INICIAR SESIÓNLelaki itu mendongak. “Apa?! Lo panggil gue ‘Mas’? Emang gue keliatan kayak mas-mas?” Nada suaranya seperti bercanda, tapi sorot matanya tetap awas.
Dia tidak menjawab. Matanya kembali ke wajah anaknya, tangannya mengelus lembut pipi kecil itu. Di benaknya, keraguan berkecamuk. Apa aku harus percaya? Apa dia orang baik? Lelaki itu seolah menangkap keraguannya. “Gimana? Mau nggak? Gue bisa ajak lo ketemu sama bos gue. Siapa tahu lo bisa dapet kerjaan.” Dia hanya terdiam seperti batu. Tapi matanya menyiratkan sesuatu. Ragu, takut, dan lelah bercampur menjadi satu. Sampai suara tangis lirih di pelukannya menyadarkannya. “Husstt… sayang, jangan nangis. Ini Ibu, Ibu di sini,” bisiknya sambil mengayun pelan tubuh anaknya. Ia menoleh ke arah lelaki itu, akhirnya ia berkata dengan nada pelan namun yakin, “Oke. Aku ikut. Tapi kamu janji jangan bohongin aku.” Lelaki itu mengangguk cepat. “Sip. Sekarang lo ikut gue, sebelum gue berubah pikiran.” Lelaki itu berbalik, berjalan menuju motornya tanpa menawarkan bantuan kepadanya, dia mengikutinya dengan langkah berat, satu tangan menggendong anaknya, satu lagi menenteng tas lusuhnya. “Dasar cowok nyebelin. Ngajakin, tapi nggak ada niat buat bantuin aku sama sekali,” gumamnya pelan, pada dirinya sendiri. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah bangunan tua. Dinding luarnya dipenuhi coretan dan karat. Tumpukan ban bekas berserakan di halaman, tong-tong besar di jadikan meja dan kursi darurat. Bau oli dan asap rokok menyengat sejak pintu gerbang terbuka. Beberapa pria duduk santai dengan botol minuman keras di tangan. Tawa mereka keras, dan para pelayan berpakaian minim berlalu-lalang, membawa nampan-nampan penuh gelas. Dia menahan napas. Matanya menyapu pemandangan itu dengan rasa tidak percaya. Kepulan asap membuat putrinya terbatuk kecil. Lelaki di sampingnya menoleh. “Lo kenapa bengong? Nggak usah takut. Gue pastiin lo dapet kerjaan disini. Ayo masuk.” Dengan enggan, dia melangkah mengikuti lelaki itu ke dalam lorong sempit. Dindingnya lembab, lampu-lampu kecil menggantung dari kabel yang melilit seadanya. Di ujung lorong ada satu pintu besi besar, dengan tulisan menyala samar: BIG BOS. Lelaki itu mengetuk. Sekali. Dua kali. Lalu membuka pintu. “Bos, ini gue, Joni. Gue bawa barang baru nih. Lo mau liat dulu atau suruh langsung kerja?” Suara dari dalam terdengar berat dan dingin. “Suruh dia masuk. Gue mau test dulu. Lihat layak atau nggak.” Barang baru? Test? Kata-kata itu menggema di kepalanya. Ia menggigil, bukan karena dingin, tapi karena firasat buruk yang menusuk tulangnya. Joni menoleh, nadanya santai seolah tak menyadari keresahannya. “Lo denger kan? Masuk!” Dia menatap lantai, lalu mengangguk pelan. Ia masuk, Joni menutup pintu dan meninggalkannya sendiri bersama Bosnya. Ruangan itu gelap, hanya diterangi satu lampu sorot dari atas. Di balik meja besar duduk seorang pria bertubuh tegap, jas hitam rapi membalut tubuhnya. Tatapannya tajam seperti pisau yang belum pernah tumpul. Dia langsung menunduk, tak sanggup membalas tatapannya. Pria itu tidak berkata apa-apa. Ia berdiri dan perlahan berjalan mendekat. Langkahnya mantap, tak tergesa, tapi berat. Pandangan matanya turun, tertuju pada anak kecil di pelukan wanita itu. Ia berhenti hanya satu langkah