Mag-log inSang Pohon Dunia menundukkan ranting sucinya, menyentuh lembut kening bayi kecil itu — He kecil. Dalam sekejap, tubuh mungil itu diselimuti cahaya putih keperakan, lalu menghilang dari Istana Surya, melesat menembus lapisan dimensi menuju dunia bawah yang jauh dan terpencil. Di sana, di sebuah planet kecil di galaksi Bima Sakti, di negeri antah berantah di atas bukit berlumut hijau, udara spiritual begitu tipis hingga hampir tak terasa.
Sementara itu, cahaya yang sama turun perlahan. Seorang pria berotot dengan jubah perang compang-camping muncul bersamaan dengan bayi itu. Dialah He Lagus, Menteri Perang Kekaisaran Alam Matahari. Napasnya berat, matanya menatap ke sekeliling — dunia asing, sunyi, dan liar.
Ia menggendong bayi kecil itu dengan hati-hati, tersenyum getir. “Aku, He Lagus, Menteri Perang Kekaisaran Alam Matahari, bersumpah akan membesarkanmu, Pangeran kecilku. Ayahmu, Sang Kaisar, telah memberimu nama... Sura. Maka mulai hari ini, aku akan memanggilmu: He Sura.”
Tawanya menggema keras di antara pegunungan yang tak bernama. “Hahahahahaha!” Suara itu memantul di bebatuan, seperti sorakan kesetiaan yang takkan pudar.
Hari-hari awal di dunia itu tidak mudah. Lagus menyusuri lembah dan hutan, berharap menemukan perkampungan manusia, tapi sepanjang jalan hanya binatang buas, siluman lapar, dan monster liar yang ia temui. Namun akhirnya, di balik lembah berkabut, ia menemukan sebuah bangunan besar — tampak kokoh dari jauh, tapi begitu ia dekati, jelas bahwa rumah itu sudah lama ditinggalkan.
“Tuk... tuk... tuk...” Ia mengetuk pintu berkali-kali. Tidak ada jawaban. Dengan dorongan kecil, pintu itu roboh dan rusak sebelah.
Di dalamnya, suasana lembap dan sunyi. Jaring laba-laba menggantung di langit-langit, debu menutupi lantai, dan angin berdesir lewat celah dinding yang retak. Meski begitu, halaman rumah itu masih ditumbuhi pohon buah liar. Lagus menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Yah... sepertinya tempat ini cukup baik untuk memulai hidup baru.”
Ia meletakkan Sura kecil di atas meja kayu lapuk di teras rumah. “Mulai sekarang, inilah rumah kita.”
Hari-hari berikutnya, Lagus bekerja keras memperbaiki rumah itu. Dengan sisa-sisa alat perang yang dulu ia gunakan untuk membangun barak, ia menebang pohon, menambal dinding, mengganti tiang yang lapuk, dan membuat saluran air sederhana. Dalam waktu singkat, reruntuhan itu berubah menjadi rumah sederhana namun hangat.
Rutinitas pun dimulai: berburu di hutan, mengumpulkan buah, menyiapkan makanan, dan tentu saja, menjaga si pangeran kecil. Setiap tawa, tangisan, dan senyum Sura membuat Lagus lupa akan segala luka dan kerinduan masa lalunya. Ia, yang dulu hanya hidup untuk berperang, kini hidup untuk tertawa bersama anak itu.
Bagi Sura kecil, dunia hanyalah rumah kecil mereka, dan Lagus — ayah satu-satunya yang ia kenal. Ia tak pernah bertanya siapa ibunya, di mana keluarganya, atau mengapa hanya mereka berdua. Baginya, Lagus dan rumah sederhana itu adalah segalanya.
Lima belas tahun kemudian.
“Ayah Lagus! Hari ini usiaku sudah lima belas tahun!” seru Sura sambil membawa ikan hasil tangkapannya.
Lagus menoleh sambil tertawa. “Hahaha! Ya, aku tahu. Lalu kenapa, pangeran kecilku?”
