Share

139. Permintaan

Author: HaniHadi_LTF
last update Last Updated: 2026-01-09 06:20:12

“Ma!”

Gandes menerobos masuk.

Kanaya terduduk di lantai. Kursi terguling, satu kakinya patah. Rambut Kanaya kusut, pipinya merah kebiruan. Di depannya, King berdiri dengan napas memburu, tangan mengepal.

“Ngapain kamu datang?” bentak King.

Gandes tak menjawab. Ia langsung berlutut, memeluk tubuh ibunya.

“Ya Allah, Mama kenapa?” tangannya gemetar meraba lengan Kanaya. “Sakit di mana?”

Kanaya mencoba tersenyum, namun sudut bibirnya hanya bergetar. “Tidak apa-apa.”

“Kenapa terulang lagi, Ma? ” Gandes menoleh tajam. “Mas!”

Jati sudah berdiri di ambang pintu. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti lama di wajah Kanaya. Rahangnya mengeras, tapi tubuhnya tetap tertahan.

“Mas, hajar dia,” suara Gandes bergetar, penuh amarah. “Aku mohon.” Gandes berdiri, menutup tubuh Kanaya. “Kalau Mas diam, dia akan mengulanginya lagi.”

King terkekeh. “Perempuan suka drama.”

“Diam!” teriak Gandes. Dadanya naik turun. “Kamu itu sampah.”

King melangkah maju. “Mulutmu itu yang berbisa. Dasarnya perempuan...”

“S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   140. Undangan

    “Mas, kita pulang.” kata Gandes tegas, meski dadanya bergetar. Tangannya mencengkeram lengan Jati, menariknya menjauh. Kanaya menoleh cepat, wajahnya panik.“Mas Jati, jangan pergi!” teriak Kanaya. Suaranya serak, nyaris pecah. “Dengar dulu!”Gandes tak menoleh. Langkahnya cepat, nyaris menyeret Jati keluar.Pintu tertutup keras, memutus suara Kanaya yang terus memanggil.Tangga sempit terasa panjang. Setiap anak tangga seolah menekan dada Gandes. Jati mengikuti tanpa kata, rahangnya mengeras. Saat mereka tiba ke luar, siang terasa makin panas, angin membawa sisa amarah.Gandes berhenti dekat mobil. Napasnya terengah. “Mas,” ucapnya pelan. “Kenapa Mama bersikap begitu?”Jati menoleh. “Maksudmu?”“Kenapa Mama begitu takut tes DNA?” Gandes menatap lurus. “Kalau memang yakin itu anak King, kenapa menolak? Lalu kenapa malah minta kamu pergi dari hidupku?”Jati terdiam. Lampu jalan memantul samar mata mereka. Ada jeda panjang, penuh ketegangan."Masuk mobil, " ucap Jati dengan segera memb

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   139. Permintaan

    “Ma!”Gandes menerobos masuk.Kanaya terduduk di lantai. Kursi terguling, satu kakinya patah. Rambut Kanaya kusut, pipinya merah kebiruan. Di depannya, King berdiri dengan napas memburu, tangan mengepal.“Ngapain kamu datang?” bentak King.Gandes tak menjawab. Ia langsung berlutut, memeluk tubuh ibunya.“Ya Allah, Mama kenapa?” tangannya gemetar meraba lengan Kanaya. “Sakit di mana?”Kanaya mencoba tersenyum, namun sudut bibirnya hanya bergetar. “Tidak apa-apa.”“Kenapa terulang lagi, Ma? ” Gandes menoleh tajam. “Mas!”Jati sudah berdiri di ambang pintu. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti lama di wajah Kanaya. Rahangnya mengeras, tapi tubuhnya tetap tertahan.“Mas, hajar dia,” suara Gandes bergetar, penuh amarah. “Aku mohon.” Gandes berdiri, menutup tubuh Kanaya. “Kalau Mas diam, dia akan mengulanginya lagi.”King terkekeh. “Perempuan suka drama.”“Diam!” teriak Gandes. Dadanya naik turun. “Kamu itu sampah.”King melangkah maju. “Mulutmu itu yang berbisa. Dasarnya perempuan...”“S