di hadapan mereka. Wanita itu menahan napas. Jantungnya berdetak keras, seakan ingin keluar dari dadanya. Dia berdiri kaku di sudut ruangan, tubuhnya setengah membelakangi pintu. Bayangan pria itu makin besar di lantai ketika langkah beratnya mendekat. Pelukannya menguat pada tubuh mungil di dadanya. Jari-jarinya gemetar, memegang bahu kecil anaknya seakan bisa melindungi dari segala mara bahaya. "Mau apa kamu! Jangan macam-macam." Suara itu nyaris berbisik, pecah di ujung. Pria itu tak menjawab. Sepatu kulitnya berdecit di lantai semen lembap. Matanya tak pernah lepas dari mereka—tatapan tajam, dingin, seperti sedang mengukur sesuatu yang jauh lebih dalam dari penampilan luar. Lalu, ia sedikit membungkuk perlahan di depan anaknya. Jari-jari besar dan kasar itu terulur, menyentuh pipi bocah yang sedang tertidur pulas. Sentuhannya lembut, berbanding terbalik dengan wujudnya yang mengintimidasi. Bocah itu masih saja tertidur pulas, seakan tidak merasa terusik dengan sentuhannya. Dia nyaris melangkah mundur, tapi kakinya terasa tertancap di lantai. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Tanpa mengalihkan pandangan, pria itu berkata—suara beratnya mengisi ruangan kecil itu. "Siapa namamu?" tanyanya datar. Dia terdiam sejenak, lalu menjawab "A-Amel," jawabnya sedikit gugup. “Kamu yakin mau kerja di tempat ini?” Suaranya terdengar hangat, namun ada sesuatu yang menggantung di ujung kalimatnya—seperti kabut tipis yang tak terlihat tapi terasa dinginnya. Amel refleks meremas kain gendongan miliknya, seolah bisa meredam detak jantung yang kini berdebar lebih kencang. “Memangnya… pekerjaan apa yang akan saya lakukan di sini?” tanyanya. Ia berusaha terdengar tegar, meskipun telapak tangannya mulai berkeringat. Lampu di langit-langit ruangan itu berkedip sekali, cukup untuk membuat bayangan di sudut-sudut tampak bergerak. Alih-alih menjawab, pria itu hanya terkekeh. Gelaknya pendek, namun cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri. Ia menyilangkan tangan di depan dadanya, tatapannya menusuk seolah tahu jawaban atas semua pertanyaan Amel. “Kamu nggak lihat mereka semua, waktu kamu masuk ke sini?” ujarnya, alisnya terangkat sedikit, memberi tekanan pada ucapannya. Matanya melirik ke arah lorong gelap di belakang Amel. Amel menoleh perlahan. Ingatannya menangkap bayangan wajah-wajah yang masuk bersamanya tadi—wajah kosong tanpa gairah, langkah kaku, dan mata yang seolah menolak bertemu siapa pun. Ia menelan ludah, lalu mengangguk pelan. Tanpa menunggu, pria itu menekan tombol di gagang telepon hitam tua di mejanya. “Baik. Kamu bisa mulai kerja sekarang. Anakmu bisa dititip ke karyawan lain.” Nada bicaranya berubah jadi datar, “Jon, ke ruangan gue sekarang, cepat!” katanya singkat. Gagang telepon ditaruhnya kembali. Setelah menutup telepon, pria itu menjatuhkan tubuhnya ke kursi, bersandar sambil menatap langit-langit. Tangannya mengetuk meja pelan, ritmenya datar, seperti detik jam yang tak pernah berhenti. Amel menunduk. Jemarinya meremas tas kecil di pangkuan hingga kainnya berkerut. Tatapannya jatuh pada ujung sepatu yang berdebu, kabur oleh genangan keringat di pelipis yang menetes ke pipi. Kata-kata barusan masih menggantung di telinganya, samar bercampur dengan suara dengung lampu yang berulang