Sura menegakkan dada. “Ayah sudah berjanji, kan? Katanya kalau aku sudah berumur lima belas tahun, ayah akan mengajarkanku semua teknik yang ayah miliki!”
“Heh...” Lagus menyeringai kecil. “Jadi kau masih ingat janji itu?”
“Tentu saja!” jawab Sura mantap. “Aku ingin jadi kuat seperti ayah. Aku ingin melindungi orang lain... seperti yang selalu ayah lakukan dulu!”
Lagus menatap anak itu dengan bangga. “Kau benar-benar anakku, hahaha! Tapi sebelum itu, ayah ingin bertanya sesuatu.”
“Apa itu?” tanya Sura.
“Nak, apa kau sudah bisa merasakan kekuatan dantian-mu?”
“Dantian?” Sura mengerutkan dahi. “Itu apa, Ayah?”
“Dantian adalah pusat energi dalam tubuh manusia, tempat mengolah Qi. Biasanya, kultivator harus membuka meridian untuk menyalurkannya... tapi kau berbeda, Sura.”
Sura menatap kosong. “Tapi aku tidak merasakan apa pun...”
“Tidak apa,” Lagus menepuk bahunya. “Kau akan tahu nanti. Tapi sebelum ayah mengajarkanmu segalanya, ada sesuatu yang harus ayah ceritakan.”
Sura memiringkan kepala. “Tentang apa?”
“...Tentang asal-usulmu.”
Sura menatap serius. “Asal-usulku?”
Lagus menghela napas panjang. “Kau... bukan anak kandungku, Sura.”
Keheningan turun di antara mereka.
“Apa maksud Ayah?” suara Sura bergetar.
“Kau adalah putra kedua Kaisar Alam Matahari. Di dunia asal kita, anak kembar dianggap tabu. Maka, satu dari kalian harus disingkirkan...” suara Lagus semakin pelan.
Sura terdiam, lalu menatap ke tanah. “Jadi... aku yang dibuang?”
Lagus menunduk. “Ayahmu tidak punya pilihan. Ibumu pun tidak bisa melawan keputusan itu.”
Air mata menetes di pipi Sura. “Kenapa... hanya aku? Kenapa bukan dia? Apa aku tak pantas hidup di sisi mereka?”
Lagus mendekat, memeluknya erat. “Kau bukan anak buruk, Sura. Mereka mencintaimu... hanya saja dunia kita tidak memberi mereka pilihan.”
Sura menutup matanya, bahunya bergetar. “Aku percaya padamu, Ayah... tapi rasanya sakit sekali.”
Lagus tersenyum lembut, mengusap air matanya. “Kalau begitu, jadilah kuat. Bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan bahwa kau bukan beban surga. Kau adalah berkah.”
Sura mengangguk pelan. “Baik, Ayah. Tapi aku tidak akan hidup untuk membuktikan apa pun. Aku hanya ingin membuat orang lain bahagia. Itu sudah cukup bagiku.”
“Bagus,” kata Lagus bangga. “Itu baru anakku!”
Hari itu, Lagus mempersiapkan ritual terakhir pengajaran.
“Nak, ayah akan mentransfer semua ingatan dan kemampuan ayah ke dalam dirimu. Kau harus rileks. Jangan lawan energi ayah sedikit pun. Kalau tidak, bisa fatal.”
“Ha? Aku bisa melukai ayah?” Sura bingung.
“Heh, dulu waktu kau tiga tahun, ayah pernah coba memeriksa tubuhmu, dan kultivasi ayah langsung turun satu tingkat!” Lagus tertawa pahit.
Sura menunduk. “Maaf, Ayah...”
“Tidak apa! Kau anak yang lembut.” Lagus tersenyum, lalu menempelkan dua jarinya ke kening Sura.
Aliran energi hangat mengalir ke tubuh sang anak. Sura merasa dunianya bergetar — dan seketika ia melihat lautan spiritual di dalam dirinya: luas tanpa batas, seperti alam semesta tanpa ujung.
“Laut spiritual ini... luar biasa,” gumam Lagus di dalam pikiran. “Ini bukan lautan... ini benua... bahkan lebih besar!”
“Ah... Ayah?” panggil Sura gugup.