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   138. Balasan

    Pagi itu."Pulang sekarang?” tanya Mbah Amang. Suaranya nyaris kalah oleh desir angin pagi yang menyapu tegalan.“Iya, Mbah,” jawab Gandes lirih. Tenggorokannya terasa kering. Suaranya serak, seolah belum benar-benar pulih dari malam panjang yang mengoyak isi dadanya. “Kami harus kembali ke Yogya.”Mbah Amang mengangguk pelan. Senyumnya tipis, nyaris tak tampak. Garis-garis di wajahnya tampak lebih dalam di bawah cahaya pagi."Sudah panggil Mbah sekarang, " kekehnya.Jati dan Gandes tersenyum."Mbah, tolong dipikirkan kembali. Saya tak keberatan Mbah ada di rumah saya. Masih longgar.""Le, kamu tak perlu khawatir, Mbah ingin jaga ibunya Gandes di sini. Kamu saja yang baik sama Gandes." Air mata tiba-tiba menetes di pelupuk matanya. " Jangan biarkan dia menangis."Jati menggenggam tangan Gandes erat. "Saya pasti akan menjaganya."" Kamu juga Gandes. Dia suaminya. Seng manut."Gandes menatap pria di sampingnya. Lalu mengangguk."Mbah mau tanya, di mana mamamu Kanaya?""Di Yogyakarta jug

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   137. Nathan Carter

    “Ibumu korban.”Hening memanjang.“Dia diperkosa,” lanjut Mbah Amang pelan. “Di Bali. Waktu dia bekerja di hotel. Orang asing. Bule. Turis.” Kata-katanya sepenggal sepenggal, dengan tarikan nafas yang sengal, seolah menahan bebanNapas Gandes tercekat. Dunia seperti berhenti berputar sesaat.“Ibumu pulang dalam keadaan hancur. Dia tak cerita apa-apa. Kakek pikir dia hanya sakit hati karena gagal merantau.” Kakek tersenyum pahit. “Ternyata… dia membawa kamu, saat itu kamu masih dalam perut ibumu, tapi sudah mau lahir, Mbah Putri kamu masih hidup."Air mata Gandes jatuh satu, lalu dua, lalu tak bisa dihentikan. Jati memberikan bahunya untuk bersandar.“Waktu melahirkanmu,” kata Mbah Amang bergetar, “dokter memutuskan operasi. SC. Dan di situlah… semuanya terbongkar.” Mbah Amang memejamkan mata.“Mereka bilang ibumu mengidap HIV.”Gandes menutup mulutnya. Tangisnya pecah tanpa suara.“Bukan itu yang membunuhnya,” Mbah Amang cepat berkata, seolah takut Gandes menyalahkan takdir. “tapi ko

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   136. Mbah

    "Kamu yakin kuat?" tanya Jati saat Gandes sudah memutuskan untuk pergi ke Jawa Timur, khususnya ke sebuah desa yang disebut Kanaya sebagai desa tetangga mereka.Gandes mengangguk mantap."Syukurlah desa itu tak jauh dari sini, walau masuk Jawa Timur, " ujar Jati."Hati-hati. Jaga cucuku, Jati," ucap Maheswari memeluk Gandes."Terimakasih, Kanjeng Ibu. Ibu terlalu baik padaku.""Kamu ini bicara apa? Kamu kini mengandung anak seorang Jatiendra Manggala, cucu dari orang yang selama ini kami idamkan."Sejenak Gandes terdiam. Jati memegang jemarinya."Benar, Gandes. Kamu itu telah berhasil membuat rumah ini hidup sejak si Bengal ini kerasan di rumah.""Romo, enak aja ngatain Jati begitu." Jati menunduk, mengintip Gandes yang tersenyum.Pagi itu Jati dan Gandes memang berangkat mencari tempat tinggal kakeknya untuk ziara di makam ibu kandungnya, Gina.Matahari baru naik ketika mobil meninggalkan halaman rumah. Gandes duduk di samping Jati, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Ta

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   135. Pengikat

    Gandes berusaha melepas pegangan tangan Jati. "Gandes, ternyata kalau kamu ngambek sama orang, awet ya?""Emang siapa yang ngambek?' Gandes berusaha menutupi jengkelnya. Ada rasa lain saat melihat Jati di dekat ibunya setelah kejadian di resort itu. " Mas Jati, kita mau pamit. Yang baik-baik ya, jaga calon jagoannya," pesan Bu Dina, tetangga sebelah. "Wah, kita yang suka merepotkan, terima kasih sanget sudah bantuin,” ucap Jati mantap, sedikit serak karena seharian menahan lelah.Ia sudah berdiri di ruang tengah bersama Gandes, menunduk sopan pada tamu yang satu per satu pamit.“Maturnuwun doanya,” sambung Gandes. Senyumnya lembut, tangan kanannya menutup perut, refleks yang tak lagi ia sadari. Ada cahaya tenang yang mulai muncul di wajahnya.Maheswari berdiri di dekat pilar kayu, kain kebaya jatuh rapi. “Matur nuwun atas kedatangannya, atas bantuannya,” ucapnya pada sepasang tamu terakhir.Jatmiko mengangguk kecil, telapak tangannya menepuk bahu Jati sekali. “Wis. Jaga istrimu ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status