padam-nyala. Ia ingin bertanya, tapi lidahnya kelu. Hanya dada yang naik turun cepat, seolah paru-parunya sedang berpacu dengan waktu yang tidak ia pahami. Tok... Tok!! Ketukan di pintu memecah sunyi. Hanya sekali, berat, tapi cukup membuat Amel refleks mendekap anaknya lebih erat. Pintu bergeser, engselnya berdecit kasar. Seorang laki-laki bertubuh besar muncul di ambang pintu, bahunya hampir memenuhi lebar kusen. Wajahnya tanpa ekspresi, matanya sayu namun kosong, seperti tak benar-benar melihat siapa pun di ruangan itu. “Masuk,” suaranya bergema.Lampu jalan berderet memanjang, cahaya kuningnya memotong hujan menjadi garis-garis patah. Mobil melaju lebih stabil sekarang, tapi keheningan di dalamnya masih berat, bukan canggung, melainkan penuh sisa-sisa emosi yang belum sempat diurai. Amel menatap jari-jari mereka yang saling menggenggam. Kulitnya masih dingin, tapi tangan Alex hangat, nyata. Ia menarik napas dalam-dalam. “Kamu kelihatan… berbeda,” katanya pelan. “Seperti orang yang baru saja memutus sesuatu.” Alex tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Karena memang begitu.” Ia memelankan laju mobil, menepi di bawah kanopi sebuah minimarket yang sudah tutup. Mesin dimatikan. Hujan masih jatuh, tapi kini terasa jauh. Alex menoleh sepenuhnya. “Dengar,” katanya, suaranya rendah tapi mantap. “Ayahku tidak pernah benar-benar melepas apa pun. Termasuk aku. Malam ini… itu pertama kalinya aku mengambil keputusan.” Amel mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Alex... lelah, tapi jujur. Ada sesuatu di sana yang belum p
Langkah kaki itu makin dekat, menggema tanpa ragu. Suara Alex memantul di dinding-dinding tinggi mansion, memecah keheningan yang selama ini berkuasa. “Di mana dia?” ulangnya, lebih keras. Ada sesuatu yang retak di balik ketegasan itu. Felix membuka pintu kamar sebelum Alex sempat mencapainya. Gerakannya tenang, terukur. Seolah ini semua sudah ia perhitungkan. Alex berhenti tepat di depan ayahnya. Dua pasang mata saling menatap. Sama-sama dingin. Sama-sama keras. Tapi hanya satu yang bergetar oleh emosi yang belum selesai. “Ayah,” kata Alex, suaranya rendah, tertahan. “Apa yang kau lakukan?” Felix melipat tangannya di dada. “Mendidikmu.” Di balik tubuh Felix, Alex melihatnya. Amel. Duduk setengah di ranjang, wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan. Matanya membesar saat tatapan mereka bertemu. Bibirnya bergerak, seolah ingin memanggil namanya, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. “Mel…” Alex melangkah maju satu langkah. Felix menggeser tubuhnya, cukup untuk menghalangi
Nama itu menggantung di udara, berat, menekan dada. Amel menatap gadis di hadapannya, napasnya memburu. “Tuan Felix…?” Ia menggeleng cepat, seolah berharap itu hanya kebetulan. “Ayahnya Alex?” Gadis itu tidak menyangkal. Ia hanya melirik jam di pergelangan tangannya. “Tuan Felix tidak suka dengan wanita sepertimu,” katanya. “Apalagi kau sudah mendekati putranya.” Amel menegakkan tubuh meski rasa pusing masih terasa di pelipisnya. “Aku tidak berusaha mendekati Alex. Aku hanya...” “tidak perlu menjelaskan padaku,” potong si gadis. Senyumnya kembali menipis. "Aku tidak peduli itu.” Ia melangkah ke meja, mengambil sesuatu dari dalam kantong belanja. Bunyi logam kecil beradu. Sebuah ponsel diletakkan di atas meja, layarnya mati. “Ponselmu,” katanya. “Sepertinya, habis batrai. Amel menelan ludah. “Aku harus menghubungi Alex.” “Tidak malam ini," katanya datar. Hening menyusup di sela detik jam. Di luar, hujan kembali terdengar, lebih deras dari sebelumnya. “Berapa lama aku di si