“Ayah tak bisa menemukan pusat energimu... terlalu luas!”
Sura memejamkan mata. “Kalau begitu, biar aku bantu. Aku akan memikirkan Ayah.”
Dalam sekejap, muncul sosok raksasa menyerupai Lagus di dalam lautan spiritual itu, dikelilingi sepuluh bola matahari bersinar.
Lagus tertegun. “Sepuluh Dongtian Matahari?! Aku hanya punya tiga dunia biasa! Nak... kau benar-benar monster.”
Ia tertawa getir. “Kaisar bodoh... kalau tahu betapa hebatnya anak yang ia buang, mungkin ia akan menyesal seumur hidup.”
Lagus lalu mulai mentransfer seluruh ingatan dan kemampuan miliknya. Namun tiba-tiba, energi Sura berbalik, menyedot jiwa Lagus dengan kekuatan mengerikan. Ia berteriak menahan sakit dan memutus sambungan spiritual secara paksa.
“Uhuk... uhuk...” Ia tersungkur, tubuhnya gemetar.
“Ayah! Kau kenapa?!” Sura panik.
“Tenang, nak. Serap dan pahami semua pengetahuan itu. Jangan pikirkan ayah. Aku akan pulih... cepat atau lambat.”
Sura menggigit bibirnya, lalu menutup mata. “Baik, Ayah.”
Beberapa saat kemudian, Lagus berdiri lemah, menatap putra asuhnya yang tenggelam dalam meditasi.
“Nak, ingatlah... kau tidak perlu berkultivasi seperti yang lain. Dunia akan tunduk padamu jika kau tahu cara mendengarnya. Ayah harus pergi sementara... tapi ayah percaya padamu.”
Ia menaruh cincin penyimpanan di dekat meja. “Jika kau sudah bangun, tuangkan Qi-mu ke sini. Tapi jangan pernah memasukkan makhluk hidup ke dalamnya.”
Sebelum pergi, ia menatap anak itu untuk terakhir kali. Air mata menetes pelan. “Maafkan ayahmu, Sura. Aku tak bisa selalu di sisimu. Kau harus menemukan jati dirimu sendiri.”
Lagus terbang ke langit, menghilang dari dunia kecil itu, kembali ke Alam Matahari — tempat takdir menunggunya.
Dua tahun kemudian.
Sura duduk bersila di ruang meditasi. Aura tubuhnya tenang dan harum. Wangi itu begitu kuat hingga tercium sejauh sepuluh meter.
“Hmm... aroma yang lezat,” bisik sebuah suara lembut dari kegelapan. “Sudah lama aku tak makan manusia seharum ini.”
Bayangan meluncur cepat menembus pintu — BRAKK! — seorang wanita siluman berambut perak muncul, matanya merah menyala.
“Hahaha... akhirnya, makanan yang sempurna!” Ia melangkah mendekat, jemarinya menyentuh lembut wajah Sura. “Begitu halus... aku tak sabar mencicipimu.”
Ia membuka mulutnya lebar-lebar.
“Haap—”
DUARRRRRRR!!!
Ledakan energi spiritual meledak dari tubuh Sura, menerangi seluruh gunung. Kilatan cahaya emas membelah langit malam.
