jelas menahan lelah. Tangannya masih menggenggam map tipis berisi berkas proyek, ujungnya kusut akibat terlalu sering dipindah dari tas ke tangan. Tumitnya berhenti sejenak sebelum pintu kaca rumah sakit terbuka otomatis.“Kamu kelihatan pucat,” lanjutnya. " tapi kenapa langkah kakimu begitu cepat?“"Aku bilang nggak usah periksa, hanya sakit begini saja kok. Nanti kalau udah istirahat pasti tenagaku balik lagi."Mica menggeleng. “Tidak, Ryan. Kamu tuh sakit, anemia.""Kamu terlalu khawatir, Mica. Sudah aku bilang, jangan terlalu baik padaku, aku bukan orang yang bisa membalas kebaikanmu itu." Nada suaranya datar, tapi matanya bergerak cepat menyapu ruang yang tak jauh dari pintu keluar rumah sakit.Mica melangkah berdampingan. “Habis periksa ini langsung pulang. Kamu butuh tidur.”Ryan tidak menjawab. Langkahnya melambat ketika ruangan UGD terlihat. Suasana berubah drastis. Suara tangis, panggilan perawat, roda tandu yang berdec







