Home / Mafia / SUAMIKU MANTAN GENGSTER / 58. Kenapa sangat sulit

Share

58. Kenapa sangat sulit

Author: DOMINO
last update Last Updated: 2025-12-12 07:26:03

Tubuh Alex menegang ringan.

Felix melanjutkan, suaranya rendah namun tajam, “jangan sampai sesuatu yang tidak penting mengalihkan fokusmu.”

Alex menggerakkan rahangnya, menahan reaksi.

“Aku tahu apa yang aku lakukan.”

Felix tersenyum samar—senyum yang justru membuat udara semakin dingin.

“Kau selalu bilang begitu… sampai sesuatu terjadi.”

Alex tidak menjawab. Ia meraih berkas-berkas itu, merapikannya lalu memasukkannya ke tas kerja.

Felix kembali menatap layar monitor.

“Pergi. Selesaikan sebelum malam berikutnya.”

Alex tidak membalas. Ia hanya memberi anggukan tipis dan melangkah pergi.

Namun sebelum ia mencapai pintu, suara ayahnya memanggil lagi:

“Alex.”

Alex berhenti.

Felix berkata tanpa menoleh,

“Jangan membawa wanita itu ke masalahmu.”

Kali ini Alex tidak menjawab sama sekali. Ia keluar ruangan, derap langkahnya lebih cepat... lebih berat, seolah ingin meninggalkan kata-kata ayahnya jauh di belakang.

Tapi kata-kata itu tetap menempel, seperti bayangan yang mengunt
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   91. Teringat masalalu

    Koridor lantai dua masih menyimpan sisa kehangatan pagi. Bau samar teh dan roti dari ruang makan belum sepenuhnya hilang ketika Alex menutup pintu kamar Lily pelan. Ia baru saja melangkah beberapa meter, terdengar suara langkah tergesa memecah ketenangan. Sepatu Joni bergesek cepat dengan lantai marmer, napasnya sedikit terdengar berat. “Bos,” panggilnya setengah menahan suara. Alex berhenti, dan menoleh kerah Joni sesaat. “Tadi Tuan Felix telepon,” ucapnya, berusaha terdengar biasa. “Beliau lagi otw ke sini.” Alex terdiam, rahangnya mengeras sejenak, lalu ia memalingkan wajah. “Mau apalagi dia ke sini…” gumamnya, nyaris tak terdengar. Joni mengangkat bahunya, “ya… mungkin ada hal penting yang mau dibicarain sama lo.” Alex menghela napas panjang, "dia selalu punya alasan buat dateng kesini,” ucapnya dingin. Lorong kembali sunyi, hanya suara jarum jam dari kejauhan yang terdengar. “Bos,” suara Joni melembut, jarang-jarang ia bicara seperti itu. “Bagaimanapun… Tuan Felix itu a

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   90. Sebuah keyakinan

    Koridor menuju ruang makan dibalut cahaya keemasan dari jendela besar. Debu-debu kecil terlihat menari di udara, seolah pagi pun ikut menyambut langkah mereka. Amel berjalan sedikit di belakang Alex. Meski jarak mereka tak lebih dari satu lengan, rasanya seperti ada garis halus yang memisahkan… sekaligus menghubungkan. Sesekali Alex menoleh, memastikan langkah Amel tidak terlalu tertinggal. Ruang makan itu luas, namun tertata sederhana. Meja panjang dari kayu tua dipenuhi piring, roti hangat, selai, buah segar, omelet yang masih mengepulkan uap, tapi semuanya tampak rapi, tidak berlebihan. “Duduklah,” ujar Alex pelan. Amel menurut. Jantungnya belum mau tenang, tapi keheningan di antara mereka jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. Alex menuangkan teh ke cangkirnya. Gerakannya tenang, lalu tanpa banyak bicara, ia juga menuangkan teh ke cangkir Amel, mendorongnya perlahan ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Amel. Alex hanya mengangguk kecil, kini mereka mulai sarapan. Ses