Waktu adalah penyembuh yang paling kejam.Ia tidak menghapus luka—ia menumbuhkan kehidupan di atasnya,hingga luka itu tidak lagi dikenali sebagai luka.Begitulah yang terjadi pada Planet Bumi.Pemulihan Tanpa KesadaranJutaan tahun berlalu.Bumi berputar dalam keheningan kosmik, jauh dari hiruk-pikuk Domain Dewa, jauh dari tatapan para penguasa langit.Gunung-gunung baru lahir dari lipatan kerak.Samudra bergeser, memakan daratan lama.Hutan tumbuh di atas bekas kawah kehancuran kosmik.Tidak ada satu pun makhluk hidup yang tahu bahwa tanah yang mereka pijak—pernah dilapisi darah dewa.Manusia dan Peradaban BaruManusia berkembang pesat.Tanpa tekanan hukum surga, tanpa campur tangan dewa, mereka tumbuh liar dan bebas.Bahasa berubah.Bangsa muncul dan runtuh.Perang terjadi buk
Ia tidak mati.Namun juga tidak hidup.Di kedalaman dunia tersembunyi yang terpisah dari alur sejarah Planet Bumi, sebuah ruang hening terbentang—tanpa cahaya, tanpa gelap, tanpa waktu yang mengalir sebagaimana mestinya.Di sanalah Ye Xiaolin berada.Ruang Tanpa JamRuang itu bukan gua.Bukan dimensi.Melainkan kantung eksistensi yang tercipta dari sisa benturan dua entitas dewa super—Ye Xiaolin dan Great Zenar—pada hari terakhir perang dua minggu itu.Hukum di sana tidak lengkap.Waktu berjalan… lalu berhenti… lalu berjalan lagi.Kadang satu detik berlalu selama seribu tahun.Kadang sejuta tahun lenyap dalam satu kedipan.Di tengah ruang itu—Ye Xiaolin terbaring.Tubuhnya utuh.Tidak terluka.Tidak rusak.Namun kosong.
Tidak ada yang menang.Tidak ada yang kalah.Ketika peperangan dua entitas dewa super mencapai titik jenuh—dunia itu sendiri yang menyerah lebih dulu.Retakan yang Tidak Bisa DijahitPada hari keempat belas—langit berhenti retak.Bukan karena pulih.Melainkan karena tidak ada lagi yang tersisa untuk dipecahkan.Hukum ruang terurai menjadi fragmen tak bermakna.Aliran waktu berputar tak beraturan.Arah, atas dan bawah, sebab dan akibat—semuanya kehilangan definisi.Domain Immortal yang dahulu dibangun He Sura untuk melindungi Dunia Bumi—mulai runtuh dari dalam.Bukan karena lemahnya fondasi.Melainkan karena beban yang ditahan telah melampaui maksud penciptaannya.Keputusan yang Tidak DiucapkanDi tengah kehampaan yang berdenyut—
Ia tidak turun sebagai tubuh.Ia tidak hadir sebagai dewa.Ia bahkan tidak muncul sebagai cahaya.Yang turun ke Planet Bumi—dan sekaligus ke seluruh Domain Kosmik yang terhubung dengannya—adalah Wujud Dao.Sebuah kehendak murni.Getaran PertamaAwalnya, tidak ada yang menyadari apa pun.Langit tetap biru.Angin tetap berembus.Manusia tetap menjalani hidup fana mereka—bertan
Tidak ada ledakan.Tidak ada cahaya kosmik.Tidak ada kehancuran baru.Setelah Domain Immortal Dunia Bumi runtuh dan perang dua minggu itu berakhir, yang tersisa hanyalah keheningan panjang—hening yang menekan lebih berat daripada kehampaan itu sendiri.Dan di tengah keheningan itulah—tiga wanita masih berdiri.Bukan sebagai dewi.Bukan sebagai penguasa.Bukan pula sebagai istri dari seorang eksistensi kosmik.Mereka berdiri sebagai perempuan yang ditinggalkan oleh takdir.
Langit akhirnya runtuh.Bukan secara harfiah—belum.Namun hukum dunia telah pecah.Retakan-retakan hukum ilahi menjalar seperti urat hitam di angkasa, membelah awan, mematahkan aliran spiritual, dan membuat Domain Immortal Dunia Bumi kehilangan pusat keseimbangannya.Serangan Great Zenar kini tidak lagi brutal.Ia menjadi tepat.Terlalu tepat.Setiap hantamannya selalu jatuh di titik di mana formasi pelindung He Sura paling rapuh—titik-titik yang hanya bisa diketahui oleh seseorang yang pernah mempelajari struktur dunia ini secara mendalam.Dan Ye Xiaolin menyadarinya.“Dia ingin dunia ini mati… perlahan,” gumamnya.Namun ia terlambat.Lima MuridDi jantung Domain Immortal, lima sosok berdiri membentuk lingkaran.Si Yelong.Sen But