Mobil Alex melesat membelah malam. Di balik kaca depan, kota tampak seperti garis-garis cahaya yang kabur. Tangannya mencengkeram setir lagi, kali ini bukan marah semata, tapi sesuatu yang lebih berbahaya... panik yang ia tekan sedalam mungkin. “Mel…” desisnya. “Kamu ada dimana sekarang, aku khawatir.” *** Sementara itu, di sisi kota yang lain, hujan tipis mulai turun, jatuh beruntun di aspal dan memantul menjadi kilau samar di bawah lampu jalan. Seorang gadis cantik berdiri di bawah kanopi minimarket yang hampir tutup. Ia berdiri sedikit menepi, seolah takut menghalangi jalan, bahunya condong ke depan menahan dingin. Jaket tipis yang ia kenakan sudah basah di bagian bahu dan lengan. Setiap kali angin berembus, kain itu menempel di kulitnya. Pandangan gadis itu menyusuri jalan di depannya, lampu mobil yang lewat, genangan air, bayangan orang-orang yang bergegas pulang. Kakinya melangkah setengah inci ke depan, lalu berhenti lagi. Tangannya mengepal, kemudian mengendur. Anta
Gudang itu kembali sunyi setelah deru mesin menghilang di kejauhan. Lampu neon berkedip sekali… lalu stabil. Martin berdiri sendirian di tengah ruangan. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Ia menunduk, memungut ponselnya dari lantai. “Alex… Alex,” gumamnya pelan. “Ternyata lo lemah cuma karena perempuan.” *** Di sepanjang jalan, Alex mencengkeram setir begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih. Lampu jalan melintas cepat di kaca mobil, tak satu pun benar-benar ia lihat. Rahangnya mengeras, napasnya berat. “Akh… sial,” gumamnya, menekan pedal gas lebih dalam. “Ke mana sih lo, Mel… gue udah bilang jangan keluar mansion tanpa izin.” Ia membanting setir saat melihat persimpangan. Mobil berbelok tajam menuju arah bar. Ban sedikit berdecit sebelum kembali melaju stabil. Beberapa menit kemudian, mobil hitam itu berhenti tepat di depan bangunan bercahaya redup. Alex keluar tanpa menutup pintu dengan hati-hati. Bam. Pintu mobil terhempas. Begitu ia melangkah masuk, su
Gudang tua itu berdiri seperti bangkai besi di pinggir kota. Lampu-lampu jalan berkedip malas, menyisakan bayangan panjang yang merayap di dinding retak. Mobil hitam Alex berhenti mendadak. Pintu terbuka sebelum mesin benar-benar mati.Alex turun lebih dulu. Wajahnya dingin, matanya tajam, aura berbahaya menyelimuti langkahnya.Dua mobil pengawal menyusul, membentuk setengah lingkaran. Senjata sudah siap, tangan di pelatuk.“Masuk,” perintah Alex singkat.Pintu gudang didobrak. Suara besi beradu menggema keras, memecah keheningan malam.Di dalam... kosong.Hanya bau debu, oli lama, dan cahaya lampu neon yang berkedip setengah mati.“Martin!” suara Alex menggema. “Keluar lo!”Beberapa detik berlalu.Lalu terdengar suara langkah santai dari balik tumpukan peti kayu.“Sepertinya gue kedatangan tamu tak di undang nih,” suara itu muncul, datar tapi menyimpan ejekan tipis. “Mau ngapain lo kesini.”Martin keluar ke cahaya. Jaket kulitnya kusam, rambutnya sedikit berantakan, tapi sorot matan







