LOGIN"Aku harus bicara pada seseorang tentang semua ini," pikir Kanaya kemudian.Pagi itu memberi sedikit ruang. Sedikit keberanian.Ia meraih ponsel. Jemarinya gemetar saat mencari nama yang sudah lama tak ia sentuh. "Setidaknya sekalian jalan.""Gandes...aku perlu bertemu. Kalau kamu bersedia."Pesan itu pendek. Terlalu pendek untuk semua luka yang ada.Lama. Sangat lama. Hingga balasan datang."Siang ini aku ada di kampus. Maaf lama, aku ada kelas."Kanaya menutup mata. Dadanya sesak, tapi ada sedikit lega.Siang itu, kampus terasa ramai, seperti biasa. Gandes duduk di bangku taman fakultas, agak jauh dari kantin yang sesak padat, map di pangkuan. Ia tidak bisa menduga apa maksud pertemuan ini. Namun, ia selalu berharap, akan kehangatan ibunya seperti apa yang ia hayalkan.Kanaya datang tanpa riasan berlebihan. Wajahnya segar, langkahnya ragu.Mereka berdiri berhadapan. "Aku..." Kanaya membuka suara lebih dulu, lalu terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Aku minta maaf."Kalimat itu terdengar
"Mas, pelan. Kamu ingat 'kan kalau aku lagi mengandung?" ucap Gandes lirih, namun cukup untuk membuat Jati menghentikan geraknya.Jati terguling ke sisi lain, menjauh sedikit, dadanya naik turun mengatur napas yang sempat tak beraturan. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap, bercampur dengan ketakutan akan dirinya sendiri, tentang betapa mudah ia terbawa emosi, tentang betapa tipis batas antara rindu dan amarah.Jati terguling di sisi Gandes, mengatur nafas.Gandes bangkit melepas kerudung, menyibakkan rambutnya, napas masih belum sepenuhnya tenang. Rambutnya jatuh berantakan di bahu, kulit lehernya masih hangat. Ia duduk di tepi ranjang sejenak, menenangkan diri, seolah ingin memastikan bahwa detak jantungnya kembali ke ritme yang wajar.Jati menelan ludahnya. "Kamu cantik malam ini," ucap Jati tiba-tiba. "Maaf, aku tak bisa menahan diri."Ucapan itu terdengar tulus, namun Gandes tahu, ada lapisan lain di baliknya. Ia menoleh perlahan. Jantungnya berdegup. Ada cinta di sana, tet
"Gandes, kamu kok lama sekali? Kamu udah siap apa ngak jadi ikut?"Teriakan Jati terdengar risau. Entah karena tak sabar menunggu seperti biasa, atau ada sesuatu yang ia tahan, semacam kekhawatiran jika benar Gandes tak ikut karena sikapnya sejak kemarin malam.Di kamar, Gandes menoleh dari cermin besar. Kilau lampu kristal memantul lembut sepanjang gamis mewah berlapis brokat separo berwarna mahigani yang nampak mencolok di kulit putih Gandes. Gaun itu jatuh anggun, mengikuti garis tubuh tinggi semampai tanpa berlebihan. Kerudung lebar berwarna lebih muda terulur menutup dada serta punggung, disematkan rapi, menyisakan wajahnya yang tenang.Ia melangkah pelan. "Sudah."Tangga rumah megah itu seakan menahan napas.Langkah Gandes turun satu per satu. Kain berdesir lembut, menyapu sisi anak tangga. Jati berdiri di bawah, tangan terlipat di depan, bahu tegap dalam balutan setelan jas hitam resmi. Ia terpaku.Maheswari berdehem kecil.Jatmiko mengulum senyum.Mbok Darmi dan Ratih saling s
“Mas, kita pulang.” kata Gandes tegas, meski dadanya bergetar. Tangannya mencengkeram lengan Jati, menariknya menjauh. Kanaya menoleh cepat, wajahnya panik.“Mas Jati, jangan pergi!” teriak Kanaya. Suaranya serak, nyaris pecah. “Dengar dulu!”Gandes tak menoleh. Langkahnya cepat, nyaris menyeret Jati keluar.Pintu tertutup keras, memutus suara Kanaya yang terus memanggil.Tangga sempit terasa panjang. Setiap anak tangga seolah menekan dada Gandes. Jati mengikuti tanpa kata, rahangnya mengeras. Saat mereka tiba ke luar, siang terasa makin panas, angin membawa sisa amarah.Gandes berhenti dekat mobil. Napasnya terengah. “Mas,” ucapnya pelan. “Kenapa Mama bersikap begitu?”Jati menoleh. “Maksudmu?”“Kenapa Mama begitu takut tes DNA?” Gandes menatap lurus. “Kalau memang yakin itu anak King, kenapa menolak? Lalu kenapa malah minta kamu pergi dari hidupku?”Jati terdiam. Lampu jalan memantul samar mata mereka. Ada jeda panjang, penuh ketegangan."Masuk mobil, " ucap Jati dengan segera memb
“Ma!”Gandes menerobos masuk.Kanaya terduduk di lantai. Kursi terguling, satu kakinya patah. Rambut Kanaya kusut, pipinya merah kebiruan. Di depannya, King berdiri dengan napas memburu, tangan mengepal.“Ngapain kamu datang?” bentak King.Gandes tak menjawab. Ia langsung berlutut, memeluk tubuh ibunya.“Ya Allah, Mama kenapa?” tangannya gemetar meraba lengan Kanaya. “Sakit di mana?”Kanaya mencoba tersenyum, namun sudut bibirnya hanya bergetar. “Tidak apa-apa.”“Kenapa terulang lagi, Ma? ” Gandes menoleh tajam. “Mas!”Jati sudah berdiri di ambang pintu. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti lama di wajah Kanaya. Rahangnya mengeras, tapi tubuhnya tetap tertahan.“Mas, hajar dia,” suara Gandes bergetar, penuh amarah. “Aku mohon.” Gandes berdiri, menutup tubuh Kanaya. “Kalau Mas diam, dia akan mengulanginya lagi.”King terkekeh. “Perempuan suka drama.”“Diam!” teriak Gandes. Dadanya naik turun. “Kamu itu sampah.”King melangkah maju. “Mulutmu itu yang berbisa. Dasarnya perempuan...”“S
Pagi itu."Pulang sekarang?” tanya Mbah Amang. Suaranya nyaris kalah oleh desir angin pagi yang menyapu tegalan.“Iya, Mbah,” jawab Gandes lirih. Tenggorokannya terasa kering. Suaranya serak, seolah belum benar-benar pulih dari malam panjang yang mengoyak isi dadanya. “Kami harus kembali ke Yogya.”Mbah Amang mengangguk pelan. Senyumnya tipis, nyaris tak tampak. Garis-garis di wajahnya tampak lebih dalam di bawah cahaya pagi."Sudah panggil Mbah sekarang, " kekehnya.Jati dan Gandes tersenyum."Mbah, tolong dipikirkan kembali. Saya tak keberatan Mbah ada di rumah saya. Masih longgar.""Le, kamu tak perlu khawatir, Mbah ingin jaga ibunya Gandes di sini. Kamu saja yang baik sama Gandes." Air mata tiba-tiba menetes di pelupuk matanya. " Jangan biarkan dia menangis."Jati menggenggam tangan Gandes erat. "Saya pasti akan menjaganya."" Kamu juga Gandes. Dia suaminya. Seng manut."Gandes menatap pria di sampingnya. Lalu mengangguk."Mbah mau tanya, di mana mamamu Kanaya?""Di Yogyakarta jug