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   89. Romantis nya

    Pagi merayap masuk lewat celah tirai, menorehkan garis cahaya tipis di dinding kamar. Amel membuka mata perlahan. Untuk beberapa detik, pikirannya kosong. Lalu bau kayu menguar, hamparan karpet tebal di bawah tempat tidur, dan lemari besar berwarna gelap yang asing baginya. Itu… bukan kamarnya. Ingatan semalam datang seperti arus balik... Alex, genggamannya, langkah cepat melewati lorong… dan pintu kamar itu yang tertutup pelan. “Jadi… aku benar tidur di sini,” bisiknya. Ada sesal yang tiba-tiba mencuat. “Lily…” Bayangan anak kecil itu sendirian di kamar membuat dadanya terasa berat. Ia bangkit buru-buru. Telapak kakinya menyentuh lantai dingin, membuatnya sedikit terlonjak. Lorong Mansion itu masih sepi. Hanya bunyi jam dinding yang terdengar jelas, tik… tak… tik… tak… Seolah setiap detik ikut mengawasinya. “Alex?” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Hanya udara kosong. Amel menggigit bibirnya... setengah ragu dan cemas, lalu ia melangkah menuju dapur. Bau tumis bawang dan

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   88. Khawatir

    Si penembak di bukit masih diam. Hujan menetes dari ujung laras, waktu berjalan perlahan… namun di dalam gudang, semuanya justru terasa semakin cepat. Alex berdiri diam di tempat. Tapi matanya... untuk pertama kalinya malam itu, tidak lagi memikirkan ruangan, senjata, atau siapa yang mengkhianati. Yang muncul justru wajah Amel dan Lily. Seketika seluruh tubuhnya menegang. “Kalau mereka berani mengincar meeting sebesar ini… berarti mereka berani menyentuh hal lain juga.” Sebuah ketakutan yang jarang ia rasakan merambat naik ke dadanya. Bukan takut pada peluru. Tapi pada kemungkinan… ada seseorang yang sudah memperhitungkan segalanya. Termasuk orang-orang yang tak seharusnya tersentuh. Termasuk Mansionnya. Alex mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Tidak. Tidak boleh ada yang mendekati Mansionku, terutama mendekati mereka. Ia menoleh cepat, menatap Joni. Tapi bukan tatapan seorang bos pada anak buahnya. Lebih mirip seseorang yang sedang mempercayakan separuh hidupnya.

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   87. Pengakuan Cinta

    Ciuman itu membuat dunia seakan menghilang, tetapi justru di tengah keheningan itulah Amel tersadar, detak jantungnya bukan hanya karena rindu, tapi juga karena takut… takut kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Perlahan ia menarik wajahnya, napasnya masih tersengal. “Alex…” suaranya bergetar. “Ini… kita tidak seharusnya...” Alex terdiam. Bukan karena marah, tetapi karena ia benar-benar mendengarkan. Matanya melembut, dan cengkeramannya di bahu Amel mengendur. “Aku tidak mau kamu merasa terpaksa,” ucapnya pelan. “Kalau kamu bilang berhenti… kita berhenti.” Kalimat itu membuat Amel justru makin sulit bernapas. Ada kehangatan yang berbeda di dada... bukan hanya rindu, tapi juga rasa aman yang selama ini jarang ia dapatkan. “Aku hanya… bingung,” bisiknya jujur. “Aku takut salah. Aku takut berharap terlalu jauh.” Alex menunduk sedikit, menyamakan tinggi pandangan mereka. “Aku juga takut,” katanya. “Tapi setiap hari aku pulang… yang terlintas di pikiranku selalu kamu. Bukan sebag

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   86. Hanyut dalam perasaan

    Di dalam kamar yang temaram, Amel berbaring memunggungi jendela. Hujan yang turun di luar hanya terdengar samar, tapi kegelisahan di dadanya bergema jauh lebih keras. Entah sudah berapa kali ia memejamkan mata, berharap lelah menenggelamkannya ke dalam tidur. Namun setiap kelopak itu tertutup, bayangan Alex justru muncul... jelas, dekat, seolah pria itu hanya sejauh uluran tangan. Amel menarik napas panjang, tapi dadanya tetap terasa sesak. Ia meraih ponselnya lagi, entah untuk keberapa kali malam itu. Layar yang gelap menyala, memantulkan wajahnya yang pucat dan mata yang mulai memerah. Tidak ada notifikasi pesan dan tidak ada nama Alex yang muncul disana. Hening mendadak terasa sangat kejam. Harapan kecil yang sedari tadi ia peluk erat mulai retak perlahan. Jari-jarinya bergetar saat ia menurunkan ponsel itu di dada. Pertanyaan yang sama kembali berputar-putar di kepalanya... apa Alex memikirkannya juga? Atau hanya dirinya yang terlalu berharap? Air mata yang sejak tadi dita